Ungkapan Haru Seorang Nelayan




oleh : Rika Saptari

Kemarin sore tidak sengaja, saya menonton acara salah satu TV swasta yang menayangkan tentang situasi dan kondisi pulau pulau terluar di Republik ini salah satunya adalah Pulau Rupat.

Pulau Rupat adalah sebuah pulau di kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, pulau ini hanya bisa di tempuh melalui jalur laut, pulau yang mempunyai luas 1500 km2 ini secara geografis berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan merupakan titik terdekat menuju negara jiran Malaysia, jarak tempuh ke Malaysia hanya 1 jam dengan kapal boat tradisional sedangkan jarak tempuh ke kota Dumai memakan waktu 2 jam sehingga tidak heran jika masyarakatnya lebih senang berbelanja berbagai keperluan dan berbarteran barang ke Negara tetangga Malaysia daripada ke Negara sendiri, logat mereka adalah melayu yang sama dengan logat orang-orang Malaysia bahkan mata uang di Pulau Rupat juga bercampur campur, jika kita belanja di warung boleh memakai rupiah dan boleh juga memakai ringgit dan untuk uang kembaliannya kita juga boleh memilih rupiah atau ringgit, lucu ya…

Saya tertarik dengan percakapan antara si reporter dengan seorang nelayan sederhana yang ternyata mempunyai banyak saudara yang tinggal di Malaysia yang sebagai nelayan juga. Rupanya karena jarak yang dekat menjadikan mereka mempunyai hubungan kekerabatan dikarenakan ada kerabat yang menikah dengan nelayan Malaysia atau nelayan Indonesia yang menikah dengan orang sana, percakapan reporter dengan nelayan lebih kurang sbb:

Reporter: enakan mana pak jadi nelayan Indonesia atau nelayan Malaysia

Nelayan: enakan nelayan Malaysia bu…lebih terjamin dan hidupnya lebih makmur (dengan logat malaysia yang sangat kental)

Reporter: kalo gitu mau ngga pak tinggal di Malaysia jadi warga negara Malaysia misalnya?

Nelayan: tidak maulah…saya mau nya tetap jadi warga negara Indonesia

Reporter: lho kenapa pak,bukankah pemerintah Indonesia tidak terlalu perduli dengan keadaan penduduk di daerah sini pak?

Nelayan: iya tapi saya tetap mau nya jadi warga negara Indonesia

Reporter: walaupun daerah bapak ini jalannya jelek tidak ada perhatian dari pemerintah pusat dan kehidupan para nelayannya yang miskin bapak tetap mau jadi warga negara Indonesia?

Nelayan: (menggangguk dengan mantap) apapun yang terjadi saya tidak mau pindah ke Malaysia saya mau tetap menjadi warga negara Indonesia….tanah air saya dan tumpah darah saya.

Ada rasa haru yang menyeruak di dada saya. Seorang nelayan yang hidup dalam keterbatasan yang pemerintahnya tidak peduli akan daerahnya yang tertinggal yang mendapat kunjungan pejabat pemerintah dan daerah hanya jika sedang kampanye untuk pemilihan saja masih begitu mencintai tanah airnya, tidak pernah mereka berdemo supaya nasibnya diperhatikan atau berdemo supaya hak mereka sebagai warga negara dipenuhi, ahkan terlintas dipikiran mereka pun mungkin juga tidak, yang mereka pikirkan adalah berjuang di tengah lautan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya agar dapur tetap bisa ngebul. Meski begitu di hati mereka tetap mencintai tanah airnya, Indonesia yang katanya kaya raya, yang hasil pembangunannya tidak pernah mereka nikmati. Sementara di depan mata mereka para nelayan negara tetangga hidup lebih makmur dengan berbagai fasilitas yang di berikan oleh pemerintahnya. Di akhir acara berkumandanglah lagu Satu Nusa Satu Bangsa….

Satu nusa satu bangsa….

satu bahasa kita…

tanah air pasti jaya

untuk slama lamanya…

Indonesia pusaka…

Indonesia tercinta..

nusa bangsa dan bahasa

kita bela bersama….




Jangan Lupa Jempolnya :


Berikan Tanggapan Anda .....

0 Respones to "Ungkapan Haru Seorang Nelayan"

Post a Comment

 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info