Tentang (Ribut-ribut) BBM Bersubsidi



Oleh : Freema H. Widiasena

Ribut-ribut pembatasan/pengurangan BBM bersubsidi kabarnya masih timbul tenggelam di sela-sela infotainment Gayus dan kabar pasca berbagai bencana di Indonesia. Dan mungkin masih akan tenggelam lagi di antara trending news lain yg mungkin bakal muncul.

Sebenarnya, urusan bensin nggak ada kaitannya dengan subsidi dan nonsubsidi. Bensin yg bersubsidi (Premium) adalah bensin yg memiliki angka oktan 88. Ini hanya cocok untuk jenis mobil-mobil sederhana atau tahun tua yg berkompresi di bawah 1:9.

Mobil-mobil keluaran sekarang atau beberapa mobil mewah tahun lama rata-rata sudah berkompresi tinggi, di atas 1:9 atau 1:10.

Semakin tinggi kompresi mesin sederhananya diterjemahkan semakin tinggi pula performa mesin.

Mobil-mobil seperti Rush, Terios, Avanza, Innova, Livina, Jazz, CRV, Stream, SX4 dll. yg notabene “bukan mobil mewah” sebenarnya mesinnya sudah tak bisa diisi dengan bensin Premium. Kompresi mesin mereka yg tinggi sudah sewajibnya diisi Pertamax (Plus) atau Shell SUper (Ekstra) dan sejenisnya yg memiliki oktan tinggi.

Jadi, tanpa pembatasan BBM bersubsidi pun, KALO PEMILIK MOBIL-MOBIL BERKOMPRESI TINGGI ITU WARAS, mereka dengan sendirinya sebenarnya tak bakal mengisi kendaraannya dengan BBM Premium/bersubsidi.

Mesin berkompresi tinggi akan mengkonsumsi sedikit BBM untuk dibakar, karena ledakan mesin dibantu dengan tekanan kompresi yg tinggi. Syaratnya adalah BBM yg dipakai memang BBM oktan tinggi yg “baru meledak dengan kompresi tinggi di mesin”. Mesin ini mengkonsumsi BBM sedikit namun menghasilkan tenaga yg besar.


Sementara mesin berkompresi rendah akan menghasilkan daya ledak yg biasa saja. Dan karena kompresinya rendah, maka BBM yg digunakan cukup beroktan rendah yg “sudah bisa meledak hanya dengan kompresi rendah”. Mesin demikian memiliki tipikal tenaga yg rendah juga.

Lantas bagaimana jika mesin kompresi tinggi diisi BBM beroktan rendah? Karena BBM beroktan rendah cukup diledakkan dalam kompresi yg rendah, maka BBM ini akan meledak ketika mesin berkompresi tinggi belum berada pada titik optimum kompresinya. Secara teknis akan menimbulkan mesin meletup-letup.Letupan-letupan kecil yg terus menerus ini disebut dengan “ngelitik”.

Meskipun ada teknologi anti-knocking yg mengurangi dampak buruk mesin kala diisi BBM di bawah spesifikasi, langkah ini tetap tak bagus karena mesin akan boros. Kenapa? Karena ada sekian persen (konon sekitar 20%) bensin yg DIBUANG LANGSUNG TANPA TERBAKAR SEMPURNA di dalam mesin. Artinya, BBM dengan oktan di bawah spesifikasi akan membuat mesin meisn membakar bahan bakar tersebut sebelum kompresi optimum dan maksimum tercapai. (Kenapa BBM bisa ada yg terbuang tanpa terbakar? Karena pembakaran yg tak sempurna tadi. Karena mesin sudah harus membakar BBM sebelum titik optimum kompresinya.) Cek di sini http://www.facebook.com/topic.php?uid=277352891087&topic=14457dan sini http://www.omegamobil.com/news/detail/12/kebiasaan-buruk-yang-menyebabkan-boros-bensin.html(Gunakan bahan bakar sesuai nilai oktan yang disarankan oleh produsen. Nilai oktan bahan bakar akan menentukan pembakaran yang sempurna, sehingga sangat berpengaruh terhadap tenaga yang dihasilkan oleh mesin.)

Agak teknis memang penjelasannya, namun kiasan sederhana adalah seperti usia gas metana (Elpiji). Gas yg berusia muda kurang menghasilkan daya bakar sempurnya sehingga nyala api akan merah dan orang akan mengkonsumsi gas muda tersebut lebh banyak untuk memasak sesuatu.

Beda dengan gas usia tua yg sudah memiliki daya bakar maksimal sehingga membuat nyala api berwarna biru. Kita akan mengkonsumsi gas ini lebih sedikit untuk memasak sesuatu. Ini saja kiasan yg kita pakai untuk menggambarkan perbedaan BBM beroktan rendah dan tinggi.

Sayangnya, banyak dari pemilik mobil tersebut yg nggak waras. Mau enaknya saja. Jatah buat mikrolet -yg umumnya mobil dengan mesin berkompresi rendah- disambar juga. Mereka pemilik mobil berkompresi tinggi tsb. sok buta bahwa di balik tutup tangki fuel-hole dan di buku manual jelas-jelas tertulis bahan spesifikasi bahan bakar mereka adalah UNLEADED GASOLINE OCTANE 9X.

Ini sebenarnya kesalahan inti dan kesalahan sebenarnya.

Hal ini ditambah dengan sales penjual mobil yg menipu. Para sales semua kompak bilang bahwa kendaraan-kendaraan yg mereka jual tsb bisa diisi Premium. Sales urusannya cuma satu: asal dagangannya laku saja. Perkara salah penggunaan oleh pembeli, mereka tinggal berkilah salah ucap dan di buku manual ada detailnya yg benar.

SPBU pun tentu berpikiran pragmatis saja. Tak semua mau meng-dispenser BBM oktan tinggi. Maklum, harganya yg fluktuatif dan permintaan yg minim karena banyak pemilik kendaraan berkompresi mesin tinggi yg tetap serakah menjarah jatah mikrolet dengan mengisi premium ke mobil mereka membuat SPBU tetap memilih memasang dispenser Premium sebagai ujung tombak jualan mereka. Mereka tentu tak bisa disalahkan begitu saja. Sebab memang tak ada regulasi (sebelumnya) yg memaksa SPBU mesti punya dispenser BBM oktan tinggi dan mereka (SPBU) juga perlu bisnisnya lancar.

Sebenarnya kalo semua pemilik kendaraan bermesin kompresi tinggi tersebut WARAS, tentu urusan subsidi BBM ini tak akan pelik lagi.

Minyak bumi memang (dulu) hajat orang banyak. Namun kini pengertian ini harus digeser. Sumber energi kendaraan bukan lagi minyak bumi nelaka. Ada Hidrogen dan listrik. Hanya kebijakan pemerintah Indonesia yg NGGAK RAMAH LINGKUNGAN membuat mobil hibrid yg punya tambahan sumber tenaga listrik dipajaki dobel karena dianggap bermesin ganda.

Di dunia hanya pemerintah Indonesia yg sampai sedemikian tololnya begini. Di luar negeri, semua mobil hibrid atau listrik sudah berkembang optimal teknologinya. Dan di luar negeri mobil jenis demikian mendapat subsidi pajak karena dianggap mengurangi biaya negara untuk penanggulangan masalah lingkungan (pengurangan emisi dan karbon).

So, LANGKAH PALING PERTAMA sebenarnya adalah bukan membolak-balik masalah subsidi BBM ini. Masalah paling utama adalah mewaraskan semua pemilik kendaraan agar mengisi tanki bensinnya dengan BBM ber-oktan yg sesuai dengan spesifikasi mesinnya.

Ini saja tercapai, otomatis konsumsi BBM bersubsidi akan berkurang dengan sendirinya.

So, BBM non-subsidi bukan cuma buat pemilik Mercy or BMW or sebangsanya saja. Melainkan untuk KENDARAAN BERKOMPRESI MESIN TINGGI. FYI, sebuah BMW 5000cc atau Cherokee tahun 90an justru berkompresi mesin rendah dan bisa menenggak Premium. Karena memang mesinnya dirancang demikian. Namun ada BMW tahun yg lebih tua yg justru perlu Pertamax, karena kompresi mesinnya lebih tinggi.

Seluruh pemilik kendaraan berkompresi tinggi ini waras dan sadar tentang kebutuhan/spesifikasi oktan BBM untuk mesinnya, urusan pengurangan ini gak akan bakal jadi ribut-ribut. Bahkan tak perlu ada program pengurangan karena pasti yg beli cuma mikrolet atau kendaraan tua tahun 90an ke bawah.

Panduan kompresi + angka oktan cek di sini http://www.google.co.id/search?q=isi+bensin+apa+ya CMIIW. (http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150104457430400)


Jangan Lupa Jempolnya :


Berikan Tanggapan Anda .....

0 Respones to "Tentang (Ribut-ribut) BBM Bersubsidi"

Post a Comment

 

Dibutuhkan Bulan ini :

Paling Dibutuhkan :

Dibutuhkan Minggu Ini

© 2011 Bangunlah negeriku PublisedSeo Template Blogger Converted Template by Hack Tutors.info