Semoga Presiden SBY Tidak Ciut Nyalinya …



129755980230697613212975602341458613800

1297536720937518436

(tribunnews.com)

Seorang laki-laki sedang tidur sendirian di rumahnya. Sekitar pukul satu dini hari, dia mendengar suara-suara mencurigakan di luar kamarnya. Dia yakin itu pasti ulah pencuri. Dengan maksud untuk mengertak dan mengusir si pencuri dari rumahnya itu, laki-laki tersebut dengan suara keras dan digalak-kalakkan, berseru: “Siapa itu di luar!? Mau apa, hah!?”

Terdengar suara yang lebih keras dan galak: “Saya pencuri, mau mencuri barang-barang kamu. Mau apa, kamu!!”

Dengan suara perlahan laki-laki tersebut menjawab: “Tidak apa-apa, kok. Cuma tanya saja. Saya tidur dulu, yaaa ….”

Anekdot di atas mengilustrasikan tentang orang yang sok galak, sok berani, dan sok jago, yang ternyata ketika menghadapi orang yang berani dengannya, nyali aslinya langsung kelihatan. Nyalinya langsung menciut. Berbalik menjadi ketakutan. Membiarkan haknya diinjak-injak.

Ilustrasi dengan anekdot di atas mudah-mudahan sekali tidak mencerminkan apa yang sedang terjadi dengan Presiden SBY dengan perintahnya agar menindak tegas ormas-ormas dan kelompok massa yang suka melakukan aksi-aksi anarkis/kekerasan. Seru SBY, bilamana perlu dilakukan pembubaran atau pelarangan (Rabu, 9/2).

Mudah-mudahan SBY tidak mewakili “si laki-laki pemilik rumah” tersebut, dan ormas-ormas yang dijadikan sasaran tersebut bukan mewakili “si pencuri” tersebut.

Hal ini disebutkan berkaitan dengan perintah SBY tersebut, ternyata mendapat tanggapan balik yang secara terang-terangan menantang balik SBY, kalau sampai berani membubarkan mereka, merekalah yang akan balik melakukan makar menurunkan secara paksa SBY dari jabatannya sebagai presiden.

Pertama, datang serangan balik dari Ketua FUI, Muhammad al-Khaththath dalam acara “Apa Kabar Indonesia” di TV-One, 9 Februari. Yang dengan terang-terangan berseru kepada SBY, seorang presiden sah NKRI: bahwa jangan coba-coba mau membubarkan ormas seperti mereka. Tetapi sebaliknya, SBY harus membubarkan Ahmadiyah. Ultimatumnya, kalau sampai SBY berani tak melaksanakannya, mereka akan meng-Mesir-kan Indonesia. Tak lupa menyebutkan adanya sejumlah jenderal yang siap membekengi aksi makar tersebut, jika benar-benar dilakukan.

Kedua, datang serangan balik senada dari FPI. Juru Bicara FPI, Munarman, S.H.. pada, Jumat, 11 Februari lalu, dengan suara lantang menantang SBY; Jangan coba-coba membubarkan FPI. FPI tidak ikut serta dan bertanggung jawab dalam insiden di Cikeusik, Banten, dan Temanggung. Kalau sampai SBY berani membubarkan FPI, maka umat Islam Indonesia akan melakukan seperti apa yang terjadi di Tunisia.

“Kalau terus dihembuskan pembubaran ormas, maka, umat Islam sangat siap seperti yang terjadi di Tunisia. mem-Ben Ali-kan SBY karena ternyata dia lebih memilih berada di pihak yang bhatil. Jadi, perkataannya soal pembubaran itu, sama sekali tidak bermutu. Nggak nyambung jek.,” tantang Munarman.

Padahal omongannya sendiri yang tidak nyambung.

Atas dasar apa dia mengatasnamakan umat (Islam) yang katanya akan melakukan aksi paksa menurunkan Presiden SBY itu. Kenyataannya, mayoritas umat Islam yang tidak suka dengan perilaku mereka.

SBY tidak pernah mengatakan bahwa insiden yang terjadi di Cikeusik dan Temanggung itu melibatkan atau yang bertanggung jawab adalah FPI, kok, ge-er sendiri?

Benar-bernar pernyataan yang tidak bermutu.

Mudah-mudahan SBY tidak lalu berbalik ciut nyalinya, ketakutan dengan serangan-serangan balik yang tidak bermutu dan sama saja dengan hendak menyerang NKRI tersebut. Lalu pura-pura lupa dengan perintahnya tersebut, atau kembali bersikap lunak seperti yang sudah-sudah.

Kalau ini sampai terjadi sungguh teramat sangat memalukan dan konyol sekali. Sebuah negara besar yang bernama NKRI, yang didukung oleh 200 jutaan rakyatnya, dengan dikawal oleh Polri dan TNI, kokbisa keder nyalinya ketika hanya diserang balik oleh ormas-ormas ala preman seperti itu?

Hal ini sempat dikhawatirkan menjadi kenyataan, ketika SBY dalam merespon serangan balik kepadanya itu bersikap lunak, terkesan malah jadi takut sendiri.

Di Atambua, 12/02, dalam acara wawancara dengan SCTV, SBY memberi tanggapannya dengan mengatakan, kondisi di Indonesia berbeda dengan di Mesir. Dia menyatakan prihatin ada pihak yang mau menghendaki rakyat Indonesia menggulingkan presidennya, seperti di Mesir. Kok Cuma prihatin?

“Tidak semudah itu lantas Indonesia pasti akan menjadi Mesir. Termasuk yang mengancam saya, awas Indonesia kita Mesir-kan! Jangan ancam-mengancam lah. Kondisinya berbeda …” kata SBY.

SBY seharusnya sadar bahwa sama atau tidak kondisi Indonesia dengan Mesir, bahwa kemungkinan rakyat yang sudah kehabisan kesabarannya terhadap sikap pemerintah yang selalu lemah, dan penuh korupsi itu, bisa saja membuatnya turun secara paksa oleh rakyatnya.

Bukan karena rakyat mau diperintah atau setuju dengan ormas sejenis FUI dan FPI, tetapi karena sebaliknya. Yakni justru karena SBY ternyata terus saja bersikap lunak, tak berdaya menghadapi ormas-orams sejenis itu, yang sudah sejak lama meresahkan dan membuat publik muak.

Belajarlah dari sejarah, kalau tidak, sejarah akan menghukum anda!

Harapan kita bahwa SBY akan tetap tegar, tidak ciut nyalinya menghadapi serangan balik tersebut.

Sebaiknya, seperti usulan banyak pihak. Pembubaran tidak efektif, yang efektif adalah setiap kali ada aksi-aksi kekerasan tersebut, aparat langsung harus bertindak keras. Apabila masih saja ada aparat yang bersikap lemah, atasannya langsung dicopot dan dikenakan sanksi jabatan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Seperti yang telah dilakukan Kapolri Timur Pradopo, yang dalam insiden di Cikeusik, dan Temanggung itu telah mencopot Kapolda dan Kapolres di wilayah tersebut.

Dan di pihak TNI, telah mencopot Komandan Distrik Militer (Dandim) 0706 Temanggung.

Untuk kali ini, dua jempol buat Bapak Kapolri dan TNI.

Harus diingat pula bahwa ancaman FUI/FPI untuk menggulingkan Presiden SBY, sesungguhnya adalah juga ancaman untuk menggantikan ideologi negara.

Harapan bahwa pihak SBY akan tetap tegar, untungnya masih tetap ada. Ketika keluar pernyataan terbaru dari pihak Istana, seperti yang disampaikan oleh Juru Bicara Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparingga, seperti yang dikutip Tribunnews.com, Sabtu, 12/02.

Kata Daniel, negara tidak takut untuk membekukan, sampai membubarkan ormas-ormas yang hanya membuat keresahan.

“Saat ini yang dilakukan pemerintah adalah menyeret para pelaku tindak kekerasan secara hukum, diseret ke pengadilan,” katanya.

Tragedi berdarah di Cikeusik, Banten serta kerusuhan yang terjadi di Temanggung, Jawa Tengah, kata Daniel, adalah puncak dari kesabaran pemerinah. Oleh karena itu, sambungnya, siapapun para pelaku kekacauan yang terbukti secara hukun harus ditindak. Daniel menyiratkan, negara sudah tak sabar membubarkan ormas yang bertindak anarkis namun masih terlindungi oleh situasi.

Menanggapi serangan balik FPI, Daniel memberi peringatan keras: Jangan berani coba-coba berbuat makar. Negara dengan cara apapun, bersikap tegas untuk menyelamatkan NKRI.

“Semua, tanpa kecuali. Sekarang ini sudah cukup jelas, organisasi-organisasi mana yang gemar lakukan aksi-aksi kekerasan dan meresahkan. Waktunya, bukan perang-kata-kata lagi, tapi tindakan tegas. Jangan coba-coba bertindak makar, negara akan tegas melakukan tindakan,” tandas Daniel.

Daniel mengungkapkan, peristiwa demi peristiwa kekerasan antar agama yang terjadi sekarang ini, terakhir dua aksi kekerasan di Cikeusik Banten dan Temangggung Jawa Tengah, membuat pemerintah harus bersikap tegas. Dan pemerintah, tak akan bersikap lunak meski ada gertakan dari Munarman.

“Kebijakan dasar yang dilakukan pemerintah adalah menghentikan segala kekerasan yang terjadi. Menyeret para pelakunya ke pengadilan. Negara tak akan surut sikapnya hanya atas gertakan Munarman,” tandas Daniel.

Kekerasan harus segera dihentikan. Apalagi, Presiden SBY sudah memberikan pesan tunggal enough is enough. Cukup sudah kekerasan.

“Presiden tegas, yang harus diselamatkan adalah republik ini,” katanya lagi.

Daniel kemudian menyarankan kepada Munarman untuk sebaiknya berkaca diri atas ucapan nya. Meski hanya dianggap gertak sambal saja, namun, pernyataannya tetap dianggap tidak beretika sebagai seorang warganegara kepada presidennya.

“Tak bisa kemudian mendikte presidennya. Jangan beradu nyali dengan negara, semua ancaman akan dihadang dengan cara apapun,” tegas Daniel lagi.

Demikian kutipan berita dari Tribunnews.com, Sabtu, 12/02/2011.

Sekarang, seperti yang dinyatakan Daniel Sparingga: sekarang, yang diperlukan publik adalah bukti, bukan perang kata-kata.

Bukan pula ancam-mengancam, bukan pula sekadar pernyataan demi pernyataan yang klise.

Sekali lagi, harus diingat pula bahwa ancaman FUI/FPI untuk menggulingkan Presiden SBY, sesungguhnya adalah juga ancaman untuk menggantikan ideologi negara.

Kalaupun terpaksa harus memilih antara SBY, ataukah FPI/FUI. Saya tentu akan memilih SBY!

Waktulah yang akan memberi bukti kepada kita, siapa yang cuma bisanya main gertak sambal saja. Siapa yang sesungguhnya punya nyali, dan siapa yang tidak. ***

http://www.tribunnews.com/2011/02/12/istana-jangan-coba-coba-makar-ke-sby-boediono

http://www.tribunnews.com/2011/02/12/istana-tak-sabar-bubarkan-ormas-pembuat-resah


Daniel H.t.

Hobby membaca, nonton film, makan di luar (mulai dari warung kaki lima sampai resto bintang lima). Berasal dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Foto: Salah satu pemandangan matahari terbenam (sunset) di Fakfak yang tidak kalah dengan di Bali.


Jangan Lupa Jempolnya :


Berikan Tanggapan Anda .....

0 Respones to "Semoga Presiden SBY Tidak Ciut Nyalinya …"

Post a Comment

 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info