Andaikan Semua Pejabat Seperti Mereka?
Oleh Ardy Ananta
Tadi pagi waktu saya baca koran (berita lokal) ada salah satu berita yang membuat saya sedikit geram, karena apa. sepertinya ucapan SBY mengenai belum naik gaji selama tujuh tahun itu pun merambat ke DPRD daerah (kebumen) yang notabene kota kecil. yang sepertinya para anggota DPRD kebumen juga menginginkan kenaikan gaji. Padahal kalau dihitung masa kerja mereka belum genap dua tahun. Tapi untungnya ada salah satu LSM yang menentang keras dengan upaya tersebut. Sehingga rencana menganggarkan biaya untuk kenaikan gaji para anggota DPRD pun tidak serta merta langsung bisa terealisasi.
Yang saya heran, apa sih yang ada dalam benak para pejabat, selain keinginan memperkaya diri. masih adakah pejabat-pejabat yang datang atas dasar tulus mengabdi pada pemerintah, pada negara, pada rakyat. bukan untuk memenuhi birahinya guna memperkaya diri.
Tapi, diantara mayoritas pejabat negeri ini yang hanya tahu masalah gaji dan gaji tanpa memikirkan kinerja yang baik dan total, masih ada pemimpin-pemimpin yang dijadikan sebagai teladan dan contoh untuk pemimpin lainnya. Masih ada wakil rakyat yg tulus melayani masyarakat tanpa memprotes haknya yang merasa kurang. Padahal gaji pejabat itu lebih dari cukup (kalau mau hidup sederhana)
Saya yakin , banyak diantara kita yang rindu pada sosok seorang pemimpin yang sederhana, namun sikap dan cara kerjanya tak sederhana, hanya gaya hidupnya yang sederhana. seperti mendiang wakil presiden pertama RI.
Bung Hatta yang sangat sederhana sekali, sampai begitu sederhananya beliau, hingga akhir hayatnya tak sempat memiliki sepatu yang diidamkannya. yaitu sepatu bally, sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta. Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Beliau tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Itulah hebatnya beliau, mampu menahan keinginan untuk menguatamakan kepentingan rakyat, Negarawan Sejati.
Dan satu lagi sosok yang pantas dijadikan sebagai panutan, namun kali ini dari Iran, yaitu Mahmoud Ahmadinejad, Presiden paling sederhana dan patut dijadikan teladan, Dan sepertinya setiap orang yang sudah mengenalnya tahu akan kesederhanan presiden Iran yang satu ini. Salah satu sikapnya yang sangat mencerminkan kesahajaannya adalah ketika di bawah kepemimpinannya, ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhanadan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi,sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak. Hebat sekali bukan..
Namun ternyata saat ini Indonesia pun memiliki seorang pemimpin yang sikapnya tidak jauh beda dengan Mahmoud Ahmadinejad, maupun Bung hatta, Ia adalah Wali Kota Solo.. saya kutipkan dai Viva news.
VIVAnews - Urusan gaji pejabat tinggi belakangan ini kian ramai dibicarakan. Pemicunya, pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal gajinya yang sudah tujuh tahun tidak juga naik. Tapi tidak semua pejabat negara mempermasalahkan gaji. Walikota Solo Joko Widodo, misalnya.
Walikota yang tengah menjalani masa jabatan dua periode ini ternyata belum pernah sekali pun mengambil gajinya. Bahkan, mobil dinas walikota yang saat ini dipakainya juga merupakan ‘warisan’ pejabat walikota sebelumnya, Slamet Suryanto.
Jokowi panggilan akrab walikota Solo ini menuturkan, Sabtu 28 Januari 2011 hingga hari ini belum pernah melihat ataupun menerima amplop gaji bayarannya sebagai walikota. “Kalau teken saya memang teken tapi tidak pernah lihat amplopnya. Ambil gimana, wong lihat amplopnya saja tidak pernah,” kata dia.
Ketika ditanya kenapa tidak mengambil gajinya, dengan rendah hati ia tidak mau menjawabnya. “Nggak, nggak, saya tidak mau menjawabnya karena terlalu riskan. Yang penting saya tidak pernah ambil gaji. Kalau tidak percaya, tanya saja kepada sekretaris atau ajudan saya,” tegas dia.
Soal mobil dinas, dia juga enggan menggantinya dengan yang baru. Mobil dinas Toyota Camry keluaran tahun 2002 ini merupakan peninggalan mobil dinas walikota Solo sebelumnya, Slamet Suryanto. “Mobil asal bisa dinaikin, tidak perlu mobil baru,” ujar Jokowi.
Selain itu, dia mengaku memang tidak suka gonta-ganti mobil. Seperti halnya mobil pribadinya yang sudah 14 tahun tidak diganti. “Saya bukan sok, tapi saya memang orang nggak punyai birahi terhadap mobil baru. Jenis mobil dinasnya keluaran tahun berapa, saya juga tidak tahu. Silakan tanya Pak Suli saja (sopir walikota). Pokoknya saya naik dan selamat saja,” tutur dia.
Joko Widodo. Wali kota Solo yang harusnya bisa dijadikan sebagai cermianan pemimpin-pemimpin ndonesia saat ini ditengah permasalahan-pernasalahn bangsa. pengangguran yang semakin tak bisa dintanggulangi,PHK, harga-harga kebutuhan pokok yang makin tak terjangkau rakyat kecil, kemiskinan, dan masih banyak lainnya..
Andaikan semua pemimpin-pemimpin kita mempunyai jiwa seperti Pak Joko, saya yakin Indonesia akan sejahtera, dan rakyat hidup bahagia, karena tak ada lagi yang namanya korupsi, tak akan ada lagi jiwa-jiwa pemimpin yang rakus menggerorogoti kekayan bangsa.
Sallam Kompasiana.
Jangan Lupa Jempolnya :

Berikan Tanggapan Anda .....
0 Respones to "Andaikan Semua Pejabat Seperti Mereka?"
Post a Comment