Irilah dengan Indonesia… Negeri yang Terberkati



Indonesia….Negeri dengan tanah subur berisikan aneka sumber daya alam yang sangat melimpah.  Teringat akan syair Lagu Koes Plus yang bercerita tentang tongkat kayu dan batu jadi Tanaman.  Itu memang benar sekali.
Indonesia tidak perlu Manusia pintar, Religius atau apa lah yg sekarang sering disebut-sebut sebagai kriteria Pemimpin Bangsa ini, Indonesia hanya perlu seorang yang mempunyai Hati Nurani, Jujur dan Tulus.  Maka Negeri ini akan sejahtera, atau istilah Jadulnya Adil dan Makmur.
Mungkin ini lah Hukum Keadilan Tuhan, Hukum yang membuat Dunia ini seimbang…Yin dan Yang, atau Rwa Bhineda dalam istilah Hindu.
Salam Indonesia Jaya

Komangbali

Saya adalah Bankir daur ulang...Sedang belajar menulis biar tidak didaur ulang lagi...


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Krisis Mesir: Indonesia Lebih Cepat, Malaysia Lambat




By Bimo Tejo

Biasanya saya selalu menempatkan Indonesia sebagai negara inferior ketimbang Malaysia, baik dalam urusan sepakbola, badminton, kemakmuran, diplomasi luar negeri, korupsi, pelayanan publik, transportasi massal, dan banyak lagi.

Kali ini tumben Pemerintah RI bergerak lebih cepat ketimbang Pemerintah Malaysia dalam urusan memindahkan warganya dari Mesir yang sedang dilanda krisis politik.

Hari ini kita menerima kabar bahwa gelombang pertama WNI yang dipulangkan dari Mesir akan segera tiba pagi ini di Bandara Soekarno-Hatta. Tidak tanggung-tanggung, 6 ribu WNI itu akan dibawa pulang bergelombang dengan pesawat dari 3 maskapai penerbangan: Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batavia Air.

Dan yang lebih dahsyat lagi, Presiden SBY akan menjemput langsung di bandara!

Keputusan untuk memulangkan WNI yang terjebak di Mesir itu diambil dengan ekstra cepat oleh kabinet SBY. Dana darurat langsung mengucur dan Wakil Kepala Staf AU ditunjuk sebagai komandan operasi. Saking cepatnya, ijin mendarat di Kairo belum keluar, pesawat B747-400 Garuda Indonesia sudah nongkrong duluan di Jeddah, kapan saja siap bergerak masuk ke Kairo.

Kecepatan gerak Pemerintah Indonesia ini sangat bertolak belakang dengan lambatnya respon dari Pemerintah Malaysia. Padahal jumlah WN Malaysia di Mesir lebih besar, 11 ribu orang alias hampir dua kali lipat jumlah WNI.

Setelah berhari-hari didesak, terutama oleh orangtua mahasiswa Malaysia yang terdampar di Mesir, baru kemarin Pemerintah Malaysia memutuskan untuk mengangkut pulang 11 ribu warganya dari Mesir. Caranya dengan memindahkan mereka ke Jeddah atau negara-negara tetangga terdekat melalui laut, lalu dari sana diangkut pulang ke Malaysia menggunakan jasa maskapai Malaysia Airlines dan AirAsia.

Sudah terlambat, dikecam pula. Banyak pihak yang tidak puas atas keputusan itu karena siapa yang akan menampung 11 ribu orang ini di negara-negara tetangga? Kenapa tidak langsung dibawa pulang ke Malaysia? Belum lagi soal kelambatan respon yang disesalkan banyak pihak. Tadi malam TV3 (stasiun TV di Malaysia) mengkritik tajam lambatnya respon Pemerintah Malaysia ini, antara lain dengan mencoba menghubungi nomer telepon hotline Kedubes Malaysia di Mesir. Tidak ada orang yang mengangkat. Juga, rombongan orangtua yang anaknya terperangkap di Mesir ramai-ramai mendatangi studio TV3 untuk menyuarakan kritikannya terhadap langkah pemerintah.

Bukan hanya itu, suara kemarahan juga diekspresikan oleh pelajar-pelajar Malaysia di Mesir terhadap lambatnya respon Pemerintah Malaysia. Blog ini (http://krisismesirnasibrakyatkita.blogspot.com/) yang dibuat sebagai sarana update terkini antar pelajar Malaysia malah jadi ajang caci-maki terhadap pemerintah. Mereka tidak terbiasa dengan situasi rusuh, berbeda dengan pelajar Indonesia yang sebagian mungkin sudah berpengalaman dengan kerusuhan-kerusuhan di negara sendiri. Pelajar-pelajar Malaysia ini kebingungan. Staf Kedubes Malaysia yang hanya 20 orang jelas tidak cukup untuk menawarkan bantuan. Akhirnya ribuan WN Malaysia ini mencoba mencari jalan pulang sendiri-sendiri, antara lain menggunakan maskapai Emirates. Bahkan ada yang lari ke Rusia dulu, pokoknya bisa keluar dari Mesir secepat-cepatnya.

* * *

Kegesitan Pemerintah RI melindungi warganya dalam krisis Mesir ini patut dihargai. Tetapi tentu tidak dihargai berlebihan karena ini memang sudah tugas pokok pemerintah. Mau tidak mau, suka tidak suka, tugas pemerintah adalah melindungi rakyatnya dimana saja.

Yang saya heran, kegesitan seperti ini tidak nampak ketika krisis serupa terjadi di dalam negeri, misalnya ketika bencana Merapi, tanah longsor di Wasior, atau tsunami di Mentawai. Entah kenapa.

Mudah-mudahan apa yang kita lihat dalam beberapa hari terakhir ini merupakan indikasi insafnya Presiden SBY. Saya yakin beliau mendengar kritikan tentang kelambanan gerak pemerintah. Kali ini Presiden SBY ingin membuktikan bahwa pemerintah bisa bergerak cepat. Mudah-mudahan ini bukan semata-mata soal citra, tapi yang lebih utama adalah soal pemerintah yang menjalankan tugas pokoknya.



Lihat Selengkapnya Beri Komentar


Short Course on Leadership dari JK



Oleh : Chappy hakim

Malam tadi saya mengikuti, kursus singkat tentang kepemimpinan dari JK. Hal ini adalah merupakan intisari dari sambutan JK saat menerima Life Time Achievement Award 2010 dari Charta Politika di Nikko Hotel (19 Januari 2011)

Saya menyebutnya dengan Kursus singkat, karena memang hanya dalam waktu yang tidak lebih dari 1 jam saja, dan isinya sarat dengan prinsip-prinsip kepemimpinan. Berikut butir-butir yang menarik dari ihwal kepemimpinan JK. Tidak persis sekali, akan tetapi lebih kurang maknanya adalah sebagai berikut :

Beberapa saat setelah JK turun panggung dari kursi Wapres, beliau diundang ke Australia, untuk memberikan ceramah di salah satu perguruan tinggi terkemuka disana. Bertemu dengan salah seorang guru besar , JK langsung mendapatkan pertanyaan tentang mengapa berita tentang JK masih lebih banyak bertengger di media masa Indonesia dibanding dengan liputan berita SBY. Jawaban JK, adalah karena beliau punya hubungan yang sangat bagus dengan Media .

1295488026409407444

Menjelaskan tentang hubungan yang bagus dengan media, menurut JK adalah karena dia tidak pernah berbohong, seraya menguraikan rasa saling percaya adalah merupakan kunci dari bagaimana kita bisa berhubungan dengan harmonis.

Tentang Kepemimpinan, diutarakan oleh JK bahwa Seorang pemimpin adalah seorang yang dapat menyuruh orang lain bekerja sesuatu yang sebenarnya tidak disukai, itulah pemimpin, katanya menegaskan. Kalau seorang pemimpin menyuruh orang lain bekerja sesuatu yang memang mereka sukai, maka itu namanya bukan pemimpin, akan tetapi tidak lebih dari “koordinator” belaka, alias ketua kelas. Khusus untuk ini JK mencontohkan bagaimana dia menaikkan harga BBM dengan tanpa gejolak yang berarti. Sesuatu yang tidak disukai banyak orang. Yang dikerjakannya adalah memberikan penjelasan yang terang benderang kepada semua pihak terkait. Penjelasan yang dapat dengan mudah dimengerti. Tentu saja disini dibutuhkan penggunaan bahasa yang mudah dicerna. Dengan penjelasan yang baik, walaupun keputusan itu tidak disukai, orang lalu mengerjakannya dengan baik. Itu namanya Pemimpin ! Tidak takut mengambil keputusan. Tidak ada satu keputusan yang disukai oleh semua orang dan tidak mungkin terjadi. Yang dapat dilakukan adalah meminimalisirnya.

JK, mengatakan pula tiga hal penting berkait dengan pengalamannya sebagai orang yang pernah bergelut sebagai orang bisnis, seorang birokrat dan terakhir di Palang Merah Indonesia. Orang bisnis dalam bekerja selalu mengutamakan keuntungan, “result oriented”. Yang penting adalah hasilnya yaitu untung. Proses menjadi porioritas nomor dua. Sementara di birokrasi, ternyata orang lebih mengutamakan proses. Proses yang benar, yang sesuai aturan dan lain sebagainya, karena, antara lain takut kepada KPK. Soal hasil? nggak begitu penting, nggak berhasil juga nggak apa-apa, yang penting proses nya saja. Lihat saja, bagaimana orang birokrasi mengatasi macetnya kota Jakarta. Yang penting prosesnya saja. Monoril terbengkalai, jalanan tetap macet, angkutan umum tetap amburadul, nggak apa-apa, yang penting kan prosesnya benar. Proses dengan teori-teori dan aturan aturan yang berkepanjangan tanpa hasil, ya nggak apa-apa. Iya kan , Nggak apa-apa Kan?

Terakhir, di PMI dia mengatakan, ternyata hal yang paling penting adalah “keselamatan” manusia, lain-lainnya menjadi nomor dua dan seterusnya.

Berikutnya JK memberikan penjelasan atas pertanyaan tentang riwayatnya saat menjabat sebagai Wapres, yang sering berperan sebagai gas, karena Bos nya adalah Rem. Apakah ia pernah melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan dalam salah satu kebijakan yang harus diambil? Dijelaskan oleh JK, pemimpin bisa saja salah menentukan kebijakan dan itu dapat dimaafkan. Akan tetapi pemimpin yang tidak mengambil keputusan dalam menentukan kebijakan itu yang tidak bisa dimaafkan, katanya.

Itulah sekilas butir-butir dari Short course on Leadership dari JK. Saya bukan juru kampanye JK, akan tetapi saya melihat salah satu kunci sukses JK sebagai pemimpin adalah cara penampilan diri yang “apa adanya” membuat JK jauh lebih bisa diterima masyarakat dibanding dengan lainnya. Pada titik ini, saya pikir saya harus berbagi, sayang bila ini tidak saya bagikan kepada orang lain. Ini adalah bagian dari tanggung jawab saya dalam hidup bermasyarakat. Semoga bermanfaat.

Sekian dan Terimakasih.

Chappy Hakim

Jakarta 20 Januari 2011


Lihat Selengkapnya Beri Komentar


 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info