(Cermin Orang Dangkal) Besoes: Pemain Asing di LPI Cuma Kuli Cangkul



Malam ini ketika saya menonton acara LENSA OLAHRAGA di ANTV, saya melihat tag berita yg berbunyi demikian (kurang lebih seperti diatas). Sungguh ironis sekali, pernyataan ini dikeluarkan oleh seorang sekjen sebuah organisasi bernama “PSSI”. Pernyataan ini jelas tidak mencerminkan seseorang yg intelektual dalam berorganisasi, karna menanggapi hal yg berseberangan (meski banyak yg menilai LPI adalah liga perubahan) dengan pernyataan kotor tidak mendidik.
Jelas sekali pernyataan yg dilontarkan itu membabi-buta karna merasa “kekuasaan”nya terancam. Karna sudah merasa terancam dengan hadirnya LPI, maka oknum-oknum PSSI melakukan intervensi & sabotase dalam banyak hal. Inilah contoh kegagalan :
1. Membuat pencitraan ke publik bahwa LPI adalah liga “tarkam”.
Kenyataan :
Animo masyarakat cukup bagus, meski LPI masih seumur jagung tapi cukup menghibur & menyegarkan apresiasi masyarakat yg selama ini sangat menyayangkan dana APBD banyak digunakan untuk kepentingan klub-klub ISL
2. Mencegah transfer “Younghusband” bersaudara.
Duo bintang asal Philipina yg bersinar di turnamen piala AFF 2010 kemarin diminati oleh klub LPI. Oknum PSSI dengan segala cara berusaha menggagalkan proses transfer itu, salah satunya mengultimatum federasi sepakbola Philipina.
Kenyataan :
Proses negosiasi berlanjut, diperkirakan bulan Maret duo Younghusband siap merumput di LPI
3. Karena merasa gagal dalam menghentikan langkah berdatangannya pemain-pemain berkualitas (meski bukan pemain top nomor 1 dunia, tapi setidaknya bisa kita curi ilmunya bagi perkembangan pemain lokal kita) maka mulailah “oknum” mempermasalahkan tentang keimigrasian pemain & pelatih asing (kenapa gk dari dulu boss)
Kenyataan :
Seorang Lee Hendrie pun tidak menghiraukan di klub atau liga mana dia bermain (toh itu juga mencari nafkah)
Kenapa PSSI tidak memberi ijin transfer pemain antar negara ?
Katanya dulu LPI biar berjalan karna itu liga tarkam dan cuma hiburan, yg penting kompetisi ISL kompetisi resmi PSSI. Dan ternyata kini setelah LPI banyak memberikan gebrakan bagus, PSSI mulai merasa terancam. *ckckckckck*
4. (tambahan)
a> Bila anda menonton ISL & LIGA Ti-Phone di ANTV, kemudian anda SMS untuk berkomentar tentang LPI, dijamin pasti tidak akan ditayangkan di televisi.
b> Bila anda menonton acara LENSA OLAHRAGA di ANTV, anda tidak akan melihat ulasan pertandingan LPI, anda tidak akan melihat berita bagus tentang LPI, yg ditayangkan pastilah berita “miring” tentang LPI
Terlepas dari judul diatas (tentang LPI) kita juga dapat melihat sedemikian hebohnya para oknum PSSI ingin melanggengkan kekuasaan dengan segala cara. Mungkin inilah pandangan awam masyarakat pecinta sepakbola :
1. Konggres PSSI di Bali dilaksanakan tertutup oleh pers (cuma pembukaan & hasil tuh boss, akh cam mana pula kau boss)
2. Pemecatan ketua/pengurus Pengda/Pengprov PSSI yg dinilai tidak mau mendukung atasan.
3. Penghilangan hak suara sejumlah klub yg diawali dengan pemecatan klub dari anggota PSSI (bukannya pemecatan harus dengan konggres boss ?)
4. Surat pengajuan balon ketum PSSI sempat raib, dengan banyak alasan.
5. Menjegal salah satu calon (Toisutta) dengan “statuta” harus minimal 5th berkecimpung dalam dunia persepakbolaan (sebenarnya saya sudah bosan dengar kata STATUTA) dan langkah ini dimentahkan dengan “Toisutta pernah menjadi ketua PS AD”.
6. Memutar balik, mengotak-atik, mengeser-geser terjemahan statuta FIFA dalam bahasa Inggris yg tidak membolehkan orang yg pernah terjerat kasus hukum menjadi ketua organisasi sepakbola di negara manapun.
7. Konggres pemilihan ketum PSSI dilakukan di Bintan (kenapa di pelosok sich boss, ohh biar merata ya silaturahmi ke daerah anggota PSSI. Kenapa gk di Wasior aja sekalian noh, itung2 yg hadir bisa nyumbang buat rakyat yg kena musibah)
haduh haduuuuuh,,
bingung saya lihat tingkah oknum-oknum ini (mungkin masih banyak lagi)
Yasudahlah, inilah pandangan dari kami-kami masyarakat awam pecinta sepakbola. Jangan jadikan PSSI sebuah ajang kekuasaan, jadikan PSSI sebagai wadah untuk memajukan sepakbola Indonesia.
BRAVO SEPAKBOLA INDONESIA

Bubup Prameshwara

Kadang saya memikirkan apa yg terjadi di indonesia ini, sungguh bikin \"miris\". Tapi kadang saya juga merasa tak ada gunanya memikirkan apa yg sedang saya pikirkan :O


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Nurdin Halid, Sangat Tidak Layak



Persepakbolaan Indonesia kembali menggelora, bukan karena menjuarai sebuah turnamen tapi karena induk organisasi sepakbola indonesia yaitu PSSI mau mengadakan kongres. Setelah lama menjadi bulan-bulanan dan selalu menjadi pihak yang selalu disalahkan oleh pecinta sepakbola, akhirnya PSSI akan segera mencari kepala selanjutnya.
Banyak orang menganggap PSSI di bawah pimpinan Nurdin Halid sangat mengecewakan. Ia menjadi orang no 1 yang disalahkan atas carut marut persepakbolaan Indonesia. Kekesalan para pecinta sepekbola terhadap Nurdin Halid sudah tak terbendung lagi. Walaupun Indonesia menjadi Finalis AFF dan bermain bagus, banyak orang yang tidak peduli terhadap Nurdin Halid. Sebuah sepanduk terpasang di Final Piala AFF. “thank for Alfred, no thank for Nurdin.” Padahal Kala itu semua orang sangat bangga dengan tim Garuda hingga penjualan baju timnas melonjak bagaikan harga pendidikan. Tapi kecintaan tersebut hanya tergambarkan kepada para awak timnas tidak terhadap PSSI sebagai induk organisasi.
Sepertinya sudah tidak ada tempat lagi bagi Nurdin di hati para pecinta sepakbola. Surfey yang dilakukan oleh situs Bolanews.com dari 1.856 responden 1.802 atau sekitar 97.08 % mengatakan bahwa Nurdin tidak layak dicalonkan kembali menjadi ketua PSSI. Hasil surfey tersebut cukup untuk menunjukan bahwa masyarakat indonesia sudah sangat kecewa terhadap Nurdin. Kekecewaan terhadap Nurdin karena banyak orang menganggap bahwa ia adalah seorang Politisi kotor.
Ia pernah menjadi tersangka karena tidak pidana korupsi sewaktu ia menjabat menjadi ketua PSSI. Tapi walaupunn ia telah menjadi tersangka dan mendapat hukuman selama dua tahun, ia tidak di cabut dari posisinya sebagai ketua. Sejak saat itulah para pecinta sepakbola mengalami puncak kekesalan mereka. walaupun FIFA sebagai induk organisasi sepakbola dunia mengirimkan surat terhadap PSSI, tetapi Nurdin tetap tegak di singgasananya. Entah setan apa yang merasuki para pengurus PSSI sampai ia tidak mau mencopot Nurdin.
Nurdin pun masih menjabat ketua PSSI sampai habis masa jabatannya. PSSI dibawah nurdin masih tetap kacau. ISL (Indonesia Super league) masih carut marut hingga sepakbola menjadi ajang keributan. Hingga akhirnya Arivin Panigoro membnuat liga tandingan yaitu LPI (Liga Primer Indonesia) sebagai bentuk kekecewaan terhadap ISL . selain carut marut ISL Kasus suap sering menyeret nama-nama nurdin, setelah ada isu yang menerangkan bahwa PSSI telah “menjual” timnas dalam final AFF pertama. Sekarang nurdin terbawa kasus korupsi dan suap yang dilakukan oleh seorang petinggi salah satu tim bawahan PSSI.
Pertanyaan saya adalah, Apakah seorang Nurdin Halid masih pantas melanjutkan tahta kekuasaannya di persepakbolaan Indonesia? Saya yakin banyak kawan-kawan saya dan semua yang mencintai sepakbola akan berkata “TIDAK”. Tapi sayangnya PSSI kembali meloloskan Nurdin menjadi bakal calon keua PSSI. Nurdin layaknya para pejabat pemerintah yang tidak tahu malu. Ia tidak tahu malu masih mencalonkan diri, padahal kebanyakan masyarakat sudah tidak menginginkan dia. Dan anehnya lagi, hampir semua anggotan PSSI mendukung mantan ketua mereka yang busuk itu.
Jika sampai Nurdin terpilih kembali maka PSSI akan semakin kehilangan wibawanya. PSSI akan tetap menjadi organisasi yang selalu disalahkan oleh masyarakat. kekacauan persepakbolaan Indonesia akan terus lanjut dan lanjut…

Arief Ikhsanudin

aku pun tidak bisa mendeskripsikan diriku sendiri.


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Nurdin Halid, Website PN Samarinda, dan Transparansi Publik



Penjara sesungguhnya bukan tempat yang asing buat Nurdin Halid. Ketua Umum PSSI itu beberapa kali mendekam di jeruji besi, baik sebagai tersangka maupun terpidana. Belakangan, mantan manajer PSM Makassar itu terancam dijebloskan lagi ke Hotel Prodeo. Ini setelah dirinya disebut-sebut menerima aliran dana dari Aidil Fitri, mantan General Manager Persisam Samarinda.
Rabu (2/2/2011), majelis hakim Pengadilan Negeri Samarinda yang diketuai Parulian Lumbantoruan menyatakan Aidil Fitri terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dalam kasus penyalahgunaan bantuan sosial dari Pemkot Samarinda untuk klub sepak bola Persisam tahun 2007 dan 2008.
Dalam putusan perkara korupsi itu, majelis hakim menyatakan bahwa negara dirugikan sebesar Rp 1,7 miliar. Duit sebesar itu ternyata tidak dinikmati Aidil Fitri sendiri. Para petinggi PSSI turut mencicipinya. Nurdin Halid, sebagai orang nomer satu di PSSI, disebutkan dalam putusan itu menerima Rp100 juta.
Saya mendapat informasi tersebut dari pelbagai media massa. Terus terang, saya tidak puas. Buat saya, putusan tersebut sangat menarik dan penting. Ingin sekali saya mendengar langsung ucapan majelis hakim ketika membaca putusan. Sayang sekali, ini tidaklah mungkin.
Yang mungkin bisa saya lakukan adalah membaca berkas putusan. Karena itu saya bergegas membukawebsite PN Samarinda. Tetapi sial, website tersebut tidak bisa diakses sama sekali. Ketika saya mencoba membukanya siang ini, website tersebut dalam keadaan “fatal error”.
Awalnya saya berpikir, setelah hampir dua pekan dibaca majelis hakim di dalam persidangan yang terbuka untuk umum, putusan itu bakal dipublikasikan melalui situs resmi PN Samarinda. Ah, jangankan putusan, tampang website saja tidak tampak.
Masih bisa tersenyum, Nurdin? (Ilustrasi: Basobrasi.wordpress.com)
Masih bisa tersenyum, Nurdin? (Ilustrasi: Basobrasi.wordpress.com)
Sungguh, hal ini patut disesalkan. Putusan pengadilan merupakan informasi yang wajib tersedia setiap saat dan dapat diakses oleh publik. Demikian amanat Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 1-144/KMA/SK/I/2011 tentang Pedoman Pelayanan Informasi di Pengadilan.
Yang wajib dipublikasikan adalah seluruh putusan dan penetapan pengadilan, baik yang telah berkekuatan hukum tetap maupun belum berkekuatan hokum tetap. Publikasi tersebut, menurut SK KMA 1-144/2011, dalam bentuk fotokopi atau naskah elektronik, bukan salinan resmi.
Sejak 2007, sejatinya publikasi putusan pengadilan sudah diwajibkan. Ini seiring terbitnya SK Ketua MA 144/2007. Hanya, SK tersebut hanya mewajibkan publikasi putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap untuk perkara-perkara tertentu, seperti perkara korupsi.
Saat ini putusan perkara Aidil Fitri belum berkekuatan hukum tetap. Pihak Aidil maupun pihak kejaksaan dapat mengajukan banding. Bahkan perkara ini punya kemungkinan untuk berlanjut hingga kasasi atau peninjauan kembali.
Meski demikian, PN Samarinda tidak boleh beranggapan bahwa putusan perkara Aidil tidak bisa diakses oleh publik. Putusan, yang merupakan produk utama pengadilan, harus bisa diakses publik.
Saya yakin, banyak pecinta sepak bola di Tanah Air yang ingin membaca putusan yang dapat menyeret Nurdin Halid ke jeruji besi itu. Karena itu, sebagai bukti keberpihakan terhadap transparansi publik, PN Samarinda perlu mempublikasikannya di situs resmi.
Perlu diketahui bahwa Petugas informasi, Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID), atasan PPID yang melanggar serta menghalangi pelaksanaan SK KMA 1-144/2011diancam hukuman berat. Mereka dapat dijerat dengan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS, UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Hukuman tersebut bisa berupa sanksi disiplin dan/atau sanksi pidana.
Dalam hal ini, yang disebut Atasan PPID adalah pimpinan pengadilan, yaitu ketua atau wakilnya. PPID adalah Panitera/Sekretaris. Sedangkan petugas informasi adalah Panitera Muda Hukum atau pegawai lain yang ditunjuk Ketua pengadilan.
Jika tidak ingin terkena sanksi disiplin maupun sanksi pidana, Ketua PN Samarinda dan anak buahnya harus segera mempublikasikan putusan yang menjadi perhatian publik itu. Tentu, sebelum itu, benahi dulu website yang “fatal error” itu.
Tunggu apalagi. Jangan sampai publik beranggapan error-nya website menunjukkan bahwa aparat PN Samarinda juga error!
Rawamangun, 15 Februari 2011

Herman Hasyim

Setelah gagal membangun pabrik rokok, sekarang mendirikan pabrik aksara.


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Kongres Pemilihan Pengurus PSSI (Harus) Bersih!



12975673681289323594

Ilustrasi/Admin (singamaniajabodetabek.blogspot.com)

Dunia persepakbolaan Indonesia telah mencapai titik kulminasinya sekarang ini. Sudah saatnya kita berubah. Kita sudah letih menunggu prestasi yang tak kunjung datang. Tanpa mengurangi segala hormat, kepemimpinan PSSI sekarang bisa dibilang kurang bagus. Pertanyaannya sekarang: kapan Ketua Umum PSSI dan pengurusnya sekarang akan diganti?

Jawabannya sudah pasti di Kongres Pemilihan Pengurus PSSI 2011-2015 di Bintan, 19 Maret mendatang. Kita tidak tahu apakah ini bakal hanya menjadi “sandiwara”, “suksesi” semata atau memang pemilihan yang benar-benar jujur dan transparan. Yang pasti, sesuatu bakal berubah mulai dari even ini.

Ada empat bakal calon yang terdaftar di Badan Pemilihan PSSI (dulu Tim Verifikasi PSSI), yaitu NH (Ketum PSSI 2003- ), George Toisutta (KSAD), Nirwan Dermawan Bakrie (Ketua Badan Liga Indonesia) dan Arifin Panigoro (founder Medco Group). Dari keempat bakal calon, (sudah jelas) NH mendapat dukungan terbanyak dengan 84 suara (bakal calon dipilih melalui pemilihan oleh anggota kongres—pen.) Urutan kedua ditempati oleh Bapak George dengan 12 suara, atau 7 kali lebih kecil daripada NH. Ketiga ditempati oleh NDB (3 suara) dan terakhir oleh Bapak Arifin (1 suara).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa—lagi-lagi tanpa mengurangi rasa hormat—PSSI sekarang sering dikaitkan dengan “kejahatan” sepakbola, seperti suap, pengaturan skor, atau korupsi. Kita rindu sosok yang mampu membangkitkan kebersamaan lewat sepakbola dan menghancurkan akar-akar kejahatan di dalam PSSI. Bukan bermaksud menyinggung, tapi jika Ketum PSSI yang terpilih masih sama, pecinta sepakbola akan kecewa berat.

Seperti kata Diego Maradona, “Sebuah organisasi sepakbola harus dipimpin oleh ‘pemain bola’.” Jangan diartikan secara harfiah, maksudnya di sini adalah sebuah organisasi sepakbola (di sini PSSI, pen.) harus dipimpin oleh orang yang benar-benar cinta sepakbola dan mengerti bagaimana sepakbola sesungguhnya. Butuh niat yang sangat putih dan bersih untuk menyapu semua kotoran di lantai persepakbolaan Indonesia.

Ya, apapun yang terjadi, kita harus menegakkan fair play, di dalam maupun di luar lapangan. Semoga, siapapun yang terpilih, dapat memerbaiki persepakbolaan Indonesia dan melibas oknum-oknum yang telah merusak citra sepakbola kita.

MAM

13 Februari 2011

1297559123421313936

Kapan kita bisa merengkuh piala seperti ini lagi?

M Ammar Mahardika

Lahir di Jakarta 16 Agustus 1996, sekarang masih kelas 9 di SMPN 9 Kota Bekasi. Tinggal di Jatiasih Bekasi, mencoba untuk mengeksplorasi hal-hal unik dan menarik di kehidupan ini. :)


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Berhentilah Menghujat Nurdin Halid



Jikalau cara Anda masih seperti itu, maka Nurdin Halid (NH) tak bakalan mundur dari kursi PSSI. Malahan dia berniat heatrick. Menghujat, mengecam dan menghinanya, ibarat sebuah tantangan untuk Ia terus bertahan. Gambaran tentang NH yang seolah seperti iblis jelek, terkutuk bertaring buas, seperti yang tergambar di kaos-kaos penghujatnya, malah akan membuat semakin kokoh bertahan.
Sebagai orang yang sekampung dengan NH, kadang saya merasa ngeri dengan hujatan kurang santun seperti itu. Kalau saya menghadapi seperti itu, saya pun pasti akan melawan. Kalau tidak mampu melawan, saya akan pergi merantau dan tak akan kembali lagi. Malu rasanya tidak disukai begitu banyak orang. Tetapi saya bukan orang yang terpancang kokoh setiang baja dan tebal semuka tembok.
Malai bukurupa ricau’e, mappalimbang ri maje’ ripanganroe’ (Memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan). Pesan bijak keberanian orang Bugis ini, saya yakin dipegang teguh NH yang dalam awal karirnya hanyalah orang biasa dari keluarga petani yang bisa dikata miskin ketika itu. Seorang keluarganya yang juga adalah keluarga saya pernah bercerita, bahwa NH memulai bisnisnya sebagai penjual pupuk. Ia membonceng sendiri pupuknya keliling desa. Perjuangan yang keras.
Anansir kearifan local di atas, juga berarti: Dikalahkan karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan takluk sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tidak memiliki harga diri sama halnya mati. Pesan ini, menjadi spirit para ‘petarung’ seperti NH yang malang melintang di dunia bisnis dan politik yang kadang terkesan bercampur baur kolusi dan korupsi.
Walau saya tidak dalam posisi mendukung NH di PSSI, dan bahkan saya salah satu penentangnya semenjak menjadi mahasiswa, tetapi saya yakin tuntutan mundur terhadapnya dianggap sebagai bagian dari harga diri. Walau perspektif harga diri atau siri’ (malu)saya berbeda dengan NH. Tetapi saya sependapat, bahwa siapapun yang telah menghina pribadi harus dilawan, walau ujungnya adalah kekalahan, setidaknya perlawanan adalah kehormatan.
12974918061109472492
NH seolah digambarkan sosok iblis
Terlepas dari (mungkin) perbedaan memandang makna siri’ itu, saya pun sehati pada persoalan “memalukan kalau dikalahkan apalagi ditaklukkan.” Hujatan mundur terhadap NH bagi saya sudah keterlaluan, setidaknya tulisan dan komentar yang sering saya baca. Saya tidak ingin membela pribadinya yang saya tidak sependapat (logika), tetapi saya membela hujatan terhadapnya yang bagi saya kurang santun dan menjatuhkan pribadinya (rasa).
Keberadaan NH di PSSI saya akui mengacaukan kompetisi Liga Super Indonesia. Isu suap dan permainan skor sampai pada setting akal-akalan wasit cukup menjengahkan. Makanya saya mendukung PSM Makassar berlaga di LPI, walaupun saya merasa sayang. Bukan LPI  yang saya dukung, tetapi PSM Makassar yang saya cintai. Kemanapun PSM pergi, yel-yel kami selalu bersamanya.
Intinya  PSSI telah masuk ke ruang-ruang intrik politik yang bisa merusak sepak bola kita, seolah sepak bola dijadikan ajang pencitraan. Ini yang saya tidak sepaham, selain figure NH sendiri yang memang dari dulu akrab dengan kontroversi hukum atas beberapa kasus korupsi yang menimpanya.
Apakah saya membenci NH dengan menghujatnya seolah iblis? Tidak. Saya hanya tidak sependapat atas kiprahnya dan ingin memintanya mundur dengan jantan. Saya pernah menuliskannya di SINI. Jikalau cara kita kurang santun dan main keroyok, saya yakin itu sulit untuk berhasil. “Kualleanggi tallang na towalia” (lebih baik tenggelam daripada kembali), demikian yang sering saya dengar ungkapan NH. Dia juga pernah menulis buku yang kira-kira (lupa) berjudul “Pelaut handal, tidak lahir dari lautan yang tenang”
Sungguh saya tidak sekadar asal bilang. Saya setanah kelahiran dengan NH. Paham dengan karakter petarungnya yang memang sulit dikalahkan, bahkan saat Ia sementara dipenjara pun tak bisa dikalahkan, apalagi kalau sudah keluar. Statuta FIFA sudah melarang terpidana memimpin federasi sepak bola, NH bisa lolos. Kehadiran LPI juga tidak menggoyahkannya, malah ia di support FIFA.
Pen-balonan PSSI saat ini, NH meraih dukungan 81 suara, jauh sekali dari pesaing-pesaingnya. Ini pertanda NH mendapat dukungan penuh dari internalnya. Mampukah kita menghalanginya. Di salah satu berita, NH sudah menegaskan, “Tidak ada yang bisa menyuruh saya berhenti.” Saya sendiri gemas dan jengah. Tetapi NH begitu kokoh dari terpaan hujatan. Fenomena apa ini? apalagi kalau bukan NH sementara mempertahankan harga dirinya yang dia rasa kurang dihargai. Nah, Lho!?
Gemilangnya Timnas di laga AFF kemarin, melonjaknya peringkat sepak bola Timnas, PSSI sebagai penyelenggara liga terbaik di ASEAN serta terakhir kemampuan Timnas U23 mengalahkan Hongkong di laga perahabatan dengan skor telak 4-1, tidak bisa dilepaskan dari peran NH. Kita harus sportif. Kalau itu karena Alfred pelatih Riedl, betul juga. Tetapi pelatih tak akan hadir tanpa peran NH sebagai ketua PSSI. Jujur, bukan kepemimpinan NH, saya tidak sukai. Tetapi masuknya kepentingan politik di tubuh PSSI.


Mari kita sepakat untuk melawan dominasi NH, tetapi kita harus tulus karena kita memang mencintai sepak bola negeri kita, tidak ada kepentingan politik apapun. Mari berhenti menghujat NH dengan cara kurang santun. Mari kita berbalik ke 81 suara itu, kenapa mendukung NH. Bisakah kita, menekan 81 suara itu? Terakhir, saya melihat ada upaya kurang terpuji, dengan ingin mempidanakan NH. Samar memang, tetapi benak awan ini bisa menebak, bahwa itu untuk menjegalnya sebagai ketua PSSI.
Terlepas apakah NH terlibat atau tidak, sudah menjadi rahasia umum, bahwa hukum adalah tameng sekaligus alat penyerang politisi untuk menjatuhkan lawannya. Kalau di sepak bola, ini sudah mendapat kartu merah. Saya sekali lagi menyatakan bahwa saya tidak mendukung NH, dan sering saya bilang dimana-mana. Saya hanya merasa cercaan terhadapnya tidak bakal berpengaruh untuk menurunkannya.
Apakah kelak ini terbukti? Saya hanya menganalisanya, melalui karakter NH yang selama ini saya perhatikan. Sama sekali tidak dengan maksud mengangkat sukunya, karena Jusup Kalla, juga sekampung dengan NH tetapi memiliki sportifitas yang tinggi. Bagi JK, kita harus gigih bertarung, tetapi yang menang kita harus hormati. Terlihat, JK menampilkan diri sebagai sosok negarawan. Negara di atas segalanya daripada hanya kepentingan partai, apalagi pribadi, seperti yang terkesan NH mati-matian membelanya.
Maaf, tulisan saya ngelantur bertele-tele. Sulit rasanya menemukan bahasa untuk menggambarkan rasa jengah ini.
Bantaeng, 12 Februari 2011
Postingan Terkait Lainnya:  Nurdin Halid Sekampung Saya
Sumber gambar di SINISINISINI, Juga di SINI. Dan terakhir di SINI
By : 

Andi Harianto

Hanya seorang Manusia Bugis seperti yang Cristian Pelras tuliskan. Tinggal di Kota Kecil Bantaeng, 120 Kilometer di Sebelah Selatan Kota Makassar. Setiap orang adalah guru ku dan setiap tempat adalah sekolahku Sebagian tentang saya, ada di http://bungarung.blogspot.com/


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Tiadakah yang Iba pada Bp. Nurdin Halid?



Sudah dua periode ini Nurdin Halid memegang tampuk kekuasaan di induk olah raga sepak bola kita, PSSI. Walaupun diwarnai pro dan kontra, sesungguhnya kepemimpinan beliau banyak membawa kemajuan dan prestasi bagi persepak-bolaan di tanah air.
Bukti nyata prestasi PSSI adalah berhasilnya Tim Garuda Senior kita menjadi Juara Dua Suzuki AFF Cup yang baru lalu. Walaupun diklaim sebagai keberhasilan Partai Golkar, sesungguhnya ini adalah keberhasilan pribadi beliau.
Hadirnya Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan juga tak lepas dari jasa beliau. Irfan Bachdim, yang langsung disukai penampilannya dan menciptakan dua gol dalam Turnamen Suzuki AFF Cup, menanggalkan kewarga-negaraan Belandanya dan memilih menjadi WNI saat PSSI dipimpin Nurdin Halid. Begitu juga dengan proses naturalisasi El Loco, Cristian Gonzales yang difasilitasi oleh beliau. Suatu prestasi yang pertama kali terjadi sepanjang hadirnya PSSI yang telah dipimpin oleh tiga belas orang berbeda.
Prestasi lain yang rasanya belum pernah dicapai oleh kepengurusan yang lalu adalah membawa Indonesia naik dalam peringkat FIFA dari posisi 91 diawal kepemimpinan beliau (2003) menjadi peringkat 129 (Januari 2011). Bayangkan, dalam waktu hampir delapan tahun, mampu membawa Indonesia naik 38 tangga. Dan fenomenalnya, dari delapan tahun kepemimpinannya dua tahun beliau lakukan dari dalam penjara.
Lobi Nurdin Halidpun sungguh hebat. Pada awal tahun 2010, terkait status beliau yang pernah menjadi nara pidana, FIFA mengancam akan membekukan PSSI dari keanggotaannya. Namun karena kecerdasan beliau dalam memperbaharui Statuta PSSI, maka FIFA-pun menyerah dan mengakui kepemimpinan Nurdin Halid. Suatu karya luar biasa yang tidak pernah bisa juga dilakukan ketua-ketua PSSI sebelumnya.
Serangan atas keberhasilan beliau datang dari mana-mana. Ketika hujatan dan umpatan secara langsung maupun tertulis di poster-poster pada pertandingan Suzuki AFF Cup di Senayan, beliau juga menanggapinya dengan bijaksana dan mengatakan bahwa tidak semua orang menghujatnya. Pun juga ketika MBM Tempo menurunkan berita yang membongkar kebusukan persepakbolaan Indonesia dengan judul yang bombastis, KoruPSSI maka dengan bijak pula beliau menanggapinya dengan melaporkannya ke Polri untuk menyelidiki kebenaran berita di MBM Tempo tersebut.
Maka ketika lebih dari 80 pengda dan klub-klub anggota PSSI mengajukan beliau menjadi Ketua Umum lagi menjadi kewajaran menginggat prestasi beliau. Namun, seharusnya beliau tidak dicalonkan lagi karena sudah cukup beliau berbuat untuk kemajuan persepakbolaan nasional. Seharusnya, pengda dan klub-klub merasa iba kepada Nurdin Halid yang selama delapan tahun telah mengabdikan hidupnya untuk PSSI, bahkan dari dalam penjarapun beliau tetap memimpin karena kecintaannya pada PSSI.
Semua pihak yang telah mencalonkan Nurdin Halid harusnya berempati kepada Ibu Hj. Andi Nurbani, istri beliau, dan enam orang putranya. Terlebih, putra beliau yang terkecil masih berusia 15 tahun dan masih sangat perlu pendampingan penuh dari kedua orang tuanya.
Hal lain yang harusnya menjadi pertimbangan untuk menarik dukungan bagi Nurdin Halid adalah memberikan kesempatan bagi beliau untuk banyak beribadah. Diusianya yang hampir mendekati 53 tahun, beliau tentunya akan lebih banyak mendekat kepada Tuhan apalagi beliau pernah membuat kekhilafan yaitu melakukan korupsi ratusan milyar rupiah.
Sungguh tidak bijaksana untuk mendudukan beliau di kursi panas Ketua Umum PSSI dengan mencalonkannya lagi . Lagi pula, Nurdin Halid sendiri mempunyai sifat ksatria yaitu pantang menolak amanah sehingga seharusnya para pemilik suara pada Kongres PSSI di Bintan, 19 Maret 2011 mendatang tidak memilih beliau lagi.
Bagi saya dan mungkin banyak pecinta sepak bola di Indonesia lebih baik jika Nurdin Halid turun dari jabatannya sesegera mungkin. Ini adalah wujud rasa iba kami kepada beliau dan keluarga, dan agar beliau dapat fokus beribadah sebagai penebus segala kesalahan beliau di masa lalu.
Fajar
Orang biasa yang biasa aja


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Dilema Pengprov dan Ketua Klub PSSI, antara Profesionalisme atau Kepentingan Politik?




PSSI/Admin (thejakartapost.com)
Sabtu tanggal 5 Pebruari 2011 batas terakhir yang ditetapkan oleh Tim Verifikasi PSSI untuk mendaftarkan diri sebagai Calon Ketua Umum PSSI 2011-2015, sebagaimana telah diketahui bersama adalah tiga (3) orang yang telah resmi mencalonkan diri yaitu :
  1. Nurdin Halid
  2. George Toisutta
  3. Nirwan Dermawan Bakrie1297157221821455189
Masing-masing calon telah mengantongi surat dukungan suara sebagaimana yang telah disyaratkan dalam Statuta PSSI, Nurdin Halid telah mengklim mendapat dukungan 81 suara, George Toisutta 12 suara, dan Nirwan Dermawan Bakrie 2 suara total menjadi 95 suara dari yang seharusnya 100 suara, artinya ada 5 suara yang menyatakan belum berpendapat atau bisa juga abstain.
Dari berbagai sumber informasi, saya hanya menduga, dari mana saja sumber suara yang diterima oleh para kandidat-kandidat tersebut, dan saya akan mulai dari suara yang terkecil yaitu :
Nirwan Dermawan Bakrie (2 suara).
Para kalangan pencinta sepak bola tanah air sudah tidak asing lagi dengan sosok satu ini, yang saya ingat setiap periode kepemimpinan PSSI anak ke 3 dari 4 bersaudara dari keluarga Achmad Bakrie tersebut selalu masuk dalam jajaran kepengurusan PSSI, dan setiap Kongres Pemilihan Ketua Umum PSSI Nirwan Dermawan Bakrie selalu masuk bursa untuk memimpin PSSI, tetapi anehnya beliau tidak pernah/tidak mau menjadi sebagai Ketua Umum PSSI. Sepertinya bapak kelahiran 59 tahun silam ini lebih suka bekerja dibelakang layar, sehingga saya menyimpulkan kapasitas Nirwan Dermawan Bakrie dalam mencalonkan sebagai ketua Umum PSSI hanya sebagai formalitas belaka, maka tidak heran beliau hanya didukung dengan 2 suara yang kemungkinan suara tersebut berasal dari Pelita Jaya klub yang dipimpinnya sendiri dan dari Pengprov PSSI Lampung tempat asal keluarga besar Bakrie.
George Toisutta (12 suara).
Harapan yang sangat besar dialamat kepada KSAD Jenderal George Tosutta, para pencinta sepak bola tanah air menginginkan adanya suatu perubahan signifikan didalam tubuh PSSI, beliau saat ini juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) dan Pembina PSAD, ada selentingan bahwa bapak yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1 Juni 1953 ini akan terganjal oleh tim verifikasi, karena dalam Statuta PSSI, orang yang akan mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PSSI adalah orang yang terlibat lansung di manajemen PSSI minimal selama 5 tahun, Pak Goerge Toisutta di PSAD sebagai Pembina, dan Pembina tidak masuk dalam katagori pengurus yang terlibat langsung dalam manajemen PSSI.
Namun demikian dengan dukungan 12 suara, beliau tetap maju mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI Periode 2011-2015, dan dukungan suara tersebut kemungkinan berasal dari pimpinan klub-klub dan Pengprov PSSI yang memang ingin ada perubahan di PSSI seperti Pengprov PSSI Jawa Barat dan klub-klub dibawah PSSI baik itu ISL, Divisi Utama, Divisi Satu dan Dua, juga dari Pengprov PSSI Jawa Tengah dan klub seperti Persijap, Persik, Jawa Timur mungkin akan terpecah belah antara Pengprov dan klub-klub dibawah naungan PSSI, ada yang ingin perubahan dengan mendukung George Toisutta ada juga yang tetap loyal dengan Nurdin Halid, serta tidak ketinggalan Pengprov PSSI Sulawesi Utara dan klub Persigo Gorontalo.

Nurdin Halid (81 suara)
Berbagai cara telah dilakukan para pencinta sepak bola, baik berupa tekanan, caci maki, hinaan, dan hujatan diberbagai media, tetapi Nurdin Halid ternyata masih didukung suara yang sangat signifikan yaitu dengan 81 suara, sumbangan suara itu dari Pengprov PSSI maupun klub-klub dibawah bendera PSSI.
Tetapi kalau dicermati lebih jauh rasanya dukungan 81 suara tersebut tidaklah mengherankan, karena seperti yang telah diketahui bersama bahwa para Pengprov PSSI daerah atau klub-klub yang memiliki hak suara di PSSI hampir semuanya diketuai oleh pejabat pemerintah daerah baik itu Gubernur, Walikota ataupun Bupati yang notabene pejabat tersebut masih dibawah bendera Golkar, artinya sekitar 81 % Golkar mengendalikan persepakbolaan nasional dan mungkin saja sepak bola sudah menjadi kendaraan politiknya Golkar, sehingga kemungkinan NH terpilih lagi itu sangat besar peluangnya.
Antara Profesionalisme dan Kepentingan Politk
Mungkin ini disinilah telak dilema bagi para Pengprov PSSI dan ketua klub-klub tersebut di satu sisi menginginkan adanya perubahan yang lebih professional dalam persepakbolaan nasional baik ditubuh PSSI maupun roda kompetisinya, tetapi pada sisi lain yang bersangkutan mendapat tekanan dari atasannya langsung, sehingga mau tidak mau harus memilih calon menurut anjuran atasannya, kalau Pengrov-pengrov dan ketua klub tersebut tidak memilih sesuai petunjuknya atasannya maka dikemudian hari akan ada persoalan bagi dirinya pribadi.
Mudah-mudahan para Pengprov dan klub-klub PSSI yang mempunyai hak suara, mau membuka mata hatinya melihat keadaan yang ada.
Prediksi ini dibuat dari berbagai sumber dan bisa benar bisa juga salah.
By Frans Az
Kelahiran Bumi Sriwijaya yang mencari peruntungan di Ibu Kota


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Nurdin Halied Gagal, Nirwan Bakrie Menang



Pendaftaran Bakal Calon ( Balon ) Ketua Umum PSSI bursa  Priode 2011 - 2014 telah dengan resmi ditutup oleh Pengurus PSSI, pada Minggu tengah malam (6/2) jam 00.00 WiB di Kantor PSSI Senayan Jakarta. Tiga nama besar yang dengan resmi dan memenuhi persaratan untuk mengikuti pemilihan Ketua Umum PSSI dan didaftarkan oleh para pendukung masing-masing kubu yang mempunyai hak suara  : NURDIN HALIED, GEORGE TOISUTTA dan NIRWAN DERMAWAN BAKRIE.
Sekertaris Umum Persatuan Sepakbola Indonesia ( Sekum PSSI ) Nugraha Besoes mengatakan terdapat 100 Hak pemegang suara yang behak mengusulkan Bakal Calon ( Balon ) Ketua Umum PSSI tahun 2011-2014.
Dengan rincian sebagai berikut :
  1. Nurdin Halied                81 Suara
  2. Geroge Toisutta             12 Suara
  3. Nirwan Bakrie                 2 Suara
Jumlah suara                           95 Suara
Melihat daftar diatas hanya 95 % dari 100 anggota yang  menggunakan hak-Nya , 5% atau 5 anggota  abstein entah dengan alasan apa juga belum jelas bagi saya, yang pasti tentu ada alasan bagi mereka untuk tidak menggunakan haknya.
Ketiga Nama yang sudah masuk dan akan di Verifikasi oleh sebuah TIM Verifikasi PSSI yang terdiri dari 6 orang anggota  masing-masing :
  1. M. Zein
  2. Hinca Panjaitan
  3. Gusti Randa
  4. Trimedia Panjaitan
  5. Syaifuddin dan
  6. Arteria Dahlan.
Tim bentukan PSSI ini akan bekerja dari tanggal 7 sampai 14 Peberuari 2011, hasil verifikasi Tim ini selanjutnya diserahkan kepada Komite Eksekutif pada tanggal 15 Pebruari untuk ditentukan lolos atau tidaknya ketiga Calon yang telah di verifikasi. Jika ternyata ketiga Calon tersebut dapat dinyatakan lolos oleh Komite Eksekutif, maka dapat dipastikan ketiga calon akan maju untuk bertarung pada Pemilihan Ketua Umum PSSI pada Kongres PSSI yang akan diselenggarakan di Pulau  Bintan ( Kepri ) pada 19 Pebruari yang akan datang ( Kutipan  Kompas.com terbit 6/2 judul : Toisutta lawan Nurdin dan Nirwan Bakrie ).
NIRWAN BAKRIE
Nirwan Bakrie ( 59 tahun ) lahir di Jakarta  1 Nopember 1951 meraih gelar MBA di University of Shoutern California USA , Nama ini sudah tidak terlalu asing bagi kita semua, anak ketiga dari 4 bersaudara  Pa Achmad Bakrie pendiri sekaligus pemilik Bakrie Group. Empat bersaudara dari keluarga Bakrie yang tertua Pa Aburizal Bakrie, Rosmania Odi Bakrie, Nirwan Bakrie, dan yang bungsu Indra Usmansyah Bakrie.
Saat Bang Ical diangkat menjadi Menteri Kordinator di Kabinet Indonesia berastu jilid satu Nirwan Bakrie dipercayakan memimpin seluruh kelompok usaha Bakrie, disamping sebagai pebisnis Nirwan juga penggila Olahraga Bola, soal kiprahnya di kepengurusan PSSI sampai saat ini beliau masih tercatat sebagai Ketua Badan Liga Indonesia, Badan otonom yang bertugas menjalankan roda bergulirnya Kompetisi Liga Indonesia, sekaligus Pendiri Club Sepakbola Pelita Jaya.
PREDIKSI AWAL
Asal Bukan Nurdin semua calon layak di dukung: ( Kompas.com edisi 4/2  untuk jelasnya ) dibawa ini>
http://bola.kompas.com/read/2011/02/04/06390077/Asal.Bukan.Nurdin..Semua.Calon.Layak.Didukung,
Toisutta dijegal, Massa turun ke Jalan ( Kompas.com edisi 6/2 untuk jelasnya ) dibawa ini >
http://bola.kompas.com/read/2011/02/06/19502645/Toisutta.Dijegal..Massa.Turun.ke.Jalan
PREDIKSI AKHIR
Politik Sepabola :
Sepakbola adalah Olahraga sekaligus Seni menyepak Bola dua komponen yang berpadu jadi satu membuat para penggila Bola akan semakin tergila-gila pada Olahraga ini, tak jarang penggila Bola yang rela berdesak-desakan sampai harus mempertaruhkan segalanya untuk menonton Bola, apalagi kalau Bola sudah dikelola dengan baik oleh para pengurus Bola yang juga pencinta sekaligus pemain Bola, setidaknya pandai memainkan Bola.
Karena Olahraga Bola mengandung unsur Seni yang menggiurkan dan dapat mempengaruhi publik pencinta Bola maka unsur politik yang juga mengandung unsur seni bisa berpadu dengan permainan Bola.
Bola memang Bundar,seperti Politik  tak bisa di prediksi dengan pasti, bergerak dengan cepat, energik, penuh dengan strategi dan taktik untuk bermain cantik tapi bisa mengalahkan lawan. Bola dan Politik ramuannya sama berbeda versi.
Apabila dalam verifikasi ketiga calon dinyatakan lolos untuk bertarung di Kongres Pulau Bintan maka yang akan terjadi :
  • Apabila Nurdin Halied di tolak oleh banyak kalangan, dengan kata lain terjegal oleh sesuatu hal yang mungkin saja terjadi dalam kongres nanti, maka sebagai kerabat dekat dalam kepengurusan PSSI, Pa Nurdin Halied akan mengarahkan pendukungnya untuk memilih Pa Nirwan Bakrie ( perlu di ketahui bahwa Pa Nurdin Halied masih mempunyai pendukung yang solid di tubuh PSSI )
  • PSSI punya AD/ART yang mengatur segala sesuatunya tentang kriteria calon dan tata-cara Pemilihan Ketua Umum PSSI, yang bisa saja menghalangi laju Pa Toisutta yang belum pernah masuk dalam kepengurusan Inti PSSI.
  • Kemungkinan ini akan di perkuat dengan masih tingginya animo para pendukung Pa Nurdin Halied yang didukung oleh 81 suara, Pa Nirwan Bakrie 2 suara berarti 83 % suara di pihak kepengurusan lama PSSI yang akan domisioner pada waktu pemilihan sudah selesai. Kalau saja dalam Pemilihan itu 5% suara yang abstein berpihak pada pa Toisutta maka kubunya baru mengumpulkan 17 % suara, kurang signifikan untuk memenangkan pertarungan walau mendapat dukungan penuh dari Pa Arifin Panigoro yang saat ini belum akur dengan Pengurus PSSI yang digawangi oleh Pa Nurdin Halid.
KESIMPULAN
Prediksi adalah ramalan yang belum bisa di pastikan kebenarannya, namun dengan asumsi yang saya kemukakan  dalam tulisan diatas, apabila Ketua Umum PSSI Pa Nurdin Halied  berhalangan karena sesuatu hal tidak dapat dipilih kembali menjadi Ketua PSSI priode 2011 - 2014 maka kemungkinan besar Pa Nirwan Bakrie akan menjadi Ketua Umum PSSI yang baru.
Sekali lagi Saya katakan ini hanya Prediksi dan tak semua Ramalan bisa sesuai kenyataan, sebagaimana permainan Bola yang sulit di Prediksi Pemilihan Ketua Umum PSSI sama sulitnya dengan Bermain Bola**
By : Muhammad Nur,se
PNS, S1 Akuntan, Bon A,C dan PNB, ingin terus bekerja dan berkarya hingga akhir, membaca, menulis, bernyanyi, main gitar adalah Hobi dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan. Bermukim di Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Semoga Nurdin Terpilih Lagi!! Terus Berjuang ‘Memajukan’ Sepakbola Indonesia!!



bY :  Fadel Hil Hakim
suara pecinta bola indonesia, yang hanya bisa berdoa, untuk sepakbola,  berahrap masuk piala dunia, sedikit rasa putus asa menghinggapi semua, tetapi muncul toisutta yang mulai menggema, semoga ini bukan hanya drama antara penguasa belaka…

12967913411346624274
Teringat jelas euforia rakyat indonesia dengan gelaran Piala AFF 2010 kemarin. Begitu luar biasanya kekuatan sepakbola ini membius seluruh masyarakat di seluruh pelosok negeri ini. Seolah, nasionalisme masyarakat tiba-tiba menggelora dengan hebatnya,oleh permainan timnas garuda yang begitu perkasa di ajang dua tahunan ini. Namun sayang,kepakan sayap Sang Garuda selalu diganggu oleh dajjal bernama PSSI.
Nurdin halid,sebuah nama yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sang penguasa sepakbola di Indonesia ini begitu menikmati perannya sebagai raja di sebuah kantor kecil di Senayan. Nurdin yang menjabat sebagai ketua PSSI sejak tahun 2003 itu bahkan sempat tersandung kasus korupsi,yang mengantarkannya dua kali masuk menikmati hotel prodeo.
Berikut adalah kesalahan-kesalahan Nurdin Halid :
1. Selang setahun setelah Nurdin Halid diangkat menjadi ketua umum PSSI, Pada 16 Juli 2004, Nurdin Halid ditahan sebagai tersangka dalam kasus penyelundupan gula impor ilegal.
2. Setahun kemudian Nurdin Halid ditahan atas dugaan korupsi dalam distribusi minyak goreng. Dalam kasus ini Negara dirugikan Rp 169,7 miliar pada 1999, dan tersangka Nurdin Halid dituntut hukuman 20 tahun penjara. Tapi anehnya majelis hakim kemudian menyatakan Nurdin Halid tidak bersalah dan langsung bebas. Putusan ini lalu dibatalkan Mahkamah Agung pada 13 September 2007 yang memvonis Nurdin dua tahun penjara.
3. Ia kemudian dituntut dalam kasus yang gula impor pada September 2005, namun anehnya dakwaan terhadapnya ditolak majelis hakim pada 15 Desember 2005 karena berita acara pemeriksaan (BAP) perkaranya cacat hukum.
5. Nurdin juga terlibat kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam dan divonis penjara dua tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 9 Agustus 2005, tetapi hanya menjalani 1 tahun penjara. Tanggal 17 Agustus 2006 ia dibebaskan setelah mendapatkan remisi dari pemerintah bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia.
6. September 2007 Nurdin Halid “pulang kandang“. Dia kembali mendekam di penjara LP Salemba Jakarta Pusat setelah menjadi “buron” Polda Metro Jaya. Kali ini kasusnya adalah penyelewengan impor beras illegal 60 ribu ton ex Vietnam dan divonis 2 tahun penjara. Hanya menjalani 14 bulan penjara, pada 27 Nov 2008 Nurdin Halid dibebaskan.
Hal inilah yang membuat Presiden FIFA. Sepp Blatter, gerah dan beberapa kali melayangkan perintah pada PSSI untuk mengganti Ketua Umumnya, karena, sebuah organisasi sepakbola tidak bisa dipimpin oleh seseorang yang terjerat kasus, apalagi pernah menjadi tahanan, bahkan FIFA telah mencoret nama Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI dari website resmi mereka. Namun Nurdin tidak bergeming dan menyatakan tidak akan mundur sebelum masa jabatan berakhir.
Ketika masa jabatannya berakhir tahun 2007 lalu, Nurdin kembali terpilih sebagai Ketua Umum PSSI untuk masa jabatan 2007 – 2011, pemilihan ini sangat kontroversial, karena melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa/Munaslub, dimana dia menjadi calon tunggal kandidat ketua umum dalam pemilihan tersebut.
Pundi-pundi uang terus mengalir dengan derasnya ke kantong mantan anggota DPR ini. Bahkan menurut salah satu sumber menyebutkan jumlah kekayaan nurdin hingga tahun 2002 adalah Rp 8.155.227.699 (Sebelum menjabat ketua umum PSSI). Kini, berapakah harta kekayaan Nurdin?. Jawabnya tidak diketahui, karena sejak Nurdin menjadi Ketua Umum PSSI, bandrol penyelenggara dan pejabat negara tak lagi disandangnya, hal itulah yang membuat kewajiban melaporkan harta tak lagi dimiliki pria kelahiran Bone, 17 November 1958.
Kediktaktorannya menjajah sepakbola Indonesia memang sulit untuk dihentikan,tapi mengapa Nurdin Halid mampu bertahan sebagai ketua umum PSSI hingga saat ini?. Bahkan jeruji besi tidak mampu menghalangi posisi untuk tetap menjadi orang nomor satu di PSSI, dia pernah mengendalikan PSSI dari balik jeruji besi karena tersangkut kasus korupsi. Oleh prestasinya ini, harian Inggris menobatkan Nurdin Halid sebagai pengurus sepakbola terhebat didunia yang merupakan sebuah anugerah sindiran. Sepak terjangnya dalam pengurusan PSSI ini banyak menuai kontroversi, tidak ada klub yang degradasi, naturalisasi pemain Timnas adalah contoh keputusan yang dianggap kontroversial itu. Perjalanan panjang Nurdin Halid dalam memimpin PSSI yang penuh kontroversi itu ,pada akhirnya harus diakui telah membawa hasil, setidak2nya dapat melaju sampai putaran Final Piala AFF.
Seperti halnya dinegara2 maju, olahraga yang satu ini dikelola sebagai bisnis komersial yang mendatangkan keuntungan dan memberikan penghasilan kepada pemain yang sangat besar. Sepakbola hanya bisa berkembang jika dikelola oleh orang-orang yang memang mempunyai jiwa enterprenur dan ini dimiliki oleh Nurdin Halid yang berlatar belakang pengusaha, pengusaha yang dekat dengan kekuasaan. Pengusaha yang merintis usaha dari upaya tanpa tersentuh dengan pemerintahan umumnya tidak tertarik terjun dalam dunia politik maupun pergerakan sebab umumnya tidak hendak melepaskan begitu saja jalur bisnis yang telah dibangunnya itu. Lain halnya pengusaha pemerintah yang membangun hubungan dengan birokrat secara personal dan Nurdin Halid bergelut dengan bisnis seperti ini. Kasus korupsi yang dilakukannya yang membawanya hidup dibalik jeruji besi beberapa waktu silam adalah menyangkut hubungan dengan pemerintah itu.
Seperti pada umumnya, korupsi dapat terjadi karena ada sebuah kerjasama antara pemegang keputusan dan pengusaha dan resiko itu telah ditanggung oleh Nurdin Halid tanpa menyeret pemegang keputusan. Disinilah sesungguhnya letak kekuatan Nurdin Halid yang bertindak sebagai Robin Hood bagi PSSI. Dia dengan mudah menggelontorkan uang yang dikuasainya untuk kepentingan PSSI, secara demonstrative membagikan uang tunai kepada pemain Timnas yang ditaruh dalam kardus. Nurdin Halid benar2 mewujudkan diri sebagai robin hoodnya PSSI. Kita dapat berlogika saja, seorang pengusaha yang usahanya berhasil oleh karena produktivitasnya umumnya menyisihkan uangnya dalam bentuk zakat atau sumbangan kepada lembaga keagamaan dan kegiatan sosial lainnya. Tetapi Nurdin Halid agaknya lebih suka memberikannya untuk PSSI. PSSI membutuhkan Nurdin Halid karena dia memegang dana.
Kita dapat membandingkan dengan kasus Gayus Tambunan dimana pihak kepolisian telah menyatakan tidak ada alasan memblokir atau menyita harta Gayus Tambunan yang diduga berasal dari hasil korupsi. Inilah hukum yang berlaku dan hal ini juga berlaku untuk Nurdin Halid. Nurdin Halid telah mengganti kerugian negara yang dituduhkannya dengan hukuman kurungan dan faktanya Nurdin halid tidak menjadi miskin seperti ditunjukkannya bagi2 uang didepan publik itu. Dan orang seperti Nurdin Halid inilah yang saat ini dibutuhkan oleh PSSI mengingat anggaran yang digelontorkan oleh pemerintah sangat terbatas, bahkan pemerintah sedikit demi sedikit menggerogoti fasilitas publik seperti areal Senayan yang dialih fungsikan untuk kepentingan pemodal kuat. seperti salah satu tim kebanggaan masrakat malang, Semenjak orang-orang PSSI masuk dalam tubuh managemen Arema, praktis Kini Tidak ada lagi sanksi “konyol” berlebih dari PSSI untuk Arema, tidak ada lagi “kejahilan” PSSI untuk menghambat Arema berprestasi. Dan yang paling mengherankan adalah tidak ada lagi suara Aremania yang berteriak lantang untuk mereformasi PSSI. Teriakan-teriakan dukungan Aremania untuk klub berjuluk Singo Edan ini tak bisa diragukan lagi. Kreatif, atraktif, santun,hormat dan memang layak menjadi panutan suporter-suporter lain. Teriakan kritikan bagi PSSI, teriakan menurunkan Nurdin Halid, teriakan revolusi PSSI, dahulu begitu lantang diteriakkan Aremania. Bersatu dengan kelompok suporter lain, mereka ramai-ramai berteriak bahwa PSSI harus di revolusi.Suara lantang dari Aremania yang jantan dan satria, suara pedas dari kota Malang Raya. Bahkan kini, Aremania seolah menjadi sahabat baik PSSI.
Dengan bangga orang-orang yang mengaku Aremania ini, bermanis-manis di depan orang nomer satu di PSSI. Pengalungan bunga, hingga menggelar demo sebagai bentuk dukungan kepada Nurdin Halid atas tekanan dari berbagai pihak yang menginginkannya turun, lengkap dengan atribut Aremania. Sebuah tindakan yang terlihat dungu di mata suporter lain. Disaat publik menginginkan reformasi PSSI, Aremania dengan terang-terangan membela PSSI.mungkin itu sedikit cerita dibalik banyak cerita yang lain di dunia sepakbola kita.
Balas budi, kira2 seperti itulah yang diterima oleh Nurdin Halid sehingga tak menggoyahkan kedudukannya menjadi orang nomor satu PSSI yang mampu mematahkan pencalonon Sutiyoso mantan Gubernur DKI itu. PSSI tidak memerlukan mantan jendral atau mantan pejabat, tetapi membutuhkan orang yang mampu menggalang dana dan itu dimiliki oleh Nurdin Halid. Denda atau subsider kurungan, tidak membuat koruptor miskin dan masih tertolong oleh remisi karena korupsi bukan lagi perbuatan aib.
Semoga rezim kediktaktoran Nurdin halid menjajah sepakbola Indonesia ini akan segera berakhir, entah kapan, dengan cara apa itu masih menjadi misteri. Saya sebagai wartawan juga begitu menginginkan reformasi di tubuh PSSI agar Garuda Indonesia bebas terbang tinggi mengepakkan sayapnya selayaknya Garuda hitam di dada “der mannschaft jerman” yang begitu perkasa.


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Toisutta Vs Nurdin



by Djohan suryana
Tampaknya usulan Jusuf Kalla agar Jenderal George Toisutta, KASAD saat ini, mencalonkan diri untuk jadi ketua PSSI telah memperoleh tanggapan yang serius. Menurut kompas.com tanggal 3/2/2011 ia akan maju dalam pemilihan ketua umum PSSI yang akan diselenggarakan dalam kongres PSSI tanggal 18-20 Maret 2011 di Bintan. Pencalonan itu pun disambut baik oleh Nurdin Halid, ketua umum PSSI sekarang yang terkenal kebal dalam segala hal.
Dengan majunya seorang jenderal TNI-AD dalam ajang pemilihan ketua umum PSSI, maka nantinya akan terjadi pertarungan antara sipil dan militer.  Tetapi apakah pencalonan ini akan menimbulkan masalah bagi persepakbolaan Indonesia tentu akan tampak  hasilnya setelah pemilihan itu  usai. Dapat dipastikan halangan untuk itu tidaklah ringan.
Sudah jadi rahasia umum bahwa dalam tubuh PSSI yang bergelimang dengan uang, dikuasai oleh orang-orang yang setia kepada Nurdin Halid. Dapat dipastikan bahwa mereka tidak ingin orang luar masuk ke dalam PSSI. Mereka kawatir “periuk nasi ” mereka akan terbalik, apalagi kalau ketua umumnya nanti berasal dari kalangan militer, yang tidak doyan uang.
Karena itu, tidak gampang bagi seorang jenderal untuk menghadapi tantangan riil dalam sebiuah organisasi olahraga yang terkenal banyak sarang laba-labanya. Dibutuhkan kekuatan ekstra untuk mengelola sebuah PSSI yang sudah kadung complicated dengan  intrik dan korupsi. Akan menjadi sebuah catatan sejarah, seandainya Toisutta berhasil membawa PSSI ke gerbang cahaya persepakbolaan Asia atau bahkan dunia nanti. Sebelumnya, seorang jenderal lainnya, Agum Gumelar, tidak tercatat dalam sejarah itu alias gagal.
Demikian pula, akan tercatat dalam sejarah persepakbolaan Indonesia seandainya Toisutta kalah dan ternyata kembali Nurdin Halid yang akan jadi ketua umum PSSI periode 2011-2015, sejarah tentang sepakbola Indonesia yang tidak pernah jadi apa-apa selama 20 tahun. Tetapi nama Nurdin Halid akan tercatat dalam tinta hitam  yang abadi dalam ingatan pencinta sepakbola Indonesia.


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Benarkah Pssi Menjual Indonesia?



1296523392427978624

Saat pak nurdin bersalaman dengan pak beye di Gelora Senayan, momentum AFF (ilustrasi/kompas)

Tadinya saya tidak terlalu menghiraukan berita seputar PSSI yang diduga mengatur skor pertandingan saat Timnas Indonesia kalah oleh Timnas Malaysia saat laga final Piala AFF berlangsung. Timnas Indonesia diskenariokan bakal kalah sesuai pesanan bandar judi kepada sejumlah oknum PSSI. Kenapa tidak hirau? Jelas karena saat menyaksikan laga AFF itu Timnas kita memang kalah dari berbagai segi, baik teknik maupun mental.

Saat itu semua kita sepakat bahwa justru yang menjadi penyebab kekalahan Timnas kita adalah kegiatan-kegiatan yang merecoki agenda sang pelatih, Alfred Riedl: pemain yang seharusnya dikarantina agar siap mental dan kondisi tetap fit diarak kesana kemari oleh jajaran pak Nurdin dkk, itu analisa jangka pendeknya.

Sementara analisa jangka panjang, sulit untuk melahirkan timnas yang solid dan bermental juara tanpa pembinaan yang terencana mulai dari usia dini hingga usia senior untuk mengisi skuad tim Merah Putih. PSSI diharapakn mengalokasikan dana yang diterima dari negara untuk membina atlet-atlet muda yang bertebaran di tanah air–bakat Okto maniani adalah salah satu rujukan pemain ideal saat itu. Sekali lagi, kegagalan timnas kita merengkuh trofi murni faktor kekalahan dari segi permainan, Tidak ada analisa kekalahan TImnas karena faktor bandar judi yang memang memesan Timnas kalah.

Kembali ke soal suap di tubuh PSSI, kabar terbaru itu muncul dua hari ini, berawal dari tulisan salah seorang yang mengaku bernama Eli Cohen, yang menuliskan surat elektronik kepada pak beye disertai dua alamat redaksi koran sepakbola. Surat yang ditulis oleh orang yang mengaku sebagai pegawai pajak itu kurang lebih berisi: pernah memeriksa dan mendengar kabar dari salah seorang oknum PSSI terkait adanya suap oleh bandar judi kepada oknum PSSI agar mengatur pertandingan, konon uang hasil suap itu akan digunakan untuk membiayai kampanye salah seorang kandidat berinisial XX saat kongres PSSI berlangsung pada Maret nanti. Bukankah bermain uang tidak jarang kita dengar di PSSI?

Eli Cohen mengakhiri tulisannya dengan bijak, menyarankan agar pak beye dan mereka yang berkepentingan di bidang itu untuk menelusuri benar atau tidaknya isu tersebut. Berita yang beredar kemarin juga menyebutkan bahwa KPK hendak menginvestigasi kasus ini jika kasus itu benar adanya. Sementara pihak PSSI lewat sekjennya, pak Nugraha besos, menganggap ini sebagai fitnah yang kejam!

1296524465969685929

Saat fenomena crop circle ramai, pak nurdin tak ketinggalan diingatkan (ilustrasi/google)

Akhir kata, surat itu, entah benar atau tidak, setidaknya menjadi bahan tambahan untuk mengevaluasi kepemimpinan pak Nurdin dkk selama dua periode ini–anggap saja surat tersebut seperti surat pembaca yang menguak jalan-jalan Gayus ke luar negeri, meski awalnya ditampik Gayus. Aneka kritik datang dari para penggemar bola dan pengawal etika agar sebisa mungkin turun secepatnya.

Salam Kompasiana,


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Nurdin Malu donk !!!!



oleh : Malik Ridwan Fauzi

Nurdin Halid, adalah sosok ketua PSSI yang paling dibenci pecinta sepakbola Indonesia. Ia adalah sosok yang memang dianggap tidak tau malu oleh pecinta sepakbola. Pertanyaanya mengapa sedemikian ia dibenci dan mengapa Nurdin harus malu??? inilah kira-kira alasanya:

Sepakbola Indonesia telah lama berpuasa gelar baik regional maupun Internasional. Ini menunjukan bahwa perkembangan sepakbola Indonesia tidak berjalan dengan baik. Adalah PSSI sebagai lembaga tertinggi sepakbola Indonesia yang harus bertanggungjawab. PSSI sebagai lembaga yang bertugas mengurusi sepakbola Indonesia terbukti telah gagal mengurusi sepakbola. ketika menunjuk PSSI sebagai biang keladi kemerosotan sepakbola kita, maka sosok Nurdin Halid jelas harus dikedepankan. Ketua PSSI selama bertahun-tahun ini harus bertanggung jawab. Dalam kepemimpinannya tidak ada prestasi yang diberikan, yang ada adalah kekalahan dan kontroversi terkait Timnas.

Nurdin Halid merupakan mantan narapidana kasus korupsi, hal ini berarti ia adalah koruptor. Dalam dunia persepakbolaan tidak ada satupun mantan narapidana yang memimpin sepakbola. Hanya Nurdin halin yang memang tidak malu – malu memimpin organisasi sepakbola tertinggi dalam suatu Negara. Bayangkan, seorang koruptor yang jelas membuktikan bahwa dirinya adalah pecundang, curang, pembohong, makan duit rakyat, memimpin sepakbola yang jelas – jelas menjunjung tinggi sportifitas, kejujuran, dan aturan. Sepakbola dengan sifatnya yang demikian dipimpin oleh seorang koruptor, apa jadinya???

Liga sepakbola Indonesia yang seharusnya melahirkan pemain – pemain handal tidak berjalan dengan baik. Kerusuhan supporter sering kita saksikan yang diakibatkan oleh ketidakmampuan PSSI memberikan pengadil dilapangan yang bagus dan tidak memihak. Isu suap pun menjadi rahasia umum dalam tubuh PSSI. Sampai – sampai seorang Nurdin Halid pun mampu mengatur pertandingan dari dalam jeruji.

Yang terbaru dari kelakuan Nurdin adalah politisasi Timnas kita. Belum lupa dari ingatan kita ketika Nurdin membawa Timnas kita kerumah keluarga Bakrie dan pernah mengatakan dalam salah satu media bahwa keberhasilan Timnas ada andil dari keluarga Bakrie dan Golkar. dan itulah salah satu factor kegagalan timnas. Sungguh memalukan.

Nah yang paling pamungkas adalah ketiadaksukaan sebagian besar pecinta sepakbola Indonesia terhadap Nurdin Halid. Ini sejatinya menjadi perhatian yang penting, ketika pemimpin sudah tidak dipercaya dan memang sudah terbukti gagal, seharusnya tanpa panjang lebar harus turun. Ketika Nurdin tidak bersedia turun, sesungguhnya hal itu telah membuktikan betapa pecundangnya dia, dab betapa dia tidak punya malu.

Berbagai gerakan untuk menuntut Nurdin turun telah dilakukan, mulai dari aksi demo oleh supporter sampai yang terbaru adalah munculnya lagu – lagu yang ditujukan untuk Nurdin halid agar turun dari jabatannya. Beberapa waktu lalu kita mendengar lagu dengan judul “Nurdin turun donk”, sekarang muncul lagu dengan judul Hentikan Nurdin Ali sebagian liriknya demikian:

hentikan (hentikan Nurdin) semuanya, kau tak seharusnya disana, hentikan (hentikan Nurdin) secepatnya”

Sudah sepatutnya Nurdin malu, dan sudah seharusnya Nurdin turun. selamatkan sepakbola Indonesia!!!


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Nurdin Halid, Mundurlah Selagi Mampu!



oleh Mas Lingga

Dunia persepakbolaan kita berada pada titik nadirnya, prestasi yang diharapkan tak pernah kunjung datang. Parahnya, organisasi tertinggi sepak bola negeri ini di ketuai oleh mantan narapidana dan beberapa waktu dikelola dari balik jeruji. Sungguh sulit membayangkan bagaimana seorang nara pidana mengurusi sebuah oraganisasi besar dari balik sel.


Tapi, hingga kini tokh Nurdin tak bisa dilengserkan. Bahkan FIFA sekalipun tak dihiraukan oleh Nurdin Cs. Presiden RI dengan dalih “tak mau mengintervensi” nya pun seperti membuat Nurdin makin pongah. Padahal kita bersama sadar, apalah gunanya PSSI diakui oleh FIFA sementara kita tak pernah memiliki kesempatan untuk tampil di event-event yang diselenggarakan FIFA. Jadi, tak ada salahnya kalau keanggotaan PSSI dikoreksi FIFA terlebih dahulu baru kemudian kita kembali bangkit dari awal.

Ketangguhan Nurdin kerap dibanding-bandingkan dengan ketangguhan Soeharto dalam memegang pucuk kekuasaan RI selama 32 tahun. Parahnya, Soeharto yang telah “banyak” memberikan “jasa” pada negeri ini saja masih bisa dilengserkan. Lantas kenapa Nurdin yang tak memberikan apa-apa, malah merongrong tapi tak bisa dilengserkan?

Rezim Soeharto berakhir dengan tidak manis. Demonstrasi dan chaos besar-besaran membuatnya tak mampu lagi mempertahankan kursi yang telah lebih dari 30 tahun didudukinya. Meskipun akhirnya ia mundur, namun nyatanya kita salah. Kita menurunkan beliau di saat beliau memang hendak turun, kenapa bisa demikian? ya karena negara ini sudah dililit hutang yang sedemikian besar, permasalahan internal negara yang akut dan KKN terorganisir di segala sendi. Seharusnya, meminta Soeharto itu turun ketika dia telah melunasi utang-utang yang dia tumpuk.

Kita, jangan sampai terjatuh ke lubang yang sama untuk ke dua kalinya. Meminta Nurdin turun setelah dia memporak-porandakan dunia persepakbolaan negeri ini, sama seperti membebaskannya dari tanggungan yang harus dia jawab. Kita tak cukup meminta Nurdin turun, tapi dia juga harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan selama ini. Tentu saja dengan harga yang pantas.

Kalau kita agak jeli, sebenarnya ada beberapa hal yang membuat Nurdin Halid tetap berada di atas tanpa tersentuh :

1. Inilah Point terpenting. Tak sekatanya insan sepak bola Indonesia. Artinya, tak semua orang memang menghendaki Nurdin turun. Jadi, klaim Nurdin tak salah. Memang yang menghendaki Nurdin turun itu tak lebih dari 40%. Klub-klub yang berlaga di ISL merupakan representasi dari suara tersebut. Jika, memang mereka tak setuju dengan kepemimpinan Nurdin, mengapa tak semua membelot ke LPI? Kalau saja 70 % klub yang berada dibawah naungan PSSI pindah ke LPI, maka PSSI akan hancur dengan sendirinya

2. Nurdin dibackingi oleh orang penting.

3. .Solidnya kongkalikong antar lini pejabat inti PSSI. Nurdin membuat PSSI seolah kerajaannya dengan beberapa abdi-abdi yang senantiasa patuh dan tunduk pada perintahnya.

4. Supporter Indonesia juga tidak sekata. Kasus terbaru bisa kita lihat dari keluhan Persema pada Aremania. Dimana, sekarang Aremania tak lagi vokal meminta Nurdin turun. Suara Aremania kini telah sayup-sayup sampai. Dan perlahan hilang. Tanya kenapa?



Lihat Selengkapnya Beri Komentar


 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info