Duel Mutiara Selatan Vs Kutojaya, Tumbal Pertama BHD??
Oleh : Wurie Hadi
Tadi pagi saat saya menyalakan TV, saya dikejutkan dengan peristiwa memilukan datang dari dunia perkeretaapian Indonesia. Seperti yang dilansir oleh stasiun TV ( TVOne- red) tersebut diberitakan terjadi kecelakaan Ketreta api di Langen sari, Banjar Jawa barat. Kecelakaan melibatkan KA Bisnis Mutiara selatan dan KA ekonomi Kutojaya selatan. Kejadian tepatnya terjadi pada pukul 02.24 WIB jumat dini hari pagi tadi ( 28/1/2011). Kedua KA sedang melintas dari kota asal dan menuju kota tujuan masing-masing. KA Mutiara selatan berangkat dari Surabaya menuju bandung, sedangkan KA Kutojaya berangkat dari Bandung menuju Purwokerto. Dari kejadian naas tersebut kondisi terakhir diberitakan ada 3 korban jiwa, dan belasan penumpang luka-luka. Sementara ambulans sudah berdatangan ke lokasi kecelakaan. Namun jarak yang cukup jauh sekitar 12 km ke RS terdekat dan memakan waktu setengah jam perjalanan menjadi kendala dalam mempercepat proses evakuasi korban.
Mendengar berita tersebut, saya teringat kejadian belum lama di awal Oktober 2010 silam. Saat itu kecelakaan kereta api terjadi antara KA Bisnis Senja Utama jurusan Jakarta Semarang ditabrak dari belakang oleh KA. Eksekutif Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta Surabaya. Peristiwa itu terjadi di wilayah Pemalang Jateng, pada 2 Oktober 2010 tepatnya sekitar pukul 03.05 WIB. Pada peristiwa tersebut saya sempat mendengar berita duka bahwa salah satu korban meninggal adalah suami dari teman lama saya, yang kini tinggal di Semarang. Mengingat peristiwa semacam ini selalu membuat hati saya miris, dan sedikit bisa dibilang paranoid dengan angkutan masal berupa ular besi itu. Karena menurut hemat saya perkeretaapian di Indonesia begitu amburadul dan semrawut dari dulu hingga sekarang.
Namun membaca berita tentang pergantian Direksi dan Komisaris PT KAI oleh Kementriian BUMN kamis kemarin sepertinya sedikit memberi angin segar. Pemberhentian dan pengangkatan anggota dewan komisaris dan direksi PT KAI baru saja dilakukan. Hal tersebut dilaksanakan dengan mengacu keputusan Meneg BUMN selaku rapat umum pemegang saham dengan Nomor Kep-13/MBU/2011 tertanggal 25 januari 2011. Adapun beberapa jajaran Direksi dan komisaris PT KAI yang diganti Budhi Muliawan S sebagai Caretaker Komisaris Utama diganti Bambang Hendarso Danuri ( BHD). Mantan Kapolri itu kini akan menjadi jendral di layanan perkeretaapian Indonesia. PT. KA adalah salah satu perusahaan binaan BUMN yang dikenal sudah mengakar kesemrawutannya sejak masih dalam bentuk jawatan pada pemerintahan Kolonial Belanda.
Pergantian komisaris dan direksi yang menghadirkan sosok BHD tentu diharapkan ada perubahan yang signifikan dengan apa yang kita lihat selama ini dengan dunia kereta api kita. Tak salah jika kita mengharap jajaran yang baru ini mampu menangani PT KA dengan gebrakan yang lebih dibanding pendahulunya. Serta adanya upaya terobosan baru yang ditawarkan kementrian BUMN dengan mengangkat Rono Pradipto sebagai Direktur Keselamatan dan Menejemen resiko, mampukah memberikan nilai lebih bagi iklim perkeretaapian sekarang ini. Seperti ditegaskan oleh Meneg BUMN Mustafa Abubakar bahwa dibutuhkan menejemen untuk keselamatan sehingga dengan adanya direktorat keselamatan dapat membantu misi keselamatan penumpang. Namun belum lagi direktorat ini bekerja dan mempelajari juknis kerjanya kita sudah mendengar peristiwa kecelakaan pagi tadi. Toh semua memang telah terjadi, namun akan sangat bijak jika PT. KA dengan jajarannya yang baru, serta dipimpin oleh BHD dapat bereaksi dengan cepat. Tanggap dalam kecelakaan, dan cepat dalam evakuasi korban, serta mempertahankan pelayanan yang baik dan meningkatkan pelayanan yang tertinggal.
Kita selalu menyimak setiap kali pergantian kepemimpinan di jajaran PT. KAI justru selalu saja dibarengi dengan berbagai tragedi kecelakaan. Disamping itu permasalahan klasik bersangkut dengan pelayanan terhadap penumpang tak jua purna menghasilkan layanan yang memuaskan. Sebut saja brutalnya para penumpang, kriminalitas yang tinggi di dalam gerbong, calo karcis, dan bermacam ketidaknyamanan lainnya. Ketidaknyamanan menggunakan jasa KA sebenarnya tidak hanya datang dari buruknya sistem, melainkan dari ulah para pengguna jasa ini sendiri. Bahkan mulai dari urusan parkir kendaraan di stasiun, karcis peron, pelayanan petugas di loket, hingga gerbong KA yang ringsek, dan berjubelnya penumpang itu selalu kita temui kesemrawutan. Sepertinya tidak ada hal yang meng-enak-kan bagi pengguna layanan transportasi ini. Hal ini terlebih dialami bagi pengguna KA kelas ekonomi. Kelas yangnotabene menampung mayoritas penumpang KA, yang tak langsung mencerminkan tingkat kemiskinan negeri kita. Banyaknya penumpang berjubel dan pedagang asongan yang hilir mudik di setasiun pemberhentian maupun di dalam gerbong saat KA melintas mewarnai setiap hari. Belum lagi ulah para supporter bola ( bonek ) yang selalu memanfaatkan jasa KA ini untuk transportasi mereka menuju laga klub kesayangannya bertanding. Aksi-aksi yang tak simpatik dari mereka yang mengaku bondo nekad, dengan selalu membuat onar dan terror. Mereka seringpula ditemukan membawa senjata tajam, batu, dan memenuhi gerbong hingga nekad duduk diatap gerbong. Tindakan-tindakan tak sportif dari suporter itu tentu merugikan PT. KA, karena seringnya mereka berada dalam jumlah besar tanpa membayar karcis. Keberingasan mereka pun akhirnya membuat warga lain menjadi enggan menggunakan KA jika harus bersama para bobotoh ini.
Kembali bagi Korban kecelakaan dini hari pagi tadi, tentu mengundang belasungkawa dari kita semua yang mendengarnya. Semoga ini bukan sebuah tumbal dari pergantian Direksi yang baru, namun dapat dijelaskan dengan proporsional dan rasional oleh Humas PT. KAI pasca tragedi ini. Melihat kesamaan waktu terjadinya kecelakaan yang banyak terjadi pada dinihari, tentu dapat ditarik benang merah penyebab kecelakaan dengan lebih jelas. Kajian dan analisa yang lebih mendalam harus dilakukan PT KAI, dan setelah itu harus menemukan formula yang tepat agar kejadian serupa tak terulang. Kita hanya berharap semua mau belajar, bukan hanya saling lempar dan mengkambinghitamkan kesalahan pada oknum maupun personal tertentu yang tidak tepat. Namun menjadi bagian tugas penting untuk kedepan kita bersama memperbaiki sistem dan budaya masyarakat kita sendiri. Hendaknya masyarakat yang banyak menggunakan jasa KA ini pun mampu mencintai partner perjalanan mereka ini dengan sebaik-baiknya. Penumpang tak boleh lagi berbuat semau sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang banyak, dan tetap menjaga kesantunan dalam bersikap dengan sesama penumpang. Lebih pada sosok BHD, selaku jendral di Direksi dan Komisaris PT KAI, dipundakmu kini, kemana masa depan kereta api Indonesia akan kau bawa. Memperbaiki kerja sistem, teknologi, dan pelayanan menjadi lebih baik atau justru lebih terpuruk.
…turut berduka cita….
Jangan Lupa Jempolnya :

Berikan Tanggapan Anda .....
0 Respones to "Duel Mutiara Selatan Vs Kutojaya, Tumbal Pertama BHD??"
Post a Comment