Polisi dan Mahasiswa
Oleh : Thamrin Dahlan
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Polisi menangkap mahasiswa yang berunjuk rasa mendesak mundurnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (20/10/2010). Dua aktivis mahasiswa ditangkap polisi sedangkan satu mahasiswa mengalami luka tembak di bagian kaki.
Ulasan :
Polisi dan mahasiswa dibenturkan di lapangan, sementara yang menjadi penyebab kerusuhan duduk - duduk santai di ruang ber Ac sambil menonton siarang langsung TV. Akhirnya kedua kelompok yang di bentur benturkan itu ada yang menjadi korban. Tertembak kakinya dan diantara polisi ada juga yang cidera.
Polisi bersikap simpatik, mereka akan menanggung seluruh biaya pengobatan dan perawatan mahasiswa yang tertembak kakinya. Sikap yang patut di ajungkan jempol, karena sesungguhnya mereka tidak ingin bentrok, hanya saja suasana di lapangan yang kemudian tak terkendalikan.
Polisi yang bertugas itu adalah pemuda pemuda yang baru tamat SMA, malah ada juga diantara mereka yang telah menjadi sarjana. Masuk kedalam Korp Kepolisian Negara Republik Indonesia setelah dididik di sekolah calon bintara selama setahun. Sebenarnya diantara mahasiswa pen demonstran itu ( ” lawan tanding “) itu adalah teman teman mereka di SMA dulu. Namun di lapangan mereka terpaksa bentrok, entah untuk urusan siapa
Pemuda Bhayangkara itu, siap melaksanakan perintah atasan, melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat. Dengan sikap profesionalisme dan disiplin tinggi serta perlengkapan lapangan yang melindungi tubuh mereka, anggota Polri siap dan selalu siaga untuk mengawal pendemontrans, karena itulah tugas pokok Polri
Sementara mahasiswa sebagai simbol suara rakyat, dengan tidak mengharapkan imbalan sesuatu, mereka rela berjuang menyampaikan aspirasi hati nurani rakyat. Anak anak ini, semua adalah anak anak terbaik dari generasi nya, mereka tetap belajar, kuliah denganm tekun, namun kondisi rakyat memanggil mereka unutk menyuarakan tuntutan kepada penguasa (pengusaha).
Demontrans harus di hormati hak menyampaikan pendapatnya dan tuan - tuan penguasa seharusnya keluar dan turun dari singasana untuk menemui para pendemontran itu. Berbicaralah, berdialog lah, tidak akan ada terjadi unjuk rasa anarkis. Dan Polisi akan lebih enteng tugasnya, tetapi bila tuan tidak keluar (tidak berani) berdialog inilah kejadiannya.
Yah, Polisi dan mahasiswa dibentur benturkan, sejatinya mereka adalah putra putra terbaik bangsa ini, namun yang menjadi sumber masalah itu tetap saja, diam seribu bahasa, sudah dungu kah tuan.
Dalam suasana memperjuangkan hati nurani rakyat, ajaibnya tidak seorangpun yang menamakan dirinya wakil rakyat turun kejalan, menyingsingkn jas mahalnya sejenak, bergabung dengan pemilihnya dulu. Tidak tidak ada anggota dewan terhormat itu disana.
Bapak Polisi, laksanakan tugasmu dengan baik, walau gaji yang engkau terima tak pernah cukup, remunerasi tak kunjung di bayarkan, sedangkan tantangan pekerjaanmu adalah menyabung nyawa. Secara berseloroh seorang Bapak Polisi senior bergurau, Alhamdulillah gaji yang kami terima saat ini adalah lima koma. wah lima juta sebulan cukup dong. Ya lima koma, tanggal 5 keluarga kami sudah koma……..
Ironis ; diantara Bapak - bapak Polisi tua yang bertugas mengawal pendemostran itu , terdapat anak mereka yang menjadi mahasiswa universitas unggulan , ikut demonstran. Oh dunia (tuan tuan penguasa) kenapa bapak - anak ini kau benturkan dijalanan………….
Jangan Lupa Jempolnya :
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

Berikan Tanggapan Anda .....
0 Respones to "Polisi dan Mahasiswa"
Post a Comment