Dirgahayu HMIku, HMImu dan HMI kita
Cak Nur sebagai intelektual muslim terdepan HMI dan bangsa ini yang membuat saya tertarik pada organisasi yang dibidani oleh Prof Lafran Pane 5 Februari 1947 di Yogyakarta ini. Pasalnya, beberapa cuplikan berita, wawancara maupun artikel Cak Nur memberikan tawaran pemahaman keislaman yang murni, segar dan modern. Maklum Cak Nur sebagai salah satu tokoh pembaharuan Islam Indonesia.
Berawal dari ketertarikan pada pemikiran Cak Nur tersebut sejak mendaftar sebagai mahasiswa di STAIN Jember, saya sudah berketetapan hati untuk berproses di HMI. Walau niat saya, sempat ditentang oleh senior2 saya di IPNU-IPPNU Cabang Jember. Ada Cak Nur Ali, ada Mbak Syifa, ada Mbak Indah, tokoh2 IPNU-IPPNU yang notabene juga aktivis PMII, mengingatkan saya bahwa HMI itu tak seideologi dengan NU. HMI itu Muhammadiyah, PMIIlah yang NU dan seterusnya. Saya yang juga sudah jadi Ketua IPNU Ancab Silo Jember, justru dengan keras menentang pendapat para senior di atas. Tak benar HMI tak seideologi dengan NU. HMI itu Muhammadiyah. Dan, PMIIlah yang NU. Faktanya, Muhammadiyah punya IMM. HMI independen, dan PMII juga independen. Tak satu pun dokumen NU maupun PMII yang menyebutkan bahwa organisasi yang dibidani oleh Mahbub Junaidi, salah satu pentolan HMI ini, yang menyebut secara eksplisit sebagai underbrow NU.
Sikap kekeh saya ini yang mendorong Cak Ali Mudhari mengajak saya silaturrahmi pada dosen2 PMII STAIN Jember, Prof Halim dan Pak Zainuddin Jakfar. Cak Ali waktu itu jelang keberangkatannya ke Makassar untuk melanjutkan S2 di IAIN sana, kebetulan mendapatkan beasiswa. Barangkali saya dikenalkan dengan beliau, bisa merubah keputusan masuk HMI. Justru, usaha keras ini membuat saya kian penasaran dan rasa ingin tahu saya kian besar. Ada apa gerangan? Ternyata, semua ituPropaganda politik organisasi ekstra kemahasiswaan dalam melakukan rekrutmen anggota baru.
Pasca itu, saya praktis menjalani dua organisasi kepemudaan. Satu sisi sebagai aktivis IPNU, dan sisi lain sebagai aktivis HMI. Saya pernah menjadi sekretaris umum IPNU Cabang Jember pada 1994-1997, dan juga pernah menjadi ketua kekaryaan HMI Cabang Jember Komisariat Sunan Ampel pada 1997-1998 serta ketua pembinaan anggota HMI Cabang Jember pada 1998-1999.
Bagi sebagian kalangan, fenomena ini relatif jarang, seorang aktivis NU sekaligus aktivis HMI, aktivis HMI sekaligus aktivis NU. Namun demikian, saya tetap merasa bangga pernah dibesarkan dua organisasi kepemudaan di atas. Walau terkadang ini dijadikan “alat” untuk mendelegitimasi dan mengamputasi kekuatan politik dan sosial saya dalam menjalani pengabdian kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tak sedikit pun terbersit rasa kecewa terhadap hasil ijtihad organisasi saya ini. Saya benar2 merasa dua organisasi kepemudaan tersebut yang berjasa besar mengkontruksi pemikiran dan perjuangan saya lalu, kini dan nanti. Inilah HMIku.
Di pihak lain, ada dosen dan senior saya di STAIN Jember, Pak Bahruddin, justru pernah mewarning yunior2 untuk hati2 kepada saya. Saya dinilai sudah balik kandang, lantaran beberapa tulisan saya di Radar Jember, seperti Republik NU, HMI dan NU dalam Kontraksi dan lain sebagainya, dinilai membela mati2an Gus Dur pada saat proses impeachment. Sebab, bagi wali studi saya ini, HMI itu Muhammadiyah. Beliau sampai berkesempulan seperti itu lantaran banyak alumni Himpunan pasca purna mahasiswa aktif di perserikatan. Tetapi tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa HMI itu Muhammadiyah. Faktanya, ada alumni Himpunan yang aktif di NU, Al-Irsyad, Persis, MMI dan lain sebagainya. Itulah HMImu.
Jadi, HMI kita adalah organisasi ekstrauniversiter yang tampil dengan wajah warna warni, baik faham keislaman maupun dalam faham keindonesian. HMI kita merupakan “tenda besar” yang mengayomi terhadap keaneragaman aliran dalam Islam maupun dalamIndonesia. Di HMI organisasi kemahasiswaan yang terbuka pada ragam aliran tersebut. Tak ada bedanya, antara sunni dan syiah, antara kaum liberal dan kaum sosialis. Semua memiliki kedudukan yang sama di hadapan konstitusi dan organisasi. Keterbukaan dan keluwesan ini yang mendorong HMI kita tak terjebak pada pemikiran dan gerakan ekstrim. Para aktivisnya dituntut untuk saling memberi dan menerima perbedaan yang ada. Perbedaan bukan sesuatu yang tabu, melainkan itu sunatullah untuk menguji makhluk dalam menerima kebenaran dan berpegang teguh pada kebenaran tersebut. Sebab, tiap orang pada hakekatnya cendrung pada kebenaran.
HMI kita yang sudah berusia 64 tahun sudah sangat dewasa. Apalagi dibanding dengan organisasi ekstra kemahasiswaan yang lain. Barangtentu, usia yang sangat dewasa tersebut menambah kematangan dalam pemikiran dan perjuangan. Semua itu terhijawantah pada muslim intelektual profesional. Yaitu sosok manusia yang akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, serta bertanggungjawab terhadap terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT.
Kreteria insan cita di atas menjadi semacam filter dari HMIku, HMImu, HMI kita. Di luar itu, betapa pun ia aktivis yang berdarah2 di HMI, sesungguhnya ia telah menyelewengkan dasar perjuangan Himpunan ini. Tanpa peduli, ia mantan ketua umum PBHMI sekalipun.
Garis ini sangatlah penting untuk memantapkan HMI sebagai organisasi kader yang bisa diserap oleh partai politik mana pun dan juga organisasi sosial kemasyarakatan apa pun. Dengan visi sebagai organisasi kader yang terbuka, maka peran dan fungsi HMI akan kian nyata dalam kehidupan bermasyarakatan, berbangsa dan bernegara. Kader dan alumni HMI jauh akan diterima dan akan berada dimana2. Inilah hakekat doktrin Islam rahmatan lil ‘alamin yang diperjuangkan oleh Cak Nur selama hidupnya. Selamat ulang tahun HMI. Mudah2an diusia ke-64 ini, HMI kian jaya. Amien.
64 Tahun, HMI Mau Kemana…??
HMI, IMM dan PMII Sebuah Potret Politik Islam
Kader politik Islam memang sudah digodok sejak mahasiswa. PMII sebagai kader yang kelak akan bergerak dalam payung politik NU (Nahdlatul Ulama). IMM kelak akan berpayung Muhammadiyah sebagai organisasinya. HMI lebih memilih tanpa payung kecuali sebuah forum silaturahmi yang bernama KAHMI (Korp Alumni HMI). HMI lebih banyak menyebarkan kader politik ke dalam berbagai partai politik baik ke Golkar, Demokrat, PDIP maupun PPP.
Kendati kader politik HMI banyak memegang pucuk pimpinan partai, HMI belum berhasil menelorkan seorang Presiden. Akbar Tandjung lama menjadi Ketua Umum Golkar tapi gagal menjadi presiden. Nurcholish Madjid sebagai tokoh penting HMI, hanya sempat menjadi salah satu calon presiden sebelum ia wafat karena gagal operasi hati di Singapura. Kini kader HMI banyak berharap dengan Anas Urbaningrum, ketika pemuda mantan Ketua Umum PB HMI ini dipercaya menjadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Akankah Anas berhasil menjadi presiden pada 2014. Masih terlalu pagi untuk menebak. Sebab senior Partai Demokrat buru-buru memberikan pernyataan bahwa Ketua Umum DPP Partai Demokrat tidak secara otomatis adalah calon presiden.
Walau gagal menjadi presiden, kader HMI telah menjalar ke berbagai profesi dan menjadi menteri. Hampir setiap periode kabinet di Indonesia, kader HMI selalu ada. Yang agak sulit dimasuki oleh kader HMI adalah Departemen Agama. Karena Depag lebih menjadi basis kader PMII, Surya Dharma Ali sang Menteri Agama sekarang adalah mantan Ketua Umum DPP PMII. Pengalaman non kader PMII menjadi Menag, seperti Malik Fajar yang merupakan kader IMM, tidak terlalu berhasil memimpin Depag, karena bawahannya masih PMII. Menurut ceritanya, manajemen Depag tidak dapat berjalan baik, ketika Menag berasal dari unsur bukan NU. Dan itu tradisi sejak era reformasi sekarang.
Gesekan politik antara basis HMI, PMII dan IMM ini amat keras sejak di bangku kuliah. Khususnya di perguruan Islam seperti UIN atau IAIN. Gesekan politik kampus ini telah menjadi permanen sejak dulu hingga kini sehingga mewarnai politik Islam di tanah air. Mulai dari soal siapa dekan dan siapa rektor, ketiga unsur mahasiswa Islam ini ikut menentukan. Dari aspek kemasiswaan akder HMI lebih banyak di UIN, sehingga posisi penting kampus lebih didominasi oleh kader HMI ketimbang unsur IMM dan PMII. Agaknya, pewarnaan politik kampus ini telah menjadi blue print politik nasional yang sering diserap oleh para petinggi politik di tanah air. (baca: Muhammadiyah Tidak Bakal jadi Cawapres)
Sayang, pergerakan mahasiswa Islam ini lebih kepada keasyikan politik ketimbang gerakan intelektual sehingga pembaharuan pemikiran Islam terabaikan. Padahal dunia masih membutuhkan sosok Nurcholish Madjid dan dunia membutuhkan sosok Gus Dur lagi. Dimanakah mereka?
Independensi Kekuatan Politik HMI
Polisi dan Mahasiswa
Oleh : Thamrin Dahlan
Polisi menangkap mahasiswa yang berunjuk rasa mendesak mundurnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (20/10/2010). Dua aktivis mahasiswa ditangkap polisi sedangkan satu mahasiswa mengalami luka tembak di bagian kaki.
Demontrans harus di hormati hak menyampaikan pendapatnya dan tuan - tuan penguasa seharusnya keluar dan turun dari singasana untuk menemui para pendemontran itu. Berbicaralah, berdialog lah, tidak akan ada terjadi unjuk rasa anarkis. Dan Polisi akan lebih enteng tugasnya, tetapi bila tuan tidak keluar (tidak berani) berdialog inilah kejadiannya.
Supersiswa Bukan Mahasiswa
oleh : hendro
“Pemirsa…Saat ini kita sedang menyaksikan pertandingan yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu pertandingan adu kekuatan antara dua kelompok supersiswa yang spectakuler dan mengherankan. Masing-masing perwakilan supersiswa ini sedang adu kekuatan siapa yang paling cepat merubuhkan pagar beton. Kelompok supersiswa mana yang akan menang, mari kita saksikan bersama”
Begitulan kira-kira reporter menyiarkan beritanya apabila TV Berita menerima usulan saya untuk menyalurkan bakat para mahasiswa yang mempunyai energi lebih dan perhatian lebih atas masalah-masalah negaranya.
Saat ini kita prihatin dengan berita negatif tentang demo mahasiswa yang notabene adalah agent of change yang sangat kita harapkan bagi kemajuan negara kita. Apa yang sebenarnya dicari oleh para mahasiswa yang demo sampai rusuh itu.
Ada beberapa sebab, antara lain ada pameo dikalangan mahasiswa bahwa kalo belum demo belum jadi mahasiswa betulan karena belum menunjuk eksistensinya (jadi inget demo jadul menolak pembangunan waduk kedungombo). Tetapi yang menarik perhatian saya tulisan kompasianer bung Yusran Darmawan yang mengatakan :
“boleh jadi para mahasiswa itu berharap bisa diliput oleh media massa secara luas. Saya sering mendengar cerita para mahasiswa yang menunda demonstrasi hanya gara-gara para jurnalis belum tiba. Mungkin saja mahasiswa itu hendak meniru Presiden SBY yang menunda pidato hanya gara-gara belum datang reporter televisi”
Untuk menyalurkan mahasiswa yang berpikiran mau eksis dan narsis seperti ini tentu kita harus mencari solusinya. Untuk itu perlu dipikirkan usulan ke “TV Berita” agar menyalurkan bakat dan aspirasinya.
Bukankah TV-TV itu sudah melibatkannya dalam acara-acara seriusnya.?? Kalau menurut saya belum maksimal. Harusnya TV Berita memahami jiwa muda mahasiswa yg memang maunya eksis dan narsis. Rasanya tidak cukup kalo cuma ditampikan sebagai penonton di acara debat atau dialog-dialog politik karena kurang menggigit kata mereka. Menjadikan mereka hanya sebagai asesoris sebuah acara benar-benar meremehkan eksistensi mereka saja.
Bikinlah acara yang tokoh sentralnya mahasiswa itu sendiri, misalnya debat antar mahasiswa yang pro dan kontra atas masalah-masalah kenegaraan , biar para mahasiswa dapat unjuk gigi dengan aspirasi dari pikiran-pikiran mereka sendiri, tentu dengan otak… bukan otot.
Nah yang senangnya demo pakai otot bagaimana..? Bikinlah acara adu otot…. apa ya kira-kira?… adu kuat ngangkat beton trotoar mungkin… atau adu otot siapa yang paling kencang teriak mengenai masalah sosial politik… atau adu kuat dorong pagar sampai roboh… atau yang paling extrim mungkin adu kuat dorong-dorongan dengan polisi… kan asyik tuh… ratingnya pasti tinggi.
Jadi mahasiswa punya pilihan atas penyaluran aspirasi plus eksistensinya. Dan Stasiun TV pun banjir iklannya.. Enak toh…
Siapa bilang mau eksis nggak boleh lebay ??…
Mau eksis ??….Lebay pliss…!!!
Piss… ahhh
Nb : mohon maaf bung Yusran, saya kutip tulisannya nggak bilang dulu…
Kesetiaan Mahasiswa Setia
USAI bangun tidur pagi tadi, saya langsung menonton berita televisi. Ini bukan kebiasaan yang rutin. Karena biasanya, saya selalu jogging pagi ke seputaran rumah, sebelum mencicipi menu sarapan pagi saya, pisang goreng, teh manis hangat dan kompas.com. Aha, ini dia! Berita di SCTV itu judulnya “Mahasiswa Setia Peringati Sumpah Pemuda“. [Bisa juga meng-klik ini untuk menonton videonya]. Saya pun men-search kompas.com dan akhirnya mata saya tertuju pada judul “Makna Sumpah Pemuda bagi Mahasiswa Setia“. Sedih membacanya. Dan hati saya pun, bergejolak. Kasus ini bermula ketika adanya aksi-pengusiran warga terhadap mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar (Setia), sekaligus penutupan paksa kampus dan asrama mereka di Kampung Pulo, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, pada 27 Juli 2008. Sejak saat itu, ribuan mahasiswa bertahan hidup dan proses belajar yang tak menentu, mulai dari Bumi Perkemahan Cibubur, MPR/DPR, dan terakhir ini juga tak jelas nasib mereka, di bekas Kantor Walikota Jakarta Barat. Sengaja saya ingin berbagi inspirasi untuk teman-teman Kompasiana, tentang di balik makna Sumpah Pemuda yang sesungguhnya. Meski saya bukan ahli sejarah, dan bukan pula pemegang kekuasaan yang mampu mengubah sejarah, bisa jadi benar, bahwa perjuangan yang dialami anak muda era 1928 mirip dengan perjuangan mahasiswa Kampus Setia. Sumpah Pemuda 1928 Sumpah Pemuda lahir dari sebuah pertemuan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia atau (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Salah satu agenda penting dalam pertemuan itu, yakni membahas masalah pendidikan. Para pemuda sepakat, bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin, dan dipekikkan oleh puluhan anak muda pilihan daerah. Sumpah Pemuda 2009 Meski dalam nuansa semangat anak muda, tapi Upacara Sumpah Pemuda khususnya bagi mahasiswa Setia kali ini, dalam kondisi ironi. Seribu mahasiswa Setia menggelar upacara dengan sederhana, tanpa alunan musik dan tanpa santap siang ala istana. Kesamaan Sumpah Pemuda 1928 dan 2009 Upacara Sumpah Pemuda mahasiswa dan dosen Setia, berjalan dengan khidmat. Para mahasiswa tampak seolah melupakan sejenak mengungsi di negeri sendiri. Teks Sumpah Pemuda diucapkan dengan penuh lantang oleh mahasiswa yang hampir mewakili semua daerah di Indonesia. Peserta Sumpah Pemuda 1928, berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, sepertiJong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, danKaum Betawi. Berikut ini teks Sumpah Pemuda: Nah, pembacaan teks Sumpah Pemuda oleh mahasiswa Setia itu, juga berasal dari seluruh pelosok Tanah Air, di antaranya Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Sumatera, Papua, dan NTT. Setidaknya, semangat kebersamaan dan rasa nasionalisme tercipta di antara mereka. Sama persis ketika tahun 1928. Inilah yang saya salut. Mahasiswa Setia tetap bertahan dalam kesetiaan mereka pada NKRI. Keteguhan sikap mereka tetap bertahan dalam institusi pendidikan, telah menyamai sikap abdi negara untuk menjunjung nilai Pancasila dan UUD 1945. Bahkan, sebagian dari mereka berkomitmen untuk pulang kampung membangun daerah asal, setelah lulus nanti. Lantas, bagaimana dengan kelanjutan kasus Setia? Apa respon pemerintah, dan solusi permanen seperti apa yang ditawarkan? Entahlah, tapi saya berpikir positif saja. Mungkin, jawabannya masih dirahasiakan. Saya cuma bisa berdoa dan berharap, agar Pak Presiden kiranya mempunyai pilitical willdalam kasus ini. Tentunya saya percaya, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, Pak Beye dapat memerintahkan aparaturnya semisal Wakil Gubernur Jakarta Prijanto, untuk menetapkan lokasi kampus yang dijanjikan tahun lalu. Usai menulis ini saya juga berdoa, semoga Tuhan membukakan pintu hati warga Pinang Ranti Jakarta Timur, agar kembali menerima para mahasiswa Setia untuk belajar menuntut ilmu. Semoga. Salam Kompasiana !oleh ; Nancy Samola
Pertama, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Politik Kampus tai kucing?
Oleh : Galih nugroho Pada kesel ga sih kalau melihat dagelan politik yang sering ditampilkan oleh bapak-bapak dan Ibu-Ibu kita baik itu di pemerintahan, parlemen, kepolisian, kejaksaan, kehakiman, KPK, dan lain-lainnya. Semakin lama, kondisi politik di Indonesia semakin seperti sinetron yang tidak ada habisnya, bahkan selalu diperpanjang episodenya tanpa memberikan kepastian yang jelas! Pasti opini dari orang-orang pun beragam, ada yang geram, kesel, sudah tidak perduli yang penting bisa makan, sabodo teuing, kampretlah, dll. Saya berani menggeneralisir opini publik, pasti hasilnya adalah negatif. Kenapa bisa kayak gitu sih? Sebelum, dikasih tau sedikit tentang permainan mereka terhadap kekuasaan yang mereka miliki dan keinginan untuk terus mempertahankannya dengan cara apapun, kita lihat dulu yuk kondisi politik kampus kita sendiri. Kenapa harus liat kondisi di kampus sendiri dulu? Ya, iyalah kan kita sebagai mahasiswa yang selama ini menggembargemborkan sendiri, kalau kita adalah center of intellectual, agent of change, the universal opposition, dan iron stock buat bangsa ini, MASIH ingat kan! Saya sendiri berpendapat kalau politik kampus adalah miniatur politik yang ada di negara sebenarnya, perbedaannya hanyalah di sistem kelembagaannya, sistem politiknya (pemira, partai kampus , stakeholder, pelaku, pemilih, dll terkait unsur politik), tetapi kalau perilaku politiknya sorry to say, HAMPIR SAMA AJA KITA SEMUA! Masih ga ngaku? Yuk mari kita berkaca yuk!!! Oke, sekarang saya akan memberikan sedikit argumen yang menjadi salah satu penentu terbesar (karena rantai hitamnya terlalu banyak) kenapa politik di negara kita ini ya kayak sekarang. Indonesia ini kan memakai sistem Presidensialisme, tetapi masih belum menciptakan pemerintahan yang stabil dan efektif! Hal ini karena sistem presidensialisme disandingkan dengan sistem multipartai. Lumayan lucu, kalo sistemnya multi partai, berarti secara langsung maupun tidak langsung, ya Presiden akan merangkul orang dari partai yang masuk di parliamentary threshold DPR untuk dijadikan menterinya di kabinet. Wajar kalau ancaman parpol DPR terhadap Presiden adalah menarik dukungan koalisinya. Ditambah lagi perilaku partai politik yang sama saja pragmatisnya. Partai-partai politik yang ada di Indonesia hanya melakukan persaingan sampai sebatas kontestasi pemilihan umum, setelah itu mereka semua akan bertindak secara kolektif sebagai suatu kelompok untuk mempertahankan eksistensi partainnya dan mengakumulasi kapital lah ujung-ujungnya (proyek2 di kementrian, parlemen, KKN sih pada akhirnya). Contoh konkretnya nya lihat aja Pemilu tahun 2009 partai-partai bergabung kan menyerang KPU dan meminta diadakan Pemilu ulang? Yaiyalah jelas Pemilunya rusak, orang anggota KPU dan UU Penyelenggara pemilunya juga kacau!! (akibat kelamaan legislasi di DPR juga sih ujung2nya, wajar kalau KPUnya prematur, masa Ketua KPU nya latar belakang akademisnya dari bidang agama.. haha, emang dibuat jd dagelan semua ini!!) contoh lainnya? ya tadi, mau masuk ke kabinet dirangkul oleh Presiden dan bahkan menjilat, serta membuat kesepakatan-kesepakatan politik dengan Presiden meminta jabatan, padahal ideologi partainya sama ideologi partai Presidennya beda loh!! Ditambah lagi sama sifat Presiden kita yang “katanya” sih merangkul, tapi malah mereduksi oposisi negara!! Di parlemen pun, mereka akan berkoalisi tanpa mementingkan ideologi partainya. Contoh lagi, Partai Demokrat yang mau merangkul PKS, PPP, PKB, dan Pan yang jelas-jelas ideologi partainya beda. Contoh konyolnya lagi Presiden membuat Setgab, sebagai forum kordinasi partai di luar kabinet dan parlemen, yang konon katanya kekuatannya sangat kuat untuk mengintervensi kebijakan kabinet dan parlemen. Kenapa ga kita harus ga percaya? Wong, orang di Setgab biasanya dedengkot partainya, ya pasti didengerlah sama cunguknya yang ada di kabinet dan parlemen. Ironis bung!!! Satu lagi yang lumayan lucu, Partai demokrat juga membuka komunikasi ke PDI-P untuk membicarakan Pilpres 2014. Lah terus dimana oposisi buat negara yang resmi? Satu2nya yang bisa jadi oposisinya adalah Rakyat dan Mahasiswa dong kalo kayak gini!!!! Nah, dengan SISTEM RANTAI HITAM yang sudah membelenggu seperti di atas! Inget kanpower tends to corrupt,absolute power corrupts absolutely? Sistem kelembagaan yang check and balancenya kacau, perilaku partai politik yang pragmatis, ditambah perilaku pejabat yang juga korup, tidak ada sistem oposisi yang jelas, ya SANGAT wajar kalau kekuasaan mereka ga ada yang membendung, dan dijadiinlah kondisi politik negara ini jadi Sinetron yang ga ada abisnya. Mereka bersalah? Ya jelas, nah kita sebagai mahasiswa bersalah ga? Kalo menurut saya salahnya lebih parah dari mereka!!! kenapa? Mereka berbuat seperti itu mengejar kekuasaan yang rill dan uang pada ujungnya! Kalau kita? Mengejar apa? Kekuasaan? Hahaha (mau eksis aja di kampus), perjuangan? Yakin bung? Bukannya ribet sendiri ngejar kekuasan di kampus yang akhirnya malah mereduksi perjuangan itu sendiri …. Ideologi? Bullshit (di AS udah ga ngaruh! Di Malaysia pake syariat islam tuh, padahal penduduk muslimnya Cuma kurang dari 60%,, abis udah sejahtera รจ sama saja kan pragmatisnya kalau sudah sejahtera). Ya walaupun juga kita harus punya ideologi sebagai penunjuk jalan kita sih, Cuma gausah memandang ideologi ku yang paling benar, kelompokku benar, maka kelompokmu dan ideologi mu salah.. Siape yang tahu kayak begini?? Haha.. Politik itu tools bung, yang dijalankan dengan strategi sesuai sama kondisi dan cita-cita awal.. dalam konteks negara tujuannya adalah keadilan sosialm kesejahteraan, pendidikan bagus, kesehatan, keamanan, dll.. politik ya alatnya menuju itu semua. Makanya politik kalo dibagi ke 5 konsep itu ada kekuasaan, negara, pengambilan keputusan, kebijakan publik, dan distribusi (Miriam Budiarjo, 2008). Kesalahan atau DOSA yang kedua adalah kita sudah tahu kondisi di bangsa ini lagi kacau, tapi malah ribet sendiri => RAKYAT YANG JADI KORBAN TERBESARNYA MAU DIKEMANAIN? Kenapa ribet sendiri? Liat aja kondisi Pemira di kampus! Liat aja peperangan absurd ideologi.. wooyy ideologi parpol aja bakal pragmatis, karena sehabis pemilu mereka ga akan jalanin program sesuai dengan ideologi partainya. Parpol apapun yang menang juga bakal sama saja,, kecuali emang benar2 ada partai yang menjalankan pemerintahannya sesuai dengan program partainya pada saat kampanye. Mereka itu Cuma jual ideologi untuk mengeruk suara dari rakyat yang dekat dengan ideologinya. Padahal nantinya sama saja, bergabung2 juga sebagai kekuatan kolektif (KARTELISASI => Katz dan Mair, 1995). Hahaha. Kita emang zoon politicon kali kalo kata Plato, jadi wajar kalau kita berpolitik dan akhirnya berkelompok, seta berideologi. Ya Cuma kita beda bung sama parpol-parpol kampret itu, kita berpolitik untuk rakyat kampus dan rakyat Indonesia. Jadi ya dipikirinlah bentuk terbaiknya seperti apa seharusnya!!! Ini Pekerjaan Rumah kita bersama.. Salah satu lagi yang menjadi bahan kritikan saya adalah pola kaderisasi kampus yang dilakukan terlalu dini (baik yang dilakukan oleh organisasi intra maupun ekstra kampus). Mahasiswa baru sebagai sasaran empuk sebagai calon-calon kader, baik dari ideologi apapun. Wajar kalau akhirnya akan sama saja, sampai tahun-tahun berikutnya kalau pola terus seperti ini. biarkanlah mereka mengenal kondisi akademis dan kampus secara keseluruhan terlebih dahulu (adaptasi). Suka sedih sih kalau melihat mereka berkomentar dengan “kacamata kudanya” dan bahkan lebih bersemangat dan tajam dari yang memberikan infonya. Wajar kalau banyak yang bilang robot atau wayang. Hal ini karena memang terleading secara langsung maupun tidak langsung, atau karena memang yang mengkader sendiri tidak sadar? Siapa tahu!! Kalau pun mau menyebarkan pendidikan ke adik-adik kita, berikanlah dengan dua sisi, jangan propaganda. Beri tahu motif, tujuan, dan substansinya, serta yang paling penting ajarkan tentang kedewasaan berpolitik. Maka pola kaderisasi bukanlah hal yang menjadi bom waktu pada nantinya, apabila sudah diberi bekal yang cukup. Politik kampus dengan oposisi, itu harus supaya dinamis dan ada pengingat kalau emang yang sedang memegang jabatan salah. Ya Cuma, bedain kita sama politik di negara, kalau ada kritikan disampaikan di media massa yang cuma buat mendeligitimasi penguasa. Kalau mau kritik, ya kritik aja, tapi kalau sekiranya hanya untuk mendeligitimasi apalagi anarkis ya coba bayangin sendiri aja gimana nantinya.. Siapa yang rugi? Emangnya kalau sudah lulus dari kampus pada mau ngapain sih!!! Saya juga gatau kenapa kondisi politik kampus bisa menyedihkan seperti ini. apakah karena lupa tujuan awal tadi? Yang sebagai pusat intelektual, agen perubahan, oposisi kritis, potensi pembangunan, dan pengejawantah Tri Dhara perguruan tinggi. Kita harusnya balik ke tujuan awal itu, supaya ga terlalu pusing sama kondisi politik di kampus sendiri. Oposisi itu ya harus, Kritis itu ya harga mati, kalau pendeligitimasian yang nantinya hanya akan mereduksi perjuangan ya dipikir sendiri lagi deh. Berapa agenda nantinya yang terhambat? Yang rugi? Korban? Yang mengemban dosa? Kalau kita seperti ini yang senang ya sudah bisa dipastikan adalah Rektorat dan Pemerintah itu sendiri. Zaman 1998, sudah jelas musuh bersama kita adalah rezim orde baru, makanya bentuk perjuangannya pun ya seperti yang kita lihat. Kalau sekarang, musuh bersama kita agak absurd, karena musuh bersama kita ya sebenarnya DIRI KITA SENDIRI!!! Pemerintah sekarang sudah lebih pintar untuk meredam pergerakan mahasiswa. Oleh karena itu kita juga harus “menyegarkan” dan mencari strategi baru untuk meneruskan perjuangan kita, supaya apa yang kita perbuat sekarang bisa maksimal bagi kampus dan bangsa. Kenapa saya bilang pemerintah pintar? Selain sistem yang sedemikian rupa yang canggih untuk mereduksi, “Salah satunya” lainnya ialah banyak dari mereka juga aktivis tahun 60-an dan 98, yang juga sudah makan asam garam. Paling kita diketawa-tawain aja sekarang (opini pribadi sih).. Kalau sekarang mereka udah di pemerintahan, ya mereka bisa dong untuk memecah gerakan mahasiswa. Ingat kalau mau menghancurkan penjahat, berpikirlah sebagai penjahat!!! Mereka bisa dikatakan sudah ga takut sama mahasiswa zaman sekarang!! Oops sorry to say.. Kalau kita ga membenahi pola perjuangan. Hampir bisa dipastikan apabila kita sudah berkecimpung di kehidupan sesungguhnya, kita akan sama saja dengan mereka yang kita benci sekarang bung!! Sama siapa rakyat kampus bertumpu untuk membantu mereka memperjuangkan haknya dan menjamin kesejahteraan kampusnya? Sama siapa rakyat bertumpu sekarang? Siapa lagi kalau bukan kita yang katanya sebagai center of intellectuality! Yuk mari kita bersama-sama instropeksi dan refleksi diri. HIDUP MAHASISWA, HIDUP RAKYAT INDONESIA NB: Tulisan ini adalan bentuk refleksi bagi kita sebagai mahasiswa, terutama bagi saya sendiri sebagai salah satu pelaku. Bentuk terbaik dari politik kampus yang “terbaik” ialah tergantung dari kondisi, permasalahan dan kebutuhan di kampus masing-masing. Poin utama ialah balik ke pribadi kita masing-masing. Galih Ramadian N. P -Ketua BEM FISIP UI 2011-
