Dirgahayu HMIku, HMImu dan HMI kita




12969140891868087449
oleh Moch Eksan[1]
Saya masuk HMI pada tahun 1994. Saya sudah kenal HMI waktu masih di MA Miftahul Ulum Suren Jember. Saya tahu melalui Majalah Pesantren P3M, dan Aula NU Jawa Timur. Di majalah tersebut ada beberapa berita, wawancara maupun artikel yang ditulis oleh pentolan alumni HMI.

Cak Nur sebagai intelektual muslim terdepan HMI dan bangsa ini yang membuat saya tertarik pada organisasi yang dibidani oleh Prof Lafran Pane 5 Februari 1947 di Yogyakarta ini. Pasalnya, beberapa cuplikan berita, wawancara maupun artikel Cak Nur memberikan tawaran pemahaman keislaman yang murni, segar dan modern. Maklum Cak Nur sebagai salah satu tokoh pembaharuan Islam Indonesia.

Berawal dari ketertarikan pada pemikiran Cak Nur tersebut sejak mendaftar sebagai mahasiswa di STAIN Jember, saya sudah berketetapan hati untuk berproses di HMI. Walau niat saya, sempat ditentang oleh senior2 saya di IPNU-IPPNU Cabang Jember. Ada Cak Nur Ali, ada Mbak Syifa, ada Mbak Indah, tokoh2 IPNU-IPPNU yang notabene juga aktivis PMII, mengingatkan saya bahwa HMI itu tak seideologi dengan NU. HMI itu Muhammadiyah, PMIIlah yang NU dan seterusnya. Saya yang juga sudah jadi Ketua IPNU Ancab Silo Jember, justru dengan keras menentang pendapat para senior di atas. Tak benar HMI tak seideologi dengan NU. HMI itu Muhammadiyah. Dan, PMIIlah yang NU. Faktanya, Muhammadiyah punya IMM. HMI independen, dan PMII juga independen. Tak satu pun dokumen NU maupun PMII yang menyebutkan bahwa organisasi yang dibidani oleh Mahbub Junaidi, salah satu pentolan HMI ini, yang menyebut secara eksplisit sebagai underbrow NU.

Sikap kekeh saya ini yang mendorong Cak Ali Mudhari mengajak saya silaturrahmi pada dosen2 PMII STAIN Jember, Prof Halim dan Pak Zainuddin Jakfar. Cak Ali waktu itu jelang keberangkatannya ke Makassar untuk melanjutkan S2 di IAIN sana, kebetulan mendapatkan beasiswa. Barangkali saya dikenalkan dengan beliau, bisa merubah keputusan masuk HMI. Justru, usaha keras ini membuat saya kian penasaran dan rasa ingin tahu saya kian besar. Ada apa gerangan? Ternyata, semua ituPropaganda politik organisasi ekstra kemahasiswaan dalam melakukan rekrutmen anggota baru.

Pasca itu, saya praktis menjalani dua organisasi kepemudaan. Satu sisi sebagai aktivis IPNU, dan sisi lain sebagai aktivis HMI. Saya pernah menjadi sekretaris umum IPNU Cabang Jember pada 1994-1997, dan juga pernah menjadi ketua kekaryaan HMI Cabang Jember Komisariat Sunan Ampel pada 1997-1998 serta ketua pembinaan anggota HMI Cabang Jember pada 1998-1999.

Bagi sebagian kalangan, fenomena ini relatif jarang, seorang aktivis NU sekaligus aktivis HMI, aktivis HMI sekaligus aktivis NU. Namun demikian, saya tetap merasa bangga pernah dibesarkan dua organisasi kepemudaan di atas. Walau terkadang ini dijadikan “alat” untuk mendelegitimasi dan mengamputasi kekuatan politik dan sosial saya dalam menjalani pengabdian kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tak sedikit pun terbersit rasa kecewa terhadap hasil ijtihad organisasi saya ini. Saya benar2 merasa dua organisasi kepemudaan tersebut yang berjasa besar mengkontruksi pemikiran dan perjuangan saya lalu, kini dan nanti. Inilah HMIku.

Di pihak lain, ada dosen dan senior saya di STAIN Jember, Pak Bahruddin, justru pernah mewarning yunior2 untuk hati2 kepada saya. Saya dinilai sudah balik kandang, lantaran beberapa tulisan saya di Radar Jember, seperti Republik NU, HMI dan NU dalam Kontraksi dan lain sebagainya, dinilai membela mati2an Gus Dur pada saat proses impeachment. Sebab, bagi wali studi saya ini, HMI itu Muhammadiyah. Beliau sampai berkesempulan seperti itu lantaran banyak alumni Himpunan pasca purna mahasiswa aktif di perserikatan. Tetapi tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa HMI itu Muhammadiyah. Faktanya, ada alumni Himpunan yang aktif di NU, Al-Irsyad, Persis, MMI dan lain sebagainya. Itulah HMImu.

Jadi, HMI kita adalah organisasi ekstrauniversiter yang tampil dengan wajah warna warni, baik faham keislaman maupun dalam faham keindonesian. HMI kita merupakan “tenda besar” yang mengayomi terhadap keaneragaman aliran dalam Islam maupun dalamIndonesia. Di HMI organisasi kemahasiswaan yang terbuka pada ragam aliran tersebut. Tak ada bedanya, antara sunni dan syiah, antara kaum liberal dan kaum sosialis.
Semua memiliki kedudukan yang sama di hadapan konstitusi dan organisasi. Keterbukaan dan keluwesan ini yang mendorong HMI kita tak terjebak pada pemikiran dan gerakan ekstrim. Para aktivisnya dituntut untuk saling memberi dan menerima perbedaan yang ada. Perbedaan bukan sesuatu yang tabu, melainkan itu sunatullah untuk menguji makhluk dalam menerima kebenaran dan berpegang teguh pada kebenaran tersebut. Sebab, tiap orang pada hakekatnya cendrung pada kebenaran.

HMI kita yang sudah berusia 64 tahun sudah sangat dewasa. Apalagi dibanding dengan organisasi ekstra kemahasiswaan yang lain. Barangtentu, usia yang sangat dewasa tersebut menambah kematangan dalam pemikiran dan perjuangan. Semua itu terhijawantah pada muslim intelektual profesional. Yaitu sosok manusia yang akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, serta bertanggungjawab terhadap terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT.
Kreteria insan cita di atas menjadi semacam filter dari HMIku, HMImu, HMI kita. Di luar itu, betapa pun ia aktivis yang berdarah2 di HMI, sesungguhnya ia telah menyelewengkan dasar perjuangan Himpunan ini. Tanpa peduli, ia mantan ketua umum PBHMI sekalipun.

Garis ini sangatlah penting untuk memantapkan HMI sebagai organisasi kader yang bisa diserap oleh partai politik mana pun dan juga organisasi sosial kemasyarakatan apa pun. Dengan visi sebagai organisasi kader yang terbuka, maka peran dan fungsi HMI akan kian nyata dalam kehidupan bermasyarakatan, berbangsa dan bernegara. Kader dan alumni HMI jauh akan diterima dan akan berada dimana2. Inilah hakekat doktrin Islam rahmatan lil ‘alamin yang diperjuangkan oleh Cak Nur selama hidupnya. Selamat ulang tahun HMI. Mudah2an diusia ke-64 ini, HMI kian jaya.
Amien.

[1] Adalah alumni HMI Cabang Jember, mantan Anggota KPUD Jember dan saat ini sedang mengasuh padepokan Aziziyah bersama dengan Aziz Gagap dan aktivis social lainya di Bogor. 
Berpihak pada kaum buruh dan kaum teraniaya lainya..


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


64 Tahun, HMI Mau Kemana…??



By : Yus Efendi
1296882764364520575
Foto ; Kompasiana
Hari ini, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 2011, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merayakan Milad atau hari jadinya yang ke 64 tahun. HMI adalah organisasi mahasiswa tertua di Indonesia yang didirikan Prof. Lafran Pane dkk pada tanggal 05 Februari 1947 di Yogyakarta. Sejarah lahirnya HMI adalah sejarah pergumulan umat dan bangsa di bumi nusantara. Tepatnya, sejarah pergumulan kaum intelegensia muda Islam-Indonesia dalam interaksinya dengan umat dan bangsa di bumi nusantara. Makna kelahiran dan keberadaan HMI merupakan bagian integral dari semangat Islam masuk ke bumi nusantara dan semangat perjuangan kaum intelegensia muslim sebagai ‘blok historis’ yang menginisiasi kelahiran Negara Republik Indonesia pada awal abad ke-20.
Dalam lembaran sejarah lahirnya HMI di Indonesia, ada empat permasalahan bangsa yang membuat gelisah Lafran Pane dkk, sehingga kemudian menelurkan HMI sebagai alternatif gerakan perjuangan mahasiswa dalam perjuangan politiknya. Pertama, situasi dunia internasional yang tengah mengalami kemunduran pemikiran pembaharuan keislaman, sehingga dibutuhkan sebuah gerakan reformasi untuk mengembalikan pemikiran islam yang berpedoman pada Al-qur’an dan Hadist. Kedua, Situasi NKRI yang labil akibat agresi Belanda dan dibutuhkan sebuah gerakan untuk membungkam rezim kolonial yang mengancam keutuhan NKRI saat itu. Ketiga,kondisi umat islam yang masih terbelah dalam beberapa golongan dan mereka berusaha supaya agama Islam itu benar-benar dapat dipraktekkan dalam masyarakat Indonesia.. Keempat, kondisi perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan kala itu masih menganut paham sekuler yang berkiblat ke dunia barat dan seolah menenggelamkan paham islam yang menjadi anutan sebagian besar rakyat Indonesia, paham sekuler ini kemudian menimbulkan ketidakseimbangan mahasiswa dalam tidak adanya keselarasan antara akal dan kalbu, jasmani dan rohani, serta pemenuhan antara kebutuhan dunia dan akhirat.
Kondisi diatas merupakan cuplikan bagaimana HMI sebagai sebuah organisasi yang lahir untuk memperbaiki kegelisahan umat dan mengajak umat untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi kemajuan bangsa Indonesia. Terpaut hanya delapan belas bulan lebih muda dari usia NKRI. Bernafaskan keindonesiaan dan keislaman, HMI menjadi saksi sejarah perjalanan republik. Jatuh-bangun mulai era revolusi fisik, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, orde baru, hingga era reformasi. Setiap era, HMI senantiasa berupaya memberikan kontribusi yang terbaik kepada republik. Menjadi bagian penting dari tiap perubahan besar yang terjadi.
Gagasan Keislaman HMI
Gagasan keislaman-keindonesiaan yang diusung HMI menjadi sumbangsih gagasan yang sangat apik kepada bangsa, karena mampu mengimbangi ambisi golongan yang menghendaki terbangunnya negara dengan nalar dan sistem teokratik oleh nasionalisme berbalut Islam. Dan, Dahlan Ranuwihardjo, pantas menjadi salah satu ikon yang turut mempertebal karakter kebangsaan di dalam tubuh HMI ketika usia organisasi ini masih belia.
Pembaruan pemikiran Islam Indonesia berhasil lahir dari tubuh HMI pada era akhir 1960-an melalui pemikiran Nurcholish Madjid dengan jargon “Islam Yes, Parti Islam No” dan sekularisasi agama (Islam) yang terus berkembang menjadi narasi besar gelombang pembaruan pemikiran Islam hingga tahun 1990-an. Pada masa itu juga muncul Ahmad Wahib melalui limited group-nya yang oleh Greg Barton disejajarkan dengan Cak Nur dan Gus Dur sebagai tokoh pembaru Islam Indonesia.
Cakrawala pemikiran keislaman-keindonesiaan menjadikan HMI diposisikan sebagai kelompok Islam moderat. Pada masa awal peletakan develomentalisme Orde Baru, gagasan tersebut dianggap cocok menjadi pemikiran poros tengah untuk mengimbangi kekuatan Islam teokratik yang menghendaki negara Islam dan mainstream kelompok radikal kiri yang menginginkan negara totaliter. Saat itulah, sejarah kemudian mencatat kader-kader HMI berbondong-bondong masuk ke dalam birokrasi dan menjadi mesin penyuplay kader dari kelompok Islam selama pemerintahan Orde Baru. Kenyataan ini, kelak terus berjalan hingga membentuk watak politik kekuasaan dan menjadi bumerang kemandegan pemikiran di dalam tubuh HMI sendiri.
Independensi Arah perjuangan HMI
Kini anggota HMI berjumlah lebih dari 100 ribu orang yang tersebar di 186 cabang di seluruh Indonesia dengan berbagai kontribusi jutaan alumninya. Melihat potensi besar itu, HMI masih strategis dan merupakan aset vital untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Watak independensi HmI adalah sifat organisasi yang secara etis merupakan karakter dan kepribadian kader HmI. Watak independen ini mesti terwujud dalam kerangka pola pikir, pola sikap, dan pola laku setiap kader, baik menyangkut dinamika dirinya sebagai kader HmI maupun dalam melaksanakan hakekat dan mission organisasi dalam kiprah hidup berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ketegasan HmI sebagai organisasi independen mendorong kader-kader untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku berdasarkan keluasan, ketepatan, dan kearifan pandangan dalam menghadapi arus zaman.
Dengan ketegasan independensinya juga, HmI menjalankan interaksi, baik dalam konteks kemahasiswaan, kemasyarakatan, kebangsaan, maupun kenegaraan melalui semangat adaptasi dan bukan adopsi. Ini semata-mata dilakukan untuk mencapai cita HmI sebagai organisasi yang unggul. Sebab, sebagaimana dikatakan Charles Darwin, “bukanlah yang terkuat yang akan terus hidup, melainkan yang paling adaptif”. Lingua franca yang dilaksanakan HmI senada dengan ungkapan bijak bahwa tiada yang abadi di dunia kecuali perubahan itu sendiri. HmI berrcita-cita melakukan upaya-upaya perubahan agar mampu beradaptasi – tanpa kehilangan identitasnya sebagai organisasi kader – dalam menjawab tantangan zaman.
HMI menggariskan dirinya sebagai organisasi yang bersifat Independen. Independensi dimaknai dua hal, independensi etis dan organisatoris. Independensi etis bermakna setiap anggota HMI berpihak dan memperjuangkan kebenaran, yang didasarkan pada pemahaman teologis bahwa fitrah manusia adalah hanief, cenderung pada kebenaran. Oleh karena anggota HMI independen secara etis, maka konsekuensinya secara organisasi HMI juga independen. Tidak berada di bawah atau menjadi underbouw organisasi apapun, karena akan membatasi ruang implementasi spirit independensi, kalaupun bukannya membunuh spirit independensi itu sendiri.
Dalam aksinya, HMI secara organisasi hanya boleh menunjukkan keberpihakan pada kebenaran atau kepada pihak yang mana kebenaran melekat padanya. Untuk tahu yang benar dan salah dibutuhkan pengetahuan atau ilmu. Disinilah nampak keterkaitan antara keyakinan independensi (dimensi iman) yang bisa terimplementasi dengan baik (dimensi amal) apabila didukung oleh ketersediaan pengetahuan (dimensi ilmu). Atas dasar itu di HMI tidak pernah sepi digaungkan pentingnya intelektualisme sebagai tradisi, yang bukan saja penting bagi bekal individu tapi juga menyangkut kiprah organisasi.
Mengembalikan Khittah HMI
Acapkali tradisi intelektualisme dihadapkan dengan orientasi politik. Intelektualisme dinilai sebagai anak kandung idealisme, sementara orientasi politik dinilai sebagai bentuk telanjang dari pragmatisme. Cara pandang dikhotomis seperti ini tidak selalu tepat dan menguntungkan. Yang kurang baik adalah implikasi jangka panjangnya, di mana wilayah politik dijauhkan dengan warna, tradisi, dan komitmen intelektual. Inilah yang menjadi faktor penyebab mengapa kehidupan politik masing kering dari warna dan pengaruh intelektual.
Arah intelektualisme yang dikembangkan di HMI justru bertugas untuk mendamaikan wilayah akademis-intelektual dengan wilayah perjuangan politik praktis. Keduanya bukan saja harus direlasikan secara positif, tetapi bahkan wilayah perjuangan politik layak ditempatkan sebagai (bagian) kelanjutan proses pematangan intelektual di HMI, termasuk organisasi-organisasi mahasiswa yang lain.
Dalam kaitan itu, yang harus dikembangkan dalam rangka memajukan intelektualisme HMI bukanlah antiorientasi politik, melainkan kemampuan untuk menjaga independensi, ‘bersabar’ dan mencari waktu yang tepat untuk berkiprah di jalur perjuangan politik, setelah menjadi alumni. Justru intelektualisme kemudian menjadi salah satu modal berharga bagi para alumni HMI yang berkiprah di dunia politik, di samping kemahiran berorganisasi dan keterampilan komunikasi sosial.
Sesuai dengan misi HMI yang bergerak dalam ranah kebangsaan, kemahasiswaan, dan keislaman. Kini bukan saatnya lagi untuk bermimpi melakukan perbuatan besar dan menjadi pahlawan yang memiliki nama harum dan dicatat dalam sejarah. Melainkan, yang penting saat ini adalah hari di mana HMI dituntut untuk membuktikan komitmennya terhadap permasalahan- permasalahan kebangsaan terkini. Kemiskinan, pengangguran, kelaparan, minimnya pengetahuan tentang kesehatan adalah masalahmasalah riil bangsa ini. HMI tidak hanya mengurusi masalah pergantian pemerintahan atau rezim, atau dukung tidak mendukung terhadap kekuatan politik yang ada, melainkan sebuah keharusan dan kewajiban untuk turut memecahkan berbagai bentuk masalah tersebut.
Kader HMI sudah seharusnya menjadi panutan dan suri tauladan bagi masyarakat di lingkungannya. HMI seharusnya sudah mampu melakoni perubahan dan mengaktori ritme perbaikan di negeri mayoritas muslim ini. Kita barangkali sepakat, HMI memiliki tanggungjawab sejarah yang lebih besar dibandingkan dengan entitas pergerakan lainnya, khususnya dalam menjaga kontinuitas kebangsaan dan memerangi segala bentuk ketidakmerdekaan dalam kehidupan rakyat. Yakin Usaha Sampai (yef)


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


HMI, IMM dan PMII Sebuah Potret Politik Islam



By Safari Ans
Hanya kader PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) yang pernah jadi Presiden, yakni Gus Dur. Kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) walau basisnya amat kuat dalam panggung politik, tetapi belum pernah melahirkan seorang Presiden. Apalagi IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), tetapi tokoh Muhammadiyah pernah menyebut bahwa Soekarno adalah kader Muhammadiyah. Jika keberhasilan politik Islam ditakar dengan kedudukan politik tertinggi adalah kursi Presiden.
Kader politik Islam memang sudah digodok sejak mahasiswa. PMII sebagai kader yang kelak akan bergerak dalam payung politik NU (Nahdlatul Ulama). IMM kelak akan berpayung Muhammadiyah sebagai organisasinya. HMI lebih memilih tanpa payung kecuali sebuah forum silaturahmi yang bernama KAHMI (Korp Alumni HMI). HMI lebih banyak menyebarkan kader politik ke dalam berbagai partai politik baik ke Golkar, Demokrat, PDIP maupun PPP.
Kendati kader politik HMI banyak memegang pucuk pimpinan partai, HMI belum berhasil menelorkan seorang Presiden. Akbar Tandjung lama menjadi Ketua Umum Golkar tapi gagal menjadi presiden. Nurcholish Madjid sebagai tokoh penting HMI, hanya sempat menjadi salah satu calon presiden sebelum ia wafat karena gagal operasi hati di Singapura. Kini kader HMI banyak berharap dengan Anas Urbaningrum, ketika pemuda mantan Ketua Umum PB HMI ini dipercaya menjadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Akankah Anas berhasil menjadi presiden pada 2014. Masih terlalu pagi untuk menebak. Sebab senior Partai Demokrat buru-buru memberikan pernyataan bahwa Ketua Umum DPP Partai Demokrat tidak secara otomatis adalah calon presiden.
Walau gagal menjadi presiden, kader HMI telah menjalar ke berbagai profesi dan menjadi menteri. Hampir setiap periode kabinet di Indonesia, kader HMI selalu ada. Yang agak sulit dimasuki oleh kader HMI adalah Departemen Agama. Karena Depag lebih menjadi basis kader PMII, Surya Dharma Ali sang Menteri Agama sekarang adalah mantan Ketua Umum DPP PMII. Pengalaman non kader PMII menjadi Menag, seperti  Malik Fajar yang merupakan kader IMM, tidak terlalu berhasil memimpin Depag, karena bawahannya masih PMII. Menurut ceritanya, manajemen Depag tidak dapat berjalan baik, ketika Menag berasal dari unsur bukan NU. Dan itu tradisi sejak era reformasi sekarang.
Gesekan politik antara basis HMI, PMII dan IMM ini amat keras sejak di bangku kuliah. Khususnya di perguruan Islam seperti UIN atau IAIN. Gesekan politik kampus ini telah menjadi permanen sejak dulu hingga kini sehingga mewarnai politik Islam di tanah air. Mulai dari soal siapa dekan dan siapa rektor, ketiga unsur mahasiswa Islam ini ikut menentukan. Dari aspek kemasiswaan akder HMI lebih banyak di UIN, sehingga posisi penting kampus lebih didominasi oleh kader HMI ketimbang unsur IMM dan PMII. Agaknya, pewarnaan politik kampus ini telah menjadi blue print politik nasional yang sering diserap oleh para petinggi politik di tanah air. (baca: Muhammadiyah Tidak Bakal jadi Cawapres)
Sayang, pergerakan mahasiswa Islam ini lebih kepada keasyikan politik ketimbang gerakan intelektual sehingga pembaharuan pemikiran Islam terabaikan. Padahal dunia masih membutuhkan sosok Nurcholish Madjid dan dunia membutuhkan sosok Gus Dur lagi. Dimanakah mereka?


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Independensi Kekuatan Politik HMI



By : Wahyu Triono
Tanggal 5 Februari 2011 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap berusia enam puluh empat tahun, Sebuah perjalanan sejarah yang panjang untuk mencatatkan prestasinya bagi kepentingan bangsa Indonesia. Suatu organisasi kemahasiswaan Islam yang terlahir dari rahim suci ibu pertiwi dengan suatu komitmen ke-islaman, ke-indonesiaan dan ke-intelektualan.
Ditengah kritisisme dan pesimisme banyak kalangan –termasuk para aktivis dan alumninya- akan masa depan HMI, saya secara pribadi masih menyimpan sejumlah optimisme bahwa HMI akan tetap menjadi anak kandungnya umat (rakyat) bangsa Indonesia sepanjang masih memiliki visi, misi dan tujuan yang tak pernah berubah dari cita-cita awal didirikannya HMI.
Mengapa optimisme itu masih disandarkan pada HMI ? Lantaran sebagai organisasi kemahasiswaan Islam tertua di Indonesia, HMI memang bukan sebagai organisasi politik, akan tetapi HMI memiliki kekuatan politik melalui independensinya.
Dalam perspektif semacam itu kekhawatiran terhadap intervensi kekuatan politik dan ekonomi alumninya, atau kekuatan kekuasaan politik kenegaraan tampaknya tidak perlu untuk dirisaukan. HMI memiliki kekuatan politik bukan pada proses dukung mendukung atau tolak menolak berdasarkan kalkulasi dan perhitungan politik kekuasaan, lebih dari sekedar itu HMI masih memiliki komitmen yang kuat bagi tumbuh suburnya masyarakat madani atau civil society di Indonesia.
Independensi HMI
Dalam mewujudkan tujuan HMI, ”terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”, HMI memiliki kekuatan Independensi yang bersumber pada nilai-nilai ruhani dan spritualitas yang tinggi bahwa hakekat kemanusiaan setiap manusia akan selalu cenderung kepada nilai-nilai kebenaran (hanif).
Kecendrungan setiap manusia kepada nilai-nilai kebenaran (hanif) itu pula yang meletakkan posisi independensi HMI berdasarkan nilai-nilai perjuangannya pada nilai-nilai kebenaran yang paling hakiki dalam merealisasikan moral politiknya, sebagaimana di dalam Al-Qur’an, ”Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka ialah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran: 104).
”Kamu ialah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran: 110),
”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (ialah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana” (QS. At-Taubah: 71).
Dengan sandaran yang bersifat transendental itulah maka HMI memiliki kekuatan politik, tepatnya moral politik yang besar untuk mendorong hadirnya kehidupan masyarakat madani (civil society) di Indonesia.
Dalam tinjauan yang sangat teoritis kekuatan moral politik HMI juga mesti mendorong hadirnya komunikasi politik yang makin terbuka sebagai suatu syarat hadirnya masayarakat madani (civil society)sebagaimana Gramsci mensyaratkan dua syarat bagi terbentuknya masyarakat madani (civil society),yaitu: Pertama, sangat tergantung pada tersedia atau tidaknya sebuah ruang atau pentas bagi pertarungan ide, gagasan atau ideologi. Karenanya masalah demokrasi dan masyarakat madani (civil society) tidak bisa dipisahkan dari komunikasi politik.
Kedua, prasyarat bagi kehidupan masyarakat madani (civil society) adalah lenyapnya feodalisme sebagai ideologi tunggal. Sebaliknya, feodalisme akan terkikis dengan sendirinya bila daya kritis dan kreatif masyarakat dibuka. Untuk membuka semuanya ini, perlu diciptakan suatu “medan komunikasi terbuka”, termasuk komunikasi politik.
Bagi aktivis, kader HMI dan alumni HMI sudah semstinya mendorong kekuatan politik moral HMI untuk merealisasikan independensinya pada kekuatan untuk dukung mendukung dan menyeru pada yang ma’ruf dan kebajikan dan tolak menolak pada kemungkaran, beriman dan mentaati Allah serta Rasulnya. Bukan pada prakmatisme politik yang bukan menjadi jati diri HMI.
Tantangan Masa Depan HMI
Tak dapat dipungkiri, bahwa dalam merealisasikan politik moralnya, HMI menghadapi berbagai tantangan dan problematikanya di sepanjang perjalanan sejarah HMI. Tantangan dan problematika itu bukan saja datang dari kekuatan tarik-menarik kekuasaan politik kenegaraan akan tetapi juga dari tarik-menarik kekuatan di dalam internal HMI pada prakmatisme politik dan idealisme.
Masa depan HMI ditentukan oleh seberapa besar HMI mampu menghadapi tantangan dan problematika yang dihadapi dengan senantiasa menjaga nilai-nilai independensinya. Dan dalam menjaga independensinya itu HMI mesti mengorientasikan perkaderannya tetap pada tiga nilai-nilai utamanya:
Pertama, nilai-nilai ke-islaman mesti menjadi orientasi bagi perkaderan HMI. Dengan nilai-nilai ke-islaman yang inklusif, HMI mampu menciptakan suasana keagamaan yang kondusif dalam kondisi dan tantangan keagamaan di Indonesia yang terus menghadapi problem penistaan agama dan menjaga pluralisme di Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi HMI untuk selalu hadir dalam menyelesaikan problem-problem keumatan secara nyata sehingga HMI akan benar-benar menjadi anak kandung umat.
Kedua, nilai-nilai ke-indonesia adalah merupakan bagian yang menjadi orientasi pula dalam perkaderan HMI. Nilai-nilai ke-indonesiaan itu sebagai wujud bahwa politik moral HMI benar-benar dapat direalisasikan bagi kemajuan bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia menjadi negeri yang baik dengan Tuhan yang maha pengampun, Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur (QS. Saba: 15), suatu negeri yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo yang diridhoi Tuhan.
Ketiga, nilai-nilai ke-intelektualan mesti pula senantiasa menjadi orientasi dalam perkaderan HMI. Perkaderan HMI diorientasikan pada pengembangan visi intelektual kadernya. Energi yang besar ini akan menjadi potensial bagi pengembangan HMI menjadi kampus kehidupan yang paling nyata bagi mahasiswa di seluruh Indonesia.
HMI akan mampu membangun nilai-nilai intelektual sepanjang HMI senantiasa menjadikan setiap perkaderannya menjadi tempat tumbuh suburnya budaya mendengar, dengan pengembangan budaya dialog, berdiskusi dan berdebat baik secara formal maupun informal. Mengembangkan budaya membaca baik dalam makna yang tekstual maupun konstektual dalam membaca perkembangan zaman yang makin pesat dan maju, sehingga kader-kader HMI memiliki wawasan intelektual yang luas dan memiliki analisis yang memberi solusi bagi kepentingan sebuah kemajuan. Dan mengembangkan budaya menulis untuk menyusun ide dan gagasan secara konseptual yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan Umat (rakyat) bangsa Indonesia.
Pertanyaan yang paling krusial yang mesti kita kemukakan adalah, dapatkah HMI terus menerus menjaga independensinya untuk mewujudkan harapan dan cita-cita suci itu sebagai suatu kekuatan moral politik di Indonesia?
Optimisme tampaknya mesti terus kita sandarkan kepada HMI agar mampu menjadi moral politik untuk tumbuhnya masyarakat madani (civil society) di Indonesia. Kepada Nur Fajriansyah, Ketua Umum PB HMI dan kepada aktivis dan kader HMI seluruh Indonesia tidak berlebihan kalau kita titipkan optimisme itu kepada mereka. Kita ingin HMI menjadi Harapan Masyarakat Indonesia sebagaimana harapan Jenderal Soedirman pada diesnatalis HMI yang pertama. Selamat Milad HMI ke-64, Jayalah HMI !
Penulis adalah Ketua PB HMI 2002-2004, Koordinator MPK PB HMI 2004-2006 dan Wakil Sekretaris Jenderal PKMN KAHMI 2009-2012.


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Polisi dan Mahasiswa



Oleh : Thamrin Dahlan

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN

Polisi menangkap mahasiswa yang berunjuk rasa mendesak mundurnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (20/10/2010). Dua aktivis mahasiswa ditangkap polisi sedangkan satu mahasiswa mengalami luka tembak di bagian kaki.

Ulasan :
Polisi dan mahasiswa dibenturkan di lapangan, sementara yang menjadi penyebab kerusuhan duduk - duduk santai di ruang ber Ac sambil menonton siarang langsung TV. Akhirnya kedua kelompok yang di bentur benturkan itu ada yang menjadi korban. Tertembak kakinya dan diantara polisi ada juga yang cidera.
Polisi bersikap simpatik, mereka akan menanggung seluruh biaya pengobatan dan perawatan mahasiswa yang tertembak kakinya. Sikap yang patut di ajungkan jempol, karena sesungguhnya mereka tidak ingin bentrok, hanya saja suasana di lapangan yang kemudian tak terkendalikan.
Polisi yang bertugas itu adalah pemuda pemuda yang baru tamat SMA, malah ada juga diantara mereka yang telah menjadi sarjana. Masuk kedalam Korp Kepolisian Negara Republik Indonesia setelah dididik di sekolah calon bintara selama setahun. Sebenarnya diantara mahasiswa pen demonstran itu ( ” lawan tanding “) itu adalah teman teman mereka di SMA dulu. Namun di lapangan mereka terpaksa bentrok, entah untuk urusan siapa
Pemuda Bhayangkara itu, siap melaksanakan perintah atasan, melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat. Dengan sikap profesionalisme dan disiplin tinggi serta perlengkapan lapangan yang melindungi tubuh mereka, anggota Polri siap dan selalu siaga untuk mengawal pendemontrans, karena itulah tugas pokok Polri
Sementara mahasiswa sebagai simbol suara rakyat, dengan tidak mengharapkan imbalan sesuatu, mereka rela berjuang menyampaikan aspirasi hati nurani rakyat. Anak anak ini, semua adalah anak anak terbaik dari generasi nya, mereka tetap belajar, kuliah denganm tekun, namun kondisi rakyat memanggil mereka unutk menyuarakan tuntutan kepada penguasa (pengusaha).

Demontrans harus di hormati hak menyampaikan pendapatnya dan tuan - tuan penguasa seharusnya keluar dan turun dari singasana untuk menemui para pendemontran itu. Berbicaralah, berdialog lah, tidak akan ada terjadi unjuk rasa anarkis. Dan Polisi akan lebih enteng tugasnya, tetapi bila tuan tidak keluar (tidak berani) berdialog inilah kejadiannya.

Yah, Polisi dan mahasiswa dibentur benturkan, sejatinya mereka adalah putra putra terbaik bangsa ini, namun yang menjadi sumber masalah itu tetap saja, diam seribu bahasa, sudah dungu kah tuan.
Dalam suasana memperjuangkan hati nurani rakyat, ajaibnya tidak seorangpun yang menamakan dirinya wakil rakyat turun kejalan, menyingsingkn jas mahalnya sejenak, bergabung dengan pemilihnya dulu. Tidak tidak ada anggota dewan terhormat itu disana.
Bapak Polisi, laksanakan tugasmu dengan baik, walau gaji yang engkau terima tak pernah cukup, remunerasi tak kunjung di bayarkan, sedangkan tantangan pekerjaanmu adalah menyabung nyawa. Secara berseloroh seorang Bapak Polisi senior bergurau, Alhamdulillah gaji yang kami terima saat ini adalah lima koma. wah lima juta sebulan cukup dong. Ya lima koma, tanggal 5 keluarga kami sudah koma……..
Ironis ; diantara Bapak - bapak Polisi tua yang bertugas mengawal pendemostran itu , terdapat anak mereka yang menjadi mahasiswa universitas unggulan , ikut demonstran. Oh dunia (tuan tuan penguasa) kenapa bapak - anak ini kau benturkan dijalanan………….


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Supersiswa Bukan Mahasiswa




oleh : hendro

“Pemirsa…Saat ini kita sedang menyaksikan pertandingan yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu pertandingan adu kekuatan antara dua kelompok supersiswa yang spectakuler dan mengherankan. Masing-masing perwakilan supersiswa ini sedang adu kekuatan siapa yang paling cepat merubuhkan pagar beton. Kelompok supersiswa mana yang akan menang, mari kita saksikan bersama”

Begitulan kira-kira reporter menyiarkan beritanya apabila TV Berita menerima usulan saya untuk menyalurkan bakat para mahasiswa yang mempunyai energi lebih dan perhatian lebih atas masalah-masalah negaranya.

Saat ini kita prihatin dengan berita negatif tentang demo mahasiswa yang notabene adalah agent of change yang sangat kita harapkan bagi kemajuan negara kita. Apa yang sebenarnya dicari oleh para mahasiswa yang demo sampai rusuh itu.

Ada beberapa sebab, antara lain ada pameo dikalangan mahasiswa bahwa kalo belum demo belum jadi mahasiswa betulan karena belum menunjuk eksistensinya (jadi inget demo jadul menolak pembangunan waduk kedungombo). Tetapi yang menarik perhatian saya tulisan kompasianer bung Yusran Darmawan yang mengatakan :

boleh jadi para mahasiswa itu berharap bisa diliput oleh media massa secara luas. Saya sering mendengar cerita para mahasiswa yang menunda demonstrasi hanya gara-gara para jurnalis belum tiba. Mungkin saja mahasiswa itu hendak meniru Presiden SBY yang menunda pidato hanya gara-gara belum datang reporter televisi”

Untuk menyalurkan mahasiswa yang berpikiran mau eksis dan narsis seperti ini tentu kita harus mencari solusinya. Untuk itu perlu dipikirkan usulan ke “TV Berita” agar menyalurkan bakat dan aspirasinya.

Bukankah TV-TV itu sudah melibatkannya dalam acara-acara seriusnya.?? Kalau menurut saya belum maksimal. Harusnya TV Berita memahami jiwa muda mahasiswa yg memang maunya eksis dan narsis. Rasanya tidak cukup kalo cuma ditampikan sebagai penonton di acara debat atau dialog-dialog politik karena kurang menggigit kata mereka. Menjadikan mereka hanya sebagai asesoris sebuah acara benar-benar meremehkan eksistensi mereka saja.

Bikinlah acara yang tokoh sentralnya mahasiswa itu sendiri, misalnya debat antar mahasiswa yang pro dan kontra atas masalah-masalah kenegaraan , biar para mahasiswa dapat unjuk gigi dengan aspirasi dari pikiran-pikiran mereka sendiri, tentu dengan otak… bukan otot.

Nah yang senangnya demo pakai otot bagaimana..? Bikinlah acara adu otot…. apa ya kira-kira?… adu kuat ngangkat beton trotoar mungkin… atau adu otot siapa yang paling kencang teriak mengenai masalah sosial politik… atau adu kuat dorong pagar sampai roboh… atau yang paling extrim mungkin adu kuat dorong-dorongan dengan polisi… kan asyik tuh… ratingnya pasti tinggi.

Jadi mahasiswa punya pilihan atas penyaluran aspirasi plus eksistensinya. Dan Stasiun TV pun banjir iklannya.. Enak toh…

Siapa bilang mau eksis nggak boleh lebay ??…

Mau eksis ??….Lebay pliss…!!!

Piss… ahhh

Nb : mohon maaf bung Yusran, saya kutip tulisannya nggak bilang dulu…



Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Kesetiaan Mahasiswa Setia



oleh ; Nancy Samola

USAI bangun tidur pagi tadi, saya langsung menonton berita televisi. Ini bukan kebiasaan yang rutin. Karena biasanya, saya selalu jogging pagi ke seputaran rumah, sebelum mencicipi menu sarapan pagi saya, pisang goreng, teh manis hangat dan kompas.com.

Aha, ini dia! Berita di SCTV itu judulnya “Mahasiswa Setia Peringati Sumpah Pemuda“. [Bisa juga meng-klik ini untuk menonton videonya]. Saya pun men-search kompas.com dan akhirnya mata saya tertuju pada judul “Makna Sumpah Pemuda bagi Mahasiswa Setia“. Sedih membacanya. Dan hati saya pun, bergejolak.

Kasus ini bermula ketika adanya aksi-pengusiran warga terhadap mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar (Setia), sekaligus penutupan paksa kampus dan asrama mereka di Kampung Pulo, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, pada 27 Juli 2008. Sejak saat itu, ribuan mahasiswa bertahan hidup dan proses belajar yang tak menentu, mulai dari Bumi Perkemahan Cibubur, MPR/DPR, dan terakhir ini juga tak jelas nasib mereka, di bekas Kantor Walikota Jakarta Barat.

Sengaja saya ingin berbagi inspirasi untuk teman-teman Kompasiana, tentang di balik makna Sumpah Pemuda yang sesungguhnya. Meski saya bukan ahli sejarah, dan bukan pula pemegang kekuasaan yang mampu mengubah sejarah, bisa jadi benar, bahwa perjuangan yang dialami anak muda era 1928 mirip dengan perjuangan mahasiswa Kampus Setia.

Sumpah Pemuda 1928

Sumpah Pemuda lahir dari sebuah pertemuan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia atau (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Salah satu agenda penting dalam pertemuan itu, yakni membahas masalah pendidikan. Para pemuda sepakat, bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin, dan dipekikkan oleh puluhan anak muda pilihan daerah.

Sumpah Pemuda 2009

Meski dalam nuansa semangat anak muda, tapi Upacara Sumpah Pemuda khususnya bagi mahasiswa Setia kali ini, dalam kondisi ironi. Seribu mahasiswa Setia menggelar upacara dengan sederhana, tanpa alunan musik dan tanpa santap siang ala istana.

Kesamaan Sumpah Pemuda 1928 dan 2009

Upacara Sumpah Pemuda mahasiswa dan dosen Setia, berjalan dengan khidmat. Para mahasiswa tampak seolah melupakan sejenak mengungsi di negeri sendiri. Teks Sumpah Pemuda diucapkan dengan penuh lantang oleh mahasiswa yang hampir mewakili semua daerah di Indonesia. Peserta Sumpah Pemuda 1928, berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, sepertiJong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, danKaum Betawi.

Berikut ini teks Sumpah Pemuda:

Pertama, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Nah, pembacaan teks Sumpah Pemuda oleh mahasiswa Setia itu, juga berasal dari seluruh pelosok Tanah Air, di antaranya Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Sumatera, Papua, dan NTT. Setidaknya, semangat kebersamaan dan rasa nasionalisme tercipta di antara mereka. Sama persis ketika tahun 1928.

Inilah yang saya salut. Mahasiswa Setia tetap bertahan dalam kesetiaan mereka pada NKRI. Keteguhan sikap mereka tetap bertahan dalam institusi pendidikan, telah menyamai sikap abdi negara untuk menjunjung nilai Pancasila dan UUD 1945. Bahkan, sebagian dari mereka berkomitmen untuk pulang kampung membangun daerah asal, setelah lulus nanti.

Lantas, bagaimana dengan kelanjutan kasus Setia? Apa respon pemerintah, dan solusi permanen seperti apa yang ditawarkan? Entahlah, tapi saya berpikir positif saja. Mungkin, jawabannya masih dirahasiakan. Saya cuma bisa berdoa dan berharap, agar Pak Presiden kiranya mempunyai pilitical willdalam kasus ini. Tentunya saya percaya, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, Pak Beye dapat memerintahkan aparaturnya semisal Wakil Gubernur Jakarta Prijanto, untuk menetapkan lokasi kampus yang dijanjikan tahun lalu. Usai menulis ini saya juga berdoa, semoga Tuhan membukakan pintu hati warga Pinang Ranti Jakarta Timur, agar kembali menerima para mahasiswa Setia untuk belajar menuntut ilmu. Semoga.


Salam Kompasiana !


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Politik Kampus tai kucing?




Oleh : Galih nugroho

Pada kesel ga sih kalau melihat dagelan politik yang sering ditampilkan oleh bapak-bapak dan Ibu-Ibu kita baik itu di pemerintahan, parlemen, kepolisian, kejaksaan, kehakiman, KPK, dan lain-lainnya. Semakin lama, kondisi politik di Indonesia semakin seperti sinetron yang tidak ada habisnya, bahkan selalu diperpanjang episodenya tanpa memberikan kepastian yang jelas! Pasti opini dari orang-orang pun beragam, ada yang geram, kesel, sudah tidak perduli yang penting bisa makan, sabodo teuing, kampretlah, dll. Saya berani menggeneralisir opini publik, pasti hasilnya adalah negatif. Kenapa bisa kayak gitu sih?

Sebelum, dikasih tau sedikit tentang permainan mereka terhadap kekuasaan yang mereka miliki dan keinginan untuk terus mempertahankannya dengan cara apapun, kita lihat dulu yuk kondisi politik kampus kita sendiri. Kenapa harus liat kondisi di kampus sendiri dulu? Ya, iyalah kan kita sebagai mahasiswa yang selama ini menggembargemborkan sendiri, kalau kita adalah center of intellectual, agent of change, the universal opposition, dan iron stock buat bangsa ini, MASIH ingat kan! Saya sendiri berpendapat kalau politik kampus adalah miniatur politik yang ada di negara sebenarnya, perbedaannya hanyalah di sistem kelembagaannya, sistem politiknya (pemira, partai kampus , stakeholder, pelaku, pemilih, dll terkait unsur politik), tetapi kalau perilaku politiknya sorry to say, HAMPIR SAMA AJA KITA SEMUA! Masih ga ngaku? Yuk mari kita berkaca yuk!!!

Oke, sekarang saya akan memberikan sedikit argumen yang menjadi salah satu penentu terbesar (karena rantai hitamnya terlalu banyak) kenapa politik di negara kita ini ya kayak sekarang. Indonesia ini kan memakai sistem Presidensialisme, tetapi masih belum menciptakan pemerintahan yang stabil dan efektif! Hal ini karena sistem presidensialisme disandingkan dengan sistem multipartai. Lumayan lucu, kalo sistemnya multi partai, berarti secara langsung maupun tidak langsung, ya Presiden akan merangkul orang dari partai yang masuk di parliamentary threshold DPR untuk dijadikan menterinya di kabinet. Wajar kalau ancaman parpol DPR terhadap Presiden adalah menarik dukungan koalisinya. Ditambah lagi perilaku partai politik yang sama saja pragmatisnya.

Partai-partai politik yang ada di Indonesia hanya melakukan persaingan sampai sebatas kontestasi pemilihan umum, setelah itu mereka semua akan bertindak secara kolektif sebagai suatu kelompok untuk mempertahankan eksistensi partainnya dan mengakumulasi kapital lah ujung-ujungnya (proyek2 di kementrian, parlemen, KKN sih pada akhirnya). Contoh konkretnya nya lihat aja Pemilu tahun 2009 partai-partai bergabung kan menyerang KPU dan meminta diadakan Pemilu ulang? Yaiyalah jelas Pemilunya rusak, orang anggota KPU dan UU Penyelenggara pemilunya juga kacau!! (akibat kelamaan legislasi di DPR juga sih ujung2nya, wajar kalau KPUnya prematur, masa Ketua KPU nya latar belakang akademisnya dari bidang agama.. haha, emang dibuat jd dagelan semua ini!!) contoh lainnya? ya tadi, mau masuk ke kabinet dirangkul oleh Presiden dan bahkan menjilat, serta membuat kesepakatan-kesepakatan politik dengan Presiden meminta jabatan, padahal ideologi partainya sama ideologi partai Presidennya beda loh!! Ditambah lagi sama sifat Presiden kita yang “katanya” sih merangkul, tapi malah mereduksi oposisi negara!! Di parlemen pun, mereka akan berkoalisi tanpa mementingkan ideologi partainya.

Contoh lagi, Partai Demokrat yang mau merangkul PKS, PPP, PKB, dan Pan yang jelas-jelas ideologi partainya beda. Contoh konyolnya lagi Presiden membuat Setgab, sebagai forum kordinasi partai di luar kabinet dan parlemen, yang konon katanya kekuatannya sangat kuat untuk mengintervensi kebijakan kabinet dan parlemen. Kenapa ga kita harus ga percaya? Wong, orang di Setgab biasanya dedengkot partainya, ya pasti didengerlah sama cunguknya yang ada di kabinet dan parlemen. Ironis bung!!! Satu lagi yang lumayan lucu, Partai demokrat juga membuka komunikasi ke PDI-P untuk membicarakan Pilpres 2014. Lah terus dimana oposisi buat negara yang resmi? Satu2nya yang bisa jadi oposisinya adalah Rakyat dan Mahasiswa dong kalo kayak gini!!!!

Nah, dengan SISTEM RANTAI HITAM yang sudah membelenggu seperti di atas! Inget kanpower tends to corrupt,absolute power corrupts absolutely? Sistem kelembagaan yang check and balancenya kacau, perilaku partai politik yang pragmatis, ditambah perilaku pejabat yang juga korup, tidak ada sistem oposisi yang jelas, ya SANGAT wajar kalau kekuasaan mereka ga ada yang membendung, dan dijadiinlah kondisi politik negara ini jadi Sinetron yang ga ada abisnya. Mereka bersalah? Ya jelas, nah kita sebagai mahasiswa bersalah ga? Kalo menurut saya salahnya lebih parah dari mereka!!! kenapa? Mereka berbuat seperti itu mengejar kekuasaan yang rill dan uang pada ujungnya! Kalau kita? Mengejar apa? Kekuasaan? Hahaha (mau eksis aja di kampus), perjuangan? Yakin bung? Bukannya ribet sendiri ngejar kekuasan di kampus yang akhirnya malah mereduksi perjuangan itu sendiri …. Ideologi? Bullshit (di AS udah ga ngaruh! Di Malaysia pake syariat islam tuh, padahal penduduk muslimnya Cuma kurang dari 60%,, abis udah sejahtera รจ sama saja kan pragmatisnya kalau sudah sejahtera). Ya walaupun juga kita harus punya ideologi sebagai penunjuk jalan kita sih, Cuma gausah memandang ideologi ku yang paling benar, kelompokku benar, maka kelompokmu dan ideologi mu salah.. Siape yang tahu kayak begini?? Haha.. Politik itu tools bung, yang dijalankan dengan strategi sesuai sama kondisi dan cita-cita awal.. dalam konteks negara tujuannya adalah keadilan sosialm kesejahteraan, pendidikan bagus, kesehatan, keamanan, dll.. politik ya alatnya menuju itu semua. Makanya politik kalo dibagi ke 5 konsep itu ada kekuasaan, negara, pengambilan keputusan, kebijakan publik, dan distribusi (Miriam Budiarjo, 2008). Kesalahan atau DOSA yang kedua adalah kita sudah tahu kondisi di bangsa ini lagi kacau, tapi malah ribet sendiri => RAKYAT YANG JADI KORBAN TERBESARNYA MAU DIKEMANAIN?

Kenapa ribet sendiri? Liat aja kondisi Pemira di kampus! Liat aja peperangan absurd ideologi.. wooyy ideologi parpol aja bakal pragmatis, karena sehabis pemilu mereka ga akan jalanin program sesuai dengan ideologi partainya. Parpol apapun yang menang juga bakal sama saja,, kecuali emang benar2 ada partai yang menjalankan pemerintahannya sesuai dengan program partainya pada saat kampanye. Mereka itu Cuma jual ideologi untuk mengeruk suara dari rakyat yang dekat dengan ideologinya. Padahal nantinya sama saja, bergabung2 juga sebagai kekuatan kolektif (KARTELISASI => Katz dan Mair, 1995). Hahaha. Kita emang zoon politicon kali kalo kata Plato, jadi wajar kalau kita berpolitik dan akhirnya berkelompok, seta berideologi. Ya Cuma kita beda bung sama parpol-parpol kampret itu, kita berpolitik untuk rakyat kampus dan rakyat Indonesia. Jadi ya dipikirinlah bentuk terbaiknya seperti apa seharusnya!!! Ini Pekerjaan Rumah kita bersama..

Salah satu lagi yang menjadi bahan kritikan saya adalah pola kaderisasi kampus yang dilakukan terlalu dini (baik yang dilakukan oleh organisasi intra maupun ekstra kampus). Mahasiswa baru sebagai sasaran empuk sebagai calon-calon kader, baik dari ideologi apapun. Wajar kalau akhirnya akan sama saja, sampai tahun-tahun berikutnya kalau pola terus seperti ini. biarkanlah mereka mengenal kondisi akademis dan kampus secara keseluruhan terlebih dahulu (adaptasi). Suka sedih sih kalau melihat mereka berkomentar dengan “kacamata kudanya” dan bahkan lebih bersemangat dan tajam dari yang memberikan infonya. Wajar kalau banyak yang bilang robot atau wayang. Hal ini karena memang terleading secara langsung maupun tidak langsung, atau karena memang yang mengkader sendiri tidak sadar? Siapa tahu!! Kalau pun mau menyebarkan pendidikan ke adik-adik kita, berikanlah dengan dua sisi, jangan propaganda. Beri tahu motif, tujuan, dan substansinya, serta yang paling penting ajarkan tentang kedewasaan berpolitik. Maka pola kaderisasi bukanlah hal yang menjadi bom waktu pada nantinya, apabila sudah diberi bekal yang cukup.

Politik kampus dengan oposisi, itu harus supaya dinamis dan ada pengingat kalau emang yang sedang memegang jabatan salah. Ya Cuma, bedain kita sama politik di negara, kalau ada kritikan disampaikan di media massa yang cuma buat mendeligitimasi penguasa. Kalau mau kritik, ya kritik aja, tapi kalau sekiranya hanya untuk mendeligitimasi apalagi anarkis ya coba bayangin sendiri aja gimana nantinya.. Siapa yang rugi? Emangnya kalau sudah lulus dari kampus pada mau ngapain sih!!!

Saya juga gatau kenapa kondisi politik kampus bisa menyedihkan seperti ini. apakah karena lupa tujuan awal tadi? Yang sebagai pusat intelektual, agen perubahan, oposisi kritis, potensi pembangunan, dan pengejawantah Tri Dhara perguruan tinggi. Kita harusnya balik ke tujuan awal itu, supaya ga terlalu pusing sama kondisi politik di kampus sendiri. Oposisi itu ya harus, Kritis itu ya harga mati, kalau pendeligitimasian yang nantinya hanya akan mereduksi perjuangan ya dipikir sendiri lagi deh. Berapa agenda nantinya yang terhambat? Yang rugi? Korban? Yang mengemban dosa?

Kalau kita seperti ini yang senang ya sudah bisa dipastikan adalah Rektorat dan Pemerintah itu sendiri. Zaman 1998, sudah jelas musuh bersama kita adalah rezim orde baru, makanya bentuk perjuangannya pun ya seperti yang kita lihat. Kalau sekarang, musuh bersama kita agak absurd, karena musuh bersama kita ya sebenarnya DIRI KITA SENDIRI!!! Pemerintah sekarang sudah lebih pintar untuk meredam pergerakan mahasiswa. Oleh karena itu kita juga harus “menyegarkan” dan mencari strategi baru untuk meneruskan perjuangan kita, supaya apa yang kita perbuat sekarang bisa maksimal bagi kampus dan bangsa. Kenapa saya bilang pemerintah pintar? Selain sistem yang sedemikian rupa yang canggih untuk mereduksi, “Salah satunya” lainnya ialah banyak dari mereka juga aktivis tahun 60-an dan 98, yang juga sudah makan asam garam. Paling kita diketawa-tawain aja sekarang (opini pribadi sih).. Kalau sekarang mereka udah di pemerintahan, ya mereka bisa dong untuk memecah gerakan mahasiswa. Ingat kalau mau menghancurkan penjahat, berpikirlah sebagai penjahat!!! Mereka bisa dikatakan sudah ga takut sama mahasiswa zaman sekarang!! Oops sorry to say..

Kalau kita ga membenahi pola perjuangan. Hampir bisa dipastikan apabila kita sudah berkecimpung di kehidupan sesungguhnya, kita akan sama saja dengan mereka yang kita benci sekarang bung!! Sama siapa rakyat kampus bertumpu untuk membantu mereka memperjuangkan haknya dan menjamin kesejahteraan kampusnya? Sama siapa rakyat bertumpu sekarang? Siapa lagi kalau bukan kita yang katanya sebagai center of intellectuality! Yuk mari kita bersama-sama instropeksi dan refleksi diri.

HIDUP MAHASISWA, HIDUP RAKYAT INDONESIA

NB: Tulisan ini adalan bentuk refleksi bagi kita sebagai mahasiswa, terutama bagi saya sendiri sebagai salah satu pelaku. Bentuk terbaik dari politik kampus yang “terbaik” ialah tergantung dari kondisi, permasalahan dan kebutuhan di kampus masing-masing. Poin utama ialah balik ke pribadi kita masing-masing.

Galih Ramadian N. P -Ketua BEM FISIP UI 2011-


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info