Seharusnya SBY Tidak Menabuh Gong Perdamaian Itu




12972758201740305925
(Antara News)
12972758491455624070
http://www.flickr.com/photos/orangescale/2514171951/
Seharusnya ini tidak dilakukan oleh Presiden SBY: Pada tanggal 8 Februari 2011, di Kupang, NTT, sekitar pukul 15.30 WITA, dia menabuh Gong Perdamaian  Nusantara sebanyak lima kali, menandatangani prasasti perdamaian, kemudian berkata: “Para tokoh dan pemuka agama, mohon doanya agar perdamaian diridai Tuhan Yang Maha Kuasa. …”
Ini merupakan acara peresmian Gong Perdamaian Nusantara yang terletak di Jalan El Tari II, Kelurahan Kota Baru, Kota Kupang, NTT.
Gong Perdamaian yang ditabuh SBY tersebut merupakan simbol perdamaian dan kerukunan hidup sesama manusia untuk Indonesia pada khususnya, dan dunia pada umumnya.
Penabuhan gong tersebut merupakan simbol dari tekad seorang pimpinan bangsa dan negara untuk menjunjung tinggi perdamaian di negaranya masing-masing.
Gong tersebut merupakan bagian dari program The World Peace Committee, yang berada di bawah naungan PBB. Dengan maksud agar di setiap negara di bawah pimpinannya masing-masing dapat menciptakan kehidupan kemanusiaan yang adil dan beradab, rukun, dan penuh kedamaian di tengah-tengah keanekaragaman ras, agama, dan budaya.
Khusus Gong Perdamaian yang ditabuh SBY di Kupang tersebut terdiri dari lingkaran luar, tengah, dan dalam, yang mencerminkan ke-Indonesia-annya.
Lingkaran luar menampilkan logo dari 444 kabupaten/kota di Indonesia. Lingkaran tengah berisi logo 33 provinsi di Indonesia, sedangkan lingkaran dalam terdapat tulisan: “Gong Perdamaian dan Pemersatu Bangsa Indonesia,” yang memuat simbol lima agama yang diakui di Indonesia. Pada lingkaran puncak terdapat peta NKRI.
Kenapa saya mengatakan seharusnya SBY tidak menabuh Gong Perdamaian ini?
Karena seperti yang dijelaskan, bahwa makna dari suatu (peresmian) Gong Perdamaian tersebut merupakan suatu simbol dari tekad seorang pimpinan bangsa yang menabuhnya untuk menciptakan suatu perdamaian di antara rakyatnya. Yang dalam skala luas akan membawa dampak untuk semua bangsa di dunia.
SBY seharusnya menunda untuk melakukan seremonial tersebut. SBY seharusnya malu bukan main ketika dia meresmikan gong tersebut.
SBY seharusnya dengan perasaan malu, penuh penyesalan, kepada rakyat dan dunianya mengatakan seperti ini: “Maaf, sebagai seorang presiden yang bertanggung jawab atas kerukunan hidup dan perdamaian, dan persatuan rakyat Indonesia, saya merasa belum pantas untuk meresmikan Gong Perdamaian ini. Karena saya terbukti telah berkali-kali gagal untuk melakukan tugas mulia tersebut. Bahkan hanya sekadar tekad pun saya belum mampu menunjukkannya …”
Ini lebih terhormat bagi SBY, daripada tetap saja meresmikan gong tersebut di Kupang, pada tanggal 8 Februari lalu itu.
Karena apa yang telah dilakukan itu merupakan suatu ironi yang teramat sangat. Meresmikan suatu simbol perdamaian, bersamaan dengan itu tidak mampu mengatasi pecahnya dua kerusuhan besar yang sangat merusak perdamaian itu sendiri.
Dua hari sebelum acara peresmian Gong Perdamaian itu dilakukan (6/2), terjadi kerusuhan SARA yang berdarah-darah di Kecamatan Cikeusik, Pandenglang, Banten. Menewaskan tiga orang jemaat Ahmadiyah dengan cara yang teramat sadis. Satu orang menyusul kemudian meninggal di rumah sakit.
Padahal pada hari yang sama itu, tanggal 6 Februari 2011, merupakan hari peringatan kerukunan beragama internasional. Ini merupakan suatu ironi tersendiri lagi.
SBY dalam pernyataan waktu itu, antara lain mengatakan: “Tindak tegas para pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku. … Peristiwa semacam ini jangan sampai terulang lagi!” Sebuah pernyataan klise yang sudah bosan didengar.
Hasilnya sampai hari ini polisi baru mampu (mau?) menetapkan satu orang tersangka dari 1.500-an orang penyerbu kediaman pimpinan Ahmadiyah tersebut (yang adegannya terekam jelas dalam tayangan video itu). Mudah-mudahan pula bukan asal “tersangka-tersangkan.”
Dua hari kemudian (8/2), peristiwa SARA seperti itu malah terulang lagi. Bahkan bersamaan harinya dengan SBY meresmikan Gong Perdamaian tersebut.
Kerusuhan SARA di Temanggung, Jawa Tengah, 8 Februari itu telah membakar dan merusak tiga buah gereja. Kejadiannya dimulai sekitar pukul 10 pagi (WIB), dan beberapa jam kemudian SBY dengan penuh keyakinan menabuh tanda diresmikan Gong Perdamaian di Kupang.
Sebuah seremonial untuk menunjukkan tekadnya sebagai seorang pimpinan bangsa dan negara NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 untuk menghormati dan melaksanakan terciptanya kerukunan dan perdamaian di antara rakyatnya yang pluralisme. Pluralisme dalam bidang agama, budaya, ras, maupun adat-istiadat.
Tetapi dalam kenyataan, prakteknya, hal tersebut tidak tampak dari seorang SBY.
Maka dari itu, saya mengatakan sebaiknya SBY tidak menabuh Gong Perdamaian tersebut. Sebelum dia bisa meyakinkan rakyatnya bahwa dia akan benar-benar menumpas semua kegiatan destruktif yang merusak semangat pluralisme di Indonesia. Karena jelas-jelas itu bertentangan dengan amanah yang diberikan oleh Pancasila dan UUD 1945.
SBY harus bertanya kepada Kapolri. Kenapa bisa, teroris-teroris yang bersembunyi dalam penyamarannya yang begitu rapih, bisa ditemukan oleh (inteljen) polisi dan ditumpas habis. Sedangkan para pelaku anarkisme dan kejahatan kemanusiaan atas nama agama yang berkali-kali dan terang-terangan melakukannya di depan mata polisi, terpotret, dan terekam kamera video, kok bisa, tidak ada yang ditangkap, ditahan, dan diproses hukum dengan hukuman seberat-beratnya. Bilamana perlu “ditumpas” di tempat?
Aneh, lihatlah ketika polisi datang dalam banyak kerusuhan, seperti kerusuhan di Cikeusik mereka datang dengan tangan kosong, tidak membawa perlengkapan antihuru-hara sama sekali.
SBY harus bisa menjawab semua keanehan itu, meyakinkan rakyatnya tekadnya untuk menjalankan amanah dari Pancasila dan UUD 1945, bukan dari, misalnya, SKB Tiga Menteri itu. Barulah, silakan, karena anda itu pantas, menabuh Gong Perdamaian.***
oleh : Daniel H.t.
Hobby membaca, nonton film, makan di luar (mulai dari warung kaki lima sampai resto bintang lima). Berasal dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Foto: Salah satu pemandangan matahari terbenam (sunset) di Fakfak yang tidak kalah dengan di Bali.


Jangan Lupa Jempolnya :


Berikan Tanggapan Anda .....

0 Respones to "Seharusnya SBY Tidak Menabuh Gong Perdamaian Itu"

Post a Comment

 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info