Berhentilah Menghujat Nurdin Halid



Jikalau cara Anda masih seperti itu, maka Nurdin Halid (NH) tak bakalan mundur dari kursi PSSI. Malahan dia berniat heatrick. Menghujat, mengecam dan menghinanya, ibarat sebuah tantangan untuk Ia terus bertahan. Gambaran tentang NH yang seolah seperti iblis jelek, terkutuk bertaring buas, seperti yang tergambar di kaos-kaos penghujatnya, malah akan membuat semakin kokoh bertahan.
Sebagai orang yang sekampung dengan NH, kadang saya merasa ngeri dengan hujatan kurang santun seperti itu. Kalau saya menghadapi seperti itu, saya pun pasti akan melawan. Kalau tidak mampu melawan, saya akan pergi merantau dan tak akan kembali lagi. Malu rasanya tidak disukai begitu banyak orang. Tetapi saya bukan orang yang terpancang kokoh setiang baja dan tebal semuka tembok.
Malai bukurupa ricau’e, mappalimbang ri maje’ ripanganroe’ (Memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan). Pesan bijak keberanian orang Bugis ini, saya yakin dipegang teguh NH yang dalam awal karirnya hanyalah orang biasa dari keluarga petani yang bisa dikata miskin ketika itu. Seorang keluarganya yang juga adalah keluarga saya pernah bercerita, bahwa NH memulai bisnisnya sebagai penjual pupuk. Ia membonceng sendiri pupuknya keliling desa. Perjuangan yang keras.
Anansir kearifan local di atas, juga berarti: Dikalahkan karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan takluk sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tidak memiliki harga diri sama halnya mati. Pesan ini, menjadi spirit para ‘petarung’ seperti NH yang malang melintang di dunia bisnis dan politik yang kadang terkesan bercampur baur kolusi dan korupsi.
Walau saya tidak dalam posisi mendukung NH di PSSI, dan bahkan saya salah satu penentangnya semenjak menjadi mahasiswa, tetapi saya yakin tuntutan mundur terhadapnya dianggap sebagai bagian dari harga diri. Walau perspektif harga diri atau siri’ (malu)saya berbeda dengan NH. Tetapi saya sependapat, bahwa siapapun yang telah menghina pribadi harus dilawan, walau ujungnya adalah kekalahan, setidaknya perlawanan adalah kehormatan.
12974918061109472492
NH seolah digambarkan sosok iblis
Terlepas dari (mungkin) perbedaan memandang makna siri’ itu, saya pun sehati pada persoalan “memalukan kalau dikalahkan apalagi ditaklukkan.” Hujatan mundur terhadap NH bagi saya sudah keterlaluan, setidaknya tulisan dan komentar yang sering saya baca. Saya tidak ingin membela pribadinya yang saya tidak sependapat (logika), tetapi saya membela hujatan terhadapnya yang bagi saya kurang santun dan menjatuhkan pribadinya (rasa).
Keberadaan NH di PSSI saya akui mengacaukan kompetisi Liga Super Indonesia. Isu suap dan permainan skor sampai pada setting akal-akalan wasit cukup menjengahkan. Makanya saya mendukung PSM Makassar berlaga di LPI, walaupun saya merasa sayang. Bukan LPI  yang saya dukung, tetapi PSM Makassar yang saya cintai. Kemanapun PSM pergi, yel-yel kami selalu bersamanya.
Intinya  PSSI telah masuk ke ruang-ruang intrik politik yang bisa merusak sepak bola kita, seolah sepak bola dijadikan ajang pencitraan. Ini yang saya tidak sepaham, selain figure NH sendiri yang memang dari dulu akrab dengan kontroversi hukum atas beberapa kasus korupsi yang menimpanya.
Apakah saya membenci NH dengan menghujatnya seolah iblis? Tidak. Saya hanya tidak sependapat atas kiprahnya dan ingin memintanya mundur dengan jantan. Saya pernah menuliskannya di SINI. Jikalau cara kita kurang santun dan main keroyok, saya yakin itu sulit untuk berhasil. “Kualleanggi tallang na towalia” (lebih baik tenggelam daripada kembali), demikian yang sering saya dengar ungkapan NH. Dia juga pernah menulis buku yang kira-kira (lupa) berjudul “Pelaut handal, tidak lahir dari lautan yang tenang”
Sungguh saya tidak sekadar asal bilang. Saya setanah kelahiran dengan NH. Paham dengan karakter petarungnya yang memang sulit dikalahkan, bahkan saat Ia sementara dipenjara pun tak bisa dikalahkan, apalagi kalau sudah keluar. Statuta FIFA sudah melarang terpidana memimpin federasi sepak bola, NH bisa lolos. Kehadiran LPI juga tidak menggoyahkannya, malah ia di support FIFA.
Pen-balonan PSSI saat ini, NH meraih dukungan 81 suara, jauh sekali dari pesaing-pesaingnya. Ini pertanda NH mendapat dukungan penuh dari internalnya. Mampukah kita menghalanginya. Di salah satu berita, NH sudah menegaskan, “Tidak ada yang bisa menyuruh saya berhenti.” Saya sendiri gemas dan jengah. Tetapi NH begitu kokoh dari terpaan hujatan. Fenomena apa ini? apalagi kalau bukan NH sementara mempertahankan harga dirinya yang dia rasa kurang dihargai. Nah, Lho!?
Gemilangnya Timnas di laga AFF kemarin, melonjaknya peringkat sepak bola Timnas, PSSI sebagai penyelenggara liga terbaik di ASEAN serta terakhir kemampuan Timnas U23 mengalahkan Hongkong di laga perahabatan dengan skor telak 4-1, tidak bisa dilepaskan dari peran NH. Kita harus sportif. Kalau itu karena Alfred pelatih Riedl, betul juga. Tetapi pelatih tak akan hadir tanpa peran NH sebagai ketua PSSI. Jujur, bukan kepemimpinan NH, saya tidak sukai. Tetapi masuknya kepentingan politik di tubuh PSSI.


Mari kita sepakat untuk melawan dominasi NH, tetapi kita harus tulus karena kita memang mencintai sepak bola negeri kita, tidak ada kepentingan politik apapun. Mari berhenti menghujat NH dengan cara kurang santun. Mari kita berbalik ke 81 suara itu, kenapa mendukung NH. Bisakah kita, menekan 81 suara itu? Terakhir, saya melihat ada upaya kurang terpuji, dengan ingin mempidanakan NH. Samar memang, tetapi benak awan ini bisa menebak, bahwa itu untuk menjegalnya sebagai ketua PSSI.
Terlepas apakah NH terlibat atau tidak, sudah menjadi rahasia umum, bahwa hukum adalah tameng sekaligus alat penyerang politisi untuk menjatuhkan lawannya. Kalau di sepak bola, ini sudah mendapat kartu merah. Saya sekali lagi menyatakan bahwa saya tidak mendukung NH, dan sering saya bilang dimana-mana. Saya hanya merasa cercaan terhadapnya tidak bakal berpengaruh untuk menurunkannya.
Apakah kelak ini terbukti? Saya hanya menganalisanya, melalui karakter NH yang selama ini saya perhatikan. Sama sekali tidak dengan maksud mengangkat sukunya, karena Jusup Kalla, juga sekampung dengan NH tetapi memiliki sportifitas yang tinggi. Bagi JK, kita harus gigih bertarung, tetapi yang menang kita harus hormati. Terlihat, JK menampilkan diri sebagai sosok negarawan. Negara di atas segalanya daripada hanya kepentingan partai, apalagi pribadi, seperti yang terkesan NH mati-matian membelanya.
Maaf, tulisan saya ngelantur bertele-tele. Sulit rasanya menemukan bahasa untuk menggambarkan rasa jengah ini.
Bantaeng, 12 Februari 2011
Postingan Terkait Lainnya:  Nurdin Halid Sekampung Saya
Sumber gambar di SINISINISINI, Juga di SINI. Dan terakhir di SINI
By : 

Andi Harianto

Hanya seorang Manusia Bugis seperti yang Cristian Pelras tuliskan. Tinggal di Kota Kecil Bantaeng, 120 Kilometer di Sebelah Selatan Kota Makassar. Setiap orang adalah guru ku dan setiap tempat adalah sekolahku Sebagian tentang saya, ada di http://bungarung.blogspot.com/


Jangan Lupa Jempolnya :


Berikan Tanggapan Anda .....

0 Respones to "Berhentilah Menghujat Nurdin Halid"

Post a Comment

 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info