Politik Kampus tai kucing?




Oleh : Galih nugroho

Pada kesel ga sih kalau melihat dagelan politik yang sering ditampilkan oleh bapak-bapak dan Ibu-Ibu kita baik itu di pemerintahan, parlemen, kepolisian, kejaksaan, kehakiman, KPK, dan lain-lainnya. Semakin lama, kondisi politik di Indonesia semakin seperti sinetron yang tidak ada habisnya, bahkan selalu diperpanjang episodenya tanpa memberikan kepastian yang jelas! Pasti opini dari orang-orang pun beragam, ada yang geram, kesel, sudah tidak perduli yang penting bisa makan, sabodo teuing, kampretlah, dll. Saya berani menggeneralisir opini publik, pasti hasilnya adalah negatif. Kenapa bisa kayak gitu sih?

Sebelum, dikasih tau sedikit tentang permainan mereka terhadap kekuasaan yang mereka miliki dan keinginan untuk terus mempertahankannya dengan cara apapun, kita lihat dulu yuk kondisi politik kampus kita sendiri. Kenapa harus liat kondisi di kampus sendiri dulu? Ya, iyalah kan kita sebagai mahasiswa yang selama ini menggembargemborkan sendiri, kalau kita adalah center of intellectual, agent of change, the universal opposition, dan iron stock buat bangsa ini, MASIH ingat kan! Saya sendiri berpendapat kalau politik kampus adalah miniatur politik yang ada di negara sebenarnya, perbedaannya hanyalah di sistem kelembagaannya, sistem politiknya (pemira, partai kampus , stakeholder, pelaku, pemilih, dll terkait unsur politik), tetapi kalau perilaku politiknya sorry to say, HAMPIR SAMA AJA KITA SEMUA! Masih ga ngaku? Yuk mari kita berkaca yuk!!!

Oke, sekarang saya akan memberikan sedikit argumen yang menjadi salah satu penentu terbesar (karena rantai hitamnya terlalu banyak) kenapa politik di negara kita ini ya kayak sekarang. Indonesia ini kan memakai sistem Presidensialisme, tetapi masih belum menciptakan pemerintahan yang stabil dan efektif! Hal ini karena sistem presidensialisme disandingkan dengan sistem multipartai. Lumayan lucu, kalo sistemnya multi partai, berarti secara langsung maupun tidak langsung, ya Presiden akan merangkul orang dari partai yang masuk di parliamentary threshold DPR untuk dijadikan menterinya di kabinet. Wajar kalau ancaman parpol DPR terhadap Presiden adalah menarik dukungan koalisinya. Ditambah lagi perilaku partai politik yang sama saja pragmatisnya.

Partai-partai politik yang ada di Indonesia hanya melakukan persaingan sampai sebatas kontestasi pemilihan umum, setelah itu mereka semua akan bertindak secara kolektif sebagai suatu kelompok untuk mempertahankan eksistensi partainnya dan mengakumulasi kapital lah ujung-ujungnya (proyek2 di kementrian, parlemen, KKN sih pada akhirnya). Contoh konkretnya nya lihat aja Pemilu tahun 2009 partai-partai bergabung kan menyerang KPU dan meminta diadakan Pemilu ulang? Yaiyalah jelas Pemilunya rusak, orang anggota KPU dan UU Penyelenggara pemilunya juga kacau!! (akibat kelamaan legislasi di DPR juga sih ujung2nya, wajar kalau KPUnya prematur, masa Ketua KPU nya latar belakang akademisnya dari bidang agama.. haha, emang dibuat jd dagelan semua ini!!) contoh lainnya? ya tadi, mau masuk ke kabinet dirangkul oleh Presiden dan bahkan menjilat, serta membuat kesepakatan-kesepakatan politik dengan Presiden meminta jabatan, padahal ideologi partainya sama ideologi partai Presidennya beda loh!! Ditambah lagi sama sifat Presiden kita yang “katanya” sih merangkul, tapi malah mereduksi oposisi negara!! Di parlemen pun, mereka akan berkoalisi tanpa mementingkan ideologi partainya.

Contoh lagi, Partai Demokrat yang mau merangkul PKS, PPP, PKB, dan Pan yang jelas-jelas ideologi partainya beda. Contoh konyolnya lagi Presiden membuat Setgab, sebagai forum kordinasi partai di luar kabinet dan parlemen, yang konon katanya kekuatannya sangat kuat untuk mengintervensi kebijakan kabinet dan parlemen. Kenapa ga kita harus ga percaya? Wong, orang di Setgab biasanya dedengkot partainya, ya pasti didengerlah sama cunguknya yang ada di kabinet dan parlemen. Ironis bung!!! Satu lagi yang lumayan lucu, Partai demokrat juga membuka komunikasi ke PDI-P untuk membicarakan Pilpres 2014. Lah terus dimana oposisi buat negara yang resmi? Satu2nya yang bisa jadi oposisinya adalah Rakyat dan Mahasiswa dong kalo kayak gini!!!!

Nah, dengan SISTEM RANTAI HITAM yang sudah membelenggu seperti di atas! Inget kanpower tends to corrupt,absolute power corrupts absolutely? Sistem kelembagaan yang check and balancenya kacau, perilaku partai politik yang pragmatis, ditambah perilaku pejabat yang juga korup, tidak ada sistem oposisi yang jelas, ya SANGAT wajar kalau kekuasaan mereka ga ada yang membendung, dan dijadiinlah kondisi politik negara ini jadi Sinetron yang ga ada abisnya. Mereka bersalah? Ya jelas, nah kita sebagai mahasiswa bersalah ga? Kalo menurut saya salahnya lebih parah dari mereka!!! kenapa? Mereka berbuat seperti itu mengejar kekuasaan yang rill dan uang pada ujungnya! Kalau kita? Mengejar apa? Kekuasaan? Hahaha (mau eksis aja di kampus), perjuangan? Yakin bung? Bukannya ribet sendiri ngejar kekuasan di kampus yang akhirnya malah mereduksi perjuangan itu sendiri …. Ideologi? Bullshit (di AS udah ga ngaruh! Di Malaysia pake syariat islam tuh, padahal penduduk muslimnya Cuma kurang dari 60%,, abis udah sejahtera รจ sama saja kan pragmatisnya kalau sudah sejahtera). Ya walaupun juga kita harus punya ideologi sebagai penunjuk jalan kita sih, Cuma gausah memandang ideologi ku yang paling benar, kelompokku benar, maka kelompokmu dan ideologi mu salah.. Siape yang tahu kayak begini?? Haha.. Politik itu tools bung, yang dijalankan dengan strategi sesuai sama kondisi dan cita-cita awal.. dalam konteks negara tujuannya adalah keadilan sosialm kesejahteraan, pendidikan bagus, kesehatan, keamanan, dll.. politik ya alatnya menuju itu semua. Makanya politik kalo dibagi ke 5 konsep itu ada kekuasaan, negara, pengambilan keputusan, kebijakan publik, dan distribusi (Miriam Budiarjo, 2008). Kesalahan atau DOSA yang kedua adalah kita sudah tahu kondisi di bangsa ini lagi kacau, tapi malah ribet sendiri => RAKYAT YANG JADI KORBAN TERBESARNYA MAU DIKEMANAIN?

Kenapa ribet sendiri? Liat aja kondisi Pemira di kampus! Liat aja peperangan absurd ideologi.. wooyy ideologi parpol aja bakal pragmatis, karena sehabis pemilu mereka ga akan jalanin program sesuai dengan ideologi partainya. Parpol apapun yang menang juga bakal sama saja,, kecuali emang benar2 ada partai yang menjalankan pemerintahannya sesuai dengan program partainya pada saat kampanye. Mereka itu Cuma jual ideologi untuk mengeruk suara dari rakyat yang dekat dengan ideologinya. Padahal nantinya sama saja, bergabung2 juga sebagai kekuatan kolektif (KARTELISASI => Katz dan Mair, 1995). Hahaha. Kita emang zoon politicon kali kalo kata Plato, jadi wajar kalau kita berpolitik dan akhirnya berkelompok, seta berideologi. Ya Cuma kita beda bung sama parpol-parpol kampret itu, kita berpolitik untuk rakyat kampus dan rakyat Indonesia. Jadi ya dipikirinlah bentuk terbaiknya seperti apa seharusnya!!! Ini Pekerjaan Rumah kita bersama..

Salah satu lagi yang menjadi bahan kritikan saya adalah pola kaderisasi kampus yang dilakukan terlalu dini (baik yang dilakukan oleh organisasi intra maupun ekstra kampus). Mahasiswa baru sebagai sasaran empuk sebagai calon-calon kader, baik dari ideologi apapun. Wajar kalau akhirnya akan sama saja, sampai tahun-tahun berikutnya kalau pola terus seperti ini. biarkanlah mereka mengenal kondisi akademis dan kampus secara keseluruhan terlebih dahulu (adaptasi). Suka sedih sih kalau melihat mereka berkomentar dengan “kacamata kudanya” dan bahkan lebih bersemangat dan tajam dari yang memberikan infonya. Wajar kalau banyak yang bilang robot atau wayang. Hal ini karena memang terleading secara langsung maupun tidak langsung, atau karena memang yang mengkader sendiri tidak sadar? Siapa tahu!! Kalau pun mau menyebarkan pendidikan ke adik-adik kita, berikanlah dengan dua sisi, jangan propaganda. Beri tahu motif, tujuan, dan substansinya, serta yang paling penting ajarkan tentang kedewasaan berpolitik. Maka pola kaderisasi bukanlah hal yang menjadi bom waktu pada nantinya, apabila sudah diberi bekal yang cukup.

Politik kampus dengan oposisi, itu harus supaya dinamis dan ada pengingat kalau emang yang sedang memegang jabatan salah. Ya Cuma, bedain kita sama politik di negara, kalau ada kritikan disampaikan di media massa yang cuma buat mendeligitimasi penguasa. Kalau mau kritik, ya kritik aja, tapi kalau sekiranya hanya untuk mendeligitimasi apalagi anarkis ya coba bayangin sendiri aja gimana nantinya.. Siapa yang rugi? Emangnya kalau sudah lulus dari kampus pada mau ngapain sih!!!

Saya juga gatau kenapa kondisi politik kampus bisa menyedihkan seperti ini. apakah karena lupa tujuan awal tadi? Yang sebagai pusat intelektual, agen perubahan, oposisi kritis, potensi pembangunan, dan pengejawantah Tri Dhara perguruan tinggi. Kita harusnya balik ke tujuan awal itu, supaya ga terlalu pusing sama kondisi politik di kampus sendiri. Oposisi itu ya harus, Kritis itu ya harga mati, kalau pendeligitimasian yang nantinya hanya akan mereduksi perjuangan ya dipikir sendiri lagi deh. Berapa agenda nantinya yang terhambat? Yang rugi? Korban? Yang mengemban dosa?

Kalau kita seperti ini yang senang ya sudah bisa dipastikan adalah Rektorat dan Pemerintah itu sendiri. Zaman 1998, sudah jelas musuh bersama kita adalah rezim orde baru, makanya bentuk perjuangannya pun ya seperti yang kita lihat. Kalau sekarang, musuh bersama kita agak absurd, karena musuh bersama kita ya sebenarnya DIRI KITA SENDIRI!!! Pemerintah sekarang sudah lebih pintar untuk meredam pergerakan mahasiswa. Oleh karena itu kita juga harus “menyegarkan” dan mencari strategi baru untuk meneruskan perjuangan kita, supaya apa yang kita perbuat sekarang bisa maksimal bagi kampus dan bangsa. Kenapa saya bilang pemerintah pintar? Selain sistem yang sedemikian rupa yang canggih untuk mereduksi, “Salah satunya” lainnya ialah banyak dari mereka juga aktivis tahun 60-an dan 98, yang juga sudah makan asam garam. Paling kita diketawa-tawain aja sekarang (opini pribadi sih).. Kalau sekarang mereka udah di pemerintahan, ya mereka bisa dong untuk memecah gerakan mahasiswa. Ingat kalau mau menghancurkan penjahat, berpikirlah sebagai penjahat!!! Mereka bisa dikatakan sudah ga takut sama mahasiswa zaman sekarang!! Oops sorry to say..

Kalau kita ga membenahi pola perjuangan. Hampir bisa dipastikan apabila kita sudah berkecimpung di kehidupan sesungguhnya, kita akan sama saja dengan mereka yang kita benci sekarang bung!! Sama siapa rakyat kampus bertumpu untuk membantu mereka memperjuangkan haknya dan menjamin kesejahteraan kampusnya? Sama siapa rakyat bertumpu sekarang? Siapa lagi kalau bukan kita yang katanya sebagai center of intellectuality! Yuk mari kita bersama-sama instropeksi dan refleksi diri.

HIDUP MAHASISWA, HIDUP RAKYAT INDONESIA

NB: Tulisan ini adalan bentuk refleksi bagi kita sebagai mahasiswa, terutama bagi saya sendiri sebagai salah satu pelaku. Bentuk terbaik dari politik kampus yang “terbaik” ialah tergantung dari kondisi, permasalahan dan kebutuhan di kampus masing-masing. Poin utama ialah balik ke pribadi kita masing-masing.

Galih Ramadian N. P -Ketua BEM FISIP UI 2011-


Jangan Lupa Jempolnya :


Berikan Tanggapan Anda .....

0 Respones to "Politik Kampus tai kucing?"

Post a Comment

 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info