Bahaya Terbesar Minuman Energi Pada Remaja dan Dewasa Muda
Seringkali ditemukan kandungan kafein yang tinggi atau bahkan jumlahnya tidak diketahui. Minuman ini dilaporkan oleh berbagai asosiasi kesehatan dunia mempunya dampak kesehatan yang serius khususnya pada anak, remaja dan dewasa muda dengan gejala kejang, diabetes, kelainan jantung, gangguan emosi dan gangguan perilaku..
Minuman Energi
Minuman energi adalah jenis minuman ringan yang diharapkan dapat menambah energi dan kekuatan seseorang yang meminumnya. Bagi beberapa kalangan, minuman energi diminum dengan tujuan untuk mencegah kelelahan dan kantuk. Di Indonesia minuman energi digolongkan sebagai minuman kesehatan. Tetapi sebaliknya, di luar negeri khususnya Amerika Serikat minuman energi digolongkan sebagai minuman ringan. Hal ini terjadi mungkin karena sampai saat ini dampak dan manfaat bagi kesehatan pada minuman energi tidak terbukti secara ilmiah.
Umumnya, minuman energi dipasarkan dalam kemasan botol kecil yang siap minum. Dalam perkembangannya di Indonesia dilakukan ide kreatif untuk mengganti dengan kemasan sachet. Ide cemerlang ini dipelopori oleh Extra Joss, dengan tujuan menekan harga jual. Ternyata minuman energi yang lebih laku dipasarkan adalah dalam bentuk sachet yang harus dicampur dengan air, biasanya air mineral, sebelum dikonsumsi. Saat awal peluncurannya, Extra Joss terkenal dengan frasa dalam iklannya di televisi, “Ini biangnya, buat apa botolnya!” yang sangat merekat erat dalam hati pengguna minuman energi, dan langsung mengubah peta pemasaran minuman energi di Indonesia yang saat itu didominasi merk asing, seperti Kratingdaeng, Lipovitan dan M-150. Selanjutnya beberapa merk domestik mengikuti produk sachet Extra Joss seperti Hemaviton Jreng, Kuku Bima Ener-G dan sebagainya.
Kandungan dalam minuman energi yang utama adalah air, gula atau kafein. Kandungan lain ditambahkan secara bervariasi berupa taurine, ginseng, ginkobiloba, guarana, vitamins, teh hijau, zat pewarna, zat perasa dll. Daftar minuman energi merek asal lokal Indonesia adalah Enerjos, Extra Joss, Fit-up, Hemaviton Jreng dan Kuku Bima Ener-G. Minuman energi merek luar negeri yang beredar di Indonesia di antaranya adalah Lipovitan, M-150, Panther, Kratingdaeng atau Redbull, dan Rock Star
Dampak Pada Anak dan Remaja
Penelitian terkini seperti yang dilaporkan sebuah jurnal kedokteran Pediatrics yang dilansir secara online pada tanggal 14 Februari 2011 menyebutkan tidak ada batas aman dalam mengkonsumsi minuman energi bagi anak, remaja dan dewasa muda. Penelitian pada orang yang mengkonsumsi minuman energi secara berlebihan dapat memicu jantung berdebar, kejang, stroke dan kejadian meninggal mendadak.
Peneliti tersebut mengidentifikasi penyebab utama yang memicu dampak kesehatan itu adalah kandungan kafein yang berlebihan. Pengaruh kafein mungkin menjadi semakin lebih kuat bila dikombinasikan dengan berbagai kandungan bahan lain di dalam minuman energi. Sehingga tampaknya dokter harus merekomendasikan kepada para orangtua bahwa sebaiknya melarang penggunaan minuman itu pada anak, remaja dan dewasda muda. Mungkin peringatan dan rekomendasi itu mirip dengan kasus rokok, alkohol dan narkotika.
Beberapa laporan mengatakan bahwa minuman non alkoholik bila dicampur dengan alkohol akan berdampak buruk terutama pada keadaan kondisi kesehatan tertentu. Beberapa temuan mengungkapkan beberapa kematian di Eropa remaja atau dewasa muda akibat minuman energi dicampur dengan minuman alkohol, atau yang memiliki kondisi seperti epilepsi yang mungkin meningkatkan risiko.
Minuman energi mengandung bermacam-macam zat perangsang, yang ketika dicampur bisa berbahaya bagi tubuh. Terlalu banyak mengkonsumsi kafein, yang perupakan kandungan utama dalam minuman energi dapat menimbulkan dehidrasi Ada beberapa catatan kematian seseorang setelah minum minuman energi secara berlebihan.
Sejauh ini menurut penelitian minuman energi tidak mempunyai manfaat efek terapi. Dan beberapa bahan kandungannya sedang diteliti dan belum mendapatkan persetujuan regulasinya. Efek farmakologi dari kandungan dalam minuman berenergi ada yang diketahui dan belum diketahui. Bila hal ini dikaitkan dengan laporan efek keracunan atau toksisitas meningkatkan kepedulian berbagai asosiasi kesehatan dunia terhadap potensi terjadinya efek samping yang serius dalam penggunaan menuman energi. Dalam jangka pendek membutuhkan kewaspadaan berbagai pihak tentang kemungkinan dampak minuman energi dalam masyarakat untuk memberikan informasi dan pengetahuan kepada para orang tua dan keluarga
Laporan yang diungkapkan the American Academy of Pediatrics dan dipakai sebagai pedoman bagi dokter bahwa minuman energi . Dokter gigipun mengungkapkan bahwa minuman energi juga telah merusak gigi remaja di austrakia. The Associated Press melaporkan sebanyak 677 kasus overdosis dan efek samping dicatat sejak bulan Oktober hingga Desember 2010 setelah dilacak oleh the American Association of Poison Control Centers. Sejauh ini dilaporkan 331 dalam tahun 2011 hingga bulan Februari dan sebagian besar diantaranya melibatkan anak dan remaja sebagian anak di bawah 6 tahun.
Aku Kuliah untuk Bisa Melamar Kerja !
Saya kehabisan cara mengajak sarjana yang malas, sampai-sampai dalam hati saya berkesimpulan kalau gedung kuliah di negaraku ini terlalu mewah sehingga mahasiswa menjadi manja. Pendidikan Nasional dan para Dosen juga tak lepas dari umpatan hati saya telah gagal menciptakan jiwa wirausaha pada mahasiswanya. Kuliah hanyalah jalan untuk melamar kerja, mahasiswa di doktrin menjadi bagian aset industri. Kampus juga mengupdate teknologinya untuk menciptakan robot-robot industri yang instan. jika tujuan kuliah adalah mencari Ijazah, maka muncullah kuliah-kuliah instan menawarkan paket ijazah dengan bandrol-bandrol khusus. Ternyata wirausaha Indonesia yang kreatif melihat peluang pasar ini, menjadikan Bisnis “Sarjana siap saji” menjadi lebih menarik daripada wira usaha lain.
Madesu PKB (Muhaimin)
Ketika Tokoh-tokoh PKB, seperti, Khotibul Umam, Saifullah Yusuf, Azwar Anas, Zaini, Saiful Ansori, Yahya Tsakuf, sedang menunaikan Umrah, saya sempatkan bertemu dengan mereka. Karena salut dengan visi dan misinya sebagai partai kebangkitan bangsa. PKB waktu itu benar-benar membawa angin segar bagi setiap warganya dimana saja berada, tak terkecuali di luar negeri, seperti; kota Makkah, Jedah, Malaysia, Amerika, Sudan, serta di negeri Piramida (Mesir).
Tidak dipungkiri, berdirinya Sekolah Indonesia Makkah, yang disingkat dengan (SIM), tidak lepas dari Partai Kebangkitan Bangsa. Sahwat politik masyarakat NU yang tinggal di Makkah dan sekitarnya waktu itu begitu besar, seperti sahwatnya orang-orang Arab. Ketika kran demokrasi di Indonesia dibuka, maka mucullah partai-partai politik. Salah satu dari partai politik yang menarik warga Indonesia di Makkah adalah PKB. Berdirinya PKB tidak lepas dari sosok Gus Dur yang membawa angin perubahan terhadap masa depan Indonesia dan warga NU.
Ir Fuad Abdul Wahab, adalah salah satu dari sekian banyak penggagas PKB di Arab Saudi. Di samping seorang penggusaha Amer Cargo, beliau juga penggagas pendidikan Sekolah Indonesia Makkah, serta Sekolah al-Nasiriyah Jeddah. Bersama beliau, saya ikut serta membesarkan PKB dan Sekolah Indonesia Makkah. Cara yang saya lakukan ialah dengan membuat bulletin, yang kemudian kami sebarkan pada masyarakat Indonesia.
Setelah sekian lama ikut serta dengan partai PKB, langkah demi langkah, saya mencoba meninggalkan Partai itu, dan lebih konsentrasi pada pendidikan (meneruskan pendidikan S3). Sebab, menurut hemat saya, partai politik PKB benar-benar tidak membawa aspirasi masyarakat NU. Sebagai warga NU, saya benar-benar merasakan bahwa PKB kurang tepat untuk warganya. Apalagi, setelah elit politik PKB memecat Gus Dur sang pendiri PKB. Himbauan-himbauan para sesepuh PKB juga tidak dihiraukan. Lantas, apalagi yang menarik dari PKB?
Sejak berdiri, PKB sudah berkali-kali ikut pemilu. Hanya tahun 2099, PKB berjaya. Selanjutnya setiap tahun, partai ini mengalami kemunduran yang cukup memilukan. Apalagi, sejak munculnya partai baru, seperti; PKNU, serta eksisnya PPP di bawah pimpinan Surya Darma Ali. PKB mulai gundah gulana, sebab tidak sedikit dari tokoh, seperti; Kyai, ustad, lebih memilih PPP dari pada PKB. Segmentasi (pasar) PKB adalah warga NU, seperti; santri pondok, jama’ah tahlil, serta sebagian masyarakat menenggah kebawah, khususnya di Jawa Timur. Sementara itu, sebagian besar warga NU sudah kurang tertarik lagi dengan PKB gaya Muhaimin Iskandar.
Boleh saja PKB mengatakan bahwa masa pendukungya masih kuat dan banyak yang tersebar di pelosok-pelosok. Sah-sah saja, tetapi realitas di lapangan akan membuktikan bahwa masa NU, akan menjadi rebutan PPP, PKNU, PKB Muhaimin, dan PKB Gus Dur. Beluam lagi orang-orang NU yang menyebarang ke PDIP< Gerindra, Golkar. Jika demikian, maka perjuangan PKB Muhaimin semakin terseok-seok untuk masuk lima besar. Pemilu tahun lalu membuktikan, bahwa PKB benar-benar terperosok di bawah PKS.
Masa Depan Suram PKB akan semakin gelap, manakala statemen-statemen yang dilontarkan oleh elit politiknya justru menyinggung partai lain, yang notabene para kyai NU. Dalam hal ini, PPP merupkan partai yang paling aktif di dalam mengalang kekuatan untuk menyambut pemilu 2014. Surya Darma Ali, benar-benar menjadi ancaman nyata bagi PKB Muhaimin Iskandar. Pada tanggal (13/2), PPP mengelara acara di ponpes AL-HIKMAH Brebes. Para Kyai turut hadir dalam acara tersebut. Yang membuat PKB kebakaran jenggot ialah, bahwa kyai yang hadir pada cara tersebut ialah Kyai PKB dan PKNU yang kembali kepangkuan Kab’bah (PPP).
Sebuah kewajaran, jika para Kyai yang hasrat politiknya masih tinggi untuk masuk di PPP. Sebab, PPP termasuk salah satu partai tertua yang di dalamnya adalah orang-orang NU. Lagian, PPP sekarang terlihat memerjuangkan masyarakat NU. Jadi, tudingan Karding terhadap Surya Darma Ali seputar penggunaan dana Negara untuk kampanye terselubung perlu dibuktikan (Surya:13/02). Sebab, disamping ketua PPP, Surya Darma Ali juga menteri agama, yang harus setiap saat memberikan pelayanan terhadap masyarakat bahwa yang beragama. Prasangka PKB itu sebuah realitas bahwa partai PKB khawatir kalah dengan PPP.
Seadainya, PKB Muhaimin bersatu lagi dengan PKB Gus Dur, tidak menutup kemungkinan simpati masyarakat NU, serta para kyai-kyai kampung akan kembali. Karena gensi tinggi, tidak mungkin dua PKB bersatu lagi. Dan, sulit bagi kyai kampung yang memiliki pendukung itu mengajak masyarakatnya untuk mencoblos PKB Muhaimin. Padahal, kekuatan Kyai kampung sangat signifikan untuk memengangkan pemilu 2014. Di sisi lain, masyarakat NU sudah mulai faham dengan trik-trik para elit politik PKB pusat. Wallau a’lam
Abdul Adzim
Negara Gagal Jamin Kebebasan Agama
Untuk kesekian kalinya kekerasan atas nama agama kembali pecah. Jamaah Ahmadiyah Indonesia acapkali jadi korban. Peristiwa kerusuhaan massal di Cikeusik Padeglang Banten (Minggu. 6/2/2011), telah menewaskan 3 orang dan beberapa orang luka-luka. Korban kebanyakan dari Jamaah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad ini, dan juga ada warga Cikeusik tersebut. Negara terbukti gagal jamin kebebasan agama. Padahal, konstitusi memberi jaminan konstitusional bagi tiap warganya untuk beragama dan menjalankan ajaran agama sesuai dengan yang diyakininya. Amanah Pasal 29 UUD 1945 hasil amandemen memerintahkan pada negara dan alatnya untuk memberikan perlindungan hukum bagi keberadaan agama dan pelaksanaanya di wilayah NKRI. Untuk mencegah kekerasan terulang kembali pada Jamaah Ahmadiyah, ada beberapa solusi untuk menyelesaikannya. Antara lain: Kedua, Jamaah Ahmadiyah menyatakan bahwa Ahmadiyah bukan rumpun aliran yang diakui oleh mayoritas umat Islam, melainkan ia serumpun dengan aliran2 kepercayaan yang juga mendapatkan pengakuan, kebebasan menjalankan kepercayaan, dan perlindungan keamanan dari negara. Kelompok-kelompok yang akan menyoal, tak punya alasan lagi, Ahmadiyah bukan aliran sesat dan menyesatkan dalam Islam. Keempat, pembinaan kerukunan umat beragama harus digalang kembali. Tiap agama dan umat beragama mempunyai hak untuk hidup dan berkembang. Namun hak tersebut dibatasi dengan hak agama dan umat beragama lain. Karena itu, sikap hormat mengharmati dan bekerjasama harus ditanamkan sejak dini, sehingga kerukunan umat beragama terbina dengan baik.
Tragisnya, kerusahan sosial berlatar perbedaan keyakinan itu terjadi di hadapan aparat keamanan. Polri, TNI dan Lenmas menyaksikan amuk massa yang menewaskan 3 Jamaah Ahmadiyah. Apapun alasannya, baik karena keterbatasan personil, reaksi spontan massa, maupun eskalasi konflik yang tak terkendali, sama sekali tak dibenar pembiaran aksi penjagal manusia ini.
Nyatanya, tugas dan fungsi negara di atas tak mampu dilaksanakan oleh negara dengan baik. Buktinya, negara seolah2 tak berdaya mencegah kekerasan terhadap Jamaah Ahmadiyah. Serangkaian kekerasan yang dialami oleh sekte Ahmadiyah ini bukti, pemerintah gagal jamin kebebasan agama.
Malahan bila mau jujur, fakwa MUI dan SKB 3 Menteri, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung tanggal 14 Februari 2008 ikut memicu secara moral dan politik aksi barbar umat. Betapa pun, Ahmadiyah sesat, apakah di negara plural ini, darah jamaah Ahmadiyah menjadi halal, menjadi warga negara yang terlarang, dan bumi ini menjadi haram? Jawabannya, pasti tidak.
Jamaah Ahmadiyah mempunyai hak yang sama seperti warga negara lain. Sama-sama berhak untuk hidup. Sama-sama berhak untuk berkembang. Sama-sama berhak untuk mendapatkan perlindungan. Dan sama-sama berhak untuk mengabdi bagi kepentingan bangsa dan negara.
Sayangnya, hak dasar tersebut menjadi “barang mahal”,bahkan “langka” bagi Jamaah Ahmadiyah. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan hak dasar, walau secara altruistik itu hak dasar dapat langsung diperoleh dari negara. Dan, negaralah yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh hak dasar tanpa terkecuali. Termasuk Jamaah Ahmadiyah.
Pertama, pemerintah memfasilitasi dialog antar aliran dalam Islam. MUI, NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah dan kelompok-kelempok umat Islam lain perlu dialog intensif untuk menyelesaikan perbedaan prinsip teologis antara umat Islam dan Jamaah Ahmadiyah, sekaligus membuat format penyelesaian yang terbaik untuk semua.
Ketiga, pemerintah harus bertindak tegas terhadap para pelaku yang telah menumpahkan darah Jamaah Ahmadiyah serta melakukan pengrusakan terhadap harta kekayaannya. Apa pun alasannya, tindakan mereka melanggar hukum dan merupakan tindak pidana yang diancam dengan ancaman hukum yang berat. Aparat penegak hukum tanpa pandang bulu, wajib menyeret para pelakunya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan memberikan sanksi hukum yang seberat-beratnya bagi yang terbukti bersalah. Penegakan hukum ini untuk memberikan efek jera bagi para pelaku dan khalayak umum.
Pelajaran dari Seorang Atheis
Saya sekarang menuntut ilmu di Guangzhou, China. Murid-murid di universitas saya sebagian besar berasal dari luar China. Kelas saya sendiri murid-muridnya berasal dari 6 negara: Indonesia, Thailand, Filipina, Myanmar, Madagaskar, dan Rusia. Agama yang dianut murid-murid pun beragam: murid Thailand mayoritas Budhis, murid Filipina mayoritas Katolik, dst. Kalau mau dibandingkan, murid Indonesialah yang agamanya paling beragam, dari Islam, Kristen, sampai Budha. Mau tahu apa agama mayoritas dosen-dosen kami? Yup, benar sekali, Atheis. Memang fakta yang agak memprihatinkan, di China sudah lebih banyak yang Atheis ketimbang yang Theis. Dosen-dosen kami pun sering, baik secara sadar maupun tanpa sadar, mempertunjukkan ke-atheis-an mereka. Misalnya saat menceritakan mitos-mitos China, mereka akan bilang, “Tentu saja, ini semua cuma buatan manusia…. Nggak ada yang namanya dewa atau surga itu….” Anehnya, kalau soal toleransi, mereka jauh lebih unggul ketimbang kita yang beragama. Waktu itu kebetulan sedang hot-hotnya MV Telephone-nya Lady Gaga yang vulgar itu. Di kelas pun MV itu diputar saat jam istirahat. Seorang teman Muslimah berjilbab cekikikan saat menonton MV tsb. Dosen yang melihatnya kemudian menegur: “Kamu Muslim, kan? Pakai jilbab, lagi. Bukannya kalian tidak boleh nonton yang begituan?” Pada kesempatan lain, saya dan beberapa orang teman minta izin ke dosen untuk tidak ikut kuliah karena pergi ke gereja merayakan Natal (FYI, di China gak ada tuh yang namanya libur Natal atau Idul Fitri). Kami sudah takut dia akan melarang, tapi…. “Oh, nggak apa-apa, pergi aja… Saya mengerti kok pentingnya Natal….” Seorang Atheis, yang pada dasarnya menganggap Tuhan tidak ada dan agama hanya isapan jempol, bisa begitu menghargai mereka yang mempercayai “isapan jempol” itu. Kapan kita umat beragama bisa menghargai mereka yang berbeda keyakinan seperti itu? Bukankah, setelah dipikir-pikir, kita ini sama-sama Theis??Priscilia Chandrawira
An ordinary girl who loves so much to read n write
Efek Sinetron Anak yang Ketuker-Tuker
Cerita ini bukan Fiktif belaka. Apabila terdapat kesamaan tokoh, lokasi dan kejadian, wajar saja. Soalnya sinetron ini sudah berlangsung ratusan episode dan telah terkenal di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Kisah berawal dari kebahagiaan seorang nenek karena menatu dari anak sulungnya akan segera melahirkan anak dan menganugerahinya cucu pertama. Karena terjadi sedikit masalah dengan kehamilan si menantu, maka terpaksa si menantu harus melahirkan di Rumah Sakit, operasi sesar pula. Sebagai informasi rakyat Majalengka sangat jarang melahirkan di Rumah Sakit, lebih sering melahirkan dengan bantuan bidan atau dukun beranak, lagian di Majalaengka cuma punya dua biji Rumah Sakit yang kalau di bilang tak layak keterlaluan juga, yang kalau di bilang layak, dari segi apanya yang disebut layak. OKeh, lanjut ke kisah si Nenek. Operasi sesar berlangsung baik, namun si bayi yang prematur harus menjalani perawatan terpisah di ruangan khusus perawatan bayi. Ketika Seorang perawat membawa si bayi keruang perawatan bayi, si Nenek menguntit dari belakang. Si perawat yang merasa terganggu bertanya: Perawat: ada apa nek? Nenek: cucu saya mau dibawa kemana? Perawat: ke ruang perawata bayi nek! soalnya cucu nenek prematur, jadi harus mendapatkan perawatan intensif. Setelah itu si perawat langsung ngeloyor ke ruamg perawatan bayi. Namun si nenek tetap menguntit si perawat. perawat kesal : ada apa lagi sih, nek? Nenek: cucu saya gak bakal di apa-apain kan? apa gak bakalan ketuker Perawat: ya ampun nenek, gak bakalan kok! Perawat terus ngeloyor lagi. mulai kesal dengan tingkah si nenek. Ketika sampai di pintu ruang perawatan bayi, si nenek tetap menguntit masuk. Namun karena semakin kesal si perawat menghardik si Nenek Perawat : nenek tenang aja, gak bakalan ketuker kok. nih bayinya udah di kasih gelang ada namanya, bayi nyo-nya- sa-ri-. gak percaya banget sih!!! Si nenek tak menyerah, ia ingin sekali menjaga cucunya dari kemungkinan-kemungkinan buruk. maka nenekpun memutuskan untuk mengawasi si cucu dari jendela kaca ruang perawatan bayi. Namun karena si perawat sudah kesal akhirnya si perawat menutup gorden jendela kaca tersebut dari dalam. *** Sekarang, si bayi telah tumbuh dan mulai bisa menelungkup. sudah di kasih nama pula. Sang nenekpun sudah lupa pada kekhawatiran cucunya akan tertukar tapi pagi ini ketika si nenek menonton berita tentang mentri kesehatan batal mengumumkan susu yang terkontaminasi bakteri sakazakii si nenek ngedumel: “mun boga duit mah, ku kuring dituntut eta mentri kasehatan” (kalau punya duit, gue tuntut tuh mentri kesehatan!) Kasihan banget orang Indonesia…….Ufahrisa
labil!
Bila Murid Lebih Hebat dari Pada Guru
DULU, ketika masih di PGA (Pendidikan Guru Agama, setingkat SMA) sekitar tahun 70-an, pernyataan guru saya yang terus teringat oleh saya sampai hari ini adalah ‘murid tidak bisa lebih hebat dari pada guru’. Salah seorang guru yang begitu saya kagumi, guru Mata Pelajaran (MP) Menggambar yang juga mengajar MP Bahasa Indonesia di kelas saya, Pak MN (sengaja saya tulis inisial saja.pen) adalah guru yang pernah mengingatkan saya tentang pernyataan itu. Tentu saja saya tidak keberatan waktu itu. Apa lagi Pak MN adalah guru idola saya dikarenakan saya hobi menggambar dan dia adalah guru MP Menggambar . Jadi, saya mengidolakan dia karena begitu hebatnya dia membuat gambar di papan tulis atau di kertas gambar yang sudah tertempel di papan tulis setiap ada jam menggambar. Jujur saja, sampai saya akhirnya mengambil Jurusan Bahasa dan Seni di Unri Pekanbaru –setamat PGA tahun 1977 itu– adalah karena kekaguman saya kepada Pak MN yang juga adalah guru MP Bahasa Indonesia saya di PGA waktu itu. Pak MN memang mengajar MP Bahasa Indonesia disamping juga mengajar pelajaran menggambar. Waktu itu di Unri memang tidak ada Jurusan Seni Rupa, misalnya, andai saya ingin melanjutkan ke MP Menggambar yang saya suka di PGA itu. Saya teringat, pada suatu kali pada saat MP Menggambar kami disuruh membuat gambar berupa huruf-huruf indah dalam bentuk huruf ghotish alias huruf Jerman. Saya berpikir kali ini saya akan mendapat nilai angka di atas tujuh (7). Selama ini saya baru mampu mendapatkan angka enam lebih sedikit (6,3; 6,4; 6,6 atau 6,6). Belum pernah melebihi angka itu. Belum pernah juga mendapat angka enam koma tujuh atau koma delapan, misalnya. Apalagi angka tujuh, hoh hoh, tidak pernah. Padahal saya merasa dan saya melihat hasil karya saya adalah yang terbaik. Tentu saja menurut penilaian saya. Setiap jadwal pelajaran menggambar datang, saya selalu bergairah untuk mendapatkan angka yang lebih tinggi berbanding yang siudah saya dapatkan sebelumnya. Karena hasil kerja hari ini –saya sudah berusaha membuatnya dengan ekstra hati-hati, bersih, wsarnanya serasa dan lebih rapi dari pada yang dia lukis di papan tulis itu– hanya diberi angka 6,7 (enam koma tujuah) maka saya merasakan ada perasaan berontak dalam hati saya. Sebenarnya saya tidak terbiasa bertanya atau memprotes nilai-nilai yang diberikan guru, berapapun nilai itu anngkanya. Waktu itu tak ada murid yang berani bertanya apalagi membantah. Tapi keramahan dan karakter kasih-sayangnya Pak MN membuat saya sedikit berani untuk bertanya, “Mengapa nilai saya hanya enam koma tujuah.” Padahal saya sudah mengira dan berharap akan mendapat nilai lebih dari tujuh. Tahu apa jawab Pak MN? Saya juga tidak tahu rekan-rekan saya mendapat nilai berapa karena buku gambar kami dibagikan secara pribadi. Diambil ke mejanya secara sendiri dan dalam keadaan tertutup. Saya jelas tidak tahu berapa nilai yang diperoleh rekan-rekan saya hari itu. Tahu apa kata Pak MN? Pak MN enteng saja menjawab bahwa nilai saya itu sudah yang terbagus. Katanya itu nilai yang tertinggi di kelas ini. Dia mengatakan dengan tenang penuh wibawa, “Jika kalian mampu membuat gambar yang terbagus maka nilai yang akan saya beri adalah nilai tujuh. Tidak akan lebih,” katanya dengan suara yang jelas dan penuh wibawa. Pak MN memang sangat jelas jika dia berbnicara. Mungkin karena dia adalah guru MP Bahasa Indonesia. “Mengapa demikian, Pak? Apakah angka tujuah adalah nilai yang terbaik?” Saya mencoba bertanya dengan baik-baik juga. “Buat murid, itulah nilai tertinggi yang akan saya beri,” jelasnya lagi. “Mengapa? Karena nilai delapan adalah nilai saya. Nilai sembilan adalah nilai guru saya. Dan angka sepuluh adalah angka sempurna yang pantas buat Tuhan,” katanya tenang. Wah, tentu saja saya terkejut. Selama ini saya tahu nilai terbaik adalah nilai angka sepuluh. Kalau dapat sepuluh berarti harus belajar lagi. Tapi kalau nilai itu hanya untuk Tuhan, bagaimana lagi? Maka tentu saja tidak mungkin memperpanjang pertanyaan saya itu. Saya hanya bisa menerima saja. Rupanya murid tidak boleh lebih hebat dari pada gurunya. Itu saja yang saya camkan dalam hati saya. Jangan-jangan guru-guru berpikiran kalau murid ingin lebih hebat dari pada guru maka si murid itu adalah murid yang tidak sopan, tidak bermoral atau apa saja. Yang pasti, saya benar-benar tidak berpikir pernyataan guru saya itu adalah pernyataan yang keliru. Kini, ketika saya sudah menjadi seorang guru ternyata saya tidak setuju dengan perinsip dan pernyataan guru saya itu. Justeru saya berpikir, para murid itu harus jauh lebih hebat dan lebih maju dari pada yang dicapai para gurunya. Itu tidak bisa dipungkiri. Dalam dunia yang begitu kian maju, teknologi yang berkembang sangat cepat, sumber-sumber ilmu dan pengetahuan ada di mana-mana, dan kesempatan untuk memperolehnya begitu luas dan mudah, pastilah kehebatan seorang murid tidak lagi akan tergantung kepada gurunya saja. Guru sudah lama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu. Jadi, buat guru di era modern ini perinsip yang lebih tepat justeru ‘murid harus bisa lebih hebat dari pada gurunya’. Perinsip ini tentu saja bukan karena kemauan si murid. Tapi jsuteru harus menjadi obsesi guru itu sendiri. Maka kepada sobat-sobat pendidik atau siapa saja yang merasa pernah memberi pencerahan kepada orang lain –artinya dia juga adalah guru—maka niat untuk membuat si murid maju-jaya melebihi apa yang dipikirkan dan diberikan, itulah sejatinya yang harus diperjuangkan. Biarlah generasi yang akan datang tambah hebat dan tambah berjaya bersama bangsa yang ikut berjaya. Syabasy…M. Rasyid Nur
M. Rasyid Nur, bertempat tinggal di Jl. Sakura Indah, RT 01 RW 09 Wonosari, Meral, Karimun, Prov. Kepri. "Ingin terus belajar". Silakan juga diklik: http://www.em-er-en.blogspot.com/
Lagi, Program TV Pembodohan yang Berkelanjutan
Semenjak mengubah namanya dari TPI menjadi MNC TV, stasiun TV ini berkomitmen untuk fokus ke TV komersial dan berusaha meninggalkan atribut lamanya sebagai TV yang ‘mendidik’. Komitmen tersebut diwujudkan dengan salah satu program terbarunya serial Super Girl, sebuah sinetron yang syarat akan nilai-nilai ‘pembodohan’. Film Super Girl yang diproduksi oleh Soraya Intercine Film ini menampilkan artis Mano**** sebagai pemeran utamanya. Rencananya serial ini akan ditayangkan setiap hari meracuni pikiran anak-anak Indonesia mulai pukul 19.00 WIB hari ini. Dengan kostum ketatnya ala spiderwomen itu, manohara menjadi sosok wanita kuat yang mampu mengangkat mobil dan terbang. Apa jadinya bila anak-anak yang belum mampu berpikir matang meniru memakai kostum ala manohara agar bisa memiliki kekuatan super ? Hal ini mengingatkan saya waktu saya masih berumur 4 tahun. Kesukaan saya menonton film Superboy dulu membuat saya ingin memiliki kostum ala Superboy agar bisa terbang. Setiap kali ikut ibu ke pasar tanah abang, saya seringkali merengek -rengek minta dibelikan kostum Superboy yang memiliki sayap di belakangnya. Namun, bukannya dibelikan kostum Superboy saya malah dibelikan kaos klub basket Chicago Bulls yang saya sendiri kurang suka. Seandainya saja saya dibelikan kostum Superboy, mungkin saya sudah bisa ‘terbang’ ke awan dan tak sempat untuk menulis di Kompasiana ini
.
Faried Rijalulhaq
When I advise u, it doesn't mean that Im smarter than ur average. I jst wanna be wiser than ever
Mengapa Peristiwa Cikeusik dan Temanggung Bisa Terjadi??
Amat banyak berita kita dengar dari berbagai media, utamanya televisi yang menyajikan berita-berita tentang penyerangan yang dilakukan oleh warga Muslim terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, dan pembakaran gereja di Temanggung oleh mereka. Dari pemberitaan tsb kita melihat bahwa umat Islam diibaratkan sebagai orang yang paling bersalah dan bertanggung jawab terhadap adanya kerusuhan tersebut! Namun benarkah demikian? Kalau kita berprinsip ada sebab ada akibat, maka peristiwa Temanggung dan Cikeusik pasti ada penyebabnya sehingga menimbulkan akibat yang demikian hebohnya!! Kalau tidak, maka hampir bisa dipastikan bahwa penyerangnya adalah sekumpulan orang yang sudah tidak waras lagi. Dengan kata lain, mereka adalah ORANG GILA yang pantas dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa!! Dari pemberitaan yang saya dapatkan, maka kerusuhan yang terjadi di Cikeusik dan Temanggung merupakan hal yang wajar! Mengapa saya katakan demikian? Karena penyebab dari apa yang telah terjadi disana sudah sangat diluar batas kewajaran, sehingga memang dapat membuat orang menjadi kalap dan akhirnya kehilangan akal sehatnya!! Mari kita lihat penyebabnya: #) Peristiwa Temanggung: Seperti yang diberitakan oleh VOA Islam (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/02/09/13217/inilah-kronologis-pelecehan-islam-oleh-pendeta-antonius-kerusuhan-temanggung/), peristiwa ini bermula akibat ulah pendeta Antonius Rechmon Bawengan yang berasal dari Manado yang secara terang-terangan menyebarkan buku dan selebaran hujatan terhadap Islam. Di kampung orang, pendeta kelahiran 58 tahun silam ini menyebarkan dua buku berjudul “Ya Tuhanku Tertipu Aku” dan buku “Saudara Perlukan Sponsor (3 Sponsor, 3 Agenda dan 3 Hasil)” yang penuh dengan pelecehan Islam, antara lain: menghina Allah dan Nabi Muhammad sebagai Pembohong; ibadah haji adalah simbol kemesuman Islam; Hajar Aswad adalah simbol dari –maaf– vagina; tugu Jamarat di Mina adalah simbol dari –maaf– kemaluan laki-laki; umat Islam yang shalat Jum’at di masjid sama dengan menyembah dewa Bulan karena di atas kubah masjid terdapat lambang bulan-bintang; Islam agama bengis dan kejam; dan masih banyak lagi hujatan lainnya. Dan yang lebih menyesatkan lagi, Pendeta Antonius memelintir ayat-ayat Al-Qur’an dalam hujatan-hujatannya tersebut. Sekarang saya tanya pada Anda, bagaimana perasaan Anda setelah melihat peristiwa diatas? Pasti ada rasa marah yang luar biasa bukan? Dan tentu itu adalah hal yang wajar jika keyakinan dan agama Anda dihina dan difitnah sedemikian rupa!!! #) Peristiwa Cikeusik: Berikut saya kutip berita di Harian Fajar tertanggal 7 Februari 2011 (dapat pula dilihat disini:http://www.fajar.co.id/read-20110207014617-ahmadiyah-diserang-lagi-tiga-tewas): “Kericuhan tersebut bermula dari keresahan warga setempat atas aktivitas jemaah Ahmadiyah yang dianggap menyebarkan ajaran sesat di wilayah tersebut. Sebab, sejak Minggu pagi, jemaah Ahmadiyah dari berbagai daerah datang dan berkumpul di rumah Suparman. Saat itu beberapa tokoh setempat secara baik-baik meminta Suparman dan pengikutnya menghentikan aktivitas mereka. Warga memperingatkan agar jemaah Ahmadiyah tidak menghelat pengajian. Sebab, menurut mereka, aktivitas Ahmadiyah bertentangan dengan akidah Islam yang selama ini diyakini warga. Namun, permintaan tersebut direspons keras kubu Suparman. Sekitar 21 pengikut Ahmadiyah malah mengucapkan kalimat bernada menantang. ”Daripada menghentikan dan membubarkan diri, lebih baik mati,” sebut Saepudin, 39 tahun, warga Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, menirukan ucapan Suparman dan pengikutnya saat didatangi warga dan tokoh masyarakat Cikeusik. Jawaban itu langsung memancing emosi warga. Ribuan warga dari berbagai daerah di Kecamatan Cibaliung dan Cikeusik (Kabupaten Pandeglang) serta Kecamatan Malingpung (Kabupaten Lebak) berkumpul Minggu pagi. Mereka bersiap menyerang rumah pimpinan jemaah Ahmadiyah di Pandeglang tersebut. Di pihak lain, Suparman dan pengikutnya juga sudah bersiap-siap dengan senjata tajam. Suparman pun telah meminta keluarganya meninggalkan rumah dan mengungsi ke Pandeglang. ”Setelah itu, bentrokan antara warga dan jemaah Ahmadiyah tidak bisa dihindarkan,” tutur Saepudin seraya menyatakan bahwa warga Cikeusik sudah lama resah dengan aktivitas Ahmadiyah di kawasan tersebut.” Jadi dari berita diatas jelas bahwa warga Cikeusik tidak serta merta menyerang membabi buta warga Ahmadiyah! Namun kemarahan mereka tersulut karena warga Ahmadiyah sangat sulit untuk diajak berdialog bahkan seakan-akan menantang perang duluan! Selain itu, khusus peristiwa Cikeusik ini sepertinya ada skenario besar untuk melegalkan aliran sesat Ahmadiyah dan menghancurkan FPI (Front Pembela Islam) sebagai ormas Islam yang paling getol dalam memerangi kesesatan dan kemaksiatan! Ini dapat dilihat dari berita-berita di Koran Tribun misalnya, serta media-media yang lain, termasuk dari rekan-rekan kita sesama Kompasianer. Bahkankerusuhan Cikeusik dan Temanggung menurut Wakil Ketua Komisi III DPR RI Tjatur Sapto Edi terjadi karena adanya intervensi dari luar. Berikut link-link rujukannya: *) http://www.tribunnews.com/2011/02/12/testimoni-munarman-soal-ahmadiyah-orangnya-sama *) http://www.tribunnews.com/2011/02/12/kerusuhan-cikeusik-dan-temanggung-akibat-intervensi-pihak-luar *) http://www.tribunnews.com/2011/02/12/ada-sesuatu-yang-lebih-besar-dibalik-kejadian-ahmadiyah *) http://www.tribunnews.com/2011/02/12/video-yang-diduga-dialog-polisi-dan-jamaah-ahmadiyah-beredar *) http://regional.kompasiana.com/2011/02/08/mencoba-memahami-cikeusik/ *) http://media.kompasiana.com/new-media/2011/02/12/pandeglang-tak-mengenal-fpi/ *) http://media.kompasiana.com/new-media/2011/02/12/ahmadiyah-jangan-memprovokasi/ *) http://media.kompasiana.com/new-media/2011/02/13/ahmadiyah-salah-memilih-tempat-berlabuh/ *) http://agama.kompasiana.com/2011/02/07/ahmadiyah-lagi-ahmadiyah-lagi/ *) http://agama.kompasiana.com/2011/02/08/mengapa-ahmadiyah-harus-dibubarkan-oleh-pemerintah/ *) http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/12/trik-ahmadyah-menggugah-rasa-kemanusiaan/ *) http://www.youtube.com/watch?v=TG4Ssf85VTM&feature=related Walaupun saya sepakat bahwa pelaku kerusuhan di Cikeusik dan Temanggung harus diproses sesuai hukum yang berlaku , namun dari ulasan diatas, maka kita dapat mengambil pelajaran bahwa sebelum kita memvonis seseorang atau sekelompok orang sebagai yang paling bersalah dan bertanggung jawab terhadap adanya kerusuhan, maka kita harus mencek dan ricek terlebih dahulu mengapa sampai peristiwa tsb dapat terjadi dan wajarkah sehingga kejadiannya berdampak demikian.Hal tsb sangat penting dilakukan demi mendapatkan kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya!! Agama Islam sebenarnya adalah agama yang cinta damai! Jalur kekerasan hanya diambil sebagai alternatif terakhir! Inipun dilakukan hanya jika didahului (tidak boleh mendahului)!!. Islam berasal dari akar kata salaam yang berarti damai. Selain itu juga berarti penyerahan kehendak seseorang kepada Allah. Dengan demikian Islam adalah agama kedamaian yang diperoleh dengan penyerahan kehendak seseorang kepada kehendak Allah. “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfaal [8] : 61) “Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syuura [42] : 43)Mattula Ada
Nama saya "Ada" atau lengkapnya Muhammad Mattula'ada, SE, lahir di Ujung Pandang, Sul-Sel, pada 25 Januari 1978. Pendidikan terakhir saya adalah S1 Akuntansi. Sebelum lulus tes cpns, aktivitas keseharian saya adalah wirausaha alias berjualan busana muslim di Pusat Niaga Daya Makassar (sekarang sudah diserahkan pada istri untuk dikelola). Walau demikian, dalam kapasitas sebagai penulis artikel mengenai agama, saya lebih suka disebut sebagai pengamat masalah agama, terlebih tentang perbandingan agama (Tulisan saya ini dapat pula dilihat di blog pribadi saya: http://aboutagama.blogspot.com).
Pembubaran organisasi agama yang radikal, apakah ini efektif?
Belakangan ini memang hiruk pikuk kehidupan beragama di Indonesia memang sedang panas panasnya. Belum selesai kasus yang mengakibatkan 3 orang tewas dalam serangan sekelompok orang terhadap jemaah Ahmadiyah, publik dihadapkan lagi dengan perusakan sejumlah gereja Kristen dan sekolah di Temanggung. Belum lagi dengan beredarnya secara bebas video penyerangan terhadap Ahmadiyah. Kepercayaan publik teradap pemerintahan mencapai titik yang membosankan. Tuntutan untuk menyelesaikan kasus-kasus ini memuncak. Protes dan cemooh kepada pemerintahan SBY ramai melalui Facebook dan Twitter. Menanggapi hal tersebut, Presiden SBY mengatakan akan membubarkan ormas yang melakukan tindak Anarkis. FPI - Front Pembela Islam akhirnya mengeluarkan pernyataan akan mengumpulkan massa untuk menggulingkan pemerintahan SBY bila berani membubarkan mereka. Bahkan disebut-sebut, sejumlah jendral TNI berada di belakang FPI. Tak lama kepolisian melepas beberapa orang saksi pada kejadian penyerangan Ahmadiyah. Publik protes keras. Namun ada juga yang justru berteriak membubarkan Ahmadiyah bila benar benar ingin menyelesaikan masalah. Karena di luar negri bahkan di negara asalnya kelompok Ahmadiyah ini sudah dianggap bukan Islam dan sesat. Ketegasan kembali diharapkan dari pemerintah. Bukan sekedar ucapan pencitraan yang setelah mulai adem langsung dilupakan. Masalah penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah ini memang sudah lebih dari sekedar sentimen politik. Menanggapi reaksi publik, presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan aparat melumpuhkan kelompok-kelompok yang bertindak anarkistis atas nama agama dengan segala cara yang mungkin. “Kekerasan harus dihentikan sekarang juga dengan segala ongkos dan risikonya,” kata Presiden seperti dikutip Daniel Sparingga, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, melalui pesan singkat kemarin. Tokoh Muhammadiyah, Achmad Syafi’i Ma’arif, mengatakan aksi kekerasan atas nama agama terus berulang karena negara lemah. “Aparat sudah mengerti, tetapi tak diantisipasi,” kata Syafi’i. Sikap aparat seperti itu, “Bisa diartikan pembiaran atau ketidakberdayaan negara.” Menurut Syafi’i, pemerintah harus bertindak tegas terhadap kelompok yang melakukan kekerasan. “Kalau sudah meresahkan dan merusak, harus dibubarkan,” kata Syafi’i. Komentar dari Tokoh Muhammadiyah ini merupakan dukungan penting terhadap pernyataan SBY. Bagaimanapun kelompok kelompok yang mengatas namakan Islam tersebut hanyalah sekelompok kecil dari umat Islam Indonesia. Pemerintah harus bisa kali ini untuk mengembalikan kepercayaan rakyat. Adili semua tindak kriminal yang menghilangkan nyawa orang lain itu. Hukum mereka karena menganiaya orang lain. Muhammadiyah dan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sudah menyatakan dukungan. Lantas apakah dengan membubarkan ormas ini akan efektif mencegah tindak anarkis di masa depan? Apakah ini penyelesaian? untuk jangka pendek mungkin ini yang terbaik. Namun yang lebih penting lagi, bagaimana pemerintah dapat menyelesaikan kasus ini tanpa disusupi misi misi politik. Ungkap kasus kriminal sebagai kasus kriminal. Jangan pedulikan kepentingan kepentingan politik yang saling tarik menarik di sini. Putuskan segera hai Mentri Agama, apakah Ahmadiyah akan dibiarkan seperti sekarang dengan segala kerentanannya menghadapi kelompok Islam anarkis yang lebih besar? Atau sebaiknya dibubarkan. MUI sudah menyatakan Ahmadiyah sesat. Pemerintah RI juga sudah setuju dengan wacana menjamin kebebabasan beragama dan beribadah tahun 2005. Lebih jauh lagi ada Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 45 paslal 29 yang menjamin kebebasan umat beragama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk melakukan ibadahnya. Ini persoalan susah. Karena itu, hai Mentri Agama, kau diangkat menjadi mentri. Untuk menyelesaikan urusan urusan seperti ini. Kalau tidak juga selesai, artinya kau makan gaji buta. Putuskan segera. Bila perlu tidak usah terlalu banyak tanya pada kelompok ini kelompok itu. Kesannya pemerintah tidak bisa bertindak alias plin plan. Bubarkan Ahmadiyah. Biarkan Ahmadiyah seperti sekarang. Jadikan Ahmadiyah sebagai sekte tersendiri… Whatever lah….. Yang paling utama jangan ada orang mati gara gara agama lagi. Karena walaupun tak ada fatwa haram membunuh, membunuh itu salah! Secara dunia ataupun akherat. Jangan lupa…. Kami menunggu para pembunuh itu diadili sesuai dengan perbuatannya. Jangan seperti kasus Gayus lagi, hukumannya lebih ringan dari hukuman pencuri ayam.
Traktor Lubis
Saya paling males ke resepsi nikah. Soalnya saya belum menikah. Asal ketemu Pak Muliyadi pasti pertanyaannya sama “Kapan nyusul?” . Suatu hari pak Muliyadi ketemu saya di sebuah acara pemakaman. Gantian saya tanya d ia, “pak kapan nyusul?” Saya kena marah. Kenapa orang orang maunya menang sendiri?
Bu MenKes, Mengapa Anda Tidak Berpihak Kepada Para Ibu ?
Ibarat anak bertanya tentang seks kepada orang tuanya dan dijawab : ” Sssstttt….pamali, jangan ngomong tentang seks ya nak, itu tabu ! Nanti juga kamu tahu”, dan si orangtua ngeloyor pergi meninggalkan anaknya yang kebingungan. Tragedy itulah yang diperagakan Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kustantinah serta Istitut Pertanian Bogor (IPB), Dedi Muhammad ketika ditanya tentang daftar merek-merek susu formula hasil penelitian IPB sejak tahun 2003 hingga 2006 dan pernah dinyatakan mengandung Enterobachter sakazakii dalam media intern mereka pada tahun 2008. Mereka malah menyatakan bahwa : Tidak ada Susu Formula yang Tercemar Bakteri. Pernyataan mana berlawanan dengan tulisan Kompasianer Widodo Judarwanto lewat tulisannya Daftar Merek Susu Terkontaminasi Sakazakii yang menyebutkan bahwa semua produk susu bubuk komersial memang bukan produk steril sehingga beresiko terinfeksi bakteri. Yang menyamakan kedua pernyataan itu adalah bahwa ada tindakan preventif yang dapat diperbuat yaitu dengan menyeduh susu dengan air bersuhu 70 derajat celcius. Masyarakat berharap banyak, khususnya karena ibu Endang Rahayu Sedyaningsih dan ibu Kustantinah adalah perempuan yang notabene mewakili suara para ibu sehingga tahu bahwa sangat tidak dianjurkan untuk seorang ibu membuat susu dengan cara menyeduh nya dengan air panas bersuhu 70 derajat celcius! Wah bisa-bisa si anak kepanasan dan tenggorokannya terbakar karena suhu paling tepat adalah sesuai suhu tubuh bayi. Atau menunggu air susu dingin ? Lebih aneh lagi, karena biasanya susu dibuat sesaat sebelum waktu minum susu atau pada waktu si bayi merengek minta minum susu. Umumnya susu formula tidak diseduh tetapi kedalam botol susu dituang air hangat yang sudah matang sesuai takaran yang diperlukan, kemudian dimasukkan sejumlah susu sesuai takaran sendok yang biasanya menyertai setiap kaleng susu formula. Terakhir susu dikocok dalam botol seperti membuat milkshake. Mengapa ? Agar susu larut sempurna. Apabila ke dalam botol dimasukkan air terlalu panas, serbuk susu akan menggumpal-gumpal, tidak larut sempurna dan anakpun menangis karena air susu yang diisapnya terhalang gumpalan susu. Ada cara lain untuk batita dan balita, yaitu susu di aduk dalam cangkir khusus bayi. Bercorong agar anak mudah minum susu tanpa tumpah sekaligus melatih minum menggunakan cangkir. Tapi air yang digunakan untuk menyeduh tetaplah air hangat yang matang. Selain susu menjadi mudah larut, si anak bayi biasanya tidak sabar untuk segera minum susu. Bisa dibayangkan apabila susu panaslah yang dihidangkan ! Jelaslah tindakan preventif menyeduh air susu dengan air bersuhu 70 celcius, sulit dilaksanakan. Jadi mengapa ibu Menteri Kesehatan, BPOM dan IPB bersikukuh tidak mau membeberkan daftar merek susu yang terkontaminasi Enterobacter sakazakii ? Mengapa tidak mempercayai bahwa masyarakat sanggup menilai dan mengambil keputusan untuk masa depan kesehatan anaknya? Jawaban yang paling masuk akal adalah untuk melindungi gurita industri susu formula. Bagi seorang ibu yang melahirkan di Klinik Bersalin, biasanya tidak mudah untuk melaksanakan program menyusui anaknya dengan ASI. Keempat anak saya yang lahir di empat Klinik Bersalin yang berbeda, mendapat perlakuan sama yaitu langsung mendapat susu formula sehingga colostrum atau jolong yang merupakan ASI pertama yang keluar dan banyak mengandung immunoglobulin lgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit, terbuang percuma. Nasib sama rupanya dialami anak dari teman saya yang melahirkan beberapa bulan lalu di suatu Klinik Bersalin yang sama dengan sewaktu saya melahirkan anak saya yang bungsu. Dia harus bersitegang dan ngotot tidak mau anaknya diberi susu formula. Sungguh disesalkan karena kampanye memberikan ASI intensif rupanya hanya sekedar kampanye karena produsen susu enggan kehilangan pangsa pasar. Dilain pihak para pembuat kebijakan lebih memihak mereka dibandingkan kepada masyarakat yang membutuhkan penjelasan. Seolah tidak percaya bahwa masyarakat “cukup dewasa” dalam menerima dan mencerna informasi. Berikut Kronologi Penelitian Susu Formula tersebut. Membaca Kronologi Penelitian Susu Formula, kita bisa menyimpulkan bahwa Menteri Kesehatan, BPOM dan IPB berusaha mati-matian agar daftar merek-merek susu formula tersebut jangan sampai dipublikasikan. Tanya : Mengapa ? Karena rentang waktu yang begitu lama semenjak tahun 2008 hingga tahun 2011. Tahun-tahun pertama yang merupakan golden age untuk si anak. Begitu berartinya waktu. Hal menarik lainnya adalah peranan David Tobing, pengacara penggugat penggunaan lambang Garuda di kaos Timnas. Bedanya dulu dia mendapat banyak hujatan, kali ini rupanya David akan menuai banyak pujian karena berkat kegigihannya hasil penyelidikan IPB mendapat legitimasi MA untuk dipublikasikan. Kasus ini tidak boleh dilupakan seperti banyak kasus lain. Karena keputusan akhir sebetulnya ada pada masyarakat, apakah akan tetap mengkonsumsi susu formula atau tidak. sumber : Pikiran Rakyat 10 Februari 2011Maria Hardayanto
seorang ibu yang memimpikan bumi yg ditinggalkannya kelak, lebih indah daripada bumi yang dihuninya kini ............. (blog : greenp4r4hyangan's blog : permatadibaliklimbah.blogspot.com)
Kemana Arah Pendidikan Kita?
Oleh: L. Muh. Hasan Harry Sandy Ame Pendidikan adalah suatu kegiatan dimana terjadinya proses Memanusiakan Manusia (Humanisasi), Artinya, Telah disadari bahwa Pendidikan adalah Suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan Taraf Berfikir Rakyat, serta memajuan Skillnya sehingga dapat memahami keadaan objektif yang ada disekitarnya kemudian mampu mengubahnya menjadi suatu keadaan yang lebih baik dan semakin maju tentunya. Demikian itulah suatu upaya Kongkrit untuk meningkatkan Budaya dan martabat manusia (Semestinya). Keadaan Masyarakat Mencerminkan Kualitas Pendidikan Kenyataan Masyarakat Indonesia yang semakin diselimuti Keterbelakangan baik dalam aspek Ekonomi, Budaya maupun Politik adalah gambaran nyata akan tidak Ilmiahnya Pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang diterapkan dengan system yang tidak ilmiah ini patutlah dikatakan bahwa System Pendidikan yang menjebak Rakyat menuju hari depan yang kelam (MADESU), “begitu banyak orang Menyebutnya”. Jelas saja Pendidikan di Indonesia tidak mampu menjamin Outputnya dapat mengakses pekerjaan secara luas dan terbuka karena pemerintah sendiri memang tidak pernah menyediakan lapangan kerja yang luas dan dapat diakses secara terbuka oleh seluruh rakyat Indonesia. Dilain sisi, dalam penerapan system pendidikan tersebut memang tidak pernah sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan serta kenyataan Objektif Masyarakatnya. Fakta tersebut dapat dibuktikan dengan berbagai kebijakan atau peraturan-peraturan dalam pendidikan yang justeru memperkuat Diskriminasi dalam pelaksanaannya. Melalui Kebijakan-kebijakan tersebut, Pemerintah telah menekankan Otonomi dalam pendidikan (Terutama diperguruan tinggi) yang sesungguhnya semakin membuka lebar ruang Kommersialisasi didunia pendidikan dan secara tidak lansung adalah sebagai uapaya pemerintah untuk melepaskan tanggungjawabnya atas pendidikan itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan pendidikan tersebut tidak dapat diakses secara luas oleh seluruh rakyat dari berbagai lapisan. Kurikulum bertententangan dengan Keadaan Objektif Masyarakat Selain dengan Kebijakan-kebijakan yang cenderung diskriminatif dan mahalnya biaya yang menyebabkan terbatasnya partisipasi rakyat atas pendidikan tersebut, Pendidikan di Indonesia ini juga masih diwarnai dengan Kurikulum yang samasekali tidak sesuai dengan keadaan dan kebutuhan rakyat. Kurikulum pendidikan di Indonesia memang diorientasikan untuk mencetak tenaga kerja murah untuk memenuhi kebutuhan Kapitalis monopoli (Imperialisme) yang semakain kuat berdominasi didalam Negeri. Sebagai Cerminan bahwa System Pendidikan yang dijalankan oleh Pemerintah saat ini memang tidak bersegi hari depan adalah Semakin Meningkatnya angka kemiskinan dan Pengangguran diseluruh Nusantara, termasuk pengangguran dari Kalangan Intelektuil. Diperguruan Tinggi Sendiri, Kurikulum diarahkan untuk terus menanamkan perspektif pendidikan Enterpreneurship dengan legitimasi agar Mahasiswa atau output perguruan tinggi dapat menciptakan lapangan kerja sendiri dengan membangun usaha mandiri didaerah masing-masing. Dalam Acara Pencanangan Gerakan Kewirausahaan Nasional (Jakarta 02/02/11), melalui Pidatonya, Presiden SBY menyatakan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia saat ini sebanyak 8,32 juta orang, Sehingga Fokus utama pemerintah saat ini adalah berusaha menyediakan lapangan kerja bagi para penganggur tersebut dan, lapangan pekerjaan yang potensial adalah pegawai Instansi Negara (Lanjut SBY). Namun, katanya Sektor itu tidak mungkin bisa menyerap semua pengangguran. Menurut Presiden Yudhoyono, “Jumlah pegawai instansi negara saat ini 7.663.570 orang yang terdiri dari pegawai negeri sipil, guru dan dosen, serta TNI/Polri”. Untuk menjawab persoalan tersebut untuk mengurangi Pengangguran, SBY Menegaskan dalam Pidatonya bahwa pemerintah mendorong kepada Masyarakat untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan sebagai salah satu sektor penyerapan tenaga kerja. “Menjadi wirausaha yang menciptakan produk pasar dan bisnis yang baru”, Katanya. Terang saja dengan ketegasan tersebut, Pendidikan yang sebagai gudang utama penyediaan atau pencetak tenaga kerja diarahkan untuk menggalakkan kurikulum tentang Enterpreneurship yang dalam penerapannya, kurikulum tersebut tidak pernah membongkar secara terang kenyataan bahwa walupun Masyarakat akan mampu membangun usaha sendiri dalam situasi sulit dimana ekonomi yang semakin menjepit saat ini, bahwa Rakyat kemudian akan bersaing ketat dan tidak mungkin bisa mengungguli peredaran produk Imperialis yang telah menguasai pasar dunia, sebab dilain sisi mulai dari Modal, bahan mentah, tenaga kerja hingga pasar telah dikuasai oleh Imperialis itu sendiri, Sehingga pastilah harga barang produksi Imperialisme akan jauh lebih murah dengan produk dalam Negeri atau hasil produksi masyarakat yang serba sederhana dengan modal dan alat kerja yang sederhana dan terbatas. Dalam Acara “UI Career & Scholarship Expo XI- 2011″ yang digelar mulai Kamis (10/2/2011) hingga Sabtu (12/2/2011), di Balairung UI, Depok, Muhaimin Iskandar (Menakertrans) mengatakan bahwa “30% tenaga kerja Khususnya lulusan Perguruan Tinggi (PT) masih belum terserap oleh pasar kerja Indonesia“, hal tersebut disebabkan karena (Muhaimin Melanjutkan) Tidak sampainya Informasi kepada lulusan-lusan PT dank arena Faktor Kualifikasi dan potensi lulusan baru yang mencari kerja. Pendidikan harus menjawab persoalan Rakyat Dengan dasar tersebut diatas, maka layaknya pendidikan harus memiliki perspektif untuk meningkatkan ilmu pengetahuan Masyarakat, sehingga dalam penyelenggaraannya haruslah sesuai dengan keadaan Objektif Masyarakatnya dengan kekhususan dimasing-masing daerah, sehingga pendidikan tersebut benar-benar mampu menjawab kebutuhan hidupnya (Minimal) dan mengubah keadaan dan budaya Masyaraakat menjadi suatu kebudayaan yang lebih maju dan dapat menjamin Kemandirian, Kedaulatan dan kesejahteraan rakyat secara luas dan merata. System Pendidikan yang seharusnya dijalankan oleh Pemerintah adalah Pendidikan yang “Ilmiah, Demokratis dan Bervisi Kerakyatan”, Yaitu: 1) Pendidikan Ilmiah adalah Pendidikan yang (Mulai dari Kebujakan atau Peraturan dan Kurikulum) dijalankan berdasarakan keadaan umum Masyarakat Indonesia. Kurikulum yang dilahirkan atas praktik ilmiah yang dilakukan baik didaerah-daerah tertentu maupun secara Konfrehensive diseluruh daerah, sehingga Rakyat dapat lansung memperaktekkan ilmu pengetahuan yang didapatkan didunia pendidikan tersebut dan dapat diiplimentasikan lansung untuk menjawab persoalan-persoalan yang ada disekitarnya. 2) Pendidikan yang Demokratis yaitu pendididkan yang dalam iplimentsinya diselenggarakan secara luas dan terbuka tanpa Diskriminasi baik itu persoalan Ekonomi (Si Miskin dan Si Kaya), Sosial atau Dikotomi antara Pendidikan Swasta dan Negeri. 3) Bervisi Kerakyatan yaitu Pendidikan yang di Orientasikan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, Memajukan taraf berfikir Rakyat untuk perkembangan Budaya yang menjamin kemandirian, Kedaulatan dan Kesejahteraan Rakyat. Untuk Mewujudkan Pendidikan yang Ilmiah, Demokratis dan Bervisi Kerakyatan tersebut, maka peran Pemerintah pertama kali adalah menjamin bahwa Pendidikan tersebut dapat diakses secara luas dan terbuka oleh Seluruh rakyat dengan jaminan pembiayaan ditanggung oleh Pemerintah (Minimal) Gratis untuk Pendidikan Dasar s/d Menengah dan Biaya Murah untuk Pendidikan Tinggi.Ughe Sandy Ame
Serjana Pendidikan Bahasa Inggris. Saat ini sebagai salah satu Kollektif Pimpinan Pusat Sebuah Organisasi Massa Mahasiswa (FMN) dengan Jabatan sebagai Sekretaris Jenderal. Lahir Di Lombok Tengah-Kec. Praya Barat-NTB
