Bu MenKes, Mengapa Anda Tidak Berpihak Kepada Para Ibu ?
Ibarat anak bertanya tentang seks kepada orang tuanya dan dijawab : ” Sssstttt….pamali, jangan ngomong tentang seks ya nak, itu tabu ! Nanti juga kamu tahu”, dan si orangtua ngeloyor pergi meninggalkan anaknya yang kebingungan. Tragedy itulah yang diperagakan Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kustantinah serta Istitut Pertanian Bogor (IPB), Dedi Muhammad ketika ditanya tentang daftar merek-merek susu formula hasil penelitian IPB sejak tahun 2003 hingga 2006 dan pernah dinyatakan mengandung Enterobachter sakazakii dalam media intern mereka pada tahun 2008. Mereka malah menyatakan bahwa : Tidak ada Susu Formula yang Tercemar Bakteri. Pernyataan mana berlawanan dengan tulisan Kompasianer Widodo Judarwanto lewat tulisannya Daftar Merek Susu Terkontaminasi Sakazakii yang menyebutkan bahwa semua produk susu bubuk komersial memang bukan produk steril sehingga beresiko terinfeksi bakteri. Yang menyamakan kedua pernyataan itu adalah bahwa ada tindakan preventif yang dapat diperbuat yaitu dengan menyeduh susu dengan air bersuhu 70 derajat celcius. Masyarakat berharap banyak, khususnya karena ibu Endang Rahayu Sedyaningsih dan ibu Kustantinah adalah perempuan yang notabene mewakili suara para ibu sehingga tahu bahwa sangat tidak dianjurkan untuk seorang ibu membuat susu dengan cara menyeduh nya dengan air panas bersuhu 70 derajat celcius! Wah bisa-bisa si anak kepanasan dan tenggorokannya terbakar karena suhu paling tepat adalah sesuai suhu tubuh bayi. Atau menunggu air susu dingin ? Lebih aneh lagi, karena biasanya susu dibuat sesaat sebelum waktu minum susu atau pada waktu si bayi merengek minta minum susu. Umumnya susu formula tidak diseduh tetapi kedalam botol susu dituang air hangat yang sudah matang sesuai takaran yang diperlukan, kemudian dimasukkan sejumlah susu sesuai takaran sendok yang biasanya menyertai setiap kaleng susu formula. Terakhir susu dikocok dalam botol seperti membuat milkshake. Mengapa ? Agar susu larut sempurna. Apabila ke dalam botol dimasukkan air terlalu panas, serbuk susu akan menggumpal-gumpal, tidak larut sempurna dan anakpun menangis karena air susu yang diisapnya terhalang gumpalan susu. Ada cara lain untuk batita dan balita, yaitu susu di aduk dalam cangkir khusus bayi. Bercorong agar anak mudah minum susu tanpa tumpah sekaligus melatih minum menggunakan cangkir. Tapi air yang digunakan untuk menyeduh tetaplah air hangat yang matang. Selain susu menjadi mudah larut, si anak bayi biasanya tidak sabar untuk segera minum susu. Bisa dibayangkan apabila susu panaslah yang dihidangkan ! Jelaslah tindakan preventif menyeduh air susu dengan air bersuhu 70 celcius, sulit dilaksanakan. Jadi mengapa ibu Menteri Kesehatan, BPOM dan IPB bersikukuh tidak mau membeberkan daftar merek susu yang terkontaminasi Enterobacter sakazakii ? Mengapa tidak mempercayai bahwa masyarakat sanggup menilai dan mengambil keputusan untuk masa depan kesehatan anaknya? Jawaban yang paling masuk akal adalah untuk melindungi gurita industri susu formula. Bagi seorang ibu yang melahirkan di Klinik Bersalin, biasanya tidak mudah untuk melaksanakan program menyusui anaknya dengan ASI. Keempat anak saya yang lahir di empat Klinik Bersalin yang berbeda, mendapat perlakuan sama yaitu langsung mendapat susu formula sehingga colostrum atau jolong yang merupakan ASI pertama yang keluar dan banyak mengandung immunoglobulin lgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit, terbuang percuma. Nasib sama rupanya dialami anak dari teman saya yang melahirkan beberapa bulan lalu di suatu Klinik Bersalin yang sama dengan sewaktu saya melahirkan anak saya yang bungsu. Dia harus bersitegang dan ngotot tidak mau anaknya diberi susu formula. Sungguh disesalkan karena kampanye memberikan ASI intensif rupanya hanya sekedar kampanye karena produsen susu enggan kehilangan pangsa pasar. Dilain pihak para pembuat kebijakan lebih memihak mereka dibandingkan kepada masyarakat yang membutuhkan penjelasan. Seolah tidak percaya bahwa masyarakat “cukup dewasa” dalam menerima dan mencerna informasi. Berikut Kronologi Penelitian Susu Formula tersebut. Membaca Kronologi Penelitian Susu Formula, kita bisa menyimpulkan bahwa Menteri Kesehatan, BPOM dan IPB berusaha mati-matian agar daftar merek-merek susu formula tersebut jangan sampai dipublikasikan. Tanya : Mengapa ? Karena rentang waktu yang begitu lama semenjak tahun 2008 hingga tahun 2011. Tahun-tahun pertama yang merupakan golden age untuk si anak. Begitu berartinya waktu. Hal menarik lainnya adalah peranan David Tobing, pengacara penggugat penggunaan lambang Garuda di kaos Timnas. Bedanya dulu dia mendapat banyak hujatan, kali ini rupanya David akan menuai banyak pujian karena berkat kegigihannya hasil penyelidikan IPB mendapat legitimasi MA untuk dipublikasikan. Kasus ini tidak boleh dilupakan seperti banyak kasus lain. Karena keputusan akhir sebetulnya ada pada masyarakat, apakah akan tetap mengkonsumsi susu formula atau tidak. sumber : Pikiran Rakyat 10 Februari 2011Maria Hardayanto
seorang ibu yang memimpikan bumi yg ditinggalkannya kelak, lebih indah daripada bumi yang dihuninya kini ............. (blog : greenp4r4hyangan's blog : permatadibaliklimbah.blogspot.com)
Jangan Lupa Jempolnya :

Berikan Tanggapan Anda .....
0 Respones to "Bu MenKes, Mengapa Anda Tidak Berpihak Kepada Para Ibu ?"
Post a Comment