Bila Murid Lebih Hebat dari Pada Guru



DULU, ketika masih di PGA (Pendidikan Guru Agama, setingkat SMA) sekitar tahun 70-an, pernyataan guru saya yang terus teringat oleh saya sampai hari ini adalah ‘murid tidak bisa lebih hebat dari pada guru’. Salah seorang guru yang begitu saya kagumi, guru Mata Pelajaran (MP) Menggambar yang juga mengajar MP Bahasa Indonesia di kelas saya, Pak MN (sengaja saya tulis inisial saja.pen) adalah guru yang pernah mengingatkan saya tentang pernyataan itu.

Tentu saja saya tidak keberatan waktu itu. Apa lagi Pak MN adalah guru idola saya dikarenakan saya hobi menggambar dan dia adalah guru MP Menggambar . Jadi, saya mengidolakan dia karena begitu hebatnya dia membuat gambar di papan tulis atau di kertas gambar yang sudah tertempel di papan tulis setiap ada jam menggambar.

Jujur saja, sampai saya akhirnya mengambil Jurusan Bahasa dan Seni di Unri Pekanbaru –setamat PGA tahun 1977 itu– adalah karena kekaguman saya kepada Pak MN yang juga adalah guru MP Bahasa Indonesia saya di PGA waktu itu. Pak MN memang mengajar MP Bahasa Indonesia disamping juga mengajar pelajaran menggambar. Waktu itu di Unri memang tidak ada Jurusan Seni Rupa, misalnya, andai saya ingin melanjutkan ke MP Menggambar yang saya suka di PGA itu.

Saya teringat, pada suatu kali pada saat MP Menggambar kami disuruh membuat gambar berupa huruf-huruf indah dalam bentuk huruf ghotish alias huruf Jerman. Saya berpikir kali ini saya akan mendapat nilai angka di atas tujuh (7). Selama ini saya baru mampu mendapatkan angka enam lebih sedikit (6,3; 6,4; 6,6 atau 6,6). Belum pernah melebihi angka itu. Belum pernah juga mendapat angka enam koma tujuh atau koma delapan, misalnya. Apalagi angka tujuh, hoh hoh, tidak pernah. Padahal saya merasa dan saya melihat hasil karya saya adalah yang terbaik. Tentu saja menurut penilaian saya. Setiap jadwal pelajaran menggambar datang, saya selalu bergairah untuk mendapatkan angka yang lebih tinggi berbanding yang siudah saya dapatkan sebelumnya.

Karena hasil kerja hari ini –saya sudah berusaha membuatnya dengan ekstra hati-hati, bersih, wsarnanya serasa dan lebih rapi dari pada yang dia lukis di papan tulis itu– hanya diberi angka 6,7 (enam koma tujuah) maka saya merasakan ada perasaan berontak dalam hati saya. Sebenarnya saya tidak terbiasa bertanya atau memprotes nilai-nilai yang diberikan guru, berapapun nilai itu anngkanya. Waktu itu tak ada murid yang berani bertanya apalagi membantah.

Tapi keramahan dan karakter kasih-sayangnya Pak MN membuat saya sedikit berani untuk bertanya, “Mengapa nilai saya hanya enam koma tujuah.” Padahal saya sudah mengira dan berharap akan mendapat nilai lebih dari tujuh.

Tahu apa jawab Pak MN? Saya juga tidak tahu rekan-rekan saya mendapat nilai berapa karena buku gambar kami dibagikan secara pribadi. Diambil ke mejanya secara sendiri dan dalam keadaan tertutup. Saya jelas tidak tahu berapa nilai yang diperoleh rekan-rekan saya hari itu.

Tahu apa kata Pak MN? Pak MN enteng saja menjawab bahwa nilai saya itu sudah yang terbagus. Katanya itu nilai yang tertinggi di kelas ini. Dia mengatakan dengan tenang penuh wibawa, “Jika kalian mampu membuat gambar yang terbagus maka nilai yang akan saya beri adalah nilai tujuh. Tidak akan lebih,” katanya dengan suara yang jelas dan penuh wibawa. Pak MN memang sangat jelas jika dia berbnicara. Mungkin karena dia adalah guru MP Bahasa Indonesia.

“Mengapa demikian, Pak? Apakah angka tujuah adalah nilai yang terbaik?” Saya mencoba bertanya dengan baik-baik juga.

“Buat murid, itulah nilai tertinggi yang akan saya beri,” jelasnya lagi. “Mengapa? Karena nilai delapan adalah nilai saya. Nilai sembilan adalah nilai guru saya. Dan angka sepuluh adalah angka sempurna yang pantas buat Tuhan,” katanya tenang. Wah, tentu saja saya terkejut. Selama ini saya tahu nilai terbaik adalah nilai angka sepuluh. Kalau dapat sepuluh berarti harus belajar lagi. Tapi kalau nilai itu hanya untuk Tuhan, bagaimana lagi?

Maka tentu saja tidak mungkin memperpanjang pertanyaan saya itu. Saya hanya bisa menerima saja. Rupanya murid tidak boleh lebih hebat dari pada gurunya. Itu saja yang saya camkan dalam hati saya. Jangan-jangan guru-guru berpikiran kalau murid ingin lebih hebat dari pada guru maka si murid itu adalah murid yang tidak sopan, tidak bermoral atau apa saja. Yang pasti, saya benar-benar tidak berpikir pernyataan guru saya itu adalah pernyataan yang keliru.

Kini, ketika saya sudah menjadi seorang guru ternyata saya tidak setuju dengan perinsip dan pernyataan guru saya itu. Justeru saya berpikir, para murid itu harus jauh lebih hebat dan lebih maju dari pada yang dicapai para gurunya. Itu tidak bisa dipungkiri.

Dalam dunia yang begitu kian maju, teknologi yang berkembang sangat cepat, sumber-sumber ilmu dan pengetahuan ada di mana-mana, dan kesempatan untuk memperolehnya begitu luas dan mudah, pastilah kehebatan seorang murid tidak lagi akan tergantung kepada gurunya saja. Guru sudah lama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu. Jadi, buat guru di era modern ini perinsip yang lebih tepat justeru ‘murid harus bisa lebih hebat dari pada gurunya’. Perinsip ini tentu saja bukan karena kemauan si murid. Tapi jsuteru harus menjadi obsesi guru itu sendiri.

Maka kepada sobat-sobat pendidik atau siapa saja yang merasa pernah memberi pencerahan kepada orang lain –artinya dia juga adalah guru—maka niat untuk membuat si murid maju-jaya melebihi apa yang dipikirkan dan diberikan, itulah sejatinya yang harus diperjuangkan. Biarlah generasi yang akan datang tambah hebat dan tambah berjaya bersama bangsa yang ikut berjaya. Syabasy…

M. Rasyid Nur

M. Rasyid Nur, bertempat tinggal di Jl. Sakura Indah, RT 01 RW 09 Wonosari, Meral, Karimun, Prov. Kepri. "Ingin terus belajar". Silakan juga diklik: http://www.em-er-en.blogspot.com/


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Dari Gang Kecil Pun Kemiskinan Sangat Kentara



bY dM rAMDAN

12968104251391418906
Sepertihari-hari sebelumnya, pemandangan di gang sepanjang 100 meter dari Jalan Raya Margonda, Depok, nyaris tak pernah berubah. Kecuali, orang-orang yang melewati gang berujung di Stasiun KRL Universitas Indonesia tersebut.
Namun dari gang kecil itu tercermin guratan kemiskinan dari negeri yang berlimpah kekayaan alam. Setiap melewati jalan ini, tiga hingga empat sosok manusia berpakaian lusuh dan compang-camping setia menunggu uluran tangan dermawan. Uang recehan pun terkumpul di kaleng bekas yang diletakan di depan wajah-wajah mengibakan itu.
Gambaran serupa tertangkap dalam gerbong KRL ekonomi yang menjadi angkutan primadona para pekerja kelas menengah-bawah. Di gerbong tersebut sarat dengan geliat usaha rakyat kecil demi bertahan hidup. Tengok saja, para pedagang asongan berjibaku mengais rezeki di antara pengemis, pengamen, pemulung, dan anak jalanan di dalam kereta yang sesak penumpang.
Ini hanya potret kecil dari kaum miskin yang banyak tersebar dari mulai wilayah pesisir, perbatasan, perkampungan, pinggir kota, bahkan hingga di sudut-sudut Ibu Kota. Sungguh miris. Mereka hidup dalam kemiskinan, padahal negara dalam konstitusi menjamin segenap warga berhak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak.
Memang kemiskinan sudah menjadi pemandangan sangat biasa. Kemiskinan adalah persoalan klasik di negara yang kini berpenduduk sekira 130 juta jiwa. Dari jumlah itu, setidaknya masih ada sekira 61,7 juta orang di 2010 yang dikategorikan warga miskin dari 2009 sebanyak 76,4 juta orang. Jumlah 61,7 juta ini merupakan warga miskin yang mendapat Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dari pemerintah yang dulu bernama Asuransi Kesehatan Miskin (Askeskin).
Potret kemiskinan ini kontras dengan kehidupan para pejabat negara, termasuk wakil rakyat yang justru kaya fasilitas dan kemudahan hidup. Mereka duduk di kursi “basah”, tidur nyenyak di rumah megah dengan mobil mahal yang siap mengantarkan ke mana saja sesuai keinginkan.
Sayangnya, masih banyak dari pejabat negara yang diberi kelebihan materi oleh negara, ternyata masih gemar mengutil uang rakyat. Jangan jauh-jauh, Gayus Tambunan, mantan pegawai Ditjen Pajak ini diganjar 7 tahun bui karena terbukti menyimpan uang haram miliaran rupiah atas jasanya membantu para pengemplang pajak.
Gaji yang tinggi ditambah remunerasi ternyata tidak menyurutkan akal bulus Gayus untuk terus menumpuk pundi-pundi kekayaan. Yah, korupsi masih sangat lekat dengan kehidupan para elit dari pelayan masyarakat itu. Penjara pun ternyata tidak membuat kalangan birokrat nakal ini kapok. Sekalipun hidup dalam bui, fasilitas mewah masih bisa dinikmati dengan membeli kuasa sipir penjara. Dengan uang pula, Gayus Tambunan yang mendekam di Rutan Brimob Kelapa Dua, leluasa pelesiran ke Bali bahkan keluar negeri. Tercatat 68 kali, Gayus keluar-masuk tahanan.
Dalam situasi prilaku pejabat negara nyang masih korup ini masih layakah mereka kembali menikmati kenaikan gaji dan tunjangan yang sudah besar itu?  Dari aspek hukum, penyesuaian gaji dan tunjangan pejabat negara masih dimungkin. Persoalannya, sampai detik ini kinerja dari pemerintah maupun wakil rakyat masih mengecewakan. Menaikan gaji dan tunjangan pejabat negara saat ini hanya akan melukai hari rakyat yang masih terbelit dengan urusan kemiskinan.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan budget anggaran untuk gaji, bonus dan remunerasi pejabat-pejabat negara adalah sebesar Rp18 triliun. Wow, dana yang tidak sedikit jumlahnya. Jika anggaran tersebut digunakan untuk beasiswa pelajar tidak mampu dan warga tidak mampu, mungkin angka warga miskin tak berpendidikan bisa ditekan.
Ternyata, wacana kenaikan gaji pejabat negara ini juga meliputi gaji anggota DPR. Seperti dikemukakan Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Mulya P Nasution, jika kenaikkan gaji ini termasuk juga gaji para anggota dewan. Bahkan tidak cuma gaji, tapi tunjangan pun turut dinaikan, seperti tunjangan jabatan, tunjangan perumahan, dan tunjangan perumahan.
Masih adakah wakil rakyat yang peduli rakyat? Terkait rencana ini, Wakil Ketua DPR Anis Matta menolak usulan kenaikan gaji pejabat negara termasuk presiden. Anis menilai usulan Menteri Keuangan Agus Martowardojo itu tidak etis. “Saya kira tidak etis mengusulkan kenaikan gaji. Saya secara pribadi menolak usulan itu,” kata Anis Matta.
Menurut dia, masyarakat lebih merasakan dampak inflasi ekonomi yang terjadi. Karenanya, usulan kenaikan gaji dikhawatirkan melukai perasaan rakyat. “Kalau pemerintah men-declare angka inflasi berapa, yang dirasakan masyarakat jauh lebih besar,” tandasnya.
Apa yang diutarakan seorang anggota dewan Anis Matta ini, semoga tidak menjadi penghibur lara rakyat. Para legislator itu bisa masuk Gedung Kura-Kura, tak lain atas pilihan rakyat dengan membawa amanah rakyat pula. Ketika kampanye dulu, rakyat terpukai dengan retorika perjuangan kerakyatan, maka saat ini rakyat menuntut janji-janji itu.
Wakil rakyat sudah semestinya merakyat jangan tambah jauh dari rakyat. Bukan pula semakin rajin membohongi rakyat. Pejabat negara dan wakil rakyat seyogianya malu dan serius bekerja demi kemakmuran rakyat. Sebab, dari sebuah gang kecil di pinggiran Ibu Kota sekalipun, kemiskinan sangat kentara di negeri ini.
 


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Sebuah Harapan untuk Kaum Muda




Oleh : Yus Efendi

Berbicara Aceh, kita akan terkesima akan sejarah perjuangan rakyat Aceh dalam berjuang mempertahankan kedaulatannya di masa lampau. Tersirat dalam ingatan kita bagaimana kepahlawananSultan Iskandar Muda, Laksamana Malahayati, Teuku Umar, Tjut Nyak Dhien, Tjut Nyak Mutia dan lain-lain, yang semangat patriotismenya mampu mengobarkan semangat berani mati di jalan Allah demi kebenaran dan mempertahankan agama Allah. Kepahlahwanan mereka merupakan sebuah pualam yang wajib menjadi inspirasi bagi segenap penerus negeri ini, sebab gerakan yang ikhlas dan benar-benar tulus berjuang tanpa pamrih ini rasanya akan sulit bagi kita untuk mampu mengulang sejarah fenomenal tersebut.

Fenomena-fenomena kepahlawanan para pendahulu ini terasa luntur dimakan peradaban zaman yang menyirat sebuah pertanyaan bagi anak-anak bangsa saat ini, akankah kita mampu meneruskan semangat dan deru patriotisme mereka di zaman penuh teknologi dan persaingan global saat ini?. Kita akan menemukan jawaban yang sulit apabila menukil pengalaman sejarah dengan peristiwa saat ini, dimana balutan sejarah belum tentu mampu menterjemahkan keinginan dalam semangat kaum muda saat ini dalam mengimplementasikan setiap gerak dan perilakunya untuk menyamai pelaku sejarah yang telah mengilhami kita saat ini.

Sejarah telah membuktikan pada kita bahwa perubahan akan hadir apabila ada kesungguhan untuk mau berbuat dan mampu diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari melalui sebuah komunitas, dimana “ Allah akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut mau mengubahnya”. MenurutMansour Fakih, dimana suatu komunitas itu tidak sekedar ‘memberi makna’ terhadap realitas sosial dan meratapinya, melainkan komunitas yang ikut menciptakan sejarah dengan membangun gerakan pemikiran dan kesadaran kritis untuk memberi makna masa depannya sendiri. Membangun suatu peradaban yang bermartabat dan mampu menciptakan sejarah baru bukanlah pekerjaan mudah, butuh gerakan pemikiran dan kesadaran dalam mengimplementasikan gerakan tersebut kearah perubahan yang fundamental untuk mencapai kemaslahatan umat.

Harus diakui, pengaruh sistem kehidupan yang berlaku dalam suatu kurun kehidupan sangat berpengaruh terhadap pemahaman dan perilaku manusia yang hidup pada zaman tersebut. Tatanan masyarakat Aceh yang saat ini tidak sinergis antara relasi-relasi sosial yang dilakukan oleh penguasa menimbulkan adanya kelompok kaum intelektual (kaum muda) untuk memeras seluruh energi pikirannya melakukan gerakan untuk menghegemoni kekuasaan yang menindas. Motif yang menggerakkan kelompok-kelompok yang tertindas secara sosial ini kemudian membuat suatu konsep yang dijadikan sebagai ideologi kemudian mendogmakan kepada masyarakat dengan tujuan membakar semangat perlawanan terhadap kekuasaan tiran.

Untuk merebut kekuasaan yang dianggap tiran (menindas), Sistem keyakinan dari ide atau sebuah gagasan yang dianut secara praksis termanifestasi dalam wilayah partai atau kelompok-kelompok yang sering menyebut dirinya sebagai kelompok independen atau kelompok oposisi yang memperjuangkan ideologinya untuk berkuasa membentuk sebuah tatanan masyarakat yang baru. Terjadinya perubahan dalam sebuah tatanan yang timpang, bilamana ada sebuah mesin penggerak. Disamping ada ide atau ideologi, ada kriteria yang mendasar lahirnya sebuah perubahan seperti yang digagas oleh Jalaluddin Rakhmat “bahwa perubahan akan terjadi yaitu adanya tokoh yang dianggap sebagai orang-orang yang mempunyai kemampuan yang mapan dalam berbagai dimensi. Perubahan mustahil terwujud ketika tidak ada upaya atau strategi-strategi yang direncanakan dalam menyusun platform perubahan yang dicita-citakan”.

Perangkat-perangkat yang dilakukan dalam upaya menuju perubahan adalah mencetak para tokoh-tokoh muda dengan upaya pencerahan membentuk kesadaran diseluruh dimensi keilmuan baik itu budaya, politik sosial dan ekonomi dengan memapankan flatform ideologi sebagai landasan konsep perubahan. Kelahiran para tokoh-tokoh muda ini secara intelektual dapat memberikan angin segar dan pencerahan ditengah-tengah masyarakat dan membentuk simpul-simpul masa atau pusaran-pusaran intelejensia yang dapat mengkritisi seluruh kebijakan penguasa yang kurang memihak pada masyarakat.

Bahkan percaya atau tidak bangsa kita didirikan sebagian besar karena hasil karya pemuda. Karena pemudalah Soekarno berani berkata : “Berikan kepadaku 1000 orang tua aku sanggup mencabut Semeru dari uratnya. Tapi berikan kepadaku 10 pemuda, maka aku sanggup menggoncangkan dunia. Dan kata-kata itu terus dikenang dunia hingga sekarang. Begitu pentingnya masa muda sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda: “Gunakan lima kesempatan sebelum datangnya yang lima. Yaitu, masa mudamu sebelum tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa hidupmu sebelum kematianmu, dan waktu luangmu sebelum waktu sempitmu.” (HR Hakim). Rasul pun pernah bersabda, “Perjuangan Aku didukung oleh pemuda, oleh sebab itu berilah wasiat yang baik untuk mereka.” Maka tak salah bila kebangkitan suatu bangsa atau agama diawali dari kebangkitan moral dan intelektual generasi mudanya. Sebaliknya, kehancuran sebuah bangsa diawali dari kehancuran moral generasi mudanya. Dr Syakir Ali Salim mengatakan perbaikan umat, sehingga eksistensi sebuah umat sangat tergantung pada generasi mudanya.

Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, sangat wajar jika pemuda memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainya. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan banyak dimiliki pemuda. Kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan pemimpin-pemimpin Aceh yang berkualitas dimasa depan akan menjadi kenyataan, jika kita semua tidak berperan serta sesuai bidangnya masing-masing, guna membantu proses penyiapan kader-kader dimasa kini. Reaktualisasi peran pemuda dalam menyikapi segala macam problematika bangsa merupakan satu keharusan sejarah. Tanpa melakukan reaktualisasi peran dan hanya berpijak pada paradigma lama dalam memandang dan menyikapi persoalan yang terjadi, maka dapat dipastikan pemuda kita, tidak saja akan ketinggalan tetapi juga akan terpuruk, sehingga membutuhkan waktu yang lama dan sumber daya yang besar untuk membangkitkan kembali.

Saat ini, yang harus menjadi bahan pencerahan kita adalah upaya melahirkan seorang tokoh-tokoh muda intelektual yang diharapkan mampu membawa perubahan dan melahirkan semangat patriotisme seorang Teuku Umar dalam berjuang melahirkan perubahan-perubahan dengan ide-ide yang bervisi memperjuangkan kesejahteraan bagi segenap rakyat Aceh. Sehingga akan lahir pemimpin muda yang mampu membawa Aceh sebagai sebuah pilot project kesejahteraan masyarakat dengan kaum muda yang enerjik, intelektual dan bervisi jauh kedepan. Pemikiran kritis kaum muda sangat didambakan umat. Di mata umat dan masyarakat umumnya, mereka adalah agen perubahan (agent of change) jika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak mereka. Baik buruknya nasib umat kelak, bergantung pada kondisi pemuda sekarang ini.

Kepemimpinan kaum muda masa depan dituntut memiliki keterampilan berpikir yang metodis dengan memanfaatkan otak dan hati dalam mengaktualisasikan terobosan cara berpikir dalam mengikuti pembaharuan. Oleh karena itu sebagai daya dorong untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan kaum muda haruslah memiliki wawasan dan imajinasi yang harus ditumbuh kembangkan kedalam peta pikiran agar ia mampu melihat persoalan-persoalan masa depan dan bagaimana kita memecahkannya dengan melaksanakan perubahan. Satu kerangka pikir untuk menuntun kebutuhan akan perubahan, bermula dari kesamaan visi dalam kepemimpinan artinya berpikir dalam kerangka intuitif menuju kearah persfektif. Dengan kesamaan visi dalam kepemimpinan kaum muda diharapkan dapat tumbuh dan berkembang gagasan / ide baru sebagai aktualisasi dari penjabaran visi kepemimpinan sebagai suatu kekuatan yang dapat mendorong kaum muda untuk berkonstribusi dalam mewujudkan kreativitasnya.

Musthofa Muhammad Thahan menjelaskan tentang bagaimana kekuatan pemuda mampu membawa perubahan yang fundamental, yaitu (1). Sektor pembebasan dan kemerdekaan, Pemuda adalah kemampuan, tekad, keberanian, dan kesabaran menghadapi tantangan. dengannya ummat menghalau musuh dan mengangkat bendera kejayaannya, (2). Sektor pemikiran dan pembentukannya, Pemuda adalah unsur kokoh yang mampu belajar keras, menguasai dan menghasilkan pemikiran serta pembaruan. Ibarat ranting yang masih segar, kelenturannya cukup untuk terbentuknya pemikiran sekaligus mentransformasikan pemikiran tersebut kepada orang lain, (3). Sektor Iman dan Amal, Iman yang diam dan kehilangan dinamika tidak ada harganya, sedangkan keimanan pemuda selalu memunculkan energi tersembunyi yang besar dalam bentuk gerakan membina umat, (4). Sektor Perubahan, Pemuda adalah pelopor dan sarana perubahan, Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah kondisi jiwa mereka. Sedangkan pemuda memiliki kekuatan jiwa yang besar, maka perubahan yang dilakukannya pun besar.

Merunut sejarah perjalanan kaum muda Aceh dalam balutan konflik, Ahmad Farhan Hamid mengatakan“gerakan perlawanan pemuda Aceh merupakan satu generasi yang lahir tidak hanya membaca dan mendengar kisah Aceh yang dibalas 10 tahun dalam bentuk penjajahan Daerah Operasi Militer (DOM). Namun karena kesadaran yang dimiliki oleh rakyat dan pemuda khususnya, maka setiap kekejaman maupun penindasan pasti akan mendapat perlawanan, dan perlawanan itu dimulai dari darah-darah muda intelektual muda”. Ini membuktikan bahwa perjalanan kaum muda Aceh telah mampu mewarnai kisah tragis negeri ini, peran ini juga menjadi sangat khusus, dimana elemen pemikiran kritis untuk menumbangkan tirani yang kejam dalam kekuasaannya.

Pejuang yang kita maksudkan saat ini adalah pejuang yang mampu melihat berbagai permasalahan umat (rakyat Aceh) dan pejuang yang mampu melakukan gerakan moral untuk melakukan gerakan-gerakan moral yang mampu menumbangkan tirani kemiskinan dan kesengsaraan rakyat, sehingga rakyat akan menikmati kesejahteraannya tanpa embel-embel kepentingan politik untuk melanggengkan kekuasaan tirani. Kaum muda Aceh juga harus menjadi pilar pembangunan, pembangunan membangun sendi-sendi peradaban bagi Aceh yang begitu terkenal sebagai negeri Syariat Islam. Bukan pekerjaan mudah menata negeri ini menjalankan Syariat Islam secara kaffah, butuh upaya yang sungguh-sungguh dari segenap rakyat negeri ini, khususnya pemuda dalam menyiarkan dan menjadi salah satu elemen pendukung konsep Syariat Islam ini, semoga…

Sumber : http://www1.harian-aceh.com/opini/85-opini/3051-sebuah-harapan-untuk-kaum-muda.html



Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Ungkapan Haru Seorang Nelayan




oleh : Rika Saptari

Kemarin sore tidak sengaja, saya menonton acara salah satu TV swasta yang menayangkan tentang situasi dan kondisi pulau pulau terluar di Republik ini salah satunya adalah Pulau Rupat.

Pulau Rupat adalah sebuah pulau di kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, pulau ini hanya bisa di tempuh melalui jalur laut, pulau yang mempunyai luas 1500 km2 ini secara geografis berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan merupakan titik terdekat menuju negara jiran Malaysia, jarak tempuh ke Malaysia hanya 1 jam dengan kapal boat tradisional sedangkan jarak tempuh ke kota Dumai memakan waktu 2 jam sehingga tidak heran jika masyarakatnya lebih senang berbelanja berbagai keperluan dan berbarteran barang ke Negara tetangga Malaysia daripada ke Negara sendiri, logat mereka adalah melayu yang sama dengan logat orang-orang Malaysia bahkan mata uang di Pulau Rupat juga bercampur campur, jika kita belanja di warung boleh memakai rupiah dan boleh juga memakai ringgit dan untuk uang kembaliannya kita juga boleh memilih rupiah atau ringgit, lucu ya…

Saya tertarik dengan percakapan antara si reporter dengan seorang nelayan sederhana yang ternyata mempunyai banyak saudara yang tinggal di Malaysia yang sebagai nelayan juga. Rupanya karena jarak yang dekat menjadikan mereka mempunyai hubungan kekerabatan dikarenakan ada kerabat yang menikah dengan nelayan Malaysia atau nelayan Indonesia yang menikah dengan orang sana, percakapan reporter dengan nelayan lebih kurang sbb:

Reporter: enakan mana pak jadi nelayan Indonesia atau nelayan Malaysia

Nelayan: enakan nelayan Malaysia bu…lebih terjamin dan hidupnya lebih makmur (dengan logat malaysia yang sangat kental)

Reporter: kalo gitu mau ngga pak tinggal di Malaysia jadi warga negara Malaysia misalnya?

Nelayan: tidak maulah…saya mau nya tetap jadi warga negara Indonesia

Reporter: lho kenapa pak,bukankah pemerintah Indonesia tidak terlalu perduli dengan keadaan penduduk di daerah sini pak?

Nelayan: iya tapi saya tetap mau nya jadi warga negara Indonesia

Reporter: walaupun daerah bapak ini jalannya jelek tidak ada perhatian dari pemerintah pusat dan kehidupan para nelayannya yang miskin bapak tetap mau jadi warga negara Indonesia?

Nelayan: (menggangguk dengan mantap) apapun yang terjadi saya tidak mau pindah ke Malaysia saya mau tetap menjadi warga negara Indonesia….tanah air saya dan tumpah darah saya.

Ada rasa haru yang menyeruak di dada saya. Seorang nelayan yang hidup dalam keterbatasan yang pemerintahnya tidak peduli akan daerahnya yang tertinggal yang mendapat kunjungan pejabat pemerintah dan daerah hanya jika sedang kampanye untuk pemilihan saja masih begitu mencintai tanah airnya, tidak pernah mereka berdemo supaya nasibnya diperhatikan atau berdemo supaya hak mereka sebagai warga negara dipenuhi, ahkan terlintas dipikiran mereka pun mungkin juga tidak, yang mereka pikirkan adalah berjuang di tengah lautan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya agar dapur tetap bisa ngebul. Meski begitu di hati mereka tetap mencintai tanah airnya, Indonesia yang katanya kaya raya, yang hasil pembangunannya tidak pernah mereka nikmati. Sementara di depan mata mereka para nelayan negara tetangga hidup lebih makmur dengan berbagai fasilitas yang di berikan oleh pemerintahnya. Di akhir acara berkumandanglah lagu Satu Nusa Satu Bangsa….

Satu nusa satu bangsa….

satu bahasa kita…

tanah air pasti jaya

untuk slama lamanya…

Indonesia pusaka…

Indonesia tercinta..

nusa bangsa dan bahasa

kita bela bersama….




Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Denny Indrayana di Persimpangan Jalan



Oleh ; Muhammad nur

PARTAI GOLONGAN KARYA BERNIAT PERKARAKAN DENNY INDRAYANA, Kemarin hari Rabu tanggal 19/1/2011, Gayus Halomoan P. Tambunan Mantan Pegawai Direktorat pajak di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan oleh Hakim Ketua Albertina Ho dijatuhi hukuman 7 Tahun subsider denda 300 juta rupiah dan atau menjalani hukuman 3 bulan penjara bila tak bersedia membayar denda. Gayus melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a, pasal 3 jo pasal 18, pasal 6 ayat 1 huruf a UU.No.31/1999, dan pasal 22 junto pasal 28 tentang Tindak Pidana Korupsi serta pasar 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Diluar sidang Setelah Usia di Vonis 7 tahun , Gayus yang didampingi pengacara hukumnya Bang Adnan Buyung Nasution langsung memberikan Keterangan pers, sebagaimana dia katakan sebelumnya akan memberikan ketarangannya setelah mendapatkan Vonis dari Hakim, didepan pulunan wartawan media cetak, online dan TV sebagaimana diketahui yang intinya menyudutkan Satgas Pemberantasan Mafia secara khusus menyebut nama Bung Denny Indrayana ( Sekertaris Tim Satgas Anti Mafia Hukum ) dan Mas Santoso yang merekayasa pelariannya dan keterlibatan Bang Ical dalam kasus yang membelit Gayus.

Berdasarkan Keterangan Gayus Partai berlambang beringin Golongan Karya bereaksi Anggota Fraksi Partai Golkar di DPR Bambang Susatiyo usai mengikuti Rapat Tim Pengawas Kasus Bank Century di DPR jakarta hari Rabu (19/1/2011 ) kemarin mengataka kepada wartawan ” Kami Partai Golkar akan mendalami untuk melakukan penuntutan pada Denny Indrayana, terhadap upaya pencemaran nama baik, jika memang pernyataan Gayus soal pengarahan ke Nama Bakrie benar “

Soal pernyataan Gayus yang menyatakan bahwa sekertaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum menjanjikan keamanan dan kenyamanan bagi Mantan Pegawai pajak Gayus perlu dicari kebenarannya ” Simber Antara News.

Denny Indrayana, Dosen Universitas gajah mada Yogyakarta, Doktor alumni The Univercity of Melbourne Australia ini di dera permasalahan yang serius dalam kedudukannya sebagai Sekertaris Satgas Mafia Hukum, dampak dari pernyataan Gayus Tambunan kemarin yang sudah dibantah dan di klarifikasi oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum hanya selang beberapa jam kemudian, dengan menyertakan bukti -bukti Transkrip rekaman Masengger BLackBerry, dan Vidio.

Dengan bantahan dan klarifikasi belumlah cukup untuk menghilangkan segala sakwasangka terhadap Bung Denny Indrayana sehubungan dengan sepak terjangnya sebagai Sekertaris Satgas Mafia Hukum yang telah terlanjur menjadi buah bibir di kalangan masyarakat sejak beberapa hari ini.

Bung Denny Indrayana yang bakal menghadapai tuntutan dari berbagai kalangan yang merasa tidak puas dengan kinerjanya sebagai Satgas Mafia Hukum yang penuh dengan intrik politik, maka sepatutnya sejak dini mempersiapkan diri dengan baik untuk membersihkan diri dari gonjang-ganjing masalah Gayus, tentunya di perlukan bukti kongkrit dengan cara yang lebih elegant duduk besama Gayus dalam satu ruangan ( komfrontir ) agar bisa ketahuan siapa yang berbohong, dengan saling berbalas pantun tidaklah menyelesaikan masaalah, saya kira Bung Denny jauh lebih tau dari saya, sebagai Ilmuwan muda yang berprestasi masih panjang perjalanan meraih harapan sekaligus prestise dimasa depan, Inilah saatnya untuk menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa Bung Denny adalah harapan masa depan. Satgas Mafia Hukum bukanlah satu-satunya tempat untuk memperaktekkan Ilmu, Profesi sebagai Dosen muda dan Staf Khusus tetap menanti, menurut saya jangan segan untuk mundur dari jabatan Sekertaris Satgas daripada berada di persimpangan jalan, dan buktikan bahwa anda berada di jalan yang benar dan di ridhohi oleh Allah***


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info