Gaji Menteri Cuma 19 Juta? Tekor Pasti, Ya?
Oleh : Posmasiahaan
“Ah, gak mungkin. Ini pembohongan publik lagi. Masak dinaikkan saja gaji dan tunjangan menteri sebulan hanya 19 juta?” Kata sang istri geleng-geleng kepala membaca koran kemarin.
“Memang yang wajar berapa? Dan kenapa mama bilang pembohongan?” Tanya suaminya ikut nimbrung baca koran.
“Coba, ya mama hitung.Asuransi dan pajak kita kalau dihitung bulanan 5 jutaan, sekolah dan les anak-anak 2 jutaan, listrik-air-pulsa-internet sekitar 2 jutaan, belanja makan 5 jutaan, bensin 2 mobil 1 jutaan, belom lagi kasih uang ke orang tua papa dan mama 2 jutaan. Total lebih 20 jutaan.” Kata si istri lagi sambil memencet-mencet kalkulator.
” Nah, lo. Jadi pengeluaran kita sebulan sebanyak itu?” Sang suami pun melotot keheranan.
“Iyalah. Papa pikir gaji papa yang 15 juta itu cukup apa buat biaya hidup kita sebulan? Kalau mama tidak bolak balik ke Jakarta jual songket Palembang dan jual berlian dari Jakarta ke palembang, mana cukup. Untung mama masih punya darah bisnis dari Oma yang keturunan China. Kalau enggak, sudah sejak kawin papa mama suruh korupsi, tahu enggak?” Dan si istri pun tertawa bangga, melihat si suami bertepuk tangan standing aplaus memuji kehebatan istrinya mengelola keuangan keluarga mereka.
“Iyalah, mam. Banyak peluang korupsi di kantor, tetapi papa tidak mau, karena papa pikir gaji kita cukup-cukupan saja. Eh, ternyata yang bikin cukup dan malah bisa menabung mama tersayang. Hehehehehehe.” Lalu suami itu pun mencium pipi kiri dan kanan serta memeluk istrinya.
“Saya dukung mama berbisnis ya ma. Papa tidak sanggup korupsi. Atasan papa ada saja penyakitnya, jantungan, asma. Teman lain seangkatan yang suka mark-up sakit diabetes dan asam lambung, ada yang depresi dan tergantung obat penenang, ada yang jadi pecandu narkoba, ada yang hobby selingkuh dan kawin cerai, ada yang anaknya hamil di luar nikah sampai menggugurkan kandungan. Semua bisa terjadi pada orang yang tidak korupsi, tetapi karena mereka korupsi dan tertimpa musibah, mereka jadi menyalahkan diri sendiri.” Kata si suami merenung.
“Jadi menurut papa, kenapa orang-orang partai berebutan menempatkan kader-kadernya menjadi menteri? Padahal kalau melihat gajinya, pasti tekor. Biaya hidup mereka pasti lebih besar dari kita, kan?” Si istri penasaran.
“Iya, ya. Mungkin partai-partai itu pengen istri-istri si menteri bisnis songket dan berlian juga ke seluruh negeri, kan hasilnya lebih banyak daripada bisnis mama yang cuma di Palembang-Jakarta? Hehehehe…” Si suami pun mencubit tangan istrinya.
“Ah, boro-boro berbisnis. Kerjaan istri-istri menteri kebanyakan ke salon, belanja baju mahal, jalan-jalan ke luar negeri, kok. Gak mungkin itu…” Si istri pun jadi mikir sendiri.
“Ya, mungkin ada dana operasional lain yang kita tidak tahu. Seperti presiden, gajinya 63 juta tetapi dana taktisnya 2 milyar. Tetapi mestinya digabung saja, gaji presiden 2 milyar 63 juta, supaya rakyat tahu apa sih ‘jatah’ seorang presiden sebulan? Jadi kita mengerti selama 5 tahun presiden minimal ada dana 120 an milyar. Ini menteri gajinya 19 juta, secara logika tekor. Nah, dana taktisnya berapa? Kalau secara resmi tidak ada, berarti setiap menteri memang disuruh nyari dana taktis masing-masing setaktis-taktisnya. Ya, habis deh semua ditaktisin.” Si istri pun bersungut-sungut kesal dan pergi ke dapur untuk memasak makan malam.
Tinggal si suami terdiam, sambil mikir. Kalau menteri yang rata-rata tokoh-tokoh bercitra bagus, agamanya kuat (kelihatannya) dan jadi teladan di masyarakat selama 5 tahun hanya digaji tekor dan diijinkan bertaktis-taktis ria, apalagi 6 jutaan PNS yang gajinya cuma 2-4 juta sebulan?
Pilihan abdi negara ini cuma tiga. Mencukupkan diri dengan gaji yang ada, mencari penghasilan tambahan dengan cara halal seperti yang dilakukan istrinya, atau menyiapkan cara taktis untuk mendapatkan dana taktis setaktis-taktisnya..
Jangan Lupa Jempolnya :

Berikan Tanggapan Anda .....
0 Respones to "Gaji Menteri Cuma 19 Juta? Tekor Pasti, Ya?"
Post a Comment