Dilema Pengprov dan Ketua Klub PSSI, antara Profesionalisme atau Kepentingan Politik?




PSSI/Admin (thejakartapost.com)
Sabtu tanggal 5 Pebruari 2011 batas terakhir yang ditetapkan oleh Tim Verifikasi PSSI untuk mendaftarkan diri sebagai Calon Ketua Umum PSSI 2011-2015, sebagaimana telah diketahui bersama adalah tiga (3) orang yang telah resmi mencalonkan diri yaitu :
  1. Nurdin Halid
  2. George Toisutta
  3. Nirwan Dermawan Bakrie1297157221821455189
Masing-masing calon telah mengantongi surat dukungan suara sebagaimana yang telah disyaratkan dalam Statuta PSSI, Nurdin Halid telah mengklim mendapat dukungan 81 suara, George Toisutta 12 suara, dan Nirwan Dermawan Bakrie 2 suara total menjadi 95 suara dari yang seharusnya 100 suara, artinya ada 5 suara yang menyatakan belum berpendapat atau bisa juga abstain.
Dari berbagai sumber informasi, saya hanya menduga, dari mana saja sumber suara yang diterima oleh para kandidat-kandidat tersebut, dan saya akan mulai dari suara yang terkecil yaitu :
Nirwan Dermawan Bakrie (2 suara).
Para kalangan pencinta sepak bola tanah air sudah tidak asing lagi dengan sosok satu ini, yang saya ingat setiap periode kepemimpinan PSSI anak ke 3 dari 4 bersaudara dari keluarga Achmad Bakrie tersebut selalu masuk dalam jajaran kepengurusan PSSI, dan setiap Kongres Pemilihan Ketua Umum PSSI Nirwan Dermawan Bakrie selalu masuk bursa untuk memimpin PSSI, tetapi anehnya beliau tidak pernah/tidak mau menjadi sebagai Ketua Umum PSSI. Sepertinya bapak kelahiran 59 tahun silam ini lebih suka bekerja dibelakang layar, sehingga saya menyimpulkan kapasitas Nirwan Dermawan Bakrie dalam mencalonkan sebagai ketua Umum PSSI hanya sebagai formalitas belaka, maka tidak heran beliau hanya didukung dengan 2 suara yang kemungkinan suara tersebut berasal dari Pelita Jaya klub yang dipimpinnya sendiri dan dari Pengprov PSSI Lampung tempat asal keluarga besar Bakrie.
George Toisutta (12 suara).
Harapan yang sangat besar dialamat kepada KSAD Jenderal George Tosutta, para pencinta sepak bola tanah air menginginkan adanya suatu perubahan signifikan didalam tubuh PSSI, beliau saat ini juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) dan Pembina PSAD, ada selentingan bahwa bapak yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1 Juni 1953 ini akan terganjal oleh tim verifikasi, karena dalam Statuta PSSI, orang yang akan mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PSSI adalah orang yang terlibat lansung di manajemen PSSI minimal selama 5 tahun, Pak Goerge Toisutta di PSAD sebagai Pembina, dan Pembina tidak masuk dalam katagori pengurus yang terlibat langsung dalam manajemen PSSI.
Namun demikian dengan dukungan 12 suara, beliau tetap maju mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI Periode 2011-2015, dan dukungan suara tersebut kemungkinan berasal dari pimpinan klub-klub dan Pengprov PSSI yang memang ingin ada perubahan di PSSI seperti Pengprov PSSI Jawa Barat dan klub-klub dibawah PSSI baik itu ISL, Divisi Utama, Divisi Satu dan Dua, juga dari Pengprov PSSI Jawa Tengah dan klub seperti Persijap, Persik, Jawa Timur mungkin akan terpecah belah antara Pengprov dan klub-klub dibawah naungan PSSI, ada yang ingin perubahan dengan mendukung George Toisutta ada juga yang tetap loyal dengan Nurdin Halid, serta tidak ketinggalan Pengprov PSSI Sulawesi Utara dan klub Persigo Gorontalo.

Nurdin Halid (81 suara)
Berbagai cara telah dilakukan para pencinta sepak bola, baik berupa tekanan, caci maki, hinaan, dan hujatan diberbagai media, tetapi Nurdin Halid ternyata masih didukung suara yang sangat signifikan yaitu dengan 81 suara, sumbangan suara itu dari Pengprov PSSI maupun klub-klub dibawah bendera PSSI.
Tetapi kalau dicermati lebih jauh rasanya dukungan 81 suara tersebut tidaklah mengherankan, karena seperti yang telah diketahui bersama bahwa para Pengprov PSSI daerah atau klub-klub yang memiliki hak suara di PSSI hampir semuanya diketuai oleh pejabat pemerintah daerah baik itu Gubernur, Walikota ataupun Bupati yang notabene pejabat tersebut masih dibawah bendera Golkar, artinya sekitar 81 % Golkar mengendalikan persepakbolaan nasional dan mungkin saja sepak bola sudah menjadi kendaraan politiknya Golkar, sehingga kemungkinan NH terpilih lagi itu sangat besar peluangnya.
Antara Profesionalisme dan Kepentingan Politk
Mungkin ini disinilah telak dilema bagi para Pengprov PSSI dan ketua klub-klub tersebut di satu sisi menginginkan adanya perubahan yang lebih professional dalam persepakbolaan nasional baik ditubuh PSSI maupun roda kompetisinya, tetapi pada sisi lain yang bersangkutan mendapat tekanan dari atasannya langsung, sehingga mau tidak mau harus memilih calon menurut anjuran atasannya, kalau Pengrov-pengrov dan ketua klub tersebut tidak memilih sesuai petunjuknya atasannya maka dikemudian hari akan ada persoalan bagi dirinya pribadi.
Mudah-mudahan para Pengprov dan klub-klub PSSI yang mempunyai hak suara, mau membuka mata hatinya melihat keadaan yang ada.
Prediksi ini dibuat dari berbagai sumber dan bisa benar bisa juga salah.
By Frans Az
Kelahiran Bumi Sriwijaya yang mencari peruntungan di Ibu Kota


Jangan Lupa Jempolnya :


Berikan Tanggapan Anda .....

0 Respones to "Dilema Pengprov dan Ketua Klub PSSI, antara Profesionalisme atau Kepentingan Politik?"

Post a Comment

 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info