Yang harus “diributkan” dari Seorang Gus Dur
Baiklah, anggap saja ini memang bukti kewalian Gus Dur. Tapi khawariqul’adah bukanlah sesuatu yang gratis yang datang begitu saja dari langit. Khawariqul’adah atau yang umum disebut sebagai “keramat,” adalah buah dari kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan fitrahnya sebagai manusia dengan segenap amanah yang diberikan padanya. Dalam hal Gus Dur, ia mewujud dalam pribadi yang terbuka, menghargai perbedaan - baik perbedaan pendapat, pemikiran, bahkan keyakinan - dan kebaikan-kebaikan lain yang telah ia (almarhum) tunjukkan dengan istiqamah (konsisten) sepanjang hidupnya. Jadi, kalaupun harus diributkan, yang harusnya diributkan - kemudian diteladani - adalah sikap istiqamah Gus Dur dalam memperjuangkan keyakinannya tersebut.
Sebagaimana pepatah tasawwuf : “Al istiqamah khairun min alfi karamah.” Sikap konsisten dalam kebaikan lebih utama dari seribu keramat!
FAHMI FAQIH
Fahmi Faqih
Dasar Hukum Pendidikan di Indonesia
Halim Malik
Ahmadiyah dalam Buddhisme
Ribut ribut mengenai Ahmadiyah belakangan ini dengan kontroversi sebagai bagian Islam atau diluar Islam, sebenarnya juga terjadi di agama lain. Misalnya saja pada agama Buddha di Indonesia.
Sebuah aliran yang dikenal dengan nama Maitreya menimbulkan polemik dalam Hal ini. Maitreya adalah nama dari Buddha yang akan datang yang disebutkan sendiri oleh Sidharta Gautama di kitab kitab Buddhis (Tri Pitaka). Berikut penjelasan dari Bhikku Utomo mengenai aliran ini:
Bhikkhu Utamo:
Dalam Tipitaka (Pali) telah disebutkan bahwa pada planet bumi yang kita tinggali ini sejak terbentuk sampai dengan kiamat nanti akan terdapat lima orang Buddha. Telah ada empat Buddha yang terlahirkan. Buddha Gotama adalah Buddha yang keempat. Setelah Ajaran Buddha Gotama nanti musnah dan dilupakan orang, tidak ada lagi vihara maupun Dhamma, maka barulah pada saat itu muncul Buddha Metteya atau Buddha Maitreya. Setelah Buddha Maitreya mengajar Dhamma yaitu Empat Kesunyataan Mulia untuk waktu yang cukup lama, banyak orang akan mencapai kesucian. Kemudian, pada saat itu barulah bumi ini mengalami kiamat. Kiamat atau kehancuran bumi ini akan menjadi awal terbentuknya kembali bumi ini dalam waktu yang sangat lama.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.
Salam metta,
B. Uttamo
Dalam jawaban yang saya garis bawahi tadi, berisikan salah satu syarat kelahiran seorang Buddha yang membabarkan Dhamma bagi manusia dan para dewa. Disitu ditekankan, seorang Buddha yang mengajar hanya akan dilahirkan bila tidak ada lagi Vihara (rumah ibadah agama Buddha, tempat tinggal Bhikku/Bhikkuni - anggota Sangha) maupun Dhamma (ajaran Buddha).
Dengan mengasumsikan ke sana. Menurut ajaran Buddha tidak mungkin seorang Buddha yang membabarkan Dhamma lahir pada masa ini. Karena agama Buddha masih berkembang dengan pesat di seluruh dunia. Bahkan di belahan bumi Barat agama ini semakin dikenal. Salah satu survey di Swiss menunjukkan bahwa kalangan muda di sana lebih dari 80% menyatakan akan memilih agama Buddha kelak ketika mereka dewasa.
Kemudian pada satu kenyataan, agama Buddha sepertinya lebih dari sekumpulan olahraga pikiran dengan filsafat yang bersifat bebas dan tidak terikat. Misalnya saya beragama Buddha, kalau saya ingin melakukan ibadah di Gereja dengan memanjatkan puji pujian pada Tuhan, ini juga tidak menjadi masalah di ajaran Buddha, sepanjang umat umat di Gereja tersebut tidak keberatan.
Namun seiring perkembangan jaman. Ada yang di China dan Taiwan disebut Ikuanisme.
Ikuanisme, I Kuan Tao atau Yi Guan Dao (一貫道) adalah aliran bukan agama yang bermula dari Republik Rakyat Cina awal abad ke-20. “I Kuan” berarti persatuan atau kesatuan, sementara Tao berarti jalan, kebenaran atau juga ke-Tuhan-an. Di Indonesia sering diterjemahkan sebagai Jalan Ke-Tuhan-an. Ajaran Ikuanisme menekankan ajaran moral berasal dari Tiongkok, menggabungkan aliran Konfusianisme, Taoisme and Buddha. Ikuanisme bukan aliran atau kepercayaan Taoisme.
I Kuan Tao di Indonesia dikenal sebagai agama Buddha Maitreya. I Kuan Tao berkembang di Indonesia berasal dari Taiwan sekitar tahun 1950-an. Di Taiwan, I Kuan Tao berdiri sendiri sebagai sebuah agama baru dan tidak mendompleng agama Buddha.
Kondisi perasaan umat Buddha di Indonesia sendiri mungkin mirip dengan perasaan umat Muslim di sini terhadap Ahmadiyah. Umat Islam mengakui Nabi Muhammad sebagai yang mengajarkan Islam (Nabi Terakhir) sementara umat Buddha juga merasa bahwa Dharma yang dijadikan pedoman hidup adalah Dharma yang dibabarkan Sidharta Gautama atau Buddha Gautama, bukan Buddha Maitreya yang sama sekali tidak mungkin lahir, mengingat penganut ajaran Buddha tidak berkurang, malah semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan manusia.
Aliran Buddha Maitreya berkembang sebagai agama unik Indonesia. Aliran ini mengadopsi istilah-istilah Indonesia dan Sansekerta Buddha. Disebabkan juga oleh tekanan pemerintah ORBA yang melarang penggunaan bahasa Mandarin, liturgi dan upacara keagamaan juga menggunakan Bahasa Indonesia. Larangan juga untuk menggunakan patung-patung non-buddhis (seperti Kuan Kong). Dalam era reformasi sekarang, vihara Maitreya kembali lebih bebas menggunakan bahasa Mandarin. Vihara Maitreya di Indonesia juga unik, berciri khas tercantum kalimat “Tuhan Maha Esa” dan mengikuti perayaan Buddha seperti Waisak, Kathina, dan menggantungkan gambar Siddharta Buddha. Walaupun dalam perayaan-perayaan ini, aliran Maitreya mempunyai cara sendiri yang mana tidak berhubungan dengan perayaan yang sebenarnya. Ciri-ciri ini jarang ditemukan di vihara Maitreya di Taiwan, karena I Kuan Tao mengajarkan bahwa agama Buddha telah ketinggalan zaman, dan sekarang adalah zaman Buddha Maitreya.
Jadi sebenarnya, aliran Maitreya yang ada di Indonesia ini adalah sebuah aliran yang justru mengajarkan agama Buddha sudah kadaluarsa alias apkir. Oleh karenanya mereka meyakini bahwa ajaran yang mereka jalankan sekarang adalah ajaran Buddha Maitreya yang ironisnya bukan tokoh sejarah. Karena tidak seorangpun yang bisa membuktikan, atau paling tidak menunjukkan dimana Buddha Maitreya ini dilahirkan, kapan mengajarkan Dhamma, apa kitabnya dan apa intisari ajarannya.
Secara keseluruhan ajaran yang mengaku sebagai ajaran Maitreya ini justru mengutip hal hal yang dianggap sesuai dengan misi mereka merebut umat sebanyak banyaknya (satu hal yang bertentangan lagi dengan ajaran Buddha yang menolak misionaris) dengan mengutip sebanyak mungkin kebaikan dari agama agama lain. Misalnya, jangan kaget kalau dalam sebuah kesempatan temu ramah aliran ini Nabi Muhammad atau Jesus Kristus disebut sebut.
Pengalaman saya dalam sebuah perayaan yang sangat mitos di aliran ini, saat mereka merayakan hari kelahiran entah siapa dan entah apa. Pokoknya sebuah perayaan. Saya terbengong bengong mendengar penjelasan rekan penganut agama ini yang mengklaim bahwa arwah Jesus Kristus dan arwah Nabi nabi lain ‘datang’ untuk turut serta merayakan perayaan tersebut.
Hal ini saya pribadi memandangnya sepert api dalam sekam. Karena mereka mengklaim bahwa Buddha Maitreya juga adalah Buddha yang akan datang, Jesus Kristus yang akan lahir kembali dan juga merupakan Imam Mahdi yang akan membawa agama keTuhanan paling baru di dunia.
Mengapa ini bisa menjadi api dalam sekam. Karena sejarah menunjukkan, bahwa etnis China di Indonesia adalah termasuk etnis yang selalu jadi Kambing Hitam. Pemeluk aliran Maitreya ini kebanyakan adalah orang orang China, mungkin karena aliran ini berasal dari (sudah dilarang) China. Umumnya mereka juga hanya berani menarik umat dari pemeluk Buddha tradisi atau pemeluk Khong Hu Cu dan Taoisme. Karena di ajaran mereka juga kental unsur Khong Hu Cu dan Taoisme - nya.
Saya khawatir umat agama diluar Buddha yang mengetahui hal ini akan reaktif bila mengetahui ada sebuah proses sinkritisme semua agama yang sayangnya bersembunyi pada label/tameng Agama Buddha.
Hal ini bukan tidak disadari oleh pemuka pemuka Buddhis. Majelis Buddhayana Indonesia dan Sangha Agung Indonesia sekarang terpisah dari Walubi, Perwalian Umat Buddha Indonesia. Walubi sendiri adalah sebuah organisasi keumatan agama Buddha yang merupakan warisan Orde Baru, yang sayangnya dalam perjalanannya di era reformasi ini tidak bisa mewakili kepentingan umat Buddha itu sendiri.
Satu kondisi yang cukup menguntungkan. Semua umat Buddha dimanapun berada menyatakan perlindungan pada Tri Ratna, Buddha, Dharma dan Sangha. Buddha adalah Guru Agung, Dharma adalah ajaran Buddha dan Sangha satu satunya organisasi murid murid Sang Buddha. Jadi mau ada sejuta Walubi pun, tidak bisa mengatur umat Buddha dalam hal melaksakan keyakinannya atas ajaran Buddha.
Itu mengapa sewaktu perwakilan umat beragama kemaren itu ikutan mengeluarkan 9 kebohongan pemerintah, yang mewakili umat Buddha adalah orang orang dari Walubi. Perwakilan dari Sangha Agung Indonesia atau Majelis Buddhayana Indonesia tidak ikut serta. Karena dalam ajaran Buddha bila ada umat Buddha yang ingin turut bermain dalam politik, maka dia harus terlebih dahulu melepaskan jubah ke-Bhikkuannya. Kalau mau berpolitik, jangan jadi rahib. Umat Buddha tahu hal ini. Makanya ya… cuek aja.
Ini kutipan tambahan dari wikipedia tentang aliran ini:
Di Indonesia, terlepas dari ajaran dan tujuan masing-masing aliran, pihak dari aliran Theravada, Mahayana, dan Tantrayana menolak I Kuan Tao sebagai bagian dari Agama Buddha. Namun sampai sekarang belum pernah terjadi konflik antar aliran ini dengan aliran Agama Buddha lainnya dikarenakan dasar-dasar dari ajaran agama Buddha itu sendiri yang tidak mengenal konfrontasi dan non-provocative.
Walaupun di Taiwan I Kuan Tao berdiri sendiri dan tidak memakai “label” “Buddha” tetapi di Indonesia “label” ini tetap dipakai walaupun menurut aliran Theravada, Mahayana, dan Tantrayana, ajaran-ajaran dan ritual-ritual dalam aliran ini tidak ada hubungannya dengan ajaran agama Buddha; Oleh karena itu, pemakaian “label” “Buddha” dalam aliran ini lebih untuk alasan politis dan bukan alasan agama karena dalam UUD negara Indonesia sekarang ini, hanya ada 6 agama resmi yang diakui oleh pemerintah Indonesia. Tanpa “label” “Buddha” dalam nama aliran ini maka aliran ini akan dianggap sebagai suatu agama dan akan dianggap melawan hukum karena tidak termasuk dalam 6 agama resmi yang diakui pemerintah.
……………………
Sepertinya PR (Pekerjaan Rutin ) Mentri Agama memang bukan hanya melulu mengurusi hal hal yang sekarang. Melihat banyaknya konflik beragama di Indonesia, baik yang anarkis maupun yang belum anarkis, maupun yang berpotensi anrkis, atau yang tidak bakal anarkis, layak dipertanyakan, untuk apa sebenarnya ada jabatan Metri Agama? Sekedar mengurus keberangkatan jemaah Haji dari Indonesia? Pengadilan Agama saja? Karena pada kenyataannya tugas utama menjaga kerukunan hidup antar umat beragama yang sangat beragam ini sedang menuju frase GAGAL TOTAL.
Saya segan menuliskan tentang aliran Saksi Jehova dimana saya pernah didatangi umat dari sekte yang mengaku Kristen ini dengan percakapan pembukaan.
“Selamat pagi” seorang ibu dan gadis remaja membawa brosur.
“Pagi bu…Ada keperluan apa yah” jawab saya sopan.
“Begini pak, sekarang banyak agama agama yang mengabarkan Tuhan palsu…..” cukup impresif.
“Maksud Ibu Tuhan saya Tuhan palsu….?” jawab saya spontan, karena sepertinya ini akan sangat panjang dan bertele-tele, lebih baik diselesaikan secepatnya, dengan tidak langsung mengungkapkan penolakan saya pada aksi misionaris, tak peduli dari agama atau sekte apapun.
“Bukan begitu pak….. bla… bla… bla….” dengan wajah agak pucat pasi.
Selanjutnya berkali kali terucap maaf dan maaf, meninggalkan brosur, sampai akhirnya ibu dan gadis remaja itu belalu dari tempat saya.
Saya tanya sekali lagi, apa tugas Mentri Agama sebenarnya? Apakah kebebasan beragama bisa diartikan seperti hal hal di atas? Keributan dan konflik agama adalah lahan subur di Indonesia, mengingat penduduknya sangat religius. Religius dalam artian punya kepedulian tinggi dalam hal hal yang beruhubungan dengan agama. Soal menjalankan ajaran agama, tunggu dulu…. itu PR anda yang menjawab.
Traktor Lubis
Madesu PKB (Muhaimin)
Ketika Tokoh-tokoh PKB, seperti, Khotibul Umam, Saifullah Yusuf, Azwar Anas, Zaini, Saiful Ansori, Yahya Tsakuf, sedang menunaikan Umrah, saya sempatkan bertemu dengan mereka. Karena salut dengan visi dan misinya sebagai partai kebangkitan bangsa. PKB waktu itu benar-benar membawa angin segar bagi setiap warganya dimana saja berada, tak terkecuali di luar negeri, seperti; kota Makkah, Jedah, Malaysia, Amerika, Sudan, serta di negeri Piramida (Mesir).
Tidak dipungkiri, berdirinya Sekolah Indonesia Makkah, yang disingkat dengan (SIM), tidak lepas dari Partai Kebangkitan Bangsa. Sahwat politik masyarakat NU yang tinggal di Makkah dan sekitarnya waktu itu begitu besar, seperti sahwatnya orang-orang Arab. Ketika kran demokrasi di Indonesia dibuka, maka mucullah partai-partai politik. Salah satu dari partai politik yang menarik warga Indonesia di Makkah adalah PKB. Berdirinya PKB tidak lepas dari sosok Gus Dur yang membawa angin perubahan terhadap masa depan Indonesia dan warga NU.
Ir Fuad Abdul Wahab, adalah salah satu dari sekian banyak penggagas PKB di Arab Saudi. Di samping seorang penggusaha Amer Cargo, beliau juga penggagas pendidikan Sekolah Indonesia Makkah, serta Sekolah al-Nasiriyah Jeddah. Bersama beliau, saya ikut serta membesarkan PKB dan Sekolah Indonesia Makkah. Cara yang saya lakukan ialah dengan membuat bulletin, yang kemudian kami sebarkan pada masyarakat Indonesia.
Setelah sekian lama ikut serta dengan partai PKB, langkah demi langkah, saya mencoba meninggalkan Partai itu, dan lebih konsentrasi pada pendidikan (meneruskan pendidikan S3). Sebab, menurut hemat saya, partai politik PKB benar-benar tidak membawa aspirasi masyarakat NU. Sebagai warga NU, saya benar-benar merasakan bahwa PKB kurang tepat untuk warganya. Apalagi, setelah elit politik PKB memecat Gus Dur sang pendiri PKB. Himbauan-himbauan para sesepuh PKB juga tidak dihiraukan. Lantas, apalagi yang menarik dari PKB?
Sejak berdiri, PKB sudah berkali-kali ikut pemilu. Hanya tahun 2099, PKB berjaya. Selanjutnya setiap tahun, partai ini mengalami kemunduran yang cukup memilukan. Apalagi, sejak munculnya partai baru, seperti; PKNU, serta eksisnya PPP di bawah pimpinan Surya Darma Ali. PKB mulai gundah gulana, sebab tidak sedikit dari tokoh, seperti; Kyai, ustad, lebih memilih PPP dari pada PKB. Segmentasi (pasar) PKB adalah warga NU, seperti; santri pondok, jama’ah tahlil, serta sebagian masyarakat menenggah kebawah, khususnya di Jawa Timur. Sementara itu, sebagian besar warga NU sudah kurang tertarik lagi dengan PKB gaya Muhaimin Iskandar.
Boleh saja PKB mengatakan bahwa masa pendukungya masih kuat dan banyak yang tersebar di pelosok-pelosok. Sah-sah saja, tetapi realitas di lapangan akan membuktikan bahwa masa NU, akan menjadi rebutan PPP, PKNU, PKB Muhaimin, dan PKB Gus Dur. Beluam lagi orang-orang NU yang menyebarang ke PDIP< Gerindra, Golkar. Jika demikian, maka perjuangan PKB Muhaimin semakin terseok-seok untuk masuk lima besar. Pemilu tahun lalu membuktikan, bahwa PKB benar-benar terperosok di bawah PKS.
Masa Depan Suram PKB akan semakin gelap, manakala statemen-statemen yang dilontarkan oleh elit politiknya justru menyinggung partai lain, yang notabene para kyai NU. Dalam hal ini, PPP merupkan partai yang paling aktif di dalam mengalang kekuatan untuk menyambut pemilu 2014. Surya Darma Ali, benar-benar menjadi ancaman nyata bagi PKB Muhaimin Iskandar. Pada tanggal (13/2), PPP mengelara acara di ponpes AL-HIKMAH Brebes. Para Kyai turut hadir dalam acara tersebut. Yang membuat PKB kebakaran jenggot ialah, bahwa kyai yang hadir pada cara tersebut ialah Kyai PKB dan PKNU yang kembali kepangkuan Kab’bah (PPP).
Sebuah kewajaran, jika para Kyai yang hasrat politiknya masih tinggi untuk masuk di PPP. Sebab, PPP termasuk salah satu partai tertua yang di dalamnya adalah orang-orang NU. Lagian, PPP sekarang terlihat memerjuangkan masyarakat NU. Jadi, tudingan Karding terhadap Surya Darma Ali seputar penggunaan dana Negara untuk kampanye terselubung perlu dibuktikan (Surya:13/02). Sebab, disamping ketua PPP, Surya Darma Ali juga menteri agama, yang harus setiap saat memberikan pelayanan terhadap masyarakat bahwa yang beragama. Prasangka PKB itu sebuah realitas bahwa partai PKB khawatir kalah dengan PPP.
Seadainya, PKB Muhaimin bersatu lagi dengan PKB Gus Dur, tidak menutup kemungkinan simpati masyarakat NU, serta para kyai-kyai kampung akan kembali. Karena gensi tinggi, tidak mungkin dua PKB bersatu lagi. Dan, sulit bagi kyai kampung yang memiliki pendukung itu mengajak masyarakatnya untuk mencoblos PKB Muhaimin. Padahal, kekuatan Kyai kampung sangat signifikan untuk memengangkan pemilu 2014. Di sisi lain, masyarakat NU sudah mulai faham dengan trik-trik para elit politik PKB pusat. Wallau a’lam
Abdul Adzim
Presidenku Sayang Presidenku Malang
Sejak reformasi, baru kita benar2 bisa berganti memilih presiden yang dari rakyat. Bukan presiden seumur hidup seperti sebelumnya.
Bisa dibilang revolusi Mesir meniru jejak langkah reformasi bangsa kita. Mereka bosan dijajah oleh pemimpin yang penuh kediktatoran mulai dari masa Firaun hingga Mubarak. Mungkin awalnya pemimpin mereka adalah pahlawan yang bisa memakmurkan tanah Mesir, berdamai dengan Israel…namun akibat terlena dengan kekuasaan yang begitu lama pemimpin itu lupa akan rakyatnya sendiri. Sehingga rakyatnya pun memberontak dan menuntut pemimpin turun. Mungkin rakyat Mesir tak sepenuhnya meniru reformasi bangsa kita, tapi dari nenek moyang mereka yaitu nabi Musa yang berani melawan Firaun.
Kembali kepada reformasi bangsa kita, setelah turunnya Soeharto pun kita sepertinya belum menemukan pemimpin yang tepat. Tapi ada satu kemajuan pada bangsa kita, yaitu jiwa pemimpin pada setiap orang dimana semua orang berani demo bila ada yang kurang sreg, ada korupsi, kasus Gayus dsb. Dulu zaman Soeharto semua orang bungkam, tidak ada yang berani bicara sepatah kata pun bila ada yang salah. Sayangnya sepertinya bertubi-tubi kita belum menemukan presiden yang benar2 “sreg” di hati rakyat. Dan rakyatnya sudah ada kebebasan untuk demo, maka demo terus untuk minta presiden yang baru dan masa kepemimpinannya selesai untuk segera turun. Itulah yang terjadi pada mantan presiden Habibie, Gus Dur dan Megawati. hingga dulu sempat dulu ada poster saat demo yang menyatakan kita pernah punya presiden yang “gila wanita, gila harta, gila tahta, dan orang gila!” (pasti tahulah siapa yang dimaksud…). Mungkin itu pula yang terjadi pada negeri Mesir setelah Mubarak turun….wallahu’alam.
Memang sepertinya serba salah…, rakyat diberi kebebasan sedikit untuk demo eh…malah timbul provokator dimana2. Apalagi sekarang dari tiap parpol ada calon presidennya masing-masing. Belum lagi sekarang media massa seperti TV dll di biayai oleh parpol tertentu…yah sudah deh langsung saja saling bersaing menjatuhkan image presiden.
Yang kasihan tentu saja presiden SBY sekarang. Terus terang kuakui, beliau presiden yang jauh lebih lumayan dibandingkan presiden2 sebelumnya. Namun kerjaan media tak lain hanya menjelekkan image beliau dan setiap tindakan serta ucapan beliau disalahartikan oleh berita di TV dan koran sehingga rakyat pun benci pada SBY. Ditambah lagi pendidikan rakyat kita rata2 masih tergolong rendah dibandingkan rakyat Amerika….jadi yah sudah deh tercapai sudah tujuan para parpol itu!! Sementara di TV mereka terus mempromosikan calonnya yang terus jaim.
Tak percaya media menjelek2an SBY? contoh….presiden tak pernah minta naik gaji! Presiden berpidato “…walaupun gaji saya tak pernah naik, yang penting gaji untuk para sipil dan TNI tetap sejahtera dan naik terus” itulah pidato sesungguhnya. Dan kalimat itu dipenggal, hanya digarisbawahi”gaji saya tak pernah naik” terus langsung digembor2kan via media massa….untuk menjatuhkan image SBY. Otomatis rakyat percaya dan langsung mencuat via facebook dan twitter, terus yang lebih bodoh lagi anggota DPR!! Mereka mamang super bodoh…pake bikin kencleng buat presiden segala….ga ada kerjaan banget sih anggota DPR, mendingan mereka nolongin korban lumpur lapindo sono!
Kedua….urusan Yogya dan kesultanan…SBY tak pernah ingin menghapus kesultanan Yogyakarta. Beliau sepenuhnya paham mengenai Yogyakarta, hanya saja ada provokator yang menyalahartikan pidato SBY dan sekali lagi menjatuhkan beliau….
Kalau ingin kita punya presiden atau pemimpin yang cerdas sebaiknya kita sebagai rakyat juga harus cerdas. Sebagaimana rakyat Amerika, makanya mereka selalu mempunyai pemimpin yang cerdas seperti Roosevelt, Obama dsb. Kita harus cerdas jangan cuma percaya gosip dan bertingkah seperti anak TK kayak anggota DPR :)
Arlin Prananingrum
Valentine Sebagai Fenomena Budaya
SDA Sibuk Mobilisasi Ulama, Lupa Urusi Umat
INILAH.COM, Jakarta - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai Menteri Agama Suryadharma Ali terlalu sibuk mengurusi para elit ulama untuk eksodus kembali ke PPP ketimbang mengurusi umat.
Akibatnya, umat seolah terlupakan dan kehilangan haluan para ulama yang tengah dipolitisasi oleh ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut.
"Menteri agama sibuk mengurusi mobilisasi kiai, seharusnya fokus dulu ke masalah kerukunan antar pemeluk agama yang meresahkan saat ini," ujar anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) Malik Haramain kepada INILAH.COM, Minggu (13/2/2011).
Menurut anggota Komisi II DPR ini, saat kondisi kerukunan umat beragama di Indonesia sangatlah buruk. Tak ada lagi toleransi sikap saling menghormati dan mengasihi.
"Harmonisasi antar pemeluk agama justru semakin buruk. Apa yang dilakukan Menag dengan memobiliasi kiai malah menimbulkan fragmentasi dan polarisasi di kalangan ulama," tegas Malik.
Lebih lanjut, fungsiornaris Gerakan Pemuda (GP) Ansor ini menilai Suryadharma sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas disharmoni umat beragama saat ini. "Dia (Suryadharma) yang paling bertanggung jawab!" [mah]
Seharusnya SBY Tidak Menabuh Gong Perdamaian Itu
Ini merupakan acara peresmian Gong Perdamaian Nusantara yang terletak di Jalan El Tari II, Kelurahan Kota Baru, Kota Kupang, NTT.
Gong Perdamaian yang ditabuh SBY tersebut merupakan simbol perdamaian dan kerukunan hidup sesama manusia untuk Indonesia pada khususnya, dan dunia pada umumnya.
Penabuhan gong tersebut merupakan simbol dari tekad seorang pimpinan bangsa dan negara untuk menjunjung tinggi perdamaian di negaranya masing-masing.
Gong tersebut merupakan bagian dari program The World Peace Committee, yang berada di bawah naungan PBB. Dengan maksud agar di setiap negara di bawah pimpinannya masing-masing dapat menciptakan kehidupan kemanusiaan yang adil dan beradab, rukun, dan penuh kedamaian di tengah-tengah keanekaragaman ras, agama, dan budaya.
Khusus Gong Perdamaian yang ditabuh SBY di Kupang tersebut terdiri dari lingkaran luar, tengah, dan dalam, yang mencerminkan ke-Indonesia-annya.
Lingkaran luar menampilkan logo dari 444 kabupaten/kota di Indonesia. Lingkaran tengah berisi logo 33 provinsi di Indonesia, sedangkan lingkaran dalam terdapat tulisan: “Gong Perdamaian dan Pemersatu Bangsa Indonesia,” yang memuat simbol lima agama yang diakui di Indonesia. Pada lingkaran puncak terdapat peta NKRI.
Kenapa saya mengatakan seharusnya SBY tidak menabuh Gong Perdamaian ini?
Karena seperti yang dijelaskan, bahwa makna dari suatu (peresmian) Gong Perdamaian tersebut merupakan suatu simbol dari tekad seorang pimpinan bangsa yang menabuhnya untuk menciptakan suatu perdamaian di antara rakyatnya. Yang dalam skala luas akan membawa dampak untuk semua bangsa di dunia.
SBY seharusnya menunda untuk melakukan seremonial tersebut. SBY seharusnya malu bukan main ketika dia meresmikan gong tersebut.
SBY seharusnya dengan perasaan malu, penuh penyesalan, kepada rakyat dan dunianya mengatakan seperti ini: “Maaf, sebagai seorang presiden yang bertanggung jawab atas kerukunan hidup dan perdamaian, dan persatuan rakyat Indonesia, saya merasa belum pantas untuk meresmikan Gong Perdamaian ini. Karena saya terbukti telah berkali-kali gagal untuk melakukan tugas mulia tersebut. Bahkan hanya sekadar tekad pun saya belum mampu menunjukkannya …”
Ini lebih terhormat bagi SBY, daripada tetap saja meresmikan gong tersebut di Kupang, pada tanggal 8 Februari lalu itu.
Karena apa yang telah dilakukan itu merupakan suatu ironi yang teramat sangat. Meresmikan suatu simbol perdamaian, bersamaan dengan itu tidak mampu mengatasi pecahnya dua kerusuhan besar yang sangat merusak perdamaian itu sendiri.
Dua hari sebelum acara peresmian Gong Perdamaian itu dilakukan (6/2), terjadi kerusuhan SARA yang berdarah-darah di Kecamatan Cikeusik, Pandenglang, Banten. Menewaskan tiga orang jemaat Ahmadiyah dengan cara yang teramat sadis. Satu orang menyusul kemudian meninggal di rumah sakit.
Padahal pada hari yang sama itu, tanggal 6 Februari 2011, merupakan hari peringatan kerukunan beragama internasional. Ini merupakan suatu ironi tersendiri lagi.
SBY dalam pernyataan waktu itu, antara lain mengatakan: “Tindak tegas para pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku. … Peristiwa semacam ini jangan sampai terulang lagi!” Sebuah pernyataan klise yang sudah bosan didengar.
Hasilnya sampai hari ini polisi baru mampu (mau?) menetapkan satu orang tersangka dari 1.500-an orang penyerbu kediaman pimpinan Ahmadiyah tersebut (yang adegannya terekam jelas dalam tayangan video itu). Mudah-mudahan pula bukan asal “tersangka-tersangkan.”
Dua hari kemudian (8/2), peristiwa SARA seperti itu malah terulang lagi. Bahkan bersamaan harinya dengan SBY meresmikan Gong Perdamaian tersebut.
Kerusuhan SARA di Temanggung, Jawa Tengah, 8 Februari itu telah membakar dan merusak tiga buah gereja. Kejadiannya dimulai sekitar pukul 10 pagi (WIB), dan beberapa jam kemudian SBY dengan penuh keyakinan menabuh tanda diresmikan Gong Perdamaian di Kupang.
Sebuah seremonial untuk menunjukkan tekadnya sebagai seorang pimpinan bangsa dan negara NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 untuk menghormati dan melaksanakan terciptanya kerukunan dan perdamaian di antara rakyatnya yang pluralisme. Pluralisme dalam bidang agama, budaya, ras, maupun adat-istiadat.
Tetapi dalam kenyataan, prakteknya, hal tersebut tidak tampak dari seorang SBY.
Maka dari itu, saya mengatakan sebaiknya SBY tidak menabuh Gong Perdamaian tersebut. Sebelum dia bisa meyakinkan rakyatnya bahwa dia akan benar-benar menumpas semua kegiatan destruktif yang merusak semangat pluralisme di Indonesia. Karena jelas-jelas itu bertentangan dengan amanah yang diberikan oleh Pancasila dan UUD 1945.
SBY harus bertanya kepada Kapolri. Kenapa bisa, teroris-teroris yang bersembunyi dalam penyamarannya yang begitu rapih, bisa ditemukan oleh (inteljen) polisi dan ditumpas habis. Sedangkan para pelaku anarkisme dan kejahatan kemanusiaan atas nama agama yang berkali-kali dan terang-terangan melakukannya di depan mata polisi, terpotret, dan terekam kamera video, kok bisa, tidak ada yang ditangkap, ditahan, dan diproses hukum dengan hukuman seberat-beratnya. Bilamana perlu “ditumpas” di tempat?
Aneh, lihatlah ketika polisi datang dalam banyak kerusuhan, seperti kerusuhan di Cikeusik mereka datang dengan tangan kosong, tidak membawa perlengkapan antihuru-hara sama sekali.
SBY harus bisa menjawab semua keanehan itu, meyakinkan rakyatnya tekadnya untuk menjalankan amanah dari Pancasila dan UUD 1945, bukan dari, misalnya, SKB Tiga Menteri itu. Barulah, silakan, karena anda itu pantas, menabuh Gong Perdamaian.***
oleh : Daniel H.t.
