Tidak Punya Cash, WNI di Mesir Batal Diangkut




Membayar cash untuk pengisian bahan bakar pesawat adalah hal biasa (dok. liquip.com)
Saya sempat tidak habis pikir kenapa dari 3 pesawat yang dijanjikan mengangkut pulang WNI di Mesir akhirnya hanya 1 pesawat (Garuda Indonesia) yang harus terbang bolak-balik Kairo-Jakarta. Akibatnya misi evakuasi menjadi tersendat-sendat dan saat ini WNI adalah satu-satunya warga asing yang belum sepenuhnya dievakuasi dari Mesir.
12971312261897326523
Setelah mengusut di berbagai media massa, muncul jawaban dari mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda yang juga sekaligus Ketua Satgas Evakuasi WNI. Ini jawaban beliau:
“Lion Air sudah bersedia, hanya pas melakukan persiapan, ditemui kesulitan yaitu pengisian bahan bakar. Kalau Garuda sudah punya jaringan pengisian bahan bakar, jadi tidak perlu bayar cash. Tapi, kalau maskapai lain harus cash.”
Pertanyaan saya kepada tim satgas:
1. Negara sudah menyanggupi untuk membayar biaya evakuasi. Apakah Republik ini sudah terlalu miskin sampai tidak punya uang tunai yang bisa dibawa saat itu juga?
Kalau jawabannya iya, saya tidak percaya. Jangan membodohi saya. Ketika tsunami melanda Aceh di tahun 2004, Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah membawa uang tunai Rp 6 milyar berpeti-peti ke lokasi bencana. Uang itu berhasil dicairkan hanya dalam waktu satu malam, walaupun Menteri Keuangan Jusuf Anwar sempat mengatakan tidak bisa. Tapi Jusuf Kalla memaksa dan akhirnya bisa.
Apakah perlu Rp 6 milyar untuk mengisi bensin pesawat? Saya rasa tidak sampai sebanyak itu. Jadi membawa cash untuk membayar bensin pesawat itu sangat dimungkinkan, dan saya tidak paham kenapa Hassan Wirajuda mengatakan tidak bisa.
2.  Kenapa membayar cash dijadikan alasan untuk tidak menerbangkan pesawat demi misi evakuasi? Harus diakui dalam kondisi normal biasanya maskapai penerbangan membayar biaya pengisian bahan bakar secara kredit. Dana akan dicairkan 20-30 hari setelahnya.
Tetapi membayar cash bukan hal yang aneh samasekali. Di tahun 2005, Pertamina sempat mewajibkan maskapai nasional untuk membayar tunai setiap kali mengisi bahan bakar. Dan di negara lain pun kewajiban membayar cash juga biasa terjadi, terutama ketika harga minyak sedang tidak menentu. Saat ini pun harga minyak sedang gonjang-ganjing akibat krisis di Mesir, sehingga membayar cash untuk mengisi bahan bakar seharusnya sudah masuk dalam option tim satgas evakuasi, bukan pura-pura terkejut belakangan.
Malaysia menerbangkan Malaysia Airlines, AirAsia, dan pesawat militer ke Jeddah serta Kairo. AirAsia belum memiliki rute langsung ke Jeddah maupun Kairo. Tapi kenapa mereka tetap bisa terbang dan mengisi bahan bakar disana? Tentu saja karena mereka membawa uang tunai!!!
Pak Hassan Wirajuda yang terhormat, saya katakan pokok masalahnya bukan tidak ada cash untuk membayar pengisian bahan bakar. Yang menjadi masalah adalah tidak adanya kesungguhan untuk betul-betul mengevakuasi WNI dari Mesir. Jika kesungguhan itu ada, saya 100% percaya uang cash itu bisa dicairkan dalam waktu singkat. Pemerintahan SBY pernah melakukannya dan saya tidak paham dimana sulitnya.
Pemerintah adalah orang yang memerintah, bukan cuma menghimbau. Jika pemerintah memerintahkan uang cash dicairkan sekarang juga, seharusnya uang itu cair dan tidak boleh ada yang membantah. Apalagi dalam sebuah misi evakuasi nasional. Kalau ada yang membantah, jebloskan saja ke penjara dan pemerintah punya wewenang untuk melakukan hal itu. Tapi apakah pemerintah benar-benar memerintahkan, atau sekedar menghimbau sehingga para bawahan pun ogah-ogahan mencairkan uang cash?
Kalau begitu, ganti saja namanya menjadi “penghimbau”, bukan pemerintah!

By : Bimo Tejo

Penikmat Kompasiana. Suami dari seorang isteri. Ayah dari seorang anak.


Jangan Lupa Jempolnya :


Berikan Tanggapan Anda .....

0 Respones to "Tidak Punya Cash, WNI di Mesir Batal Diangkut"

Post a Comment

 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info