“SBY Curhat” Sebuah Media-spin?



Oleh : mahadarma

Ada obyektifitas yang hilang dari pemberitaan menyangkut “curhat” presiden SBY yang menghiasi berita-berita di berbagai situs online dan media elektronik hari ini.

Kita sepakat bahwa sebuah media secara etika harus netral. Pemberitaan juga harus utuh dan tidak sepotong-potong untuk menghindari mispersepsi dan asumsi terhadap pembaca/penonton-nya. Namun yang saya amati dan cermati dalam pemberitaan media hari ini terutama media online adalah menempatkan headline yang “sedikit” bombastis dan spinning.

Spinning atau populer disebut media spinning, harfiahnya memiliki pengertian pembentukan opini baru yang berbeda dari kenyataan. Dalam bahasa lain, memutarbalikkan atau memlintir fakta. Untuk apa? Untuk menciptakan persepsi baru, untuk meningkatkan jumlah pembaca, dsb. Apa indikasinya? Cukup sederhana, salah satunya dengan membaca headline dari artikel berita sebuah media, yang saat ini umumnya disebarluaskan melalui layanan sosial media (baca: twitter)

Headline, atau judul berita dengan bahasa menarik dan bombastis memang menjadi satu cara untuk memikat pembaca. Sayangnya dalam media online, terutama di layanan sosial media, tidak banyak yang bersedia membaca tulisan secara utuh yang disediakan melalui link/url yang ada, alias cuma baca judulnya saja, dan kemudian menyimpulkan sendiri, memberi analisa yang menyimpang dari kejadian aslinya.

Tidak hanya masyarakat awam yang tergiring dengan kejadian semacam ini, banyak pakar dan juga pengamat yang ikut berkomentar karena isu tanpa melihat dan mencermati substansi berita. Efek yang lebih luas, masyarakat akan memberikan kesimpulan berdasarkan informasi atau tanggapan-tanggapan para pengamat ini.

Dalam konteks bahasan tentang pidato SBY hari ini, menurut pandangan saya, tanpa menilai sengaja atau tidak sengaja maupun tujuannya, ada spinning disana. Ada media yang menuliskan headline “SBY curhat 7 tahun gaji tidak naik”, tapi ada pula yang seperti ini “Demi Kesejahteraan, Presiden dan Wakil Rela Gaji Tidak Mengalami Kenaikan”. Kira-kira sebagai pembaca, anda melihat lebih arif yang mana?

Secara substansi, mengulas sedikit apa yang coba dipaparkan Presiden dalam Rapim TNI/POLRI, mengungkapkan keseriusannya dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, utamanya TNI/POLRI. Ada yg harus dicermati dari komunikasi politik ketika seseorang berbicara, meliputi: kultur, audience, pemilihan kata, gaya bahasa, dan lain-lain. Tentu ada ungkapan-ungkapan yang hanya pas dikatakan dalam situasi, kondisi, dan audience tertentu, dan apa yang disampaikan Presiden akan sangat tidak pas jika misal diungkapkan di depan para petani, atau lainnya. Dan menurut saya, presiden tidak sedang mengeluh. Dia berusaha memotivasi anak buahnya, para Tentara, dan terkait keseriusannya memperjuangkan kesejahteraan TNI/POLRI termasuk beberapa himbauan untuk tidak me-mark up pembelian Alutsista.

Dalam sebuah komunikasi akan melibatkan asumsi, persepsi dan kepentingan itu sudah pasti, termasuk media. Namun jangan lupa bahwa kita harus melihat bahasa yang disampaikan secara utuh, karena ketika kita melihat dalam sebuah fragmen, atau potongan, maka akan mendapatkan makna yang berbeda. Efek dari pemberitaan yang tidak berimbang adalah terjadinya “kenyinyiran” dan terciptanya opini baru di publik,terutama publik internet.

Semoga media semakin arif dalam pemberitaan dan setiap tulisan sehingga masyarakat/publik mendapatkan berita yang berimbang sesuai dengan kenyataan, dan mencerdaskan bangsa. Jangan lupa media adalah pilar demokrasi keempat, jadi obyektifitas harus dijaga. Sekian. Jika ada salah, silahkan dikoreksi tulisan ini.


Jangan Lupa Jempolnya :


Berikan Tanggapan Anda .....

0 Respones to "“SBY Curhat” Sebuah Media-spin?"

Post a Comment

 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info