Anggota DPR Kita Memang Begitu…, Mau Diapakan Lagii…
Surya Darma
Madesu PKB (Muhaimin)
Ketika Tokoh-tokoh PKB, seperti, Khotibul Umam, Saifullah Yusuf, Azwar Anas, Zaini, Saiful Ansori, Yahya Tsakuf, sedang menunaikan Umrah, saya sempatkan bertemu dengan mereka. Karena salut dengan visi dan misinya sebagai partai kebangkitan bangsa. PKB waktu itu benar-benar membawa angin segar bagi setiap warganya dimana saja berada, tak terkecuali di luar negeri, seperti; kota Makkah, Jedah, Malaysia, Amerika, Sudan, serta di negeri Piramida (Mesir).
Tidak dipungkiri, berdirinya Sekolah Indonesia Makkah, yang disingkat dengan (SIM), tidak lepas dari Partai Kebangkitan Bangsa. Sahwat politik masyarakat NU yang tinggal di Makkah dan sekitarnya waktu itu begitu besar, seperti sahwatnya orang-orang Arab. Ketika kran demokrasi di Indonesia dibuka, maka mucullah partai-partai politik. Salah satu dari partai politik yang menarik warga Indonesia di Makkah adalah PKB. Berdirinya PKB tidak lepas dari sosok Gus Dur yang membawa angin perubahan terhadap masa depan Indonesia dan warga NU.
Ir Fuad Abdul Wahab, adalah salah satu dari sekian banyak penggagas PKB di Arab Saudi. Di samping seorang penggusaha Amer Cargo, beliau juga penggagas pendidikan Sekolah Indonesia Makkah, serta Sekolah al-Nasiriyah Jeddah. Bersama beliau, saya ikut serta membesarkan PKB dan Sekolah Indonesia Makkah. Cara yang saya lakukan ialah dengan membuat bulletin, yang kemudian kami sebarkan pada masyarakat Indonesia.
Setelah sekian lama ikut serta dengan partai PKB, langkah demi langkah, saya mencoba meninggalkan Partai itu, dan lebih konsentrasi pada pendidikan (meneruskan pendidikan S3). Sebab, menurut hemat saya, partai politik PKB benar-benar tidak membawa aspirasi masyarakat NU. Sebagai warga NU, saya benar-benar merasakan bahwa PKB kurang tepat untuk warganya. Apalagi, setelah elit politik PKB memecat Gus Dur sang pendiri PKB. Himbauan-himbauan para sesepuh PKB juga tidak dihiraukan. Lantas, apalagi yang menarik dari PKB?
Sejak berdiri, PKB sudah berkali-kali ikut pemilu. Hanya tahun 2099, PKB berjaya. Selanjutnya setiap tahun, partai ini mengalami kemunduran yang cukup memilukan. Apalagi, sejak munculnya partai baru, seperti; PKNU, serta eksisnya PPP di bawah pimpinan Surya Darma Ali. PKB mulai gundah gulana, sebab tidak sedikit dari tokoh, seperti; Kyai, ustad, lebih memilih PPP dari pada PKB. Segmentasi (pasar) PKB adalah warga NU, seperti; santri pondok, jama’ah tahlil, serta sebagian masyarakat menenggah kebawah, khususnya di Jawa Timur. Sementara itu, sebagian besar warga NU sudah kurang tertarik lagi dengan PKB gaya Muhaimin Iskandar.
Boleh saja PKB mengatakan bahwa masa pendukungya masih kuat dan banyak yang tersebar di pelosok-pelosok. Sah-sah saja, tetapi realitas di lapangan akan membuktikan bahwa masa NU, akan menjadi rebutan PPP, PKNU, PKB Muhaimin, dan PKB Gus Dur. Beluam lagi orang-orang NU yang menyebarang ke PDIP< Gerindra, Golkar. Jika demikian, maka perjuangan PKB Muhaimin semakin terseok-seok untuk masuk lima besar. Pemilu tahun lalu membuktikan, bahwa PKB benar-benar terperosok di bawah PKS.
Masa Depan Suram PKB akan semakin gelap, manakala statemen-statemen yang dilontarkan oleh elit politiknya justru menyinggung partai lain, yang notabene para kyai NU. Dalam hal ini, PPP merupkan partai yang paling aktif di dalam mengalang kekuatan untuk menyambut pemilu 2014. Surya Darma Ali, benar-benar menjadi ancaman nyata bagi PKB Muhaimin Iskandar. Pada tanggal (13/2), PPP mengelara acara di ponpes AL-HIKMAH Brebes. Para Kyai turut hadir dalam acara tersebut. Yang membuat PKB kebakaran jenggot ialah, bahwa kyai yang hadir pada cara tersebut ialah Kyai PKB dan PKNU yang kembali kepangkuan Kab’bah (PPP).
Sebuah kewajaran, jika para Kyai yang hasrat politiknya masih tinggi untuk masuk di PPP. Sebab, PPP termasuk salah satu partai tertua yang di dalamnya adalah orang-orang NU. Lagian, PPP sekarang terlihat memerjuangkan masyarakat NU. Jadi, tudingan Karding terhadap Surya Darma Ali seputar penggunaan dana Negara untuk kampanye terselubung perlu dibuktikan (Surya:13/02). Sebab, disamping ketua PPP, Surya Darma Ali juga menteri agama, yang harus setiap saat memberikan pelayanan terhadap masyarakat bahwa yang beragama. Prasangka PKB itu sebuah realitas bahwa partai PKB khawatir kalah dengan PPP.
Seadainya, PKB Muhaimin bersatu lagi dengan PKB Gus Dur, tidak menutup kemungkinan simpati masyarakat NU, serta para kyai-kyai kampung akan kembali. Karena gensi tinggi, tidak mungkin dua PKB bersatu lagi. Dan, sulit bagi kyai kampung yang memiliki pendukung itu mengajak masyarakatnya untuk mencoblos PKB Muhaimin. Padahal, kekuatan Kyai kampung sangat signifikan untuk memengangkan pemilu 2014. Di sisi lain, masyarakat NU sudah mulai faham dengan trik-trik para elit politik PKB pusat. Wallau a’lam
Abdul Adzim
Presidenku Sayang Presidenku Malang
Sejak reformasi, baru kita benar2 bisa berganti memilih presiden yang dari rakyat. Bukan presiden seumur hidup seperti sebelumnya.
Bisa dibilang revolusi Mesir meniru jejak langkah reformasi bangsa kita. Mereka bosan dijajah oleh pemimpin yang penuh kediktatoran mulai dari masa Firaun hingga Mubarak. Mungkin awalnya pemimpin mereka adalah pahlawan yang bisa memakmurkan tanah Mesir, berdamai dengan Israel…namun akibat terlena dengan kekuasaan yang begitu lama pemimpin itu lupa akan rakyatnya sendiri. Sehingga rakyatnya pun memberontak dan menuntut pemimpin turun. Mungkin rakyat Mesir tak sepenuhnya meniru reformasi bangsa kita, tapi dari nenek moyang mereka yaitu nabi Musa yang berani melawan Firaun.
Kembali kepada reformasi bangsa kita, setelah turunnya Soeharto pun kita sepertinya belum menemukan pemimpin yang tepat. Tapi ada satu kemajuan pada bangsa kita, yaitu jiwa pemimpin pada setiap orang dimana semua orang berani demo bila ada yang kurang sreg, ada korupsi, kasus Gayus dsb. Dulu zaman Soeharto semua orang bungkam, tidak ada yang berani bicara sepatah kata pun bila ada yang salah. Sayangnya sepertinya bertubi-tubi kita belum menemukan presiden yang benar2 “sreg” di hati rakyat. Dan rakyatnya sudah ada kebebasan untuk demo, maka demo terus untuk minta presiden yang baru dan masa kepemimpinannya selesai untuk segera turun. Itulah yang terjadi pada mantan presiden Habibie, Gus Dur dan Megawati. hingga dulu sempat dulu ada poster saat demo yang menyatakan kita pernah punya presiden yang “gila wanita, gila harta, gila tahta, dan orang gila!” (pasti tahulah siapa yang dimaksud…). Mungkin itu pula yang terjadi pada negeri Mesir setelah Mubarak turun….wallahu’alam.
Memang sepertinya serba salah…, rakyat diberi kebebasan sedikit untuk demo eh…malah timbul provokator dimana2. Apalagi sekarang dari tiap parpol ada calon presidennya masing-masing. Belum lagi sekarang media massa seperti TV dll di biayai oleh parpol tertentu…yah sudah deh langsung saja saling bersaing menjatuhkan image presiden.
Yang kasihan tentu saja presiden SBY sekarang. Terus terang kuakui, beliau presiden yang jauh lebih lumayan dibandingkan presiden2 sebelumnya. Namun kerjaan media tak lain hanya menjelekkan image beliau dan setiap tindakan serta ucapan beliau disalahartikan oleh berita di TV dan koran sehingga rakyat pun benci pada SBY. Ditambah lagi pendidikan rakyat kita rata2 masih tergolong rendah dibandingkan rakyat Amerika….jadi yah sudah deh tercapai sudah tujuan para parpol itu!! Sementara di TV mereka terus mempromosikan calonnya yang terus jaim.
Tak percaya media menjelek2an SBY? contoh….presiden tak pernah minta naik gaji! Presiden berpidato “…walaupun gaji saya tak pernah naik, yang penting gaji untuk para sipil dan TNI tetap sejahtera dan naik terus” itulah pidato sesungguhnya. Dan kalimat itu dipenggal, hanya digarisbawahi”gaji saya tak pernah naik” terus langsung digembor2kan via media massa….untuk menjatuhkan image SBY. Otomatis rakyat percaya dan langsung mencuat via facebook dan twitter, terus yang lebih bodoh lagi anggota DPR!! Mereka mamang super bodoh…pake bikin kencleng buat presiden segala….ga ada kerjaan banget sih anggota DPR, mendingan mereka nolongin korban lumpur lapindo sono!
Kedua….urusan Yogya dan kesultanan…SBY tak pernah ingin menghapus kesultanan Yogyakarta. Beliau sepenuhnya paham mengenai Yogyakarta, hanya saja ada provokator yang menyalahartikan pidato SBY dan sekali lagi menjatuhkan beliau….
Kalau ingin kita punya presiden atau pemimpin yang cerdas sebaiknya kita sebagai rakyat juga harus cerdas. Sebagaimana rakyat Amerika, makanya mereka selalu mempunyai pemimpin yang cerdas seperti Roosevelt, Obama dsb. Kita harus cerdas jangan cuma percaya gosip dan bertingkah seperti anak TK kayak anggota DPR :)
Arlin Prananingrum
Ramai-Ramai Mengecam PKS yang Lemahkan KPK
By :Topan Jaya
Awal-awalnya saya termasuk orang yang kagum dan salut dengan kiprah Partai Keadilan Sejahtera ini. Modern, lincah, tegas, religius, dan berprinsip. Tetapi entah mengapa, khususnya setelah pemilu presiden 2009 lalu dan PKS masuk ke koalisi bersama PD, Golkar, PPP, & PKB, simpati saya terhadap partai ini pudar. Kesan saya berubah total, ini partai ternyata sangat oportunis dan menampakkan wajah partai yang seasli-aslinya; berburu kekuasaan dan membela kepentingannya sendiri.Kesan negatif saya makin bertambah tatkala menyaksikan Misbakun, kader partai bersemboyan “bersih & profesional”, ini terseret kasus L/C fiktif Bank Century. Padahal kita tahu semua, Misbakhun adalah salah sat inisiator Pansus Century yang sangat gencar mencerca dugaan korupsi para pengambil kebijakan bail out Century.
Terakhir terkait kasus pengusiran Bibit-Chandra oleh Komisi III DPR, serta menyimak argumentasi-argumentasi kader-kader PKS, makin kuat pula kesan bahwa partai ini telah dirusak oleh kader-kadernya sendiri. Yang semula mendesak supaya Kejakgung mengambil langkah deponering, belakangan jadi “mencla-mencle” karena menentang keras dengan segala macam kelit argumentasi. Kader-kader PKS ini juga menolak tudingan adanya vested interest di balik sikap tersebut karena fakta bahwa Nunun Nurbaeti (yang disebut-sebut sebagai pihak pelaku suap kepada puluhan anggota DPR), adalah istri Adang Dorodjatun mantan wakapolri yang kini menjadi anggota Komisi III DPR dari PKS.
Pada saat saya mengikuti berita-berita yang berisi argumen-argumen kelitan kader PKS terkait perlawanan mereka terhadap KPK, saya temukan komentar-komentar kekecewaan dari para simpatisan PKS. Saya tampilkan beberapa contoh-contoh komentar di sini (dari berita di Rakyat Merdeka Online) sekedar untuk memperlihatkan betapa kecewanya para simpatisan PKS saat ini atas sikap partai pujaan mereka. Tetapi maaf sebelumnya, komentar kekecewaan mereka kadang di luar kepantasan:
1. Roni: DemiAllah, saya menyesal mempercayakan suara di pemilu kemarin pada PKS…, kupikir lebih baik dari parta* lain… Ternyata tidak lebih baik… Sungguh menyesal..
2. Abdullah: SAYA SEBAGAI KADER INTI PKS MERASA MALU KARENA PKS IKUT TERBAAWA ARUS YANG DIBACARAKAN MALAH PENGUSIRAN BIBIT CANDRA. BUKAN SUBSTANSINYA, ,MEMALUKAN, MEMALUKAN. COBALAH BAPAK LIHAT DI TV ONE ANGGOTA DPR BERARGUMEN KAYA ANAK KECIL, MASALAH YANG BESAR LUPA DIBICARAKAN TAPI TERLENA PADA MASALAH BIBIT CANDRA YANG SEMUA ORANG TAHU ITU REKAYASA. APAKAH INI ISLAM YANG DIAMBIL OLEH PKS,???????
3. Cihuy: bolak-balik dalih saja, dasar kader parta* kagok, disebut islami, bukan. Disebut nasionalis, antek timur tengah. Kayanya parta* nyandung…. Islam hanya tempelan, untuk stemdpel. Didalamnya tambal-tambalan kayak baju pengemis. Ada tambalan islam, ada tambalan nasionalis , ada tambalan demokrasi yahudi… dan compang camping lainnya. Hati-hati jangan terkecoh, mari kita cari parai yang puguh… sekarang baru kelihatan belangnya dalam setiap komentar kader-kadernya.
4. Mafia: Ngaku parta* dakwah…kenyataannya, sama sj dengan parta* lain.Mengusir tamu adalah sikap yg bukan Islami.Kalau ikut menolak Bibit-Chanda sbg tamu KPK…jelaslah PKS itu bukan parta* Dakwah. PKS..Parta* Konyol.
5. Rakyat: saya kecewa dengan pks, kalau pks berbicara kpk bukan malaikat atau dewa, saya juga bisa, kpk bukan parta* tuhan, merasa parta*nya islam…saya melihat pks lebih pragmatis hanya memikirkan golongannya para elite pks, sedangkan kader-kader dibawahnya dikorbankan oleh kemunafikan para elite, jadi jangan menngatasnamakan kebenaran jika para koruptor atau kemunafikan merajela di tubuh pks karena haus kekuasaan, negara pun di isi oleh para koruptor….mana pks..mana pks…apa yang telah diperbuat untuk negeri, apa hanya jadi menteri aja dah cukup.
6. Abu Jahal: bau lu mulut itu munafikin, nabi sendiri menerima kedatangan abu sufyan, apanya moral islam PKS itu? Dasar lu berkedok islam tapi tidak bermoral islam, Ketahuan sekarang belangnya PKS, jangan jangan reinkarnasi Parta* Komunis dan Sosialis (PKS)…..
7. Iwan: Pks,mnolak bibit-candra krn moralitas?mksdy ingin cri smpt masyrkt..tp msyrkt skrg udh lebih pnter bang?ngaca dulu lah?dlm islam menghormati tamu hkmya wajib ok…
8. Cak Mad: DPR tidak lebih dari lembaga yang hanya bikin gaduh negeri ini. selayaknya DPR (PKS) harus bercermin… apakah dia (PKS dll) juga bermoral… dia sudah makan sudah makan uang rakyat… tapi buat undang2 tidak selesai (setahun cuma 17 an dari target 70-an.) apa ini lebih bermoral dari bibit dan candra yang hanya jadi korban permainan saja…. semestinya DPR bisa menilai ini persoalan dasar atau tidak …. bubarkan fraksi yang sok bermoral….
9. Si malin kundang: Dengan komentar-komentar kader PKS yang bermunculan akhir ini, lengkap sudah anggo5ta DPR ternyata tidak ada yang bisa diandalkan, kiranaya tidak ada suara kader PKS yang lilahi ta-ala, tetapi li-ta*k-lu…. Sama busuknya dengan kader parta*-parta* terbusuk lainnya. Kasian masa akar rumput tertipu nian dengan selogan-selogan lillahi ta’ala…. dibawah mendapat imbalan angin kosong dari Allah. Di atas berpesta dengan fasilitas kenikmatan dari uang rakyat.
10. Komat: Bang Anis betul, konsisten belain koruptor, biar proses mirandagate cepat selesai Bantu KPK cari Bu Nunun< bang Anis pasti Bisa soalnya pak Nunun kan kader PKS... ya kan
11. Bejo: pembukaan rekaman kriminalisasi pimpinan KPK sdh diperdengarkan di MK, tim 8 juga sdh juga menyimpulkan ada rekayasa kasus, sekarang terungkap rekayasa kasus Antasari yg sdh dihukum seumur hidup, saya kira sdr Anis Matta harus perlu shalat istiqarah meminta petunjuk Allah, anda sebagai seorang kiyai perlu melakukan itu, agar tidak ikut berdosa.
12. Habib: salah satu yg mengusir bibit chandra adalah PKS. sangat disayangkan, kan PKS partai bersih. Tapi apa boleh buat, akibat kekuasaan dan kenikmatan PKS sudah mulai bergeser dari bersih ke kotor2 dikitlah. Tapi wajar kok PKS spt itu, kan nunun nurbaeti istrinya adang darajatun anggota dpr komisi III dari PKS adalah DPO nya KPK. akhirnya betul juga tidak ada kawan/ lawan abadi. betul juga kata mubarak politisi itu suka yg kotor2.
Kita bisa saja berasumsi, komentar-komentar di atas dibuat oleh orang-orang yang tidak suka dengan PKS. Tetapi melihat konteks persoalan pengusiran Bibit-Chandra oleh politisi PKS tersebut serta kemarahan masyarakat pada anggota-anggota Komisi III itu, sangat bisa jadi komentar-komentar kecaman itu murni lahir dari benak yang kecewa. Dari kasus di atas kita belajar kembali, bahwa kita tidak bisa sepenuhnya percaya kepada sebuah partai, bahkan partai yang mengusung simbol-simbol religius sekalipun. Cara bijak memilih atau mendukung partai adalah tetap dengan melihat secara kritis catatan-catatan kiprah kadernya.[tj]
* Sumber2 komentar: Berita 1, Berita 2, Berita 3, Berita 4.
SBY, Presiden yang kurang tegas?!
Melihat susunan para nara sumber dan juga pernyataan-pernyataannya,
Kiprah (mantan) Artis di Dpr
Apabila disebut nama Gitalis Dwinatarina, barangkali tak banyak orang yang mengenalnya. Akan tetapi, bila dipanggilkan nama panggungnya, Gita KDI, rasanya akan banyak di antara kita yang segera mengaku mengenalnya. Mantan jawara sebuah ajang pencarian bakat menyanyi dangdut di salah sebuah stasiun televisi swasta ini kemarin (2/2/2011) resmi dilantik menjadi anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB), menggantikan Cecep Syafrudin yang meninggal dunia.
Masuknya Gita KDI ke Senayan menambah panjang daftar para pesohor yang berhasil menjadi anggota DPR. Sebelumnya, sebagai hasil Pemilihan Umum 2009, tercatat setidaknya 16 artis yang terdiri atas penyanyi, pemain film, pemain sinetron, model, maupun pelawak, yang berhasil melenggang menyandang gelar wakil rakyat.
Sayangnya, setelah lebih dari setahun berlalu, skeptisisme masyarakat terhadap kemampuan para pesohor tersebut dalam mengemban tugas sebagai anggota lembaga legislatif seolah mendapatkan bukti. Sikap skeptis tersebut muncul karena profesi yang mereka lakoni sebagai artis dianggap tidak pernah menuntut eksplorasi intelektualitas, hal yang justru merupakan prasyarat penting bagi seorang legislator. Dan memang, selama lebih dari setahun ini hampir tidak pernah terdengar suara atau pendapat bernas yang muncul dari para pesohor tersebut.
Celakanya, entah karena merasa sadar diri tak mampu berperan dengan baik di gedung DPR atau karena mereka memang tak pernah hirau dengan tugasnya sebagai legislator, banyak di antara para pesohor tersebut yang justru masih atau bahkan lebih aktif menjalankan perannya sebagai artis. Gita KDI, misalnya, bertekad untuk tetap menjalankan profesinya sebagai penyanyi.
Selain Gita KDI, kita juga akrab dengan beberapa wajah pesohor lainnya di layar kaca. Salah satunya adalah Eko Patrio, anggota FPAN, yang tetap aktif menggawangi beberapa acara televisi seperti The Promotor dan Eee Ada Eko. Sementara, Tantowi Yahya, anggota FPG, juga rajin tampil menjadi juri di acara Indonesia Mencari Bakat di stasiun televisi yang lain. Para (mantan) artis lainnya pun setali tiga uang. Pun andai mereka tak lagi menjalankan aktifitas keartisan, biasanya kiprahnya sebagai legislator “nyaris tak terdengar”.
Memang masih perlu penelaahan lebih lanjut untuk mengetahui apakah panjangnya daftar para pesohor di Gedung DPR berkorelasi dengan kegagalan DPR mencapai target legislasinya. Tahun lampau DPR hanya mampu menuntaskan 16 RUU dari target prioritas Program Legislasi Nasional tahun 2010 yang berjumlah 70 RUU. Namun, tidak dapat disalahkan jika masyarakat menjadi geram, kesal, dan kecewa saat lebih sering menyaksikan para (mantan) artis anggota DPR nampang di layar kaca saat mereka bekerja sebagai artis daripada saat sedang memperjuangkan nasib rakyat yang (konon) diwakilinya.
Politik Pengusaha
By : Victor Hasiholan
ARB dan JK
Saat ini sulit membedakan antara pengusaha dan politisi. Pengusaha yang kaya bisa jadi politisi dan politisi tua bisa juga jadi pengusaha, hasil dari “tabungan” setelah berkiprah sekian lama di panggung politik partainya.
Akibatnya beberapa kebijakan pemerintah, yang “dibisiki” oleh partai politik, sering dibentuk oleh opini seseorang, atau beberapa orang, yang menjadi penyokong dana sebuah partai politik (parpol). Hal itu dilakukan pengusaha agar kebijakan pemerintah tidak berseberangan pada visi dan misi perusahaannya.Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sebaiknya bisa memberi keuntungan, atau setidaknya tidak merugikan usaha yang sedang dijalankan.
Logis saja sih. Bukankah pernah ada jargon: “maju tak gentar, membela yang bayar”? Siapa bosnya, bisa terlihat dari siapa yang membayar siapa.
Maka tidak heran mafia di negeri ini susah untuk diberantas. Kalau para mafia itu mau dicabut sampai akarnya, bisa hancur negara kita, kata seorang jenderal polisi. Kepercayaan masyarakat pada pemerintah bisa berkurang, sambungnya. Padahal saat ini saja kepercayaan masyarakat pada pemerintah bisa dikatakan tidak ada lagi.
Fenomena yang hangat dibicarakan saat ini adalah soal gaji menjadi pemimpin daerah. Beberapa waktu lalu di sebuah acara talk show MetroTV, diadakan dialog tentang berapa jumlah modal dan berapa jumlah total pengeluaran untuk menjadi seorang gubernur. Di acara itulah saya melihat akar korupsi, kolusi, dan nepotisme di negeri ini. Bagaimana bisa seorang gubernur yang gajinya sekitar 200 juta per tahun, atau katakanlah 1 milyar, kemudian “balik modal” sekitar 20 milyar selama 1 periode masa jabatan?
Dan inilah akar permasalahannya: mengapa membutuhkan modal besar agar bisa menjadi seorang pemimpin daerah? Atau pertanyannya dibalik: sudah tahu modalnya besar, kok mau mencalonkan diri menjadi kepala daerah?
Fenomena ini pun menjalar sampai ke pusat. Untuk menjadi anggota dewan hingga menjadi presiden butuh modal yang sangat besar. Disinilah simbiosis mutualisme itu terbentuk. Pengusaha butuh kebijakan yang menguntungkannya, dan politikus butuh dana untuk mendapatkan jabatan politisnya. Rakyat menjadi penontonnya.
Lingkaran setan ini sebenarnya bisa dihancurkan jika rakyat sungguh-sungguh ingin dan mau menghancurkannya. Seperti membuat parpol baru yang sumber dananya berasal dari sumbangan tiap anggota. Jadi siapapun yang terpilih, benar-benar mewakili suara rakyat yang telah “membayarnya” dengan sistem iuran. Seperti cara kampanye presiden Barrack Obama, mengumpulkan dana dari pendukungnya. Sumbangan dibatasi jumlah maksimalnya, sehingga tidak ada penyumbang terbesar yang merasa menjadi “donatur” parpol ke depannya. Cara ini bisa lebih efektif jika rakyat bisa benar-benar konsisten pada pilihannya. Tidak mau menerima “uang politik” yang hanya habis dimakan sebulan, padahal orang yang dipilihnya akan bertahta dalam hitungan tahunan.
Tapi pelaksanaannya di lapangan memang berat. Ditambah lagi cara berpikir yang skeptis dan pesimis mulai mewabah di sebagian besar rakyat Indonesia. Lebih menyukai cara-cara instan. Tapi jika tidak dimulai dari sekarang, sampai kapan Indonesia dijajah oleh politik kepentingan? Dan pada akhirnya berujung pada KKN yang menghancurkan Indonesia secara perlahan.
NB: Politisi dan pemimpin daerah sebenarnya dibayar dengan “uang rakyat”, tapi mereka kurang menyadarinya karena merasa telah membeli “suara rakyat”.
*) gambar diambil dari sini.
Menghujat Pemerintahan, Meminta Uang Pemerintah
Oleh : Fillyliandri
Pekerjaan ku saat ini, membuat salah satu aktifitas ku adalah sering bolak-balik ke Gedung Putih Provinsi. Yap, ke Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Dalam seminggu bisa beberapa hari saya harus kesana untuk membawa tagihan pembayaran dan mengecek apa sudah di approve untuk kemudian dibayarkan.
Tentu saya sadar, tidak seperti instansi swasta dimana kita sudah punya kesepakatan hari jatuh tempo pembayaran. Kalo ke Kantor Pemerintahan, kita mesti sabar dengan prosedur dan peraturan yang sudah diatur.
Jujur saja, awal2nya aku kesal super duper dah…
Kerjaan ku banyakan duduk manis menunggu dan menunggu,,sudah seharian menunggu pun seringnya menerima jawaban, “Maaf, belum ada pembayaran untuk tagihan anda”..
Sudah begitu, wajahku ini sudah berhias senyum dengan suara nan ramah,,eh, si petugasnya bak algojo yang siap membantai,.,
Ada yang malah merasa seprti terganggu dengan kehadiran kami2. Lah, terlalu sulit kah untuk tersenyum? Meski tak tulus sekalipun,,
Untung lah, dari 10 petugas hanya 3-4 yang urat senyum nya korslet,,yang lain justru sebaliknya,,ramah, lemah lembut dan pengertian. Sabar menghadapi para penagih yang berjubel di depan meja penerimaan tagihan.
Perlu dicatat, Gedung Putih SULUT ini unik. Terlihat dari luar, mungkin biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tidak terlihat mewah. Hanya sebuah gedung besar dan luas, yang dicat putih.
Tapi dalamnya,,ini dia yang unik, Gedung yang kalo gak salah terdiri dari3-4 lantai ini, SAMA PERSIS di setiap lantainya. Letak ruangnya, lorong2nya..pokoknya, serasa memasuki labyrinth 3-4 lantai,,salah salah-nyasar seharian.
Pas awal2 bertandang, tak perlu heran,,aku sering kali nyasar.
Syukur memang, masih bisa ketemu dengan PNS yang baik nan ramah, sabar menerangkan lorong2 yang menjebak itu..
Pantesan maling gak berani masuk,,
Atau sudah pernah ada maling yang nekat masuk, tapi mati nyasar duluan.
Oh, My My..Aku kesini juga untuk menagih bukan untuk tersesat….
Tapi, kerjaan adalah tanggung jawab jadi mesti dijalanin juga..
Sekali dua kali terjadi, akhirnya menunggu menjadi waktu yang pas untuk melihat kiri kanan.
Menikmati setiap orang yang datang dan pergi.
Ada yang datangnya bete2,,pulangnya tersenyum cerah, permohonan permintaan dananya di kabulkan,,cair deh…(Selamat yaaa)
Ada pula yang marah,,,”Uuuhh,,,Kita so brapa puluh kali bale-bale kamari,,datang dari jaoh-jaoh ley,,cuma tre da jawab akang, Bulum cair Ibu,nanti cek ulang jo besok neh..” “Dorang kira stow ni doi cuma ja pete dari pohong”
(Uuuh, saya sudah berpuluh kali datang kesini, mana datang dari jauh pula,,eh cuma dikasih jawaban; “Belum terbayar Bu, nanti bisa cek lagi besok”…Mereka pikir, uang untuk transport ini cuma dipetik dari pohon??)
Sabar bu…
Kasihan juga sih,,,
Barulah kemudian saya mulai tanya2,,apa saja tagihan yang masuk kesini (Utk catatan, tagihan kantor kami masuk ke Pos Bantuan, jadi berjumpa dengan semua pihak “pemohon bantuan”)
Ternyata, Pos yang super sibuk ini melayani permintaan biaya untuk:
1. Proposal permintaan bantuan utk pembangunan;
1a. Tempat Ibadah
1b. Tempat Sekolah
1c. Sarana Umum dari Biro2 pemerintahan
2. Proposal permintaan Bea siswa
3. Proposal permintaan biaya utk Seminar, Tim Kesenian berkunjung ke Luar Daerah-Negeri, Ibadah Raya (Untuk semua Agama), dan lain2
Kalo bagian yang pertama, memang sudah tidak asing lagi.. , yang ke 3 juga, kayaknya memang masih tepat,,maklum, kalo pun ada Tim Kesenian berangkat, disamping membawa nama pribadi dan klub,mereka juga mewakili Daerah..
Nahh yang nomor 2 ini,,,
Artinya, setiap hari ada antrian panjang Mahasiswa yang menanti permohonan bea siswa nyadikabulkan..
Murni karena iseng (daripada bengong nunggu giliran), Aku menuju ke meja penerimaan berkas,,dibalik kaca terlampir persyaratan untuk mengajukan permohonan bea siswa.
Selain berkas2 dukungan dari Universitas/Kampus tempat mereka berasal, harus ada pula keterangan bahwa mereka memang benar berasal dari keluarga kurang mampu..
Hmm, sayang,,definisi “Kurang Mampu” tidak dijabarkan..
Yang menarik,,di sepanjang antrian para mahasiswa,,barangkali hanya 1 dari 10 (ini angka asli, karena untuk bisa masuk ke dalam ruangan Biro Keuangan, mesti ber10,,gak boleh lebih.,,bisa mati sesak napas kalo kebanyakan orang yang masuk, plus,,,tahulaah,,,siang2 bau badan setiap orang bercampur,,,AC 12 unit juga bisa gak mampu kan?) yang bisa dibilang “kurang mampu”
Selebihnya??
wih,,hebat, dandanannya yahud2 (ini mahasiswa apa artis2 daerah yang masuk utk ambil no urut pentas?)
dan yang tak kalah penting,,semua ber hape ria..and guess,,bukan hape “rakyat jelata”, tapi yg high class, sebangsa Blackberry, IPhone atwpun Smartphone lainnya.
Iya sih, hape jaman sekarang banyak yang harganya merakyat,,tp BB dan IPhone kan enggak..awalnya kupikir, ntu hape BBan, Iphonenan,,, alias yang bangsa2 tiruan gitu,,oh no,,asli maan..
lalu, dari mananya yang kurang mampu:
1. Dandanan bukan seperti anak kuliahan (kuliah dimana kalo bajunya rata2 tipis setipis jeruk nipis, pendek se”paha” bukan lagi selutut”)
2. Outfitnya ber merk, (di bilang bermerk, karena mereknya memang jelas terbaca,,nampang banget; Volcom, Billabong, dll..maap, gak melek merk fashion). Entah asli apa tiruan lagi.
3. Gadget lengkap, tangan satu megang Hp (yang gak pernah bunyi) satu lagi nentengin ipod, mp3 atw mp4 player.
4. gaya nya, angkuh2 (pd umumnya) dengan kepala terangkat, mahal senyum. Entah karena kepalanya gak bisa noleh kebawah, dan lagi sakit gigi…
Lalu???
ada juga, yang masuk untuk urus berkas bea siswa dianterin mama/tante/sodara/kenalan yang berseragam (maaf) PNS…lho, Koq?
Petugasnya sih sudah sengaja nyindir; koq masih ngurus bea siswa sih? emang gaji mama papa kurang?
Eh, yang di sindir cuek2 monyet, malah minta supaya anaknya dicepetin urusannya…
(Sering kita mengira ada petugas2 yang suka main2, padahal sebenarnya mereka sudah berusaha sebaik mungkin menjalankan tugasnya, justru “teman2″ mereka dari “dinas-divisi” yang berbeda, yang karena merasa penghuni Gedung yang sama, jadi bisa nyuruh ini itu….)
Hhhh, dan parahnya,,beberapa wajah yang ngantri itu, pernah kulihat berbaris dijalan dan Vocal berorasi, memprotes ini itu ketika ada peraturan pemerintah yang baru.
Aneh, ketika ikutan Demo, semua argumen dikeluarkan.
Menyebut pemerintahan gak becus, salah disini disana, pemerintah si ini korupsi, dan lain2,,,
Lalu, orang2 yang sama yang berduyun mengurus permohonan Bea Siswa utk kelanjutan Kuliahnya.
Astaga, jadi (dengan kesimpulan ku yang sederhana saja) beberapa orang ini meminta uang negara untuk menimba ilmu, dan dari ilmu yang ia dapat, digunakan untuk demo anti pemerintah?
Astaga, sekolah dimana anak itu ??(maaffffff…bukan sekolahnya sih yang salah)
Ketika ada kebijakan baru, berduyun2 demo dan menunjukkan seolah jauh lebih pintar dari siapa saja yang bekerja sebagai wakil rakyat di Gedung Putih.
Padahal, sekolah saja belum selesai.
Kurang tahu, mungkin di Propinsi lain ada juga yang begitu..
Bela2in ngurus bea siswa demi bisa melanjutkan kuliah, entah karena memang orang tua kurang mampu secara finansial, atw suka2 aja minta uang dari pemerintah (karena merasa itu adalah uang dari rakyat untuk rakyat), tapi ketika lagi musim demo,,,semua turun berorasi berkoar2 menunjuk2 kejelekan.
Pemerintahan yang mereka hujat itu yang menyekolahkan mereka (sebagian)…
Lalu, tanpa takut dan malu, meghujat dan meghina Pemerintahan yang sama yang berupaya memberi mereka kualitas pendidikan yang baik.
Sebagian dari siswa2 itu aktif dalam LSM swadaya, yang memperjuangkan hak2 rakyat (katanya), menyebut2 Pemerintah tidak peduli dengan penderitaan rakyat..
Rakyat yang aneh,,,diberi makan (dana bantuan pendidikan) malah balik marah2.
Besok, ada kejutan apalagi ya di antrian pemohon bantuan dari Gedung Putih..
Pak Gub, selamat tetap bekerja…
Sedikit saja yang kupelajari dari riak pekerjaan Gedung ini, ternyata sebenarnya banyak memberi pertolongan kepada rakyatnya,,namun hanya segelintir saja yang tahu berterima kasih…
Penasaran dengan yang akan kulihat besok…..
(Semoga tulisan ini tidak menyinggung siapapun,,karena tidak kusebutkan nama siapapunn,,dan tulisan ini berasal dari pengamatan ku pribadi…Mungkin daya tangkapku tak sama dengan pembaca dan pihak yang merasa pernah berada dalam antrian itu,,,Sekali lagi, Maaf)
Presiden dan Dpr diganti? Bisa Gak Ya?
Oleh : Jakson Kummat
Kotak transparan bertuliskan
PAK BEYE kabarnya tersinggung dengan aksi pengumpulan koin untuk Presiden SBY. Menurut Menteri Sekretaris Negara, Tulang Sudi Silalahi, Presiden tidak menghendaki koin yang telah dikumpulkan secara sporadis tersebut.
Wajarkah Pak Beye tersinggung?
Tampaknya, itu cuma sekedar ucapan Tulang Sudi, dan bukan reaksi Pak Beye yang sebenarnya. Menurut saya, reaksi sebagian masyarakat yang menggalang aksi pengumpulan koin, tidak akan mempengaruhi masa kepemimpinan Pak Beye hingga 2014 mendatang.
Lha, bagaimana mungkin mengganti presiden di tengah masa pemerintahannya? Undang Undang Pemilu menegaskan, bahwa presiden dan wakil presiden diganti setiap lima tahun. Jadi, tak ada celah yang bisa membuat jabatan presiden lengser.
Bercermin dari kasus Mesir dan Tunisia yang pernah saya tulis sebelumnya, kondisi politik di Tanah Air sangat jauh berbeda. Presiden Tunisia Ben Ali sudah menjabat 25 tahun, sedangkan Presiden Mesir Hosni Mubarak telah menjabat selama 31 tahun. Secara psikologis, rakyat menginginkan perubahan karena sudah bosan dengan kepemimpinan yang cukup lama.
Indonesia saat ini tak mungkin meniru Tunisia dan Mesir. Bahkan sebaliknya, kedua Negara itu meniru Indonesia pada reformasi 1998, yang dipublikasi melalui media massa.
Menurut saya, pernyataan dari Pak Beye bahwa gajinya tak pernah naik selama tujuh tahun, itu cuma sebatas ucapan yang tak memiliki pretense apapun. Pernyataan itu disampaikan Presiden saat berpidato pada Rapat Pimpinan TNI dan Polri pada 21 Januari lalu. Akibatnya, ada pihak-pihak yang salah menafsirkan pernyataan Presiden.
Bisa jadi, pihak yang tersinggung dengan “Koin untuk Presiden” itu sebenarnya adalah lingkaran Ring I di Istana Negara. Mereka tampaknya gelisah dan enggen untuk berurusan dengan uang receh. Padahal, jika dibandingkan dengan Koin Mbak Prita Mulyasari, koin untuk Pak Beye bisa terkumpul lebih banyak jumlanya.
So, sebaiknya petinggi-petinggi di Istana lebih memilih isu yang tepat dan mendidik untuk publik. Ada baiknya membicarakan masalah yang menyangkut kepentingan banyak orang, dan menolak berkomentar untuk isu-isu yang kontra-produktif.
Sama juga dengan institusi DPR RI saat ini. Meski kini didera isu tak sedap terkait kasus korupsi di kalangan DPR periode sebelumnya, sebaiknya DPR tak perlu gerah. Biarkan saja ‘anjing menggonggong, khafilah pasti berlalu’, karena lembaga DPR tak mungkin goyah hingga Pemilu Legislatif 2014.
Dan bagi para pengkritik kebijakan, sebaiknya mawas diri. Pemilih pada Pemilu 2009 tentunya lebih memilik sikap bijak dalam mengkritik, daripada pengkritik yang tak memilih atau Golput. Tapi jika memang para pengkritik mau mengganti Presiden sebelum masa jabatan 2014, sebaiknya mengganti UU Pemilu ke Mahkamah Konstitusi. Siapa tahu usulan masa jabatan presiden yang 5 tahun, bisa menjadi 2 atau 3 tahun.
Salam Kompasiana!
Awas Penumpang Gelap di Parlemen!
oleh : Ronaldy Penumpang gelap membonceng di hak angket mafia pajak. Bentukan parlemen senayan berbagai partai ini akhirnya tak di dukung dengan bulat, 10 fraksi. 2 fraksi, Partai Demokrat (PD), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui fraksinya memerintahkan para kadernya yang sudah tergabung dalam hak angket itu, untuk segera menarik diri. Segawat itukah hak yang bernama angket mafia pajak? Benarkah, hak angket itu ingin menggoyang pemerintahan SBY - Boediono, supaya tidak bisa stabil? Yang dimaksud Tjipto dari PD, soal hak angket itu, adalah permainan partai politik (parpol), yang ingin menembak sasaran selain mafia pajak. Ditakutkan ada penumpang gelap, karena sudah ada wacana mau diarahkan ke satgas dan sebagainya,” keluhnya (detik.com 26/1-2011) Menurut penjelasan pasal 27 huruf c UU no 22 tahun 2003, bahwa sebenarnya hak angket adalah DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintahyang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Jika, berkaca dan berpaut pada penjelasan UU yang dimaksud di atas, maka wajar saja partai pemerintah, dalam hal ini PD, gerah, dan mengkhawatirkan pasal ini, khususnya dengan tambahan mafia pajak. Bisa-bisa, hak angket ini bisa disalah gunakan pada hal-hal yang tidak perlu. Ujungnya, menggoyang pemerintahan SBY - Boediono. Dan, satgas mafia hukum yang didalamnya ada nama Denny Indrayana, jelas-jelas menjadi sasaran tembak yang empuk. Soal Panja dan Pansus DPR Peneliti Bidang Hukum Indonesian Corruption Watch (ICW), Febri Ferdiansyah, adalah hal yang tak pasti dan tak terselsaikan penyelesaian kasus hukum yang tersangkut kasus korupsi, dibentuk panja, pansus, dan hak angket (PPHA). Jika ini terjadi, akan mencederai proses hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena adanya tekanan politik (pembentukan panja, dll) dalam kasus hukum, terutama korupsi, tegasnya. Bahkan, Gerakan Rakyat Anti Mafia Hukum (GERAM), dimotori pengacara senior, Todung Mulya Lubis, dengan lantang menyerukan bahwa penegakan hukum yang ada; Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Komisi Pemberantasan Korupsi, agar berada di garda terdepan dalam mengungkap kasus-kasus kejahatan korupsi yang terorganisir. Dan, pihaknya (GERAM) mendukung langkah-langkah serta upaya yang dilakukan oleh lembaga penegakan hukum, tegas pengacara majalah Time versus Soeharto. Tengoklah sedikit kebelakang, belum genap setahun pansus century yang dibentuk DPR, ujung dan akhirnya melempen dan tak berhasil mengangkat akar permasalahan yang ada. Jika, pansus ini menjadi acuan pada pembentukan pansus dan panja berikutnya (pasca pansus century) , pantas saja kegelisahan dan kegundahan dan skeptis melanda sebagian besar rakyat Indonesia, terutama dari kalangan profesional - independen yang concern terhadap bidang hukum. Namun, alasan sebagian DPR membentuk panja, pansus dan hak engket ini, tak terlepas dari keseriusan untuk memberantas dan memerangi korupsi, elak fungionaris legislatif dari beberapa partai pendukung gerakan pembentukan ini. Bahkan, tegasnya fungsi dari DPR sebagai keputusan politik, gunanya pembentukan PPHA supaya lembaga penegakan hukum bekerja dengan serius dan tak berkesan pada siapa saja, termasuk yang berkuasa, ujarnya lagi. Jadi, tinggal tergantungt dari kita sebagai rakyat awam yang belum dan mudah-mudahan tidak terkontaminasi pada kepentingan politik, untuk memilih dan memutuskan, bahwa apakah ada keuntungan yang signifikan dengan pembentukan PPHA bagi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia, terutama soal korupsi yang menurun atau sebaliknya?
Sombongnya Anggota Dewan
Oleh : M. Rasyid Nur
DENGAN sombong dan pongah sekali, lebih dari separoh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI komisi III (Komisi Hukum) menolak Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam acara RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara Komisi III DPR RI dengan KPK di gedung DPR beberapa hari lalu. Gayus Lumbun cs ternyata masih menganggap Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah sebagai manusia terdakwa atau tersangka yang statusnya tetap terdakwa atau tersangka walau sudah mendapat deponering Kejaksaan Agung. Tidak beretika, menurut anggota dewan terhormat itu. Tapi benarkah mereka yang menolak itu benar-benar terhormat padahal mereka tidak menghormati pimpinan KPK? Dan benarkah Bibit- Candra adalah masih tersangka saat itu?
Dengan kesimpulan dua pimpinan KPK yang masih dianggap terdakwa atau tersangka itu para anggota dewan yang merasa wakil rakyat itu begitu lantang menolak kehadiran para pimpinan KPK. Dengan berapi-api mereka berargumen kalau kedua pimpinan KPK yang masih terdakwa atau tersangka, tidak layak duduk di ruangan DPR yang dibiayai oleh rakyat itu. Gayus Lumbun cs tampaknya memang lebih suka Bibit- Candra ke pengadilan dari pada ke KPK untuk terus memimpin pemberantasan korupsi. Dia juga pasti tahu kalau sudah ke pengadilan, otomatis keduanya berhenti memimpin pemberantasan korupsi di negeri penuh korupsi ini. Selanjutnya tentu akan ada lagi kerja mereka untuk memilih pimpinan KPK yang baru. Karena proyek? Rakyat pasti akan mempunyai seribu interpretasi terhadap kesombongan anggota Dewan itu.
Saya memang tidak terlalu paham hukum. Tapi jika benar yang dijelaskan Jaksa Agung, Basrif bahwa setelah kasus Bibit-Candra dideponering berarti kasus itu sudah dianggap tidak ada dan artinya kedua pimpinan KPK itu tidak bisa lagi disebut berstatus tersangka maka tentu tidak pantas anggota dewan memperlakukan pimpinan KPK itu seperti itu. Tapi mengapa kelompok Gayus, Yani, Trimedia dll itu menolak dengan alasan status tersangkanya belum atau tidak hilang? Yang mana yang benar? Sekali lagi, rakyat pasti menafsirkan bermacam.
Kalau rakyat menafsirkan bahwa kepongahan anggota dewan itu tidak lebih dari sekedar kompensasi terhadap penegakan hukum yang dilakukan KPK, jangan salahkan rakyat. Kita tahu, baru beberapa hari sebelumnya 19 orang mantan anggota dewan periode 2004-2009 dijebloskan KPK ke tahanan. Maka tidak mungkin tidak ada hubungannya. Itulah salah satu anggapan rakyat. Artinya, anggota dewan yang sombong ini sebentar lagi akan berhadapan dengan rakyat yang katanya diwakilinya.
Sesungguhnya, jika pun keduanya tidak diberi deponering (seperti jamannya Hendarman Supandji) semua orang juga tahu dan juga banyak yang yakin kalau status tersangka menuju terdakwa bahkan direncanakan akan menjadi terpidana itu, adalah buah kerja rekayasa para mafia hukum. Mereka sudah jelas memang tidak suka dengan KPK. KPK memang tinggal satu-satunya lembaga hukum yang tahan pencemaran. Polisi, jaksa, hakim? Sudah sama-sama kitan ketahui sebagian dari mereka adalah menjadi bagian dari mafia hukum itu sendiri.
Jadi, buat para mafioso itu memang perlu mempreteli KPK. KPK tampaknya sama sekali tidak mau disogok atau dirayu dengan uang seberapapun. Dengan seolah-olah membesar-besarkan nama institusi polisi dan jaksa para penentang KPK berusaha membonsai KPK. Dalam setiap kesempatan di depan umum (wartawan) mereka selalu mengatakan bahwa polisi dan jaksa harus dibesarkan untuk menegakkan hukum termasuk memberantas korupsi. Polisi dan jaksa adalah isntitusi resmi yang berdasarkan undang-undang. KPK tidak diperlukan, begitu kata kelompok mafio ini. Mungkin mereka lupa bahwa para oknum di institusi resmi itu telah merusak institusinya sendiri sehingga rakyat belum juga percaya.
Kini tiba-tiba anggota dewan itu mempermasalahkan status pimpinan KPK dan bahkan dengan sombongnya menolak kehadiran mereka di rumah rakyat. Padahal anggota dewan juga kabarnya yang mengundang pimpinan KPK. Apakah dalam undangan memang hanya bertiga? Apakah daftar nama pimpinan KPK yang diundang ke dewan itu sudah nyata membatasi di luar nama Bibit- Candra?
Bagaimanapun, peristiwa penolakan kehadiran pimpinan KPK oleh anggota dewan, sepertinya tidak lebih dari sekedar bentuk kepongahan dan kesombongan dari sebagian anggota dewan itu. Tunggulah pembalasan dari rakyat, Anda-anda yang jelas oleh rakyat menolak itu, tidak hanya didoakan bahwa Anda akan mendapat penolakan di tempatnya nanti akan tetapi juga tidak akan ada lagi yang memilih Anda jika mau terus menjadi anggota. Sudahlah, janganlah terus-menerus seperti orang sombong. ***
Pramono Anung: Citra Tanpa Kerja Pasti Ditinggalkan Rakyat
Laurencius Simanjuntak - detikNews
"Saya menyakini politisi yang hanya menjaga citra tanpa melakukan kerja nyata dan memenuhi janji yang dibuatnya, pasti suatu hari akan ditinggalkan konstituennya yang kecewa karena politisi tersebut hanya sibuk menjaga citranya," kata Pramono usai acara pemberian penghargaan di Hotel Nikko, Jl MH Thamrin, Rabu (19/1/2011) malam.
Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Pram, sapaan akrabnya, yang kini sedang mengambil program doktor Ilmu Komunikasi Politik di Universitas Padjadjaran:
Anda mendapat Charta Politika Award 2010 untuk kategori Politisi Parpol Oposisi Berpengaruh di Media Tahun 2010. Apa makna penghargaan itu buat Anda?
Penghargaan tentunya merupakan apresiasi masyarakat tentang apa yang sudah kita perbuat dan lakukan. Saya tidak pernah melakukan sesuatu dengan mengharapkan penghargaan, tetapi bila kita mendapatkan apresiasi tentunya hal yang postif bagi diri saya karena ternyata publik menghargai terhadap apa yang sudah kita lakukan dan sekaligus menjadi tantangan agar kepercayaan publik selalu dapat kita jaga.
Apa makna komunikasi politik buat Anda?
Komunikasi politik adalah aktivitas komunikasi yang sarat akan tujuan. Aktivitas yang dimaksud tidak hanya berbentuk komunikasi verbal dan tertulis, tetapi juga melibatkan simbol-simbol non verbal seperti warna pakaian, rias wajah, gaya rambut, desain simbol, logo dan sebagainya. Dengan kata lain, identitas atau citra politik turut berperan dalam komunikasi politik.
Dalam komunikasi politik dituntut bagaimana seorang politisi dapat menyampaikan ide, gagasan, dan pemikiran kepada publik dan tentunya mengharapkan publik dapat terpengaruh dan mengikuti apa yang menjadi keinginan komunikator. Dalam negara demokrasi, komunikasi politik menjadi hal yang penting karena sebuah ide atau gagasan tidak hanya harus baik tetapi bagaimana disampaikan secara baik melalui media massa yang baik juga menjadi hal yang penting.
Banyak yang berpandangan komunikasi politik justru memberi jarak pada esensi politik itu sendiri (kerja untuk rakyat), karena bisa terjebak pada pencitraan dan sebagainya. Tanggapan Anda?
Dalam demokrasi dan era keterbukaan publik yang menuntut adanya citra yang baik dari seorang politikus, menuntut seorang politikus untuk bisa memerankan citra yang baik dalam setiap panggungnya, sehingga ada perbendaan antara panggung depan, yang berhubungan langsung dengan aktivitas politiknya dan panggung belakang, realita kehidupan kesehariannya.
Sekarang ini banyak politisi yang terjebak untuk memainkan peran dramaturgis, itu menurut Erving Goffman, yaitu dengan baik memerankan panggung depannya tetapi mengabaikan kerja nyata bagi masyarakatnya. Saya menyakini politisi yang hanya menjaga citra tanpa melakukan kerja nyata dan memenuhi janji yang dibuatnya, pasti suatu hari akan ditinggalkan konstituennya yang kecewa karena politisi tersebut hanya sibuk menjaga citranya.
Anda sedang mengambil program doktoral bidang komunikasi politik di Universitas Padjadjaran. Apa itu mempengaruhi Anda dalam berkomunikasi praksis sebagai politisi sehingga meraih penghargaan?
Saya sedang mengambil doktor Ilmu Komunikasi Politik di Universitas Padjadjaran, tentunya banyak hal yang berpengaruh dalam cara pandang saya terhadap komunikasi politik walau selama ini sudah menjadi kegiatan sehari-hari yang dijalani. Sebagai politikus saya merasa dengan pengetahuan secara teoritis yang lebih baik dan mendalam akan sangat membantu dalam melakukan komunikasi politik.
Menurut Anda, apa keuntungan dan kerugian menjadi politisi dari parpol oposisi, terkait dengan komunikasi politik yang Anda lakukan?
Dalam demokrasi memerlukan adanya check and balances. Sebagai partai di luar pemerintahan terdapat kerugian terutama menyangkut akses kepada pusat-pusat kekuasaan, terutama yang menyangkut akses ekonomi sehingga seringkali menyulitkan partai untuk bisa menjalankan roda organisasinya karena terbentur masalah pembiayaan dan kurangnya proses pembelajaran bagi kader untuk bisa memimpin secara langsung dipemerintahan.
Keuntungannya adalah lebih dekat dengan publik dan rakyat, karena setiap waktu bisa menyalurkan dan menyampaikan apa yang menjadi aspirasi atau keinginan rakyat dan bisa membuat tawaran alternatif kebijakan yang berbeda dengan apa yang menjadi kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa.
Kalau harus memilih salah satu: 'menjadi populer tapi minim kerja untuk rakyat' atau 'tidak populer tapi maksimal kerja untuk rakyat', mana yang Anda pilih?
Tentunya secara lugas saya akan memilih menjadi "tidak populer tapi maksimal kerja untuk rakyat", sebab tujuan utama saya terjun menjadi politikus adalah untuk bisa berbuat sesuatu yang nyata bagi masyarakat.
Dengan latar belakang anak guru SMA di Kediri, dengan 7 bersaudara, saya mengalami dan mengetahui beratnya kehidupan di masyarakat, sehingga perlu ada politisi atau pemimpin yang sungguh-sungguh bersedia dan mau bekerja untuk rakyat secara nyata, tidak sibuk dengan kepentingannya sendiri, terutama dalam menjaga citranya.
(lrn/nrl)
Saya Akan Makin Dekatkan Rakyat Kedua Negara
Eddi Santosa - detikNews
Dubes Norwegia RA Esti Andayani
"Kini saya akan makin mendekatkan hubungan rakyat kedua negara," tekad Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia R.A Esti Andayani, yang baru 9 bulan menempati pos KBRI Oslo terhitung sejak dia menyerahkan surat kepercayaan kepada Raja Harald V (15/4/2010).
Baru menginjak bulan ke-8 Esti, yang dikenal egaliter dan menghormati para pendahulu, sudah mendapat tugas tidak ringan yakni kunjungan Presiden RI Yudhoyono dalam rangka menghadiri Oslo CFC 2010 atau Konferensi Oslo untuk Perubahan Iklim, sekaligus menjadi co-chairs bersama PM Norwegia Jens Stoltenberg, Desember lalu. Sebelum presiden tiba, perundingan di Oslo yang mengegolkan LoI hibah senilai US$ 1 miliar berlangsung alot sampai pukul 03.00 dinihari.
Januari 2011, Esti memimpin partisipasi Indonesia di Reiseliv Oslo dan meraih penghargaan sebagai partisipan terbaik. Di sela-sela kesibukan di Reiseliv, Esti meluangkan waktu untuk wawancara dengan detikcom baru-baru ini. Berikut ini petikannya.
Dapat dijelaskan bagaimana hubungan Indonesia dengan Norwegia saat ini?
Hubungan bilateral Indonesia-Norwegia saat ini sangat baik, sedang di puncak-puncaknya. Ini hasil rintisan sejak lama oleh para pendahulu saya. Juga di multilateral terus meningkat, terutama tahun 2000-an mulai dirintis Human Right Dialogue, di zamannya Dubes Retno. Terus ada lagi Global Intermedia Dialogue yang dipicu oleh adanya kartun pelecehan agama. Ini terus bergulir sampai pada suatu titik di multilateral khususnya dalam isu lingkungan hidup dan perubahan iklim, di mana kita menjadi motor, tuan rumah, juga ketua pada United Nations Climate Change Conference (UNCCC) di Bali (2007).
Ada capaian-capaian atau indikator-indikator lainnya?
Hubungan jelas meningkat tidak hanya bisa dilihat di tataran riil tetapi juga di tingkat kebijakan, ditandai antara lain dengan saling kunjung Presiden ke Norwegia di 2006. Lantas PM Norwegia ke Indonesia pada waktu Global Intermedia Dialgue, tahun itu juga. Ada saling kunjung. Presiden kembali berkunjung ke Norwegia pada Desember 2010 kemarin. Sebelumnya sudah ada saling kunjung antar menteri luarnegeri. Ini semua menunjukkan hubungan yang sangat baik.
Terlihat begitu penting Norwegia melihat Indonesia, mengapa?
Mereka memperhatikan betul bahwa Indonesia mempunyai prospek ke depan, apalagi setelah kita masuk G20. Mereka menyadari bahwa Indonesia menjadi negara strategis untuk mengembangkan hubungan bilateral. Oleh karena itu tahun lalu (2010) Kementerian Luarnegeri Norwegia mengumumkan bahwa untuk 2011 akan dilakukan peningkatan kapasitas Kedubes Norwegia di Jakarta untuk menangani berbagai isu yang sekarang semakin meningkat dengan Indonesia, terutama bidang ekonomi dan lingkungan hidup. Momentum ini harus kita manfaatkan betul. Bagi kita Norwegia juga negara sahabat yang tidak pernah berusaha mencampuri atau mendikte.
Dana hibah Norwegia US$ 1 miliar untuk Indonesia itu tidak kecil. Bagaimana prosesnya?
Hibah untuk Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation/REDD (Pengurangan Emisi dari Penggundulan Hutan dan Degradasi Hutan, red) itu melalui perundingan sangat alot sampai pukul 03.00 dinihari di Oslo. Kita ingin hasrat hibah itu tidak secara lisan, tapi dituangkan secara tertulis. Sebelum presiden datang, tim perunding dari Jakarta di Oslo mengatakan bahwa kalau Anda tidak bersedia menandatangani, maka presiden kami tidak jadi datang. Akhirnya mereka bersedia menuangkan hibah US$ 1 miliar itu secara tertulis dalam LoI.
Hibah akan diberikan bertahap sesuai dengan delivery-nya. Saat ini indonesia sudah berada dalam tahap kesiapan dari 3 tahap yang disepakati, yakni tahap persiapan (2007-2008), tahap kesiapan (2009-2012), dan tahap pelaksanaan penuh (pasca 2012).
Mengapa kepercayaan Norwegia begitu besar?
Mereka percaya pada kita karena mereka melihat bahwa demokrasi kita berjalan dengan baik. Ekonomi kita juga solid, pernah minus saat krisis 1998 kok terus tumbuh dan tidak terdampak oleh krisis 2008. Itu antara lain yang membuat mereka yakin bahwa kita akan sukses.
Greenpeace di dalam negeri mengkritisi kebijakan perhutanan dan produksi CPO Indonesia. Apakah isu ini juga mendapat perhatian di Norwegia?
Di tingkat NGO di Norwegia memang hal itu sempat menjadi perhatian. Pemerintah Norwegia mengikuti dengan cermat bahwa pengalihan lahan menjadi perkebunan adalah lahan yang memang sudah tidak layak lagi untuk hutan. Itu lahan yang sudah terlanjur dan kita tidak membuka lagi lahan-lahan seperti itu. Jadi bukan hutan dialihkan untuk perkebunan. Tidak seperti itu. Ini menjadi bagian dari tugas kami di KBRI untuk menjelaskan.
Bagaimana neraca kedua negara dalam bidang ekonomi?
Di bidang ekonomi juga terus meningkat dan potensi kedua negara sangat besar. Hubungan perdagangan berjalan baik dan aktif, bahkan kini tampak semakin berkembang pesat dan secara berangsur-angsur komoditi ekspor dan impornya menjadi lebih beragam. Perkembangan ini tercermin dari volume perdagangan yang naik 45% dari NOK 1169 juta (2009) menjadi NOK 1695 juta (2010) dengan komposisi nilai ekspor Indonesia ke Norwegia naik 13% dari NOK 772 juta (2009) menjadi NOK 872 juta (2010). Sedangkan impornya dari Norwegia juga naik 109% persen dari NOK 393 juta (2009) menjadi NOK 823 juta (2010), sehingga neraca perdagangan masih memperlihatkan posisi surplus untuk Indonesia sebesar NOK 49 juta.
Kenaikan ekspor Indonesia ke Norwegia meliputi garmen, alas kaki dan perabot. Sebaliknya kenaikan impor Indonesia dari Norwegia disebabkan ada lonjakan drastis impor kelompok manufactures of metals, bahan kimia, dan permesinan.
Terkait isu integrasi yang sedang marak, bagaimana dengan orang Indonesia di Norwegia?
Menurut saya orang Indonesia itu mudah berintegrasi. Saya belum pernah mendengar warga Indonesia di Norwegia mendapat perlakukan kurang menyenangkan. Orang Indonesia dikenal tekun, jujur dan loyal. Di Oslo dan sekitarnya jumlah warga kita ada 260 orang, di seluruh Norwegia totalnya ada 740 orang, termasuk 81 orang mahasiswa.
Bagaimana hubungan di bidang sosial budaya dan antar-masyarakat dua negara yang secara geografis terpisah sangat jauh ini?
Hubungan di bidang ini boleh dikatakan juga sangat erat. Apalagi dikaitkan dengan banyaknya mahasiswa Norwegia yang belajar pra-universitas di Indonesia, terutama di Bali. Tercatat ada empat college yang bekerjasama dengan berbagai yayasan di Indonesia dan Universitas Udayana dalam pengiriman mahasiswa. Sebaliknya kita juga sudah punya kursus Bahasa Indonesia untuk masyarakat Norwegia di Oslo dan sekitarnya. Juga ada grup kesenian yang melibatkan warga Norwegia pecinta kebudayaan Indonesia.
Kegiatan kebudayaan dan kontak antar-masyarakat ini akan terus kita tingkatkan untuk semakin mengangkat awareness dan popularitas Indonesia, yang muaranya akan mendukung ekonomi. Termasuk partisipasi kita di Reiseliv 2010, yang mendapat penghargaan The Best Exhibitor Award. Bagaimana kita mau menjual, kalau kita kurang dikenal? Ini momentum sangat baik bagi saya. Ada capaian-capaian itu dan saya harus menjaga betul agar semua tetap terus bergulir.
R.A Esti Andayani, Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia.
Lahir: Yogyakarta, 31 Januari 1957. Pendidikan Formal: Fakultas Sosial Politik Universitas Indonesia (1983), Karir: Direktur Kerjasama Teknik, Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI (2010-2005), Direktur Komoditi dan Standardisasi, Ditjen Ekonomi Multilateral, Keuangan dan Pembangunan Kemlu RI (2005-2004), Konselor Ekonomi pada Misi Indonesia untuk PBB di Genewa, Kasubdir Kerjasama Ekonomi, Direktorat Hubungan Ekonomi Negara-negara Berkembang Kemlu RI (2002-1999), Sekretaris II Sosial Ekonomi pada Misi Indonesia untuk PBB di New York (1999-1994).
Klaim Sejarah Malaysia Argumennya Ngawur
JAKARTA – Klaim sejarah Riau-Lingga dan sebagian besar Pulau Sumatera merupakan jajahan Kerajaan Johor tidak akan menggangu hubungan Indonesia dan Malaysia, atau memunculkan protes massif dari masyarakat.
"Enggak akan massif, kalau soal TKI atau TKW mungkin banyak protes. Tapi kalau soal yang tidak jelas dan argumennya ngawur begini tidak akan ditanggapi," terang anggota Komisi I Bidang Pertahanan DPR Ramadhan Pohan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/1/2011).
Menurutnya, klaim salah seorang warga negara Malaysia, Mohd Am tersebut tidak perlu direspons, jika tak memiliki basis data dan logika yang jelas.
Pasalnya, reaksi yang berlebihan dari masyarakat Indonesia hanya akan menjadi bahan tertawaan warga Malaysia. "Kalau reaksi kita berlebihan justru jadi bahan tertawaan orang Malaysia nanti. Mereka cukup rapi kok intelijen mereka untuk menunjukkan kita bodoh," katanya.
sumber
Gaji Menteri Cuma 19 Juta? Tekor Pasti, Ya?
Oleh : Posmasiahaan
“Ah, gak mungkin. Ini pembohongan publik lagi. Masak dinaikkan saja gaji dan tunjangan menteri sebulan hanya 19 juta?” Kata sang istri geleng-geleng kepala membaca koran kemarin.
“Memang yang wajar berapa? Dan kenapa mama bilang pembohongan?” Tanya suaminya ikut nimbrung baca koran.
“Coba, ya mama hitung.Asuransi dan pajak kita kalau dihitung bulanan 5 jutaan, sekolah dan les anak-anak 2 jutaan, listrik-air-pulsa-internet sekitar 2 jutaan, belanja makan 5 jutaan, bensin 2 mobil 1 jutaan, belom lagi kasih uang ke orang tua papa dan mama 2 jutaan. Total lebih 20 jutaan.” Kata si istri lagi sambil memencet-mencet kalkulator.
” Nah, lo. Jadi pengeluaran kita sebulan sebanyak itu?” Sang suami pun melotot keheranan.
“Iyalah. Papa pikir gaji papa yang 15 juta itu cukup apa buat biaya hidup kita sebulan? Kalau mama tidak bolak balik ke Jakarta jual songket Palembang dan jual berlian dari Jakarta ke palembang, mana cukup. Untung mama masih punya darah bisnis dari Oma yang keturunan China. Kalau enggak, sudah sejak kawin papa mama suruh korupsi, tahu enggak?” Dan si istri pun tertawa bangga, melihat si suami bertepuk tangan standing aplaus memuji kehebatan istrinya mengelola keuangan keluarga mereka.
“Iyalah, mam. Banyak peluang korupsi di kantor, tetapi papa tidak mau, karena papa pikir gaji kita cukup-cukupan saja. Eh, ternyata yang bikin cukup dan malah bisa menabung mama tersayang. Hehehehehehe.” Lalu suami itu pun mencium pipi kiri dan kanan serta memeluk istrinya.
“Saya dukung mama berbisnis ya ma. Papa tidak sanggup korupsi. Atasan papa ada saja penyakitnya, jantungan, asma. Teman lain seangkatan yang suka mark-up sakit diabetes dan asam lambung, ada yang depresi dan tergantung obat penenang, ada yang jadi pecandu narkoba, ada yang hobby selingkuh dan kawin cerai, ada yang anaknya hamil di luar nikah sampai menggugurkan kandungan. Semua bisa terjadi pada orang yang tidak korupsi, tetapi karena mereka korupsi dan tertimpa musibah, mereka jadi menyalahkan diri sendiri.” Kata si suami merenung.
“Jadi menurut papa, kenapa orang-orang partai berebutan menempatkan kader-kadernya menjadi menteri? Padahal kalau melihat gajinya, pasti tekor. Biaya hidup mereka pasti lebih besar dari kita, kan?” Si istri penasaran.
“Iya, ya. Mungkin partai-partai itu pengen istri-istri si menteri bisnis songket dan berlian juga ke seluruh negeri, kan hasilnya lebih banyak daripada bisnis mama yang cuma di Palembang-Jakarta? Hehehehe…” Si suami pun mencubit tangan istrinya.
“Ah, boro-boro berbisnis. Kerjaan istri-istri menteri kebanyakan ke salon, belanja baju mahal, jalan-jalan ke luar negeri, kok. Gak mungkin itu…” Si istri pun jadi mikir sendiri.
“Ya, mungkin ada dana operasional lain yang kita tidak tahu. Seperti presiden, gajinya 63 juta tetapi dana taktisnya 2 milyar. Tetapi mestinya digabung saja, gaji presiden 2 milyar 63 juta, supaya rakyat tahu apa sih ‘jatah’ seorang presiden sebulan? Jadi kita mengerti selama 5 tahun presiden minimal ada dana 120 an milyar. Ini menteri gajinya 19 juta, secara logika tekor. Nah, dana taktisnya berapa? Kalau secara resmi tidak ada, berarti setiap menteri memang disuruh nyari dana taktis masing-masing setaktis-taktisnya. Ya, habis deh semua ditaktisin.” Si istri pun bersungut-sungut kesal dan pergi ke dapur untuk memasak makan malam.
Tinggal si suami terdiam, sambil mikir. Kalau menteri yang rata-rata tokoh-tokoh bercitra bagus, agamanya kuat (kelihatannya) dan jadi teladan di masyarakat selama 5 tahun hanya digaji tekor dan diijinkan bertaktis-taktis ria, apalagi 6 jutaan PNS yang gajinya cuma 2-4 juta sebulan?
Pilihan abdi negara ini cuma tiga. Mencukupkan diri dengan gaji yang ada, mencari penghasilan tambahan dengan cara halal seperti yang dilakukan istrinya, atau menyiapkan cara taktis untuk mendapatkan dana taktis setaktis-taktisnya..
Tangisan Rakyat, Tangisan Tuhan ???
Oleh : Ihsan fathurrohman
di alam demokrasi, kita sering mendengar bahwa suara rakyat adalah suara tuhan. begitu istimewanya rakyat dimata demokrasi, tapi itu hanya sebatas kamuplase dalam mendapatkan suara dalam pemilu pada waktu itu. ketika hari ini rakyat menangis akibat pemimpin yang memanfaatkan suaranya. apakah tangisan rakyat juga tangisan tuhan ????
ini adalah realita yang pahit untuk dibicarakan. rakyat menangis ketika harga cabai naik di tambah dengan hukuman seorang gayus yang hanya tujuh taun, padahal dia telah mengambil uang yang seharusnya menjadi hak rakyat indonesia. dimana letak keberpihakan pemerintah terhadap rakyat ??
hari ini bukan saatnya pemimpin melakukan pencitraan lewat buku-buku yang diberikan kepada siswa SMP. tapi berpikir bagaimana supremasi hukum dan kesejahteraan rakyat tewujud sesuai dengan kampanye yang dulu pernah dia janjikan.
Boomerang Pa’ Beye
oleh : Ayu Adriyani Yusuf
Hemmm, hari ini saya menonton berita dari sebuah channel televisi. Ya, kalau kemarin masih sibuk bicara tentang Gayus, hari ini lagi panas-panasnya bicara tentang “keluhan Pa’ Beye akan gajinya”. Ternyata Indonesia selalu punya berita yang siap menangkap sinyal mata membelalak di seantero negeri.
Berulang kali media, menayangkan Pa’ Beye saat menyampaikan pidatonya. Huuaammmm,,,,,kembali lagi, kali ini saya menulis bukan karena saya ada posisi Pro Pa’ Beye, tidak juga pada posisi kontra. Karena, kodrat kita sebagai seorang manusia adalah mempercayai bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tidak memiliki kesalahan.
Di depan Rapim TNI/POLRI 2011, menurut saya itu bukan keluhan. Seperti apa yang selama ini dinilai oleh rakyat, ataupun yang semakin gencar diberitakan awak media. Menurut saya itu Cuma statement biasa yang digunakan untuk merespon keadaan sekarang. Tapi, saya setuju dengan seorang ahli komunikasi politik yang mengatakan bahwa sekalipun itu bukanlah sebuah keluhan, tapi sepertinya tidaklah pantas seorang pemimpin berkata demikian. Ya, tidak pantas memang!
Pa’ Beye bukan tidak mungkin berkata demikian untuk menarik simpati rakyat, tapi sayang kenyataan tidak berkata demikian. Kata-katanya sendiri kemudian menjadi boomerang baginya. Rakyat juga tidak bisa disalahkan ketika salah mengartikan, karena sejatinya seorang pemimpin adalah seorang yang senantiasa menjadi sorotan. Terutama, dalam berkata-kata. Komunikasi yang seperti inilah yang terkadang diabaikan, namun kemudian menjadi boomerang bagi seorang pelaku komunikasi.
Curhat Gaji SBY dan Kebohongan Pemerintah
oleh : ade indonesia
Curhat Gaji SBY dan Kebohongan Pemerintah
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali mengungkapkan isi hatinya alias curhat. Curhat terbaru yang dikeluarkan oleh Presiden “Curhat” SBY adalah mengenai gajinya sebagai Presiden tidak pernah naik selama tujuh tahun menjadi Republik, welnu, kita sebut saja itu sebagai “curhat gaji”. Curhat Gaji itu diutarakan oleh SBY pada acara Rapat Pimpinan TNI dan POLRI Tahun 2011 di Balai Samudera, Jakarta, Jum’at 21 Januari 2011.
Berdasarkan catatan di Bagian Angggaran Kementerian Keuangan, gaji pokok presiden sekitar Rp 30,24 juta dan tunjangan presiden Rp 32,5 juta. Total pendapatan presiden sekitar Rp 62,7 juta per bulan. Malahan, sewaktu habis jogging Minggu pagi, saya melihat talkshow di sebuah TV swasta nasional, salah seorang narasumber mengatakan bahwa Presiden masih mendapat dana dari pembuatan dan penyampaian pidato kenegaraan, nominal-nya mencapai lebih dari 1 milliar pertahun. Wah, pidato mahal amat!!, Padahal dulu, saya masih ingat bagaimana SBY mendapat kritikan pedas tatkala ia berpidato dengan ‘mencotek’ tulisan di Ipad merk Apple, sedangakan lambang Apple itu di atas lambang negara kita, yaitu Burung Garuda. Seperti gitu aja hasilnya, 1 milliar per tahun! C’est fou! It’s crazy!
Well, tampaknya SBY yang berpendapatan Rp 62,7 per bulan itu ternyata juga merasa tertekan, merasa tidak nyaman dengan lonjakan harga-harga pangan belakangan ini. Asal tahu saja, harga 12 jenis komoditas pangan meningkat tajam. Bahkan, harga tiga komoditas naik lebih dari 90 persen. Kenaikan tertinggi pada harga cabai rawit, yang dalam rentang Januari 2010-2011 naik 341,23 persen, menjadi Rp 63.424 per kilogram. Adapun harga beras premium dalam rentang Januari 2010-2011 naik 22,74 persen menjadi Rp 9.200 per kg, cabai rawit dan bawang merah naik 99,53 persen menjadi 25.048 per kg.
Jikalau SBY yang bergaji 62,7 per bulan itu juga ikut mengeluh, sambat, merana dengan gajinya yang tidak pernah naik sedangkan harga-harga pangan melambung tinggi, bagaimana dengan nasib rakyat kecil, kaum kromo, proletariat? Lalu bagaimana nasib Pak Marhaen? Sudah tentu nasibnya rakyat kecil, nasibnya Kang Marhaen menjadi lebih menderita, menjadi lebih merana. Tempo hari yang lalu, media massa-mass media memberitakan tentang peningkatan angka bunuh diri. Salah satu faktor kuat penyebabnya adalah faktor ekonomi, faktor KEMELARATAN di negri yang dianugerahi Tuhan YME dengan melimpahnya kekayaan alam. Bahkan, ada 4 atau 6 orang bersaudara meninggal dunia karena keracunan thiwul! Mereka terpaksa makan thiwul karena tidak punya cukup uang untuk beli beras! Zij haden geen veel geld om reis te kopen! Holly shit! This is poverty!!
SBY curhat tentang gajinya yang Rp 62,7 juta per bulan belum pernah naik, hal itu bisa juga bearti SBY ingin gajinya dinaikkan, tersirat juga bahwa SBY merasa gajinya masih kurang, yang tersirat belum tentu tersurat! Seperti cinta yang tersirat dalam gerak tubuh, meski bibir mengatakan tidak, tapi mata memancarkan sinarnya hehehe ;)
Yang menjadi soal kemudian, apakah kinerja SBY selama 6 tahun keprseidenannya (Yudhoyono’s presidency) cukup baik sehingga ia minta gajinya dinaikkan? Apakah keluhan alias curhat gaji SBY berjalan lurus dengan kinerja pemerintahannya?
Yang jelas, menurut survey litbang Kompas yang dipublikasikan tanggal 17 Januari 2011, tingkat kepuasaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan SBY terus menurun, terus merosot. Hal itu dapat diartikan bahwa rakyat menilai-rasakan kinerja SBY buruk, rakyat menganggap SBY tidak becus menjalankan roda pemerintahan dan gagal menyejahterakan rakyat seperti janji-janji muluknya dalam setiap kampanye pilpres.
Malahan, tempo hari yang lalu, tepatnya 10 Januari 2011, sejumlah tokoh lintas agama berbicara tentang kebohongan pemerintah SBY. Ada 18 kebohongan pemerintahan SBY. Berikut beberapa kebohongan pemerintahan SBY.
Pertama, awal November 2009, Presiden mengatakan, prioritas 100 hari bukan sekedar swasembada, melainkan surplus pangan. Namun, pemerintah serahkan harga kepada pasar. Akibatnya Kompas (7/1/11) membuat berita utama bahwa pilihan rakyat tinggal “Utang, Kurangi Makan, Bunuh Diri” karena “Kesulitan Ekonomi secara Masif Dirasakan Rakyat”.
Kedua, tentang data angka kemiskinan. Pemerintah berkali-berkali menyatakan berhasil mengurangi kemiskinan (batas garis kemiskinan pengeluaran Rp 211.726 per bulan) 31,02 juta jiwa. Menurut tokoh agama, dengan pendekatan jumlah penduduk yang layak menerima raskin (beras miskin) tahun 2010, penduduk miskin berjumlah 70 juta jiwa. Yang benar saja Rp 211.726 per bulan! Cukupkah nafkahnya Rp 211.726 sebulan?
Jikalau mengikuti logika SBY;
“Gebleken is dat het thans voor volwassenen mogelijk is, zich voor Rp 211.726 per maand te voeden” artinya:
“Ternyatalah bahwa kini satu orang dewasa bisa cukup makan dengan Rp 211.726 sebulan”
Benarkah itu? Well, gila! Uang segitu pun tidak cukup untuk belajar Bahasa Perancis 1 level di Centre Culturel Français!! Masih kurang untuk membeli lengkap cerita bergambar Mahabharata! Dengan nafkah segitu, seumur hidup pun juga tidak akan bisa memainkan “Für Elise” karya Beethoven dengan piano!! Avec le salaire Rp 211.726, c’est impossible pour faire du piano! c’est très triste! Je n’aime pas l’administration de Yudhoyono! Je détèste beaucoup, et vous aussi?ik haat, en haten jullie ook?
Ketiga, saat Sumiyati, tenaga kerja Indonesia disiksa di Arab Saudi, kemudian setelah rapat khusus, SBY menyatakan akan melengkapi TKI dengan ponsel (19/11/2011). Ponsel tidak jadi diberikan dan nota kesepahaman alias Memorandum of Understanding (MOU) tidak jelas. Padahal menurut Migrant Care jumlah TKI meninggal 1.018 orang (2009) dan 1.075 orang (2010). Well, mengingat banyaknya TKI meninggal (dibunuh) di Timur Tengah pada waktu itu pun saya ‘sensi’ alias sebal kepada kata “Arab”. Untung-nya toch ada tiba-tiba teringat (diingatkan) istilah “Jangan karena nilai setitik rusak susu sebelanga” hehehe. Namun, SBY dkk tetap saja bohong karena pemerintah tidak kunjung melindungi TKI.
Secara singkat dan hemat waktu, kebohongan SBY dapat dibagi menjadi dua, seperti berikut ini; Sembilan Kebohongan Lama yang meliputi: kegagalan pemerintah mengurangi kemisikinan dan swasembada serta ketahanan pangan; ketidakbenaran klaim SBY bahwa ia menjadi target terorisme dengan menunjukkan foto lama; kegagalan menuntaskan pembunuhan Munir, kegagalan meningkatkan kemajuan pendidikan, serta kegagalan melindungi kelestarian laut dan renegosiasi dengan PT Freeport.
Kemudian Sembilan Kebohongan Baru yang meliputi; kegagalan mencegah kekerasan organisasi massa tertentu atas nama agama dan kekerasan terhadap pers, kegagalan melindungi TKI, seta kegagalan mewujudkan transparansi dalam kasus pengunduran Sri Mulyani Indrawati sebagai Menkeu. Selain itu, kegagalan memberantas korupsi dan mengungkap rekening gendut perwira Polri, kegagalan mewujudkan politik yang bersih, santun, dan beretika dalam kasus anggota KPU; Andi Nurpati, kegagalan memberantas mafia hukum Gayus Perut Tambun, dan kegagalan menegakkan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dilanggar cecunguk Malaysia, Malingsia Malaysuck! Ini yang paling menyakitkan hati! Kita memang biasa malu dan miskin, tapi kalau dibuat malu dan miskin oleh Malaysia, itu kurang ajar namanya!!!
Wel,l itulah kebohongan-kebohongan SBY yang diutarakan oleh tokoh agama. Toch kita pun pasti lebih percaya tokoh agama daripada SBY. Kebohongan itu bearti juga bahwa SBY mendapat raport merah! SBY tidak becus mengurus negara dan gagal mensejahterakan rakyat. Dan saya ingin membuat perbandingan, ketika misalnya, ada seorang anak yang malas belajar sehinga ia nilai rapornya jeblok, si Anak itu pasti malu untuk minta kenaikan uang saku. Kemudian saya bertanya, jikalau nilai rapor SBY merah warnanya, pantaskah ia curhat tentang gajinya yang belum pernah naik?
Have a beautiful night, I wish you joy and happiness

