Puisi Untuk Para Pemimpin Bangsa Di Negeri Kaya Raya Yang Penduduknya Kelaparan



http://i.poskota.co.id/uploads/2010/05/PEMERINTAH.jpg
350 tahun Belanda menjajah Indonesia
Negeri ini masih kaya raya
Setelah lepas dari segala penjajahan asing
Para pemimpin sendiri yang menjajah rakyatnya
Lewat industri lewat bisnis lewat segala kebijakan
Membuat rakyat negeri ini dimiskinkan
Indonesia adalah sumber mataair
Dalam situasi normal kenapa ada orang haus dipinggirnya?
Alam yang berlimpah-limpah
Apa saja subur
Cacing pun gemuk makmur
Semua itu tinggal menunggu waktu
Para pemimpin bangsa apa tak mau tahu?
Ulah segelintir manusia serakah
Membuat binatang pun dibuat miskin
Kehilangan habitatnya
Sekitar 29.9 juta rakyat Indonesia
Data FAO 2010
Dalam kondisi kelaparan
6 kali lipat penduduk Singapura
Dimana mereka para pemimpin negeri ini?
13011567531565460524Foto : Tante Paku.
Memerangi kemiskinan hanya slogan
Lembaga dan instansi yang mengurusinya
Sibuk berbagi jatah sendiri
Mereka pun berperan memiskinkan rakyatnya
Banyak teori untuk menjadi formula
Mengangkat harkat orang-orang miskin hina
Kenyataanya mereka tetap sengsara
Buktinya ada di sekitar kita
Hai para pemimpin bangsa
Jawabmu hanya kompleks dan makro
Namun tetap sibuk mementingkan kelompoknya
Mementingkan diri sendiri
Mengedepankan keserakahan
Menyimpan pikiran busuk
Hidup memelihara yang jahat
Hai para pemimpin bangsa
Rakyatmu banyak yang kelaparan
Berharap ada kebenaran
Yang didapat hanya pembenaranmu saja
Tunggu
Negeri ini rentan kekacauan
Karena banyak yang menyimpan kebencian
Banyak yang menggenggam ketidakpuasan
Perselisihan akan menjadi pemicu
Para pemimpin yang tamak
Membiarkan banyak rakyat kelaparaan
Kemakmuran menjadi sulit
Kestabilan menjadi tidak mungkin
Iri hati
Cemburu
Dendam
Di tengah lapar yang menakutkan
Adakah hari cerah yang didambakan?
Ya Allah Ya Tuhanku
Engkau tidak memandang manusia dalam statusnya
Engkau tidak memandang prestasi atau kekurangan kita
Engkau menilai dengan hikmat
Ya Allah Ya Tuhanku
Adakah pemimpin bangsaku yang memiliki hikmat-Mu?
Kami rakyat kecil hanya berharap tenteram dan damai
Menyambut cerahnya pagi dengan lapar yang tak tertunda lagi.
8.3.11
http://kaferemaja.files.wordpress.com/2008/12/09miskin20rahil_pikiranrakyat.gif?w=250&h=281
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT6k9znvGXK3WvzmjMfzT0SsgLl6C_Q970lV_5rTP_i3mL3xEVw
http://infoindonesia.files.wordpress.com/2008/03/busung_nova_maulana_05.jpg
Illustrasi : poskota.co.id, Koleksi Tante Paku, kaferemaja.wordpress.com, archive.kaskus.us, infoindonesia.wordpress.com

Tante Paku

Membaca dan menulis hanya ingin tahu kebodohanku sendiri. Karena semakin banyak membaca, akan terlihat betapa masih bodohnya aku ini. Dengan menulis aku bisa sedikit mengurangi beban itu. Salam, i love you full.....



Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Bisakah Anda Berbicara dengan Bahasa Daerah Anda? Yakin?





129825674690231692
illustrasi
‘Ngaku orang Batak tapi tak tahu bahasanya’
Ini adalah sebuah pernyataan singkat dari seorang penatua di gereja kami beberapa bulan yang lalu kepada salah seorang rekan saya yang bermarga Nainggolan yang hadir kembali dalam ingatanku kemarin.
Sudah sewajarnya memang setiap orang yang memiliki ikatan dengan adat dan istiadat sebuah suku harus mengetahui bahasa daerah suku tersebut. Contohnya saja ada orang kita jawa, pastinya ia sedikit banyak akan mengenal adat dan budaya yang ia pegang bukan hanya itu ia juga harus mengetahui bahasa daerahnya sendiri dalam hal ini seumpama adalah bahasa jawa.
Logikanya memang seperti itu bukan?? Menurut saya orang yang tahu bahasa daerahnya sendiri sudah sedikit menghormati budaya yang ia pegang serta sudah berusaha untuk menjaga serta melestarikan keutuhan budayanya. Nah bagaimana kalau tidak? Yah tentunya suatu hal yang bisa dibilang agak rancu dan kurang baiklah.
Nah inilah yang mungkin mendasari pernyataan bapak yang kebetulan bermarga Simatupang kepada teman saya itu perihal ketidak bisaan teman saya dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah.
Berkaca pada permasalahan (apakah itu masalah?, kita anggap saja ia) teman saya tadi yang notabenenya orang batak tapi tak tahu bahasa batak tentunya disebabkan oleh beberapa hal. Tapi sebelumnya malu-kah kita bila seperti itu??
Menurut ceritanya ayah dan ibunya memang orang batak toba dan memang bisa menggunakan bahasa daerahnya dengan baik. Lantas kenapa sang anak tak bisa??
Tak jarang orang pergi dari daerahnya sendiri menuju daerah orang lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik ataupun hanya sekedar mencari pengalaman tambahan, merantau. Tak disangka dan diduga, ditempat baru itupulalah terkadang kita membangun sebuah hubungan yang akhirnya berujung menjadi yang disebut dengan rumah tangga atau keluarga. Anak-anakpun tumbuh dan berkembang di tanah yang baru itu dan mereka (anak-anak) justru malah cenderung untuk mengikuti sosialisasi dengan daerah tersebut dan sedikit mengesampingkan budaya aslinya (budaya yang dibawa oleh orang tuanya).
Jadi bisa ditebak sebagai sebuah jawaban, mengapa seseorang tak bisa menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Padahal bahasa daerah itu adalah sebagai identitas kita. Benar, memang karena pergaulan kita dengan orang lain (contohnya yang bukan se suku dengan kita dan juga daerah sosialisasinya tak tepat) bisa membuat seseorang tak bisa berekplorasi dalam mengenal serta memahami budaya dan bahasa daerahanya sendiri. Contohnya saja teman saya itu, ia lahir di Lampung dan bersekolah di sana. Kebanyakan teman-temanya pastinya adalah orang lampung, nah jadi untuk bisa berhubungan dengan mereka (temanya orang lampung tadi) tak ada pilihan lain kecuali menggunakan bahasa indonesia sementara bahasa daerahnya sendiri dalam hal ini batak sama sekali tak digubris, nggak mungkinkan dia mengenal bahasa daerahnya (batak) dari orang lain yang bukan orang batak.
Berdasarkan cerita teman saya itu juga bahwa memang dirumahpun kedua orang tuanya cenderung menggunakan bahasa indonesia untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain. Komunikasi dengan bahasa daerah hanya digunakan oleh sang ayah dan ibu saja. Nah hal ini pulah yang menurut saya yang memperburuk keadaan, bagaimana mungkin sang anak tahu bahasa daerahnya bila orang tuanya saja tak mengajarinya. Bukan bermaksud tuk menyalahkan orang tuanya. Diperparah lagi karena mungkin tingkat keingin tahuan si anak untuk mengenal bahasa daerhnya juga agak sedikit minim. Karena tak jarang anak-anak sekarang banyak yang beranggapan bahwa bahasa daerah itu kampungan.
Apa jadinya bila kita tak mengenal bahasa daerah kita??
Ilustrasi diatas hanya satu contoh saja. Kita semua pasti sudah tahu akibatnya. Bukankah kita terkenal dengan keanekaragaman ini. Beraneka ragam budaya, beraneka ragam bahasa daaerah juga. Nah bila kita tak bisa mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari contohnya dengan menggunakan bahasa daerah, nah bagaimana mungkin kita bisa menjaganyaa dan mewariskanya kelak pada anak dan cucu kita…siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga kepunyaan kita sendiri. Orang lain pasti tak akan peduli. Bila kita juga tak peduli maka tinggal kenaganlah kebuadayaan dan bahasa daerah kita itu yang terkenal beragam itu.
Sebelum itu terjadi, marilah kita menanamkan betapa pentingnya bahasa daerah pada generasi muda kita, anak-anak kita. Bukan berarti karena jaman sudah semakin modern kita lupa pada bahasa ibu kita, bahasa yang telah membesarkan kita. Dengan begitu apa yang diwariskan oleh nenek moyang kita pada kita (budaya) kita bisa wariskan juga pada anak-anak kita tanpa hilang sedikitpun.
no cultural extinction…
Salam sayang,
sumber gambar

Mejuah Juah

.gogetitton..


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


SBY Dan FPI Jangan Mau Diadu Domba!



Ada yang mencoba mengadu domba SBY dengan FPI atas kasus Ahmadiyah, hati-hati banyak yang sedang mengincar kedudukan Presiden dan sudah “gatel” ingin segera menjadi Presiden, tapi tak punya pendukung dan karena ada efek domino Revolusi Mesir, ada “tangan-tangan kotor” yang coba-coba “mengoyang-goyang kursi” Presiden, caranya adalah mengadu dombanya dengan ummat Islam. Karena memang cara itulah yang paling efektif yang dipakai Belanda dulu untuk terus menerus menjajah Bangsa Indonesia hingga sampai 350 tahun.
Sehubungan itu maka jangan sampai terulang lagi di Indonesia apapun bentuknya untuk terus menerus ribut antara sesama bangsa, sesama atau antar suku, sesama atau antar  agama, sesama atau antar warga, sesama keyakinan atau antar keyakinan dan seterusnya. Stop keributan apapun! Dan pemerintaha harus bijaksana, jangan sampai seperti di kompasiana, yang ribut dan diskusi “habis-habisan” antar kompasioner, bukan yang diskusinya ditegor atau “diprit”, eh malah pitur agama yang dihapus, sebuah tindakan yang menurut saya tidak bijaksana!
Ada “lambung” bagus dan di dalamnya ada “tikus” yang ribut, eh lumbungnya yang dibakar! Dan yang tidak eloknya pihak admin dengan enteng bilang, silahkan cari web lain saja yang ada pitur agamanya. Saya sudah tulis tentang hal tersebut, namun pihak admin tak bergeming, kasihan deh lu! Begitu juga tentang ribut-ribut mengenai Ahmadiyah yang berlangsung sudah lama. Dan sebenarnya ini lagi cara-cara “tangan-tangan kotor” memecah belah ummat Islam dan kalau itu berhasil,  maka bangsa Indonesiapun ikut hancur, karena mayoritas penduduk bangsa Indonesia adalah ummat Islam.
Yang repotnya lag, i ada yang sampai menantang dengan tulisan:”Beranikah SBY melawan FPI?” Ini tulisan provoktif mengadu Presiden dengan rakyat dan ummatnya. Presiden beragama Islam, FPI juga ummat Islam! Jadi kalau memang ada oknum FPI yang anarkis, bukan FPInya dibubarkan, bukan organisasinya diberhangus, bukan lumbungnya yang dibakar! Tapi oknum yang anarkis itu yang ditangkap! Presiden jangan mau diadu domba! FPI juga jangan mau diprovokasi, mari semuanya “tiarap” sejenak, mari semua “diam” sejenak, mari semuanya”merenung” sejenak!
Saya bukan membela FPI, saya bukan anggota dan bukan simpatisan FPI, saya hanya ingin kedamaian dan ketentramn terbentuk di negara tercinta Indonesia. Saya juga bukan pembela Ahmadiyah, bukan juga simpatisan Ahmadiyah. Saya bukan pula anggota partai demokrat! Tapi SBY adalah priden kita sekarang, yang harus kita hormati, kita patuhi, kita dukung selama SBY tidak melanggar syariat agama dan tidak melanggar UUD 45!  Dan SBY sudah dipilih rakyat banyak, bila tak suka, ya namanya demokrasi, harus tetap menghormati dong pilihan rakyat. Tentang belum berhasil membuat rakyat menjadi sejahtera, itu bisa kita maklumi. Indonesia bukan negara kecil, bukan sebuah negara yang hanya terdiri satu dua pulau tapi 17 ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Mereuke!
Yang kalau negara ini dibentangkan di Amerika Serikat, akan menutup negara tersebut dari ujung barat ke ujung timurnya! Kalau negara kita dibentangkan di Eropa seluruh Eropa akan tertutup oleh negara kita! Kita negara besar dan kalau mau dibandingkan dengan negara Singapur, Singapur “tak ada apa-apanya” secara fisik Singapur bila dimasukan ke pulau Kalimantan akan “lenyap ditelan” hutan belantara Kalimantan! Singapur kecil sekali, makanya lebih mudah mengurusnya, tak sebanding dengan Indonesia yang begitu luas, tidak banggakah anda menjadi orang Indonesia yang begini luas?
Nah kalau negara kita yang begini luas mau dipecah belah, paling mudah! Karena negara kita terdiri dari ribuan pulau, dengan suku, bangsa, bahasa, agama, kayakinan yang berbeda satu sama lain! Awas, jangan sampai kita kembali seperti usaha Belanda memecah bangsa Indonesia, ingat sejarah bung! Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ingat “jasmerahnya” Bung Karno! Ketika Belanda berhasil memecah belah bangsa Indonesia, pernah negara Republik Indonesia itu menjadi bagian dari RIS, Republik Indonesia Serikat! Ada negara Jawa Timur, negara Pasundan, negara Sumatera , negara RI dan lain sebagainya. Dengan presidenya adalah “boneka-boneka” Belanda!
Anda mauaseperti itu lagi? Saya yakin tidak! Maka siapapun, apa lagi presiden SBY, jangan pak,  jangan mau diadu domba dengan membubarkan FPI, oknumnya saja yang ditangkap kalau anarkis, jangan organisasinya yang dibubarkan! Kalau organisasinya dibubarkan itu sih sama saja dengan jaman Orba! Ingat kasus Golkar, ketika awal reformasi banyak yang minta dibubarkan, tapi pemerintah tidak membubarkannya! Karena bukan Golkarnya, tapi oknum-oknum di Golkarnya yang membuat rakyat sengsara! Kalau seandainya ada ormas yang  bubar,  biarkan waktu yang bicara, begitu juga FPI, biarkan waktu yang bicara!
Adu domba telah menghancurkan Irak, adu domba telah menghancurkan Palestina, adu domba telah menghancurkan Afganistan! Ingat, itu adalah negara-negara yang penduduknya tunduk dan sujud kepada Allah SWT, tapi berhasil dipecah belah sedemikian rupa oleh “tangan-tangan kotor” yang haus kekuasaan dan minyak atau SDA lainnya. Mari kita berkaca kepada tiga negara tersebut, Irak, Palestina, Afganistan, apapun alasannya mereka sedang saling bunuh diantara fraksi yang ada, padahal yang di bunuh adalah saudara-saudara mereka sendiri, sebangsa dan setanah air! Kalau hanya beda paham, beda keyakinan, benda argumentasi, beda suku, beda agama, beda organisasi, beda prinsif dan lain sebagainya lantas manusia saling bunuh diantara sesasamanya, bukankah itu barbar namanya! Bukankah itu hukum rimba namanya! Bukankah itu berarti manusia sudah menjadi serigala bagi sesamanya? Itukah yang kita inginkan terhadap bangsa ini? Saya yakin tidak!
Jika ada yang mau memecah belah bangsa Indonesia, jelas itu adalah “tangan-tangan kotor”, saya tak bisa menunjuk “hidung” si “tangan-tangan kotor” tersebut, tapi dari fenomena yang ada, anda sudah pasti bisa menduga, negara mana itu. Bagi kita yang penting bukan pengadu dombanya, tapi maukah kita diadu domba pada sesasama bangsa Indonesia, kalau itu terjadi, dimana bangsa Indonesia berhasil diadu domba, maka kejadian di Irak, Afganistan, Palestina bisa juga terjadi di negara yang sama-sama kita cintai ini.
Jangan lupa, “bidikan” terakhir adalah pak SBY, itulah yang sekaligus menjajdi “sasaran tembak”, karena kalau negara ini kacau lagi seperti kejadian 1998 atau seperti yang terjadi di Mesir baru-baru ini, di mana Husni Mubarok akhirnya mundur setelah didemo selama 18 hari, maka kita akan kembali mengalami kemunduran,  bisa 2 atau 3 dekade! Ya kita bisa mundur lagi selama 20 samapi 30 tahun ke belakang? Anda mau itu? Saya yakin siapapun yang masih berpikir waras tidak mau itu, kecuali orang-orang yang mempunyai ambisi untuk segera menjadi Presiden sebelum masa berakhirnya pak SBY di 2014 nanti!
Sabarlah kawan, waktu masih panjang. Jangan karena ambisi segelintir manusia, akhirnya rakyat menjadi korban! Sekali lagi, rakyat manapun yang berada di ormas manapun agar menahan diri, jangan sampai dijadikan alat oleh “tangan-tangan kotor” untuk menghancurkan bangsa ini.  Semuanya jangan mau diadu domba, apa lagi Presiden SBY, jangan takut pak SBY!!! Selagi pak SBY berada di” jalan yang lurus”, tidak neko-neko, tidak KKN, tidak melanggar UUD 45, rakyat ada dibelakang bapak, rakyat akan mendukung SBY! Tapi kalau melanggar  UUD 45, KKN dan sebagainya,  jangan salahkan rakyat bila terjadi seperti peristiwa di Mesir! Itupun jauh dari kondisi sekarang ini, walau mungkin ada kekurangan, tapi masih lebih banyak kebaikannya!
Dan wahai sang “tangan-tangan kotor” berhentilah mengadu domba bangsa kami, Ahmadiyah, FPI dan berbagai ormas lainnya adalah sama, sama warga negara RI yang berhak hidup di tanah air ini. Jika ada masalah, mari dengan kepala “dingin” duduk disatu meja untuk bermusyawarah, jangan main golok, kelewang, clurit dan sebagainya, jangan main bakar-bakaran, kasihan rakyat yang sudah menderita, ditambahn dengan penderitaan karena merasa terancam hidupnya. Jangan lupa”membunuh seorang manusia, sama juga membunuh seluruh ummat manusia” begitu juga sebaliknya” berbuat baik pada seorang manusia, sama juga berbuat baik pada semua manusia” Mari kita tinggalkan  kebencian itu, mari kita tinggalkan saling salah menyalahkan satu sama lain, mari kita tentramkan hati kita masing-masing, dengan berpikir positif, berbuat baik dan tidak mau diadu domba, apapun alasannya!
Negara sebesar Indonesia dengan sumber kekayaan alam yang melimpah, memang menjadi incaran negara-negara yang haus”darah” yang berusaha dan mencoba mengusai Indonesia dan kalau mungkin ingin menjajah Indonesia, ingat sejarah, Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang telah berhasil menguasai Indonesia dan menjajah Indonesia, akankah sejarah akan berulang kembali? Saya yakin taka ada yang mau dijajah kembali, tapi kalau Indonesia berhasil diadu domba  antar suku, antar agama, antar  keyakinan, antar pulau, kemudian perang atau saling bunuh, hingga negara ini menjadi hancur karena perang saudara, pasti ada negara lain punya alasan untuk datang ke Indonesia dengan angkatan perangnya, dengan alasan “menjaga perdamaian” ujung-ujungnya negara kita akan dikuasainya dan tamatlah Indonesia sebagai suatu negara, seperti Uni Soviet! Tamatlah negara RI dan hilang dari peta dunia!
Saya yakin tidak ada yang mau Indonesia akan tamat dan lenyap dari peta dunia! Walaupun ada yang meramalkan akan menjadi beberapa negara, yang begini ini, telah menimbulkan adu domba terselubung. Sekali lagi bila rakyat Indonesia, siapapun dia, waspada dan tak mau diadu domba seperti di jaman penjajahan Belanda dulu, insya Allah Indonesia akan tetap eksis di peta dunia, bahkan bisa tetap menjadi salah satu negara terbesar di dunia dengan penduduk yang juga salah satu terbanyak di dunia dan itu sebuah potensi yang besar, yang bukan main-main,  bila dapat dikelola dengan baik!
Indonesia adalah bangsa yang besar yang sekarang dipimpin oleh orang yang secara fisik tinggi besar, pak SBY! Nah bukankah dari segi fisik ini saja sudah membanggakan, walaupun mungkin naif, tapi tak apa-apalah menghibur diri dari segi fisik dulu, coba anda perhatikan ketika pak SBY berdiri dengan Putin, pak SBY lebih tinggi posturnya, padahal pak SBY orang Asia yang rata-rata pendek! Tak apa-apalah tersenyum sedikit demi kebanggan ini, namun jangan lupa prestasi yang lainpun banyak, disamping kekurangnnya! Namun siapapun yang menjadi Presiden di Indonesia sekarang ini, akan” jungkir balik dibuatnya”, tak seorangpun yang mampu dengan mudah mensejahterakan rakyatnya dengan segera setelah krisis berkepanjangan. Termasuk para pengkritik itu, belum tentu bisa! Loh pengkritik itu riilnya saja tak dipercaya rakyat kok, mana ada yang milih mereka? Jadi biarkanlah Presiden SBY bekerja di masanya, nanti waktunya 2014 juga akan tiba, nah silahkan tokoh-tokoh bermunculan saat itu, silahkan berusaha dipilih oleh rakyat!
Jangan sekarang, bila sekarang pak SBY diturunkan dengan paksa seperti Husni Mubarok, apa salah SBY? Kalau belum bisa menjahterakan rakyat, jangan lupa, di jaman reformasi inilah para koruptor dari tingkat bawah sampai tingkat menteri bisa dipenjara, mana ada dijaman Orba,  menteri atau pejabat yang masuk penjara? Kecuali musuhnya Orba! Sudahlah, sabarlah, tak lari gunung dikejar! Lebih baik dari sekarang siap-siap dengan menyusun program untuk mensejahterakan rakyat, dari pada kasak kusuk dan mangadu domba rakyat, apa lagi mengadu domba Presiden dengan FPI, mengadu domba Presiden dengan rakyatnya sendiri, mengadu domba sesama ummat Islam. Jangan lupa ummat Islam itu bersaudara, apapun ormasnya, apapun suku, bangsa,  warna kulitnya.  Janganlah… rakyat terus menerus diadu domba,  rakyat nuntutnya tak banyak-banyak kok, asal bisa hidup sejahtera, bisa menyekolahkan anak-anak dan aman dari segala macam gangguan, sudah! Rakyat kita tak neko-neko kok.
Sebagai penutup, “tangkap tikusnya, jangan bakar lumbungnya!” Siapapun jangan mau diadu domba, apa lagi Presiden SBY, jangan pak,  jangan mau diadu domba. Begitu juga FPI tahan dirilah, rapatkan dan luruskan barisan, jangan biarkan barisan menjadi kacau balau, hati-hati ada yang menyusup ke FPI! Hati-hati polanya Orde Baru, ada oknum yang masuk ke ormas menjadi anggota ormas, kemudian mengacak-ngacak dari dalamnya. Begitu juga Ahmadiyah … dengarlah para tokoh masyarkat yang sudah menghimbau dengan berbagai cara, kembalilah …kembalilah ! Dan bagi semuanya,  mari belajar dari sejarah dan jangan melupakan sejarah, bangsa Belanda bisa menguasai Indonesia adalah dengan adu domba, maka jangan mau diadu domba! Insya Allah Indonesia akan sejahtera, adil dan makmur. Bila tak sekarang, ada generasi yang akan datang!

Syaripudin Zuhri

Saya lahir di Jakarta. Hobi membaca dan bersepeda . Minat bacaan khususnya pada yang religious, sosial dan budaya. Senang bersahabat dan suka perdamaian. Moto hidup : " Jika kau mati tak meninggalkan apa-apa, maka buat apa kau dilahirkan ? "


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Aksi Teror Pemerintah Mengalihkan Issu Sensitif Korupsi



Padegelang bergolak, tawuran pro dan kontra Ahmadiyah tiba tiba muncul menjadi berita halam depan semua surat kabar Ibukota. Pro ahmadiyah seperti teroganiser, berkomentar negatif sikap lawan gumolnya. Menyatakan ketidak puasan terhadap pemerintah, menyatakan kekuan depag. dan menuding kelemahan MUI tidak akomudatif. Corong corong pluralis menumpahkan kekesalanya terhadap berbagai pihak yang dituduh mensponsori gerakan penyerangan terhadap Ahmadiyah.
Temanggung (bekas penangkapan penembakan teroris oleh Densus 88), bergolak lagi, kini issunya bukan teroris, tetapi Saksi Yahova. Tidak terlalu lama kejadiannya dari Banten itu, muncul lagi masalah kekerasan korbannya adalah saksi Yahova, yang awalnya bertolak dari penistaan agama. Penangkapan dilakukan oleh Polri terhadap para tertuduh pelaku kerusuhan.
Setelah itu di Pasuruan Jawa Timur muncul masalah Syi’ah (Yapi), tiba tiba sekelompok Orang menyerang pesantren Ma’ahadul Islam milik syi’ah, memang tidak ada korban meninggal, hanya luka luka dan gedung gedung yang pecah kacanya. Sebab kejadian berantai seperti ini tidak akan mungkin jadi dengan sendirinya, melainkan pasti terdapat pemicu munculnya masalah.
Negara kita kalau masuk katagore Negeri para bedebah, tidak sulit menggagas munculnya sebuah masalah, terutama saat saat genting menimpa pemerintahan, seperti kasus Korupsi yang melibatkan pejabat pejabat teras yang berkepentingan dengan pengalihan Isu, bukan tidak mungkin rencana matang itu sudah dibuat jauh sebelum diletupkan. Persoalan kecil bagi pemerintah dengan perangkas jeniusnyakalau hanya ingin memunculkan ketegangan di berbagai daerah, cukup dengan menggunakan perangkat khusus kekuasaan, mengorbankan anak anak bangsa yang tidak terdidik dan di pasung dalam kekuatan paternalistik, melahirkan kelompok kelompok sempalan beraliran keras tidak bersimpatik, membangun opini buruk terhadap suatu kelompok dengan perangkat perangkat yang di buat untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan pemerintah untuk tetap Eksis penguasa Indonesia.
Kasus Pemerintah Yang belum tuntaskasus Perpajakan/Gayus yang melibatkan sistem dan pejabat dan Perusahan, Kasus Century , kasus kasus Korupsi lainnya, rencana Panja, pansus, angket DPR ,  penangkapan sejumlah anggota DPR, tududuhan lintas agama dengan kebohongan pemerintah merupakan pemicul labilitas negara kian parah. Tidak pada penekanan untuk menyadarkan pemerintah, tetapi mengobarkan semangat pemerintah untuk tetap bertahan dengan sikap antipasipasi pemerintah melalui pintu pintu yang memungkinkan konsetrasi bangsa menjadi terpecah. Salah satunya adalah memunculkan Isu SARA.
Karena masalah agama adalah masalah krusial, tidak ada jalan lain bagi pemrintah, selain memperdagangkan agama sebagai benteng terakhir pemerintah mengalihkan Isus isu nasional, terutama Isu isu Korupsi yang melibatkan banyak pejabat, misalnya Wakil presiden dan kemungkinan keterlibatan Presiden dalam kasus tersebut. Ini bukan tuduhan tanpa fakta, melainkan tuduhan berdasar mengacu pada status presiden sebagai pemimpin tertinggi direpublik ini. Tidak mungkin sebuah kasus korupsi dalam sebuah depertemen itu tanpa sepengetahuan presisden, misalnya penyalahgunaaan uang pajak oleh pejabat pajak, sehingga nilai pajak yang masuk kas negara, tidak seimbang dengan pembayar pajak, apa selama pemerintahan Presiden tidak tahu ?….apa memang presiden hanya kerjanya tidur, tidak pernah tahu masalah yang menimpa kaki tangannya, sehingga dengan mudah orang orang kepercayaannya menggunakan kesempatan itu, mengerut uang negara ?.
Berlindung dibalik isu agama (SARA), merupakan cara yang mungkin di pandang tepat oleh pemerintah. Selain karen agama itu menyangkut keyakinan Publik yang kental dengan fanatisme, maka hasilnya dipastikan akan berdampak pada sendi sendi negara, sehingga goncang seluruh intansi yang ada. Mulai dari LEMBAGA SOSIAL, HAM, LSM dan para petualang berwajah ganda, penjilat kekuasaan. Sebab mereka juga punya kepentingan bersama, mencari cela popularitas, dengan menggadaikan agama.
Lebih lucu lagi mereka yang pernah tidak setuju dengan SBY, turut serta berbicara lantang, “seolah tidak terima kalau lambang kekuasan negara dihina”. Menurutnya “Ucapan pengacara FPI yang mau mentunisiakan Indonesia itu merupakan penghinaan dan pelecehan terhadap Presiden” .Apa benar terhina dan melecehkan presiden? bagaimana dengan gambar gambar presiden yang dibakar oleh mahasiswa mereka diam. Lucu prilaku para petualang yang menamakan dirinya kaum pluralis, atau mereka di bayar ?. Yeni Rahman (putri Gus Dur) seorang komentator itu dalam petemuan dengan ketua MPR, Taufik Kemas menegaskan sikapnya dan meminta ketua MPR mebubarkan dan membungkam cara cara FPI tersebut.
Luar biasa dari skenario tersebut, berhasil menarik simpati banyak orang untuk mendukung kekuatan orde SBY. Berhari hari media menyiarkan Isu itu, turut menebar kebencian terhadat Islam. Seolah Islamlah yang memicu kejadian kejadian yang menimpa negara ini. Entah apalagi judul lain yang akan di tayangkan oleh pemerintah dalam pengalihan Isu, selain terorisme, Sara, pasti masih banyak rencana yang tersimpan didada mereka.

Alexandre The Great

Menganut Theologi Anti Paganisme/Syirik. Tauhid adalah pahamku Syariat adalah hukumku Allah adalah Tuhanku Muhammad adalah Metodeku


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


“Malu Aku Jadi Orang Indonesia.”



Suatu waktu, saya pernah dimintai tolong oleh teman Amerika untuk membantu mahasiswa baru dari Indonesia yang baru datang. Dia datang bersama orang tuanya dan untuk sementara tinggal di hotel dekat pusat kota. Teman saya itu meminta saya agar menjadi teman barunya dan memperkenalkan dia ke komunitas Indonesia yang ada di kota Iowa. Tanpa diminta pun, kalau ada orang Indonesia datang, saya pasti siap membantu, karena sebagai kelompok minoritas yang tinggal di negeri orang, pertemanan menjadi nomor satu. Apalagi berteman dengan yang sebangsa dan setanah air. Siapa lagi yang akan membantu kita manakala kita kesulitan kalau bukan teman?

Saya kirim sutron (email) kepada dia, yang intinya perkenalan diri dan menawarkan bantuan jika dia membutuhkan. Satu hari, dua hari, tak ada balasan. Sampai akhirnya saya pun lupa akan sutron itu. Saya kembali teringatkan akan sutron itu ketika teman Amerika tadi menanyakan kabar dia. Saya jujur saja bilang bahwa dia tidak pernah membalas. Mungkin sibuk.

Beberapa waktu kemudian salah satu tetangga Indonesia saya bilang bahwa dia bertemu dengan orang baru ini bersama orang tuanya. Orang tuanya bahkan menitipkan anaknya kepada beliau karena beliau dipandang salah satu ’senior’ di kota ini.

Semester pun bergulir dan seperti biasa urusan sekolah bertumpuk. Urusan dengan orang baru ini akhirnya terlupakan seiring waktu.

Enam bulan kemudian, setelah perkuliahan hampir usai, teman sekantor saya tiba-tiba bilang, “Eri, I have an Indonesian student.” Dia pun memperlihatkan daftar nama mahasiswanya dan menunjukkan nama belakang nama mahasiswa yang dia maksud. Ternyata, mahasiswa tersebut adalah orang baru yang tidak pernah membalas sutron saya. Teman saya bilang bahwa anak ini sering datang ke kantornya untuk konsultasi. Saya jadi bertanya-tanya kenapa dia tidak pernah menyapa. Saya pun semakin penasaran orangnya seperti apa. Masa sampai orang Indonesia tidak saya kenali. Atau masa sampai dia tidak mengenali saya.

Tiba-tiba sosok dia pun muncul di samping kantor. Sejurus kemudian, teman saya (yang notabene dosennya) memanggilnya. Dia pun bertanya dulu untuk memastikan, “You are Indonesian, aren’t you?” Dia pun, dengan sedikit bingung akan maksud dari pertanyaan itu, kemudian mengiyakannya. Teman saya pun menyebutkan kepada mahasiswanya itu bahwa saya juga orang Indonesia. Dengan ekspresi sedikit kaget, dia berkata, “Oh, really?” Karena teman saya ini ingin mendengar saya berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, dia meminta si orang baru itu untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Anak baru itu bilang, “Let me try. ‘Apa kabar’?” dengan pelafalan penuh aksen laiknya artis-artis yang baru beberapa saat di luar negeri. Kesal, dongkol, marah, semua bersatu memperhatikan tingkah polak anak baru yang seolah lupa akan ‘kulitnya’.

Setelah dia pergi, teman saya bertanya dengan sedikit keheranan. “Do Indonesians speak English on a daily basis?” Saya bisa memaklumi pertanyaan dia karena dia tidak menyangka bahwa anak itu tidak bisa berbahasa Indonesia. Saya jawab tidak dengan tegas, karena secara umum memang demikian. Sebenarnya dalam hati saya ingin bilang, “You know what? If he spoke English so well that he forgets his Indonesian, why should he take ESL classes?” Namun saya tak tega mengatakan itu.

Lain waktu, ketika komunitas Indonesia sedang berkumpul, membakar sate sambil berbincang, tiba-tiba tema mengenai orang baru muncul ke permukaan. Ternyata, ada dua teman lain yang bertemu dengan dia dan mendapati pengalaman yang serupa. Saat itu, menurut penuturan mereka, kedua teman tadi sedang mengikuti acara orientasi International classroom journey, sebuah acara yang diprakarsai kantor urusan internasional di kampus universitas Iowa untuk memperkenalkan budaya internasional kepada siswa Amrik. Anak baru tadi rupanya menjadi salah satu relawan. Nah, pas ditanya negara mana yang akan diwakili, dia dengan arogannya berkata, “France.” Sontak saja, staf kantor internasional jadi kaget dan bertanya kenapa. “Because I have a girlfriend from France.”

Kedua teman saya tadi yang menyaksikan hal ini dibuat eneg dengan perilaku si anak baru ini. Baru saja beberapa bulan merasakan udara asing Iowa, dia sudah lupa identitasnya. Mending kalau sikap arogansi (untuk tidak mau berbicara bahasa Indonesia) dia barengi dengan kompetensi bahasa Inggris yang mumpuni. Dalam kasus dia, dia masih harus mengambil mata kuliah ESL. Artinya, kemampuan bahasa Inggris dia belum memenuhi kemampuan minimal untuk bisa mengikuti perkuliahan di kampus secara normal.

Satu pelajaran penting yang bisa kita petik dari cuplikan kisah ‘teman” baru kita ini adalah “jangan sampai jadi kacang yang lupa pada kulitnya.” Bahwa betul kita sedang berada di negeri orang dan sepatutnya menggunakan bahasa yang dipakai di negeri itu tidak serta merta mengharuskan kita melupakan jati diri kita sebagai orang Indonesia, yang tentunya bisa berbahasa Indonesia. Banyak orang Indonesia yang sudah puluhan tahun hidup di negara bagian Iowa ini yang begitu fasih bahasa Inggrisnya dan tidak pernah melupakan bahasa Indonesianya.

Eri Kurniawan

Saya pelajar, pengajar dan orang yang akan senantiasa 'kurang ajar' (dalam makna positif). Sekarang sedang belajar di kota Iowa, negerinya Bang Obama. Motto: "Teruslah merasa kurang ajar, karena kalau merasa terpelajar, kamu akan berhenti belajar."


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Mari Bangkit




Negara kita tidak akan hancur oleh karena bangsa lain, tetapi oleh bangsa kita sendiri.
Pernyataan tokoh Amerika tersebut tampaknya sesuai dengan keadaan negara kita saat ini. Korupsi menggerogoti kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Telah begitu dalamnya mengakar di dalam kebudayaan kita, korupsi sulit untuk diminimalkan. Kuatnya cengkraman korupsi berpengaruh pada rendahnya tingkat kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Begitu rendahnya kepercayaan rakyat, bahkan ada ormas yang menyatakan dengan tegas akan menggulingkan pemerintahan yang berjalan.
Terlepas dari ormas mana yang membuat pernyataan dan pemerintahan siapa yang berjalan, ancaman makar mengusik kedaulatan rakyat yang memilih langsung presidennya.
Terlepas dari betapa pun buruknya sistem pemilu yang berjalan dan sebodoh apa pun rakyat yang memilih, pilihan rakyat harus tetap dihormati.
Terlepas dari ada atau tidak pihak yang menghormati pilihan kita, kita wajib menghormatinya. Jika ada pihak yang melecehkan pilihan kita, jika bukan kita yang membelanya lalu siapa lagi.
Saatnya kita bangkit menjalankan pemerintahan kita sendiri, tidak tunduk kepada siapa pun. Kalau bukan kita yang menjalankan pemerintahan kita, lalu siapa lagi.

Santosasaja

bukan siapa-siapa


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Wacana Dasar Negara



saya bukanlah seorang pakar politik , apalagi kritikus. namun tulisan ini hanyah bentuk pertanyaan dan kepedulian terhadap negara tempat saya lahir , tumbuh dan berfikir ini.
teringat sebuah dialog dalam film scarface karya brian de palma yang dibintangi oleh al pacino. dalam film itu al pacino bersama temannya sedang mencoba menggodai wanita di sebuah kolam renang. pada saat itu mereka belum punya banyak uang , mengharap dapat kecupan justru tamparan lah yang justru mendarat di pipi mereka . dan al pacino (berperan sebagai tony montana) pun berkata , “ In this country, you gotta make the money first. Then when you get the money, you get the power. Then when you get the power, then you get
the women.”

memang kritik sosial yang disajikan dalam adegan itu cukup terbilang ringan , namun perkataan yang diucapkan tony montana pada adegan itu sungguh mengena di hati . karena dialog tersebut memang benar-benar seperti keadaan di negara kita tercinta pada saat ini. dimana sebuah kekuasaan dilihat dari berapa banyak anda memiliki uang. ketika uang sudah ditangan apapun bisa didapat. termasuk jalan-jalan ke luar negeri ketika sedang menjalani masa tahanan.

lalu bagaimana nasib mereka yang tidak memiliki uang ? ya sudah nasib anda akan sesuai dengan perkatan sgt. hartman dalam film full metal jacket , “you’ll be in the world of shit”. yak benar , dunia yang bisa membuat kita berfikir lebih baik tidak pernah dilahirkan. dunia yang hanya menawarkan masalah , masalah dan masalah. dunia yang keras penuh dengan ketidak adilan.

perkataan tony montana maupun sgt.hartman sudah terbukti kebenarannya di negara ini. lihat saja mereka yang punya uang, kekuatan dan kekuasaan yang bersembunyi dibalik birokrasi. perut mereka gemuk-gemuk , gajinya besar , keamanannya terjamin dan bisa berkumpul dengan keluarga keluar negeri , makan enak dan jika saya jabarkan semua kenikmatan mereka yang punya uang , saya bisa menulis buku tentang itu mungkin.

namun bagi mereka yang “livin in the world of shit” nasib mereka dapat dibilang jauh dari standar hidup yang berkemanusiaan yang adil dan beradab sebagaimana bunyi sila ke-2 ( yang hanya tinggal wacana). mereka kurus-kurus , tidak memiliki penghasilan , kemanannya tidak terjamin dan yang paling ironisnya , mereka DILARANG UNTUK SAKIT. memang terkadang dunia ini lebih kejam daripada siapa pun yang terkejam.

sosok pendatang baru “world of shit” yang sedang ramai dibicarakan di micro blogging twitter pada saat ini adalah , alanda kariza. seorang perempuan yang kira-kira sebaya dengan saya. kariza mencurahkan keluh kesah pengalaman hidupnya dalam world of shit lewat sebuah artikel di websitenya. dalam artikelnya kariza menceritakan nasib ibunya yang sudah menjadi salah satu korban dari world of shit. tulisan itu sungguh ironis , remaja perempuan sebaya nya pada umumnya masih dapat bersenang-senang tanpa harus memikirkan kasus bank kebal hukum yang aliran dana nya menghilang bagai benua atlantis. sungguh ironis

pada dasarnya negara ini memang indah. namun , keindahan itu hanya dapat dilihat bagi mereka yang memiliki ketebalan dompet diatas rata-rata. namun , bagi mereka yang memiliki ketebalan dombet dibawah rata-rata (atau bahkan tidak punya dompet) , keindahan negara ini tidak bisa terlihat. kelas sosial kembali berbicara dalam urusan ini.

negara ini semakin terasa tidak nyaman ketika kita melihat aksi main hakim sendiri oleh mereka yang mengaku bertuhan. toleransi dan kemajemukakan dari negara kita sekejap sirna seiring pukulan-pukulan benda tajam yang di layangkan ke tubuh korban penganiyayaan. mereka yang dulu mengutuk dan menyerukan mereka tak beragama , sekarang melakukan kebiadaban sama seperti yang mereka serukan dulu

pancasila yang dirumuskan dengan susah payah oleh pendahulu negara ini hanyalah tinggal wacana. setiap bunyi dari sila nya hanyalah tinggal waca semata. ketuhanan yang maha esa ? apakah menganiyaya sesama umat bergama dapat disebut sebagai prilaku orang bertuhan. kemanusiaan yang adil dan beradab ? apakah memukuli seseorang hingga tewas merupakan contoh dari kemanusiaan yang adil dan beradab. persatuan indonesia ? buka mata kalian disintegrasi kembali terjadi di negeri ini. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dan permusyawaratan keadilan ? apakah negara ini sudah mengutamakan musyawarah dan keadilan dalam menyelesaikan masalah. yang terakhir , keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia ? lebih cocok kalau diganti kedilan sosial bagi seluruh mereka yang kaya.

sungguh tidak bisa dibayangkan jika founding fathers negara kita melihat keadaan negara yang dulu mereka perjuangkan dengan susah payah. sungguh ironis sekali hidup mereka.sebuah ideologi yang nyaris sempurna diinjak-injak oleh mereka yang seharusnya tidak pernah lahir di muka bumi ini.
diego batara
mahasiswa universitas al-azhar indonesia Diego Mahameru


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Harga Diri Bangsa Dilecehkan Melalui Komodo



http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS4Kc6LRJmLBqx7ezelxeUaQ2_H1MSxgWPJXdX-SN0ns5yX6g9F
Yayasan New7wonders (N7W) secara arogan telah menangguhkan komodo sebagai salah satu hewan yang dikampanyekan dalam tujuh keajaiban dunia. Komodo tidak lagi diikutsertakan dalam kampanye tujuh keajaiban dunia dan akan digantikan oleh peserta yang terdaftar sebagai cadangan dari negara lain. Penangguhan itu dilakukan hingga pemerintah dan konsorsium swasta memenuhi kontrak dan kesepakatan legal. Padahal Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) tidak pernah merasa mendatangani kesepakatan itu. Selain dirugikan, harga diri bangsa dilecehkan oleh yayasan itu. Nasionalisme bangsa besar ini harus segera bereaksi atas tindakan semena-mena itu.

Komodo, atau Varanus komodoensis adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.
Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup. Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.
Yayasan N7W
Yayasan N7W di Zurich yang bertindak sebagai pemrakarsa dan pemilik hak penyelenggaraan sudah menetapkan dan memilih Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan Deklarasi dan Penganugerahan 7 Keajaiban Alam Yang Baru pada tanggal 11 Nopember 2011. Pihak N7W telah melakukan kontrak dengan sebuah konsorsium swasta di Indonesia. Tetapi Kembudpar tidak pernah tahu ada kontrak tersebut. Selama ini Kembudpar baru sebatas mengadakan pembicaraan saja mengenai ketertarikan menjadi tuan rumah dan sama sekali belum terikat kontrak dengan N7W.
Eliminasi kómodo dari kampanye tujuh keajaiban dunia jelas dikaitkan dengan posisi Indonesia sebagai tuan rumah. Indonesia tidak ikut jadi tuan rumah karena tidak siap dengan kondisi biaya. Seharusnya N7W mengeliminasi Indonesia yang tidak sanggup jadi host bukan dieliminasi Komodo yang jadi finalis. Karena penetapan sebagai finalis dari awal tidak berkaitan dengan penyelenggaraan. Sangatlah tidak logis hanya karena tidak membayar US $ 45 juta. Indonesia diminta agar menjadi tuan rumah pengumuman N7W pada 11-11-11 dengan konsekuensi harus memenuhi persyaratan, yakni menyediakan dana sebesar 45 juta dollar atau sekitar Rp 450 miliar.
Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah tegas dan kreatif. Bila hal itu semua benar  Indonesia harus keras mempertahankan diri sebagai sebuah bangsa yang besar. Jangan terpengaruh oleh pendapat yang mengatakan bahwa Indonesia kurang cerdas memanfaatkan peluang besar dan kurang memahami pergaulan masyarakat internasional. Meski bangsa ini tidak mampu menyelenggarakan karena masalah dana, bangsa ini jangan mau dilecehkan oleh sebuah yayasan seperti itu. Kalau memang Kembudpar merasa tidak melakukan wanprestasi harus menggugat secara hukum terhadap 7NW. Hal ini bukan saja merugikan Indonesia dalam hal promosi pariwisata. Tetapi juga mencoreng harga diri bangsa di dunia internasional. Kalau perlu ide kreatif untuk melakukan pooling tandingan layak direncanakan untuk mengantisipasi kekecewaan bangsa ini.

by : Widodo Judarwanto

We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life. WARNAILAH INDONESIA DENGAN KEPEDULIAN TERHADAP ANAK, POLITIK BERMORAL, DEMOKRASI SANTUN, HUKUM DAN SOSIAL SEADIL-ADILNYA. Menulislah agar dipahami, berbicaralah agar didengar, dan membacalah agar menjadi besar. SEJUKKAN DAN MAJUKAN INDONESIA DENGAN OPINI POSITIF : LEBIH BAIK MEMILIH "MENYALAKAN LILIN DARIPADA MENGUTUK KEGELAPAN" http://childrenclinic.wordpress.com http://mediaanakindonesia.wordpress.com


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info