Home »
Label:
Luar Negeri
» Mubarak Pulang Ke Indonesia
Mubarak Pulang Ke Indonesia
Semarang, 12/2 (BEM KM) - Setelah lebih dari dua minggu memanas akhirnya Presiden Mesir yang telah menjabat selama 30 tahun (2 tahun lebih banyak Soeharto) mundur dari jabatannya. Hal ini tentunya menjadi catatan khusu bagi kondisi perpolitikan di Mesir pada khususnya dan Timur Tengah pada umumnya.
Selama ini Mesir dikenal sebagai tangan kanan dari Amerika di jazirah arab hal ini tentunya bukan tanpa alasan. Karena Mesir menguasai terusan Zues yang mana merupakan gerbang utama untuk memasuki timur tengah.
Tetapi dalam tulisan ini tidak akan membahas mengenai kepentingan Amerika di Timur Tengah ataupun hubungan antara mesir dan Israel tetapi lebih kepada kaitannya dengan Indonesia. Ketika melihat gejolak di Mesir maka ingatan masyarakat Indonesia akan sedikit mundur kebelakang yaitu pada tahun 1998.
Hal senada ini lah yang dikatakan SBY dalam salah satu wawancara ketika dia berada di Kupang dalam peringatan hari pers nasional (8/2). Kurang lebih SBY berkata “Mesir adalah sahabat Indonesia, banyak mahasiwa Indonesia yang belajar di sana. Berbeda dengan kebanyakan pemimpin dunia yang memberikan pernyataan yang keras atau menggebu-gebu seputar gejolak politik di Mesir. Indonesia lebih memilih untuk memberikan pandangan-pandangan atau berbagi pengalaman karena bagaimanapun juga kita pernah mengalami kondisi serupa.”
Apa yang dikatakan oleh presiden SBY tersebut merupakan suatu Ironi di satu sisi. SBY menempatkan Mesir seolah-olah sebagai anak kecil yang membutuhkan bimbingan dari seniornya, dalam hal ini konteksnya adalah reformasi sebagai cerminan demokrasi.
Entah bagaimana bentuk “masukan” yang diberikan oleh presiden SBY ke pada Husni Mubarak. yang jelas pada titik ini masyarakat Mesir perlu melihat Indonesia. Refrmasi 98 di Indonesia mirip dalam satu hal dengan apa yang terjadi di Mesir yaitu lebih fokus kepada jatuhnya rezim diktator, tanpa mempertimbangkan siapa yang menggantikannya.
Di Indonesia ketika seorang Tiran mundur dan kemudian euforia reformasi berbalut demokrasi menyergap segenap masyarakatnya di seluruh penjuru Indonesia rupanya malah melahirkan tiran-dalam jumlah yang banyak.
Tiran dalam jumlah banyak ini lah yang kemudia “mengkondisikan” masyarakat Indonesia tetap dalam kemiskinan dan kebodohan, meminjam istilah yang digunakan oleh Quraish Shihab yaitu kemiskinan dan kebodohan struktural.
Sedikit berbeda dengan revolusi Kuba di mana masyarakat telah menyiapkan sosok pemimpin yang akan menggantikan rezim Batista. Masyarakat Mesir khususnya pemuda Mesir perlu belajar dari dua dimensi ini.
Apalagi pernyataan mundurnya rezim Mubarak malah di lakukan oleh wakilnya bukan oleh dirinya sendiri dan dikatakan bahwa untuk sementara waktu pemerintahan akan dipegang oleh Militer. Jika masyarakat Mesir kurang kritis terhadap permasalahan ini maka kondisi di Mesir sama dengan istilah gali lubang tutup lubang atau keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya.
Gejolak politik di Mesir juga di Tunisia dengan mundurnya Ben Ali seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi Presiden SBY yang mengaku sebgai sahabat Mesir. Kondisi sosial-politik di Mesir yang hanya dikuasai oleh satu golongan saja, permasalahan ekonomi yang membelit, menjadi pemicu bagi masyarakat Mesir untuk bergerak.
Lantas bagaimana dengan di Indonesia ketika sekarang ini 10 tahun setelah reformasi kondisi di lapangan malah berbicara jauh dari cita-cita reformasi. Pemimpinnya sibuk dengan pencitraan, memukul gong perdamaian tetapi dua hari setelahnya malah muncul kericuhan di beberapa kota yang berebau SARA.
SBY masih memiliki waktu tiga tahun lagi untuk menunjukan kualitas kepemimpinannya bukan secara kuantitatif, kumpulan data-data statistik yang dibuat oleh lembaga survei milik pemerintah.
Banyak pengamat yang menyatakan bahwa ada kemungkinan kondisi di Mesir juga akan terulang kembali di Indonesia pada saatnya nanti. Ketika masyarakat sudah berdiri pada titik ketidak percayaan pada pemerintah Indonesia. Ketika SBY berkata dia banyak memberikan masukan ke Mesir seharusnya yang tepat adalah SBY harus belajar banyak ke Mesir.
Terlepas dari itu semua rencannya Presiden Husni Mubarak akan kembali ke Indonesia untuk meneruskan usahanya, melanjutkan usaha keluarga, yang cukup terkenal di Jawa khususnya Jawa Tengah yaitu berjualan Jenang kudus Mubarak. Sukses dan salut untuk pak Mubarak kerena tidak mengalamai post power syndrom pasca lengser.
Written by Kementerian Sosial Politik BEM KM Undip 2011
By :
Badan Eksekutif Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro
Selama ini Mesir dikenal sebagai tangan kanan dari Amerika di jazirah arab hal ini tentunya bukan tanpa alasan. Karena Mesir menguasai terusan Zues yang mana merupakan gerbang utama untuk memasuki timur tengah.
Tetapi dalam tulisan ini tidak akan membahas mengenai kepentingan Amerika di Timur Tengah ataupun hubungan antara mesir dan Israel tetapi lebih kepada kaitannya dengan Indonesia. Ketika melihat gejolak di Mesir maka ingatan masyarakat Indonesia akan sedikit mundur kebelakang yaitu pada tahun 1998.
Hal senada ini lah yang dikatakan SBY dalam salah satu wawancara ketika dia berada di Kupang dalam peringatan hari pers nasional (8/2). Kurang lebih SBY berkata “Mesir adalah sahabat Indonesia, banyak mahasiwa Indonesia yang belajar di sana. Berbeda dengan kebanyakan pemimpin dunia yang memberikan pernyataan yang keras atau menggebu-gebu seputar gejolak politik di Mesir. Indonesia lebih memilih untuk memberikan pandangan-pandangan atau berbagi pengalaman karena bagaimanapun juga kita pernah mengalami kondisi serupa.”
Apa yang dikatakan oleh presiden SBY tersebut merupakan suatu Ironi di satu sisi. SBY menempatkan Mesir seolah-olah sebagai anak kecil yang membutuhkan bimbingan dari seniornya, dalam hal ini konteksnya adalah reformasi sebagai cerminan demokrasi.
Entah bagaimana bentuk “masukan” yang diberikan oleh presiden SBY ke pada Husni Mubarak. yang jelas pada titik ini masyarakat Mesir perlu melihat Indonesia. Refrmasi 98 di Indonesia mirip dalam satu hal dengan apa yang terjadi di Mesir yaitu lebih fokus kepada jatuhnya rezim diktator, tanpa mempertimbangkan siapa yang menggantikannya.
Di Indonesia ketika seorang Tiran mundur dan kemudian euforia reformasi berbalut demokrasi menyergap segenap masyarakatnya di seluruh penjuru Indonesia rupanya malah melahirkan tiran-dalam jumlah yang banyak.
Tiran dalam jumlah banyak ini lah yang kemudia “mengkondisikan” masyarakat Indonesia tetap dalam kemiskinan dan kebodohan, meminjam istilah yang digunakan oleh Quraish Shihab yaitu kemiskinan dan kebodohan struktural.
Sedikit berbeda dengan revolusi Kuba di mana masyarakat telah menyiapkan sosok pemimpin yang akan menggantikan rezim Batista. Masyarakat Mesir khususnya pemuda Mesir perlu belajar dari dua dimensi ini.
Apalagi pernyataan mundurnya rezim Mubarak malah di lakukan oleh wakilnya bukan oleh dirinya sendiri dan dikatakan bahwa untuk sementara waktu pemerintahan akan dipegang oleh Militer. Jika masyarakat Mesir kurang kritis terhadap permasalahan ini maka kondisi di Mesir sama dengan istilah gali lubang tutup lubang atau keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya.
Gejolak politik di Mesir juga di Tunisia dengan mundurnya Ben Ali seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi Presiden SBY yang mengaku sebgai sahabat Mesir. Kondisi sosial-politik di Mesir yang hanya dikuasai oleh satu golongan saja, permasalahan ekonomi yang membelit, menjadi pemicu bagi masyarakat Mesir untuk bergerak.
Lantas bagaimana dengan di Indonesia ketika sekarang ini 10 tahun setelah reformasi kondisi di lapangan malah berbicara jauh dari cita-cita reformasi. Pemimpinnya sibuk dengan pencitraan, memukul gong perdamaian tetapi dua hari setelahnya malah muncul kericuhan di beberapa kota yang berebau SARA.
SBY masih memiliki waktu tiga tahun lagi untuk menunjukan kualitas kepemimpinannya bukan secara kuantitatif, kumpulan data-data statistik yang dibuat oleh lembaga survei milik pemerintah.
Banyak pengamat yang menyatakan bahwa ada kemungkinan kondisi di Mesir juga akan terulang kembali di Indonesia pada saatnya nanti. Ketika masyarakat sudah berdiri pada titik ketidak percayaan pada pemerintah Indonesia. Ketika SBY berkata dia banyak memberikan masukan ke Mesir seharusnya yang tepat adalah SBY harus belajar banyak ke Mesir.
Terlepas dari itu semua rencannya Presiden Husni Mubarak akan kembali ke Indonesia untuk meneruskan usahanya, melanjutkan usaha keluarga, yang cukup terkenal di Jawa khususnya Jawa Tengah yaitu berjualan Jenang kudus Mubarak. Sukses dan salut untuk pak Mubarak kerena tidak mengalamai post power syndrom pasca lengser.
Written by Kementerian Sosial Politik BEM KM Undip 2011
By :
Bem Km
Jangan Lupa Jempolnya :
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

Berikan Tanggapan Anda .....
0 Respones to "Mubarak Pulang Ke Indonesia"
Post a Comment